Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 skala richter yang diikuti tsunami dan  meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima Jepang   beberapa waktu lalu ternyata tidak mampu memporakporandakan mental masyarakat Jepang. Tidak ada keluhan dan tidak ada tangisan sedikitpun,  yang ada adalah semangat berjuang bersama untuk menghadapi dan mengatasi bencana tersebut.

Itulah semangat GAMBARU, yakni berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Sejak usia dini, masyarakat Jepang telah dikenalkan  dengan Gambaru dan berbagai motto perjuangan sebagai aktualisasinya, seperti: “ganbatte kudasai” (berjuang lebih baik), “taihen dakedo, isshoni gambarimashoo” (saya tahu ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), dan “motto motto kenkyuu shitekudasai” (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Dengan semangat Gambaru tersebut, wajar apabila masyarakat dunia menyaksikan kebangkitan yang super cepat dari bangsa Jepang. Hanya  dalam rentang waktu 19 tahun saja sejak Hiroshima dan Nagasaki luluh  lantak, tepatnya tanggal 1 Oktober 1964 Jepang mampu membuat  kereta api tercepat di dunia (Shinkansen) yang bisa dipacu sampai 300  km/jam, mengalahkan kereta api buatan Amerika, bangsa yang sebelumnya membombardir Jepang.

Di Indonesia, khususnya di tatar Sunda juga punya semangat seperti itu. Artinya tidak kalah heroik, namanya semangat “TEU HONCEWANG”. Jargon-jargon operasional dari semangat Teu Honcewang antara lain: “cadu mundur pantang mulang mun maksud tacan laksana” (pantang menyerah dan pantang pulang kalau maksud belum terlaksana), dan “berjuang keur lemah cai, lali rabi tur tega pati” (siap berkorban sampai mati untuk tanah air).

Demikian juga di tempat lain di setiap pelosok Nusantara, pasti ada  kearifan lokal yang menyiratkan heroisme dan nyali bangsa kita untuk berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan dalam membela kebenaran dan mempertahankan harga diri. Seperti dicontohkan oleh gelegar pekikan Bung Tomo di medan pertempuran yang paling mematikan di  Surabaya, 10 November 1945, “Merdeka atau Mati !”.

Jepang dan Indonesia sejatinya memiliki kesamaan budaya. Pondasi  kehidupannya berbasis spiritualitas, bukan rasionalitas. Bahkan di Indonesia ada lebihnya, spiritualitasnya didasarkan juga nilai-nilai agama. Misal  semangat “Jihad” di kalangan umat Islam. Jadi seharusnya Indonesia kini menjadi negara yang lebih kuat dan lebih hebat daripada Jepang. Pertanyaan besarnya, mengapa hal tersebut belum terjadi? Mari kita renungkan bersama dan mari kita buktikan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa pejuang yang bernyali elang, bukan burung pipit!

 

 

Herman Suryatman ▲ Active Writer

Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian PAN dan RB. Penikmat seni dan mengapresiasi kepemimpinan berbasis konteks lokal. Pernah mengenyam pendidikan di IPDN, Institut Ilmu Pemerintahan, dan Magister Ilmu Pemerintahan UNPAD, dan kandidat doktor Ilmu Pemerintahan pada IPDN. Penulis dengan gaya menulisnya yang ringan namun sarat makna dan menginspirasi ini membagikan pengalamannya selama di pemerintahan melalui tulisan kepada Anda.

error: