Hampir 2 bulan wabah Novel Coronavirus atau populer disebut COVID-19 meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Wabah yang dimulai di kota Wuhan China ini kemudian menular ke seluruh dunia. Bahkan korban jiwa juga semakin banyak jumlahnya.

Di Indonesia korban jiwa sudah mencapai angka 773 orang (per Selasa/28 April 2020). Angka tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah karena mobilitas masyarakat hanya sedikit berkurang meski telah diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sifat COVID-19 mudah menular melalui perantaraan droplet, sehingga jumlah orang yang tertular semakin banyak. Hal itu menyebabkan masyarakat mengurangi aktivitasnya di luar rumah karena mereka khawatir tertular ketika bertemu dengan orang lain di sebuah tempat atau kendaraan umum yang sedang dinaiki. Kita memang tidak tahu pasti siapakah dari orang-orang sekitar kita yang sudah membawa virus itu di dalam dirinya.

Dampak Ekonomi COVID-19

Wabah pandemik ini bukan hanya berimbas pada bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi. Kebijakan pengurangan aktivitas masyarakat di luar rumah juga dilakukan dalam bentuk pelaksanaan bekerja dari rumah (WfH) dan belajar dari rumah (LfH). Hal itu menjadikan mobilitas orang untuk bekerja dan sekolah menjadi sangat jauh berkurang dan berimbas pada banyak sektor ekonomi.

Transaksi ojek online dan taksi online menjadi sangat berkurang. Sudah banyak unggahan terkait keluhan para pengemudi yang hanya mampu membawa uang ke rumah di kisaran 20 ribu, dari yang semula 100 ribu. Bahkan terkadang para pengemudi ojol ini tidak membawa uang setelah seharian penuh ke luar untuk bekerja. Kondisi ini diperparah dengan beban membayar kontrakan dan cicilan motor ke leasing.

Di sisi lain, penutupan aktivitas kantor dan sekolah juga membuat pedagang makanan skala mikro juga kehilangan pendapatan. Semula mereka berjualan di dalam atau sekitar kantor dan sekolah. Namun, karena aktivitas perkantoran dan pendidikan dihentikan, maka berhenti pulalah usaha mereka karena tidak ada pembeli.

Besarnya kemungkinan tertular COVID-19 dari orang lain yang bertemu di jalan atau tempat lain juga mengakibatkan masyarakat tidak ingin keluar rumah untuk bertemu dengan teman atau kerabat seperti membuat janji bertemu di mal atau restoran.

Tak ada lagi orang berlalu lalang di mal. Kondisi ini membuat pengusaha retail di mal rugi dan akibatnya mereka menutup usahanya. Penutupan toko ritel di mal tentu saja akan berimbas kepada pegawai toko tersebut dengan PHK tanpa pesangon. Padahal, pekerjaan inilah yang menjadi penopang hidup keluarga di masa sulit ini.

Selain itu ada pula kegiatan ekonomi yang dihentikan karena aturan PSBB. Beberapa pabrik besar harus menghentikan kegiatan usahanya karena sifat bisnisnya yang padat karya, sementara PSBB mengharuskan pemberian jarak antarorang.

Akhirnya, gelombang PHK juga dialami oleh para buruh pabrik yang dalam kesehariannya pun sudah mengalami kesulitan hidup. Para buruh tersebut di-PHK tanpa uang pesangon yang dapat digunakan untuk cadangan biaya hidup sebelum mendapatkan pekerjaan lain.

Merebaknya Kedermawanan Sosial

Masih banyak kisah-kisah pedih terkait mewabahnya COVID-19 ini. Namun, di balik suatu musibah masih banyak terselip kisah-kisah kedermawanan sosial yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia.

Hal ini bisa terjadi karena masyarakat kita memiliki rasa empati atas musibah yang menimpa orang lain. Dalam kondisi sulit pun, mereka selalu merasa bahwa masih ada orang lain yang lebih sulit kondisinya dibandingkan diri mereka.

Sikap-sikap kedermawanan sosial masyarakat itu dapat dilihat dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok masyarakat. Berikut beberaa di antaranya.

◆ Sebagian orang yang memiliki gaji bulanan menyadari bahwa kondisi WfH dan LfH membuat pengeluaran biaya transportasi utuh setiap hari. Biaya transportasi harian sebuah keluarga bisa mencapai 50 ribu per hari. Mereka kemudian memberikan ke pengemudi ojol yang mengambil order dalam bentuk makanan yang mereka pesan. Atau, mereka memberikan cash minimal 20 ribu kepada pengemudi ojol yang mengantarkan pesanan makanan, jauh dari besaran tip yang biasanya diberikan mealui aplikasi maksimal 5 ribu rupiah.

◆ Mengajak kelompok orang yang dikenal melalui WhatsApp Group (WAG) untuk membantu pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sudah tidak ada di pasaran. APD ini sangat dibutuhkan oleh para tenaga kesehatan untuk menangani pasien dan jenazah COVID-19. Ukuran virus COVID-19 yang sangat kecil dan mudah menular dengan perantaraan droplet membuat para tenaga kesehatan harus dilengkapi dengan APD level 3. Pengerjaan APD ini dilakukan oleh anggota kelompok yang memiliki kemampuan menjahit atau memesan APD kepada pihak lain.

◆ Mengajak kelompok yang tidak dikenal dalam platform media sosial seperti Facebook Group. Walaupun tidak saling mengenal secara personal, tetapi adanya empati yang tinggi membuat para anggota menyampaikan donasi dan membantu tenaga untuk menyampaikan bingkisan kepada yang terdampak COVID-19.

◆ Mengajak rekan-rekan alumni untuk mengumpulkan donasi dan digunakan untuk memborong dagangan pedagang-pedagang kecil yang mereka temui di lingkungan sekitarnya. Misalnya, yang dilakukan oleh Alumni ITB Angkatan 1994. Mereka memborong dagangan dan meminta pedagang itu membagikan dagangannya kepada orang lain yang ditemui, biasanya para pengemudi ojol yang sedang berkumpul menunggu orderan.

Tujuan memborong adalah supaya dagangan itu cepat habis, dan pedagang bisa segera pulang ke rumah untuk meminimalkan terpapar virus. Pada saat memborong, mereka juga memberikan edukasi tentang COVID-19 dan memberikan masker serta hand sanitizer.

◆ Mengajak rekan dan kerabat untuk berdonasi untuk diberikan dalam bentuk paket makanan kepada orang-orang yang dipandang terdampak COVID-19 yang ada di sekitarnya. Bantuan sembako dalam bentuk beras sebanyak 5 liter, telur 1 kg, minyak goreng 1 liter, kecap, mie instan, garam dan merica. Paket ini diberikan kepada tukang becak, pedagang keliling, para pemulung, sopir taksi offline.

Paket disampaikan langsung kepada mereka sehingga tidak mengakibatkan kerumunan orang yang bisa menjadi sarana penularan COVID-19. Hal seperti ini dilakukan oleh seorang jurnalis Tempo yang berlokasi di Surabaya. Dia mengunggah kegiatannya dan hal ini menggugah teman-temannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemberian paket sembako.

◆ Mempromosikan jualan rekan, kerabat, bahkan pedagang pasar tradisional kepada anggota grup. Hal ini dilakukan karena penghasilan para pedagang ini juga jauh merosot daripada hari-hari biasa. Dengan membuka akses, akan terjadi transaksi antara pedagang dan pembeli yang membutuhkan.

◆ Bergotong-royong menyiapkan makanan bagi tetangga yang sedang melakukan isolasi mandiri karena termasuk ODP atau ada keluarganya yang PDP yang sedang dirawat di rumah sakit. elain itu, berdonasi lewat Lembaga Amal Zakat yang berskala nasional seperti Aksi Cepat Tanggap dengan memberikan pilihan paket yang akan disedekahkan.

◆ Berdonasi lewat acara-acara live music dari rumah yang dilakukan oleh pemusik kenamaan seperti Didi Kempot yang mengumpulkan donasi sebanyak 7 milyar. Juga Raja Dangdut Rhoma Irama yang dalam 2 jam penampilan mengumpulkan donasi sebesara 771 juta rupiah. Kedua acara ini dilaksanakan oleh Kompas TV.

Mudah-mudahan Langkah ini bisa diikuti oleh pemusik-pemusik lainnya dengan tetap mengedepankan social distancing. Beberapa public figure menjual barang-barang berharga yang dimiliki dan uang yang diperoleh diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Selain kisah-kisah di atas, masih banyak lagi kedermawanan personal dan kelompok yang tampak di masa-masa pandemik COVID-19 ini. Wabah ini membuat banyak orang tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau kehilangan tulang punggung keluarga karena tertular virus ini dengan cara yang tidak diketahui.

Epilog

Memang dibutuhkan banyak kedermawanan di masa-masa sulit seperti ini. Sebab, penderitaan masyarakat bukan hanya sakit atau meninggal. Akan tapi kehilangan pekerjaan, bisnis sepi, bahkan pembatalan order yang sudah dipesan jauh-jauh hari.

Yang lebih menyedihkan, suasana Ramadhan tahun ini juga sudah berubah banyak dibanding tahun-tahun biasanya. Jika tahun lalu Ramadhan dibuat meriah oleh banyaknya penjual takjil di pinggir jalan yang membuka lapak dengan hanya bermodalkan meja, sekarang sudah banyak penjual takjil yang menggunakan mobilnya untuk berjualan.

Fenomena ini menyiratkan ironi di masyarakat. Kesulitan ekonomi rupanya juga dialami kelompok yang biasanya lebih mampu secara ekonomi. Beberapa postingan di media sosial menunjukkan ketiadaan makanan di rumah bukan hanya dialami oleh masyarakat miskin, tetapi sudah menjalar ke kelompok menengah yang tiba-tiba di-PHK oleh perusahaannya yang ditutup akibat terus merugi.

Semoga momentum bulan Ramadhan, bulan penuh berkah ini, bisa menjadikan masyarakat semakin banyak bersedekah, berbagi rezekinya kepada orang di sekitar yang membutuhkan. Setidaknya, sedekah makanan agar mereka bisa berbuka ataupun makan sahur.

Umat muslim sangat gembira dengan datangnya bulan ini karena segala kebaikan yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Juga, marilah kita bersama-sama berdoa agar wabah COVID-19 ini segera musnah dari dunia.

Kita semua tahu, doanya orang berpuasa sangatlah makbul. In syaa Allah. Semoga kedermawanan ini terus-menerus hidup di bumi Indonesia dan menjadi budaya masyarakat kita sampai kapanpun.

***

1
0

Seorang PNS yang menjalani pekerjaan di bidang diklat selama 21 tahun, pemegang Magister Ilmu Ekonomi dari FEUI dan sempat mencicipi dunia early childhood education ketika CTLN selama 3 tahun karena mengikuti suami di Melbourne. Lahir dan besar di Jakarta, tetapi sempat mencicipi penugasan di Palembang dan Cimahi.

error: