Berawal dari membaca artikel yang berjudul Bangun Tradisi Literasi, Jadilah Birokrat Kritis, sahabat saya, sebut saja Nyai (Ny), menghubungi saya untuk menanyakan beberapa hal yang katanya belum jelas terkait artikel tersebut. Malam minggu akhirnya kami pilih untuk menjadi waktu yang pas bagi kami untuk berdiskusi  secara daring. Sahabat saya ini, orang Jawa yang bertugas di sebuah instansi pemerintah pusat di Jakarta, sangat penasaran dengan istilah perspektif kanan dan kiri. Dia juga ingin memahami kenapa birokrat sebaiknya bisa berpikir kritis. Begini transkrip percakapan kami, yang tentu saja sudah tidak mengandung percakapan yang tidak relevan dengan judul di atas.

Ny: Di artikel itu, Nurul Qomariyah, redaktur eksekutif tirto.id, menyebut adanya perspektif kanan dan kiri. Apa sih sebenarnya yang disebut dengan kanan dan kiri itu? Lalu apa hubungannya dengan yang dibilang Rudy M. Harahap, editor in chief birokratmenulis.org, sebagai literasi kritis?

MR: Oh itu,.. yang disebut kanan dan kiri itu memang sebuah perspektif atau pemahaman. Pemahaman disebut kiri karena pemikirannya alternatif, artinya menyodorkan pemikiran yang tidak seperti pemahaman umum sebelumnya. Nah yang menyebut kanan itu adalah orang-orang yang telah merasa mapan dengan ilmu atau pemahaman dominan selama ini. Mereka menganggap ilmunya telah mapan dan baik lalu mereka merasa ada di jalur kanan, dengan begitu pemikiran alternatif disebutnya jalur kiri. Hanya supaya beda saja, ada kanan ada kiri.

Ny: Apa yang kanan itu maksudnya pemahaman baik, yang kiri pemahaman tidak baik?

MR: Nah di situlah kadang aku merasa sedih. Kanan selalu dipersepsikan yang baik dan kiri tidak baik. Dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan persepsi itu. Kiri berarti alternatif saja, memang sebutan kiri itu juga bisa muncul karena adanya penentangan terhadap pemahaman kanan. Dalam hal pemahaman berpikir, bicaranya adalah tentang ilmu pengetahuan. Nah ilmu pengetahuan haluan kiri ini sifatnya justru memerkaya khasanah haluan kanan yang sudah ada sebelumnya.

Ny: Ada hubungannya dengan isme-isme itu?

MR: Isme itu kan sebuah akhiran kata yang berarti sistem kepercayaan atau sebuah pemahaman berdasarkan ideologi tertentu. Nantinya memang banyak sebutan isme baik di haluan kanan maupun kiri. Kita tidak perlu membahas itu dulu saat ini karena nanti bisa terjebak membahas sebuah isme dan menimbulkan salah paham di awal.

Ny: Kenapa bisa begitu?

MR: Begini, misalnya tentang modernisme, itu bisa jadi kanan bisa jadi kiri. Dulu saat dunia masih tradisional belum modern, kehidupan kita hanya berdasar pada tradisi, kebiasaan, dan kepercayaan. Lalu muncul ilmu pengetahuan. Nah munculnya ilmu pengetahuan yang menandai kehidupan modern itu bisa dianggap kiri oleh para penganut tradisi dan kepercayaan karena melawan atau mengguncang masyarakat tradisional.

MR: Lalu setelah kehidupan dan pemahaman manusia modern mapan, muncul lagi apa yang disebut dengan post-modernisme yang menganggap modernisasi itu memunculkan banyak masalah, di antaranya masalah dehumanisasi dan diskriminasi. Nah pada saat itulah orang-orang penganut modernisme menganggap dirinya kanan dan post-modern dianggap kiri. Begitu juga nanti liberalisme, bisa kanan dan bisa kiri tergantung konteks dan pihak mana yang ‘diguncang’.

Ny: Oh gitu maksudnya. Jadi kiri itu adalah sebuah alternatif pemikiran yang mengguncang sebuah kemapanan berpikir ya?

MR: Tepat sekali.

Ny: Lalu apa hubungannya dengan yang dimaksud Nurul Qomariyah bahwa seorang penulis perlu membaca bacaan kiri, jangan hanya bacaan kanan terus?

MR: Ya supaya cara berpikir kita tidak mapan, artinya kita perlu memahami juga bacaan yang menentang pemahaman yang mendominasi pemikiran kita selama ini. Sepertinya Nurul Qomariyah lebih berbicara di ranah ilmu pengetahuan, karena seorang penulis harus memiliki pengetahuan yang cukup agar tulisannya kritis.

Ny: Oke, berarti sekarang tolong jelaskan tentang pengetahuan yang disebut kanan dan pengetahuan yang dibilang kiri.

MR: Baiklah, kita batasi lingkup bahasan kita pada pengetahuan sosial saja karena pengetahuan alam itu nanti akan berbeda lagi. Selain itu ruang lingkupmu kan banyak tentang sosial nantinya, kamu bukan praktisi ilmu pengetahuan alam.

MR: Nah cerita tentang ilmu pengetahuan ini biasa disebut dengan filsafat ilmu sebenarnya. Pengetahuan kanan itu panjang sejarahnya, tapi pada akhirnya berkembang menjadi paradigma yang disebut positivis, yaitu sebuah pengetahuan modern yang memandang realita sosial seperti fenomena alam. Realita dipandangnya sebagai suatu hal yang objektif, dapat digeneralisasi, lalu dapat diprediksi. Positivis menganggap realita sosial sebatas kejadian yang nyata terlihat dan dapat teramati (empiris), bukan sesuatu yang bersifat metafisis. Pemahaman ini menyingkirkan masuknya bentuk tindakan manusia dan masyarakat, dan menurunkan manusia ke derajat pasif yang ditentukan oleh kekuatan alamiah. Dalam pengetahuan positivis, realita sosial dipandang bebas nilai/netral.

Ny: Sebentar, yang dimaksud bebas nilai atau netral itu apa?

MR: Bebas nilai di sini maksudnya bahwa ilmu pengetahuan itu dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar pengetahuan. Pengetahuan dikembangkan hanya semata-mata karena tujuan ilmiah murni, sebuah kebenaran murni yang seolah tidak tergoyahkan. Konsekuensinya, ilmu pengetahuan menjadi barang mewah yang jauh dari realita kehidupan manusia.

Ny: Ups.., lalu kalau pemikiran kiri?

MR: Nah kebalikannya, pemahaman kiri itu menganggap bahwa fenomena sosial itu sebenarnya fenomena yang kompleks, subjektif, tidak bebas nilai, selalu dinamis, dan tidak selalu dapat diprediksi. Pemahaman ini biasa disebut paradigma antipositivis. Pemahaman ini mencoba melakukan gugatan terhadap teori sosial yang bersifat positivistik dan deterministik. Itulah sebabnya pemahaman ini disebut kiri karena memang sifatnya menentang positivis.

MR: Dulu awalnya adalah untuk mengkritik konsep yang ditawarkan oleh Karl Marx, terutama terkait dengan hubungan basis-superstruktur serta determinisme Marx terhadap ilmu ekonomi. Jadi, konsep Marx memang menjadi pijakan bagi pemahaman antipositivis. Namun, bukan berarti Marx lalu tersingkir, melainkan justru sebaliknya, pemikiran Marx selalu menjadi inspirasi banyak tokoh kiri sampai saat ini baik yang sepakat ataupun yang tidak sepakat.

Ny: Wow, panjang juga ya ceritanya.

MR: Ya, kalau mau lebih jelas lagi, baca juga penjelasan pertarungan pardigmanya di http://birokratmenulis.org/memahami-paradigma-penilaian-maturitas-penerapan-sistem-pengendalian-internal-organisasi-sektor-publik-indonesia/

Ny: Oke, nanti kubaca. Lalu apa sih sebenarnya yang digugat oleh antipositivis?

MR: Penjelasannya begini, pemahaman positivis menganggap manusia hanya sebagai objek bukan subjek, dengan cara menggeneralisir fenomena sosial. Mereka sangat objektif dalam melihat sesuatu, seolah semua manusia itu sama dalam berperilaku. Mereka cenderung memisahkan pengetahuan dengan pengalaman manusia.

MR: Pemisahan itu membuat manusia kehilangan kesempatan untuk menjelaskan realita secara mendalam. Nah, dengan adanya pemisahan dan generalisasi itu makanya manusia hanya menjadi pasif, menerima saja apa adanya pengetahuan yang ada. Manusia-manusia lalu pasrah saja mau diapakan oleh pihak yang memiliki/menguasai pengetahuan dominan tadi. Perilaku dan pemikiran manusia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh pihak dominan.

MR: Generalisasi itu menyebabkan situasi menjadi tetap dan nyaman dalam berkehidupan. Mereka seolah memiliki kesadaran bahwa apa yang selama ini mereka lakukan adalah sudah baik, itu yang sering disebut dengan kesadaran palsu. Padahal, sebenarnya mereka tertindas oleh generalisasi yang membuat mereka terlena selama ini. Pemahaman kiri itu ciri-cirinya menggugat sebuah kemapanan, sebuah rezim totalitas (sesuatu yang seolah sudah pasti), sebuah kebakuan akan pengetahuan yang melahirkan penerimaan begitu saja (taken for granted) tanpa adanya refleksi dan pemeriksaan.

Ny: Contohnya?

MR: Sebagai contoh, dalam dunia birokrasi, pengetahuan dominan mengajari bahwa sebuah organisasi harus efektif dan efisien. Lalu dibuatlah gugus tugas, spesialiasi, aturan dan standar baku, hirarki yang jelas dan terstruktur lengkap dengan sangsi dan hadiah. Ini yang dikenal dengan organisasi modern Weberian. Pandangan seperti ini menggeneralisir dan menyeragamkan situasi kompleks dalam dunia kerja. Banyak terjadi dehumanisasi ataupun diskriminasi karena cara kerja yang menyerupai mesin yang disebut dengan kerangkeng besi.

Ny: Wah, dehumanisasi dan diskriminasi di birokrasi? Masak iya?

MR: Kamu suka tidak kalau diajak lembur-lembur terus sampai malam?

Ny: Ya sebenarnya sih terpaksa, tapi karena tugas ya aku jalanin aja. Kerjaan memang banyak sih. Tapi di sisi lain, aku juga jadi merasa bersalah sama suami dan anak-anakku karena mereka sebenarnya juga membutuhkan aku. Kadang aku memang bingung dengan situasi ini. Kadang suami pun marah kepadaku.

MR: Terus kenapa kamu dari dulu cuma gitu-gitu aja, nggak dapat jabatan, nggak pernah diajak ‘jalan-jalan’ ke luar negeri?

Ny: Itulah, kadang aku ingin protes tapi tidak bisa. Aku sudah kerja baik dan sering lembur tapi masih saja dianggap sebagai pegawai biasa saja. Perkiraanku sih karena kinerjaku masih di bawah standar yang dimaui pimpinan. Aku pasrah saja, tapi tetap semangat kok, hehe..

MR: Nah disitulah terjadi kesadaran palsu sekaligus dehumanisasi dan diskriminasi. Kantor dan pimpinanmu seperti mengeksploitasi tenaga dan pikiranmu demi sebuah efektivitas kerja dan kinerja. Lalu kamu merasa sebagai manusia kurang dapat memenuhi kebutuhan hidupmu untuk dekat dengan keluarga.

Ny: Ho-oh sih..

MR: Kamu yang merasa baik bekerja masih belum dianggap sesuai standar bosmu. Standar yang diciptakan lewat aturan di kantormu itu membeda-bedakan tiap pegawai. Ada anggapan pegawai baik dan buruk, anggapan pegawai pinter dan bodo, itupun sesuai selera masing-masing pimpinan. Iya nggak?

Ny: Woo, iya sih. Asem tenan ik. Padahal menurut teman-teman yang paham siapa aku, aku termasuk pegawai cerdas dan berbakat lho. Tapi memang sering tidak mendapat tugas yang sesuai dengan bakatku itu. Pimpinan sering merasa sok tau dengan standar dan kompetensiku.

MR: Iya, aku tahu itu. Nah itu dia. Itu baru masalah ilmu organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Masih banyak lagi contoh yang lain, yakni ilmu ekonomi, akuntansi, hukum, psikologi, dan sebagainya. Ilmu-imu itu suka sekali menggeneralisir sesuatu dengan hiasan angka-angka yang seolah sudah canggih untuk menemukan masalahnya. Ilmu-ilmu itu termasuk ilmu sosial yang dominan dan mapan yang disebut positivis, yang seringkali perlu dibongkar untuk memahami akar permasalahan suatu fenomena sosial. Dibongkarnya ya dengan pemahaman kiri itu tadi.

Ny: Lalu kenapa pemahaman kiri itu tidak banyak berkembang di Indonesia? Aku baru tahu akhir-akhir ini.

MR: Ya pertanyaanmu semakin bagus. Seperti penjelasan di atas, pemahaman kiri ingin mengontruksi ulang atau mendobrak pemahaman positivis, yang notabene adalah ‘menguntungkan’ para kapitalis dan penguasa. Sejarahnya memang begitu. Pemahaman kiri juga bersifat menggerakkan perubahan. Nah rekonstruksi ulang dan pergerakan inilah yang tidak disukai oleh para kapitalis dan penguasa. Untuk jelasnya kamu bisa baca artikel ini: banyak buku kiri dimusnahkan.

Ny: Oke, nanti juga kubaca. Lalu kenapa antipositivis banyak bernada filosofis, apakah memang bersinggungan dengan ilmu filsafat?

MR: Sebenarnya kanan dan kiri itu semua ada tinjauan filsafatnya. Positivis itu dulu akarnya dari August Comte, dia seorang filsuf juga. Nah, untuk membongkar suatu pemahaman positivis yang mendominasi itu memang diperlukan pemahaman yang bersifat filosofis. Hal itu tidak bisa dihindari, tapi bukan berarti kita harus belajar filsafat. Bukan berarti pula kita lalu menjadi flsuf yang pemikir, melainkan daya pikir kita menjadi terbuka untuk mencermati lingkungan sosial kita, bahwa apa yang kita pahami selama ini belum tentu selalu benar dan mungkin justru kurang pas.

Ny: Sepertinya pemahaman kiri sulit dipahami. Betul begitu?

MR: Sebenarnya itu anggapan orang kebanyakan saja. Untuk memahaminya tidak diperlukan otak yang super atau jenius, tapi cukup dengan pemikiran yang terbuka. Pemikiran untuk mau belajar dan memperdebatkan kembali apa yang selama ini kita pahami sebagai suatu yang benar dan mapan. Perdebatan itu demi sebuah pemahaman yang lebih komprehensif dan memacu kesadaran terhadap realita.

Ny: Oh ya? Bukankah kalau filosofis itu justru tidak berdasarkan realita dan tidak praktis/terapan?

MR: Oh tidak begitu. Pemahaman filosofis itu hanya membantu kita untuk membuka selubung, sedangkan apa yang kita amati justru sangat berkaitan dengan realita kehidupan kita sehari-hari, ya di rumah, di sekolah, di kantor, di jalanan, dan seterusnya. Yang kita amati justru sangat membumi. Nah nanti jika sudah terbiasa membaca pengetahuan kiri, kita akan semakin terampil menerapkan ilmunya untuk mengubah keadaan sekitar kita. Disitulah kita menjadi semakin bijak dan sifatnya pun menjadi sangat praktis, bukan teoritis.

Ny: Oh ya? tapi kenapa banyak aktivis yang belajar kiri malah justru menjadi suka emosi dan ada yang anarkis?

MR: Oh, itu mereka salah asuhan dalam belajar ilmu kiri. Biasanya orang-orang begitu adalah orang yang baru baca sekali atau dua kali sudah ingin bergerak mengubah keadaan. Atau orang yang memang sengaja merusak stabilitas dengan memanfaatkan ilmu kiri, bahasanya adalah mengooptasi. Banyak orang seperti itu. Lihat saja para kapitalis dan politisi kita. Menurutku mereka telah mengooptasi ilmu kiri, memanfaatkan pemahaman ilmu kiri untuk mengelabuhi masyarakat luas. Kamu akan memahaminya jika sudah mempelajarinya.

Ny: Contohnya apa dong, menarik ini!

MR: Kamu suka kan kalau jalan-jalan ke mall? Kamu senang kan kalau dibilang kurus? Kamu suka kan melihat berita dan film di televisi atau bioskop? Itu karena kamu telah menjadi masyarakat yeng terhegemoni oleh kuasa kapitalis alias budaya konsumsi. Mall itu menghegemoni kita untuk seolah belanja adalah hiburan, belanja adalah kebutuhan emosional. Kamu menjadi ‘segar’ saat menginjakkan kaki di mall.

Ny: Hmm, iya sih. Lalu tentang kurus?

MR: Dulu perempuan dianggap kelas atas dan disebut sexy kalau gemuk, karena gemuk dulu adalah lambang kemakmuran. Perempuan lalu mengonsumsi bahan makanan bergizi yang tidak terbeli oleh kelas bawah. Sekarang terbalik, tubuh perempuan kurus dianggap sebagai perempuan  kelas atas dan memenuhi definisi sexy. Definisi itu memang dikonstruksi agar klinik kecantikan, gym, serta makanan non kolesterol dan sehat dikonsumsi lebih banyak orang. Makanan sehat dan non kolesterol adalah makanan yang tidak murah. Para kapitalislah yang menikmati keuntungannya.

MR: Setiap film, pertunjukkan, ataupun iklan di berbagai media selalu mengonstruksi definisi sexy itu. Apa yang kita lihat di televisi, bioskop, dan media lainnya kita anggap sebagai sebuah gambaran nyata kehidupan, padahal tidak. Itulah yang dinamakan simulacra oleh Jean Baudrillard. Itu contoh ilmu kiri yang dipahami sekaligus dikooptasi oleh kapitalis.

Ny: Kalau tentang politik?

MR: Ah, tidak cukup kalau diurai sekarang. Sekarang sudah malam..

Ny: Oke, jadi memang diperlukan mentor ya untuk mempelajarinya?

MR: Ya, sebaiknya begitu. Seperti kalau kamu mengaji kan, perlu guru yang memang sudah cukup mumpuni dan komprehensif pemahamannya, supaya tidak menjadi murid yang anarkis dan mudah terombang-ambing.

Ny: Lalu apakah kita harus belajar konsep atau teori antipositivis kalau mau jadi orang kritis?

MR: Sebenarnya tidak selalu begitu, tapi sebaiknya begitu. Maksudku begini, untuk dapat menjadi kritis, hal pertama memang harus open mind. Artinya kita selalu mempertanyakan kembali banyak hal di sekitar kita, lalu berdiskusi dengan siapa saja tanpa ada pemihakan total terhadap pengetahuan yang sudah kita pamahi selama ini. Janganlah terburu menolak pandangan orang lain yang kamu anggap tidak sesuai pemahamanmu selama ini. Seraplah dan renungkan kembali dengan hati jernih tanpa emosi. Nah, untuk memperlancar perenunganmu itu, memang akan menjadi sangat terbantu jika mau membaca konsep-konsep antipositivis. Paling tidak dengan membaca buku yang berhaluan kiri, maka cukuplah untuk belajar menjadi kritis, tidak perlu belajar teori seperti yang ada di akademisi.

Ny: Nah, baru mau tanya, bukannya itu ranah akademisi dan aktivis saja? Sebagai birokrat apa kita tetap perlu belajar pemahaman itu dan menjadi kritis?

MR: Wah itu sama sekali salah. Kritis bukan hanya milik akademisi dan aktivis. Kritis adalah hak siapa saja dan sebaiknya masyarakat menjadi kritis. Birokrat pun demikian, agar menjadi lebih berdaya seharusnya menjadi birokrat kritis. Apa yang menjadi contoh di atas menggambarkan supaya kita tidak pasif dan ‘dikibuli’ oleh elite. Kita menjadi birokrat yang reflektif dan emansipatif. Kita menjadi birokrat yang berani bersuara, berdaya, dan bergerak. Itu semua justru demi kebaikan birokrasi dan untuk mencapai cita-cita para pendiri bangsa. Itulah yang dibilang Rudy Harahap bahwa birokrat harus kritis.

Ny: Jadi, birokrat kritis itu bukan birokrat yang suka nyinyir mengkritik apa saja yang dilakukan pemerintah ya?

MR: Bukan, tukang nyinyir itu justru orang yang tidak kritis, kecuali dia mau menggunakan banyak perspektif untuk dipakai sebagai argumen dalam mengkritik. Jangan mengkritik orangnya, tapi isunya. Ambil saja sebuah isu lalu kritiklah dengan berbagai perspektif yang komprehensif. Hal itu penting supaya tidak terjebak pada kritik yang emosional dan tidak cerdas. Kalau kritik sebuah isu, nanti akan lebih leluasa mengkritik, tidak perduli dia pihak pemerintah atau bukan, tapi siapa pun melakukan pelanggaran dalam suatu isu akan kita kritik. Nah, itu baru kritis.

Ny: Haha, kena deh guwe!

Ny: Buku atau tulisan apa contohnya yang bisa aku baca biar jadi orang kritis?

MR: Buku-buku Pramudya Ananta Toer itu novel kiri, lalu buku-buku yang ada di galeri balai buku progresif. Kamu juga bisa baca banyak artikel kiri di tirto.id, terutama di katogori tulisan ‘mild report’, atau artikel-artikel di mojok.co, the conversation.com/id, dan bisa beberapa artikel yang ada di birokratmenulis.org terutama artikel di kategori ‘refleksi birokrasi’. Selain itu masih banyak lagi bahan bacaan kiri sekarang, ciri-cirinya adalah kalau bacaan itu mengguncang pemahamanmu selama ini. Nah jangan takut atau alergi, tapi tetap saja baca dan renungkan.

Ny: Baiklah, jadi belajar pemahaman kiri itu baik?

MR: Lebih tepatnya pemahaman menjadi seimbang. Seperti yang dibilang Nurul Qomariyah, tidak kanan terus dan jangan kiri terus. Kanan atau ilmu positivis tetap diperlukan untuk memahami permukaan masalah, lalu dalamilah dengan pemahaman kiri atau antipositivis untuk mendapatkan akar masalahnya. Dengan begitu pemahaman akan lebih komprehensif dan bijaksana. Harus imbang memang, seperti kalau kita baris berbaris, selalu saja komandonya adalah, “Kanan kiri, kanan kiri!” Bayangkan kalau komandonya menjadi, “Kanan kanan!” atau, “Kiri kiri!” Sungguh melelahkan dan akhirnya membuatmu kejlungup (red: terjatuh).

Ny: Hahaha… iya juga ya. Oke deh, Thanks ya, Say…

 

 

Mutia Rizal ◆ Professional Writer

ASN Instansi Pemerintah Pusat dan saat ini sedang menempuh tugas belajar pada Program Studi S3 Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada. Penulis yang aktif di Birokrat Menulis ini sangat spesial, karena goresan ide-ide dalam tulisannya selalu mempertanyakan kemapanan yang telah ada, untuk tujuan perubahan birokrasi yang lebih humanis, bermartabat, dan bernilai bagi publik.

error: