Judul di atas adalah statement yang saya kutip dari ucapan salah seorang narasumber pelatihan kepenulisan yang saya ikuti hari itu, 4 Oktober 2019. Mengambil lokasi salah satu ruang diskusi di perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, training kepenulisan artikel ilmiah ini menghadirkan dua pembicara yang – menurut saya – sangat mumpuni di bidangnya.

Statement di atas memang benar adanya. Sebab disadari atau tidak, setiap orang di zaman milenial ini pada umumnya bisa membaca, yang karenanya ia pasti bisa menulis. Namun akan bermakna lain jika yang dimaksud bisa menulis adalah suatu praktik kepenulisan yang mengikuti kaidah-kaidah tertentu.

Kaidah ini adalah standar yang sudah baku dan menjadi suatu kebiasaan bagi seseorang yang menulis, baik untuk tulisan berjenis fiksi maupun non-fiksi. Dalam pengertian yang kedua inilah kemudian masalah tentang kepenulisan mengemuka. Tidak semua insan yang melek huruf memiliki kemampuan menulis yang baik, sesuai kaidah, dan lagi konsisten dalam melakukannya.

Menulis, Aktivitas Keseharian Kita Semua

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: mengapa menulis dalam pengertian khusus tersebut begitu sulit dilakukan. Mengapa di antara sebagian besar insan yang melek literasi, mereka tidak mampu menjadikannya sebagai suatu praktik menulis yang sesuai kaidah dan dilakukan dalam sebuah wujud kebiasaan yang konstan?

Sejumlah seminar maupun pelatihan mengambil tema kepenulisan ini begitu menjamur dan laris manis dihadiri oleh khalayak, baik yang berbayar, maupun yang free. Kesemuanya diadakan demi suatu tujuan untuk membangun motivasi dan pemahaman agar kita memiliki kemampuan dan kebiasaan dalam praktik kepenulisan.

Event yang saya ikuti sendiri mengambil tajuk “Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah”, sebuah event yang meski tak berbayar tetapi kualitasnya memuaskan karena sarat akan pengetahuan dan sharing pengalaman yang mencerahkan.

Melalui statement yang dijadikan judul di atas, pembicara pertama mencoba menguatkan kepercayaan diri kita untuk menulis dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan positif untuk selalu kita lakukan. Beliau melanjutkan paparan penjelasan akan statement tersebut dengan beberapa contoh mengenai betapa inherennya aktivitas menulis dalam keseharian kita.

“Bukankah setiap kita memiliki smartphone yang sebagian besarnya merupakan program maupun fitur yang mengharuskan kita untuk menulis?”, ujar beliau.

Berbagai kebiasaan yang dilakukan orang tua kita di masa lalu pun sebetulnya juga merupakan aktivitas yang merupakan bagian dari praktik kepenulisan, seperti mencatat pengeluaran rumah tangga, membuat daftar barang yang akan dibeli, menulis memo untuk anggota keluarga, dan lain sebagainya.

Hal tersebut menandaskan kembali fakta akan sebuah tradisi menulis yang sudah seyogyanya kita kembangkan dalam keseharian hidup kita. Karenanya, saya pun ikut meyakini bahwa setiap kita pasti bisa menulis.

Menulis Artikel Ilmiah

Sekedar menulis sembarang tulisan sudah merupakan suatu praktik dan kebiasaan yang sangat baik. Menulis apapun selagi hal yang ditulis tersebut bermakna positif adalah sebuah kebajikan yang hendaknya dilestarikan. Akan tetapi, jika kebiasaan dan keahlian menulis ini telah cukup mumpuni hendaknya dikembangkan untuk jenis artikel ilmiah.

Menulis artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk praktik kepenulisan yang hendaknya menjadi target dan tujuan pengembangan kebiasaan kepenulisan kita. Pembicara kedua pada training itu pun mengupas berbagai sub-tema mengenai tujuan menulis artikel ilmiah, dan bagaimana kiat menuliskannya.

Materi disampaikan secara interaktif dan diselingi dengan ice breaking yang menggugah minat untuk terus stay tune mengikuti alur penjelasan. Dalam paparannya, pembicara kedua menyampaikan pengalamannya dalam proses kepenulisan. Meski masih sangat muda, beliau sudah menghasilkan 6 karya berbentuk buku dan sejumlah tulisan yang sudah, maupun belum diterbitkan dalam berbagai jurnal, baik nasional maupun internasional.

Berbagai kasus atau masalah penting yang menjadi sorotan, maupun hal-hal sederhana yang menarik dari keseharian hidup kita berhasil didokumentasikannya dalam cerita. Beliau menjadikan contoh topik apa saja yang bisa dijadikan sebuah judul karya ilmiah.

Setelah itu, pembicara kedua ini melanjutkan penjelasannya dengan memaparkan seperti apa sistematika karya ilmiah yang baik, kemudian secara khusus menjelaskan mengenai sisi novelty atau kebaruan dalam sebuah karya ilmiah. Terutama jika karya ilmiah tersebut adalah sebuah hasil penelitian.

Berharap Pelatihan yang Lebih Lama

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB di saat pembicara kedua terpaksa menghentikan paparan materinya yang tampaknya belum lagi selesai. Hari ini adalah hari Jumat yang terbatas waktunya. Sedangkan dalam event pelatihan kepenulisan ini pada akhir sesi bagi peserta perlu disediakan waktu untuk menulis.

Pembicara mempersilakan tulisan dengan topik apapun dengan merujuk pada paparan materi selama dua sesi pelatihan itu. Rangkaian acara kemudian diakhiri dengan pengumpulan karya para peserta yang nantinya akan dinilai dan diberikan hadiah berupa buku dari penyelenggara.

Saya menikmati pelatihan itu. Sayangnya, menurut hemat saya tampaknya tak cukup jika pelatihan menulis semacam ini diselenggarakan hanya dalam waktu 3 jam. Seharusnya acara berlangsung setidaknya dalam satu hari, dilanjutkan dengan membentuk grup alumni pelatihan. Dari sana, komunitas ini menjadi sarana untuk memelihara semangat menulis, sekaligus dapat diisi dengan berbagai rencana positif untuk membangun tradisi kepenulisan.

Tabik!!!

3
0

Staff at Center for Education and Cultural Policy Research, Research and Development Board, Ministry of Education and Culture, Republic of Indonesia

error: