Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh komunitas Abdi Negara Muda, yang mengundang perwakilan dari komunitas Abdi Muda dan Aparatur Muda sebagai narasumbernya. Diskusi yang diberi nama ANM Talk ini bertajuk “ASN (Aparatur Sipil Negara) Muda Berkomunitas, Buat Apa?”

Bagi saya diskusi ini menarik karena semuanya serba muda, baik atribut penamaan komunitas, para pesertanya, tampilan diskusi, dan juga isinya. Semua serba muda, seperti jiwa saya.

Sebelumnya, saya pun mengamati ada banyak komunitas bermunculan di berbagai instansi pemerintah yang memiliki embel-embel ‘muda’. Sebut sebagai contoh, Kemenkeu Muda, BPKP Muda, DJKN Muda dan sepertinya masih banyak lagi.

Apa yang sebetulnya mereka cari dan perjuangkan? Mengapa mereka perlu berkumpul? Mengapa ada istilah ‘muda’ di belakangnya? Ada apa dengan ASN tua?

Pergolakan Identitas

Bagi saya, fenomena ini tidak biasa. Ada hal menarik yang perlu kita bedah, terutama terkait dengan sisi kultur (budaya). Dari kaca mata kultur, secara umum komunitas muda yang tumbuh subur tersebut bisa dikatakan sebagai pencarian identitas diri.

Dalam diskusi tersebut, berbagai komunitas yang mulai muncul sejak tahun 2018 ini kompak mengatakan bahwa alasan mereka membuat komunitas karena adanya kegelisahan yang sulit terbendung dalam diri mereka.

Kegelisahan yang pada awalnya hanya seputar ingin diakui perannya, sampai pada kegelisahan untuk mengubah sesuatu yang ada di sekeliling mereka.

Dua kegelisahan tersebut tentu saja merupakan suatu yang wajar muncul di seputar birokrasi pemerintahan, yang sampai saat ini masih kuat bersemayam kultur paternalistik warisan feodal-kolonial.

Dalam kultur tersebut, relasi patron-klien bersifat diametral, yakni dua hal yang saling berhadapan dan bersifat tidak setara. Katakanlah dua hal tersebut adalah ‘pimpinan-bawahan’, ‘atasan-anak buah’, ‘senior-junior’, dan ‘tua-muda’.  Yang disebut pertama adalah barisan patron, sedangkan yang disebut kedua adalah barisan klien. 

Patron selalu lebih powerful dibanding klien. Barisan patron selalu mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan dibanding barisan klien. Barisan patron inilah yang selalu dianggap lebih benar, lebih paham, dan lebih dewasa dalam bertindak ataupun memutuskan sesuatu. Plus, barisan inilah yang menganggap dirinya memiliki tugas dalam membina dan bertanggung jawab kepada barisan klien-nya. 

Sementara, bagi barisan klien di masa kini, yang memang sebagian besar adalah para junior dan muda, seolah merasa tidak puas dengan kultur paternalistik yang melingkupinya.

Mereka seolah merasa bahwa sudah saatnya relasi tidak lagi bersifat diametral. Mereka juga merasa bahwa pembinaan dan keputusan tidaklah selalu harus datang dari barisan pimpinan/senior. Apalagi jika mereka mulai mengingat sejarah proklamasi dan juga reformasi yang keberhasilannya sangat ditentukan oleh barisan muda, maka jiwa-jiwa itu akan semakin bergelora.

Namun, apa mau dikata, lingkungan sekitar mereka saat ini belumlah mendukung sepenuhnya. Alih-alih mendukung, justru sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa lingkungan di institusi masing-masing seolah mematikan gelora jiwa mereka.

Itulah mengapa, mereka perlu berkumpul dan bercerita bersama untuk saling menguatkan di antara mereka. Mereka perlu bergabung merapatkan barisan agar identitas mereka tak lagi rapuh di depan barisan patronnya. Lebih jauh lagi, mereka berharap secara perlahan identitas mereka secara individu mampu diakui di institusi masing-masing.

Lalu identitas apa yang sesungguhnya mereka cari, apakah menjadi (being) muda, atau menjadi (becoming) muda?

Kedua istilah yang dalam bahasa Indonesia sama-sama berarti ‘menjadi’ ini, memiliki makna yang berbeda. Adalah Heracticlus, Paramindes, dan juga Plato, sederetan filsuf Yunani yang mulai mempersoalkan hal ini, yang kemudian dikembangkan oleh beberapa tokoh culture studies, di antaranya adalah Kathryn Woodward dan Stuart Hall.

Secara umum, bagi para tokoh tersebut, being adalah suatu realitas yang tetap, yakni sebuah tahapan dalam kehidupan yang tidak akan terulang kembali. Sedangkan becoming, adalah sebuah realitas yang cenderung mengalir dan terus berubah.

Bagi kehidupan manusia, becoming adalah proses pencarian diri yang tak pernah berhenti. Dalam konteks kultur, realitas tersebut dapat juga dipahami sebagai suatu identitas seseorang atau sekumpulan orang.  

Menjadi (Being) Muda

Dalam diskusi yang saya ikuti tersebut, para ASN muda ini merasa dirinya sebagai pegawai muda yang tidak bisa diam, selalu ingin berbuat sesuatu, dan penuh gagasan. Mereka terlihat ingin diakui di kantornya sebagai pegawai yang dapat diandalkan, yang tidak dipandang sebelah mata.

Mereka menolak stigma tentang pegawai muda, atau yang sekarang banyak disebut sebagai pegawai milenial, yang seringkali dianggap bekerja semaunya, terburu-buru, kurang sopan, dan juga sulit diatur. Mereka seperti ingin membuktikan sekalipun usia masih muda dan sulit diatur, tetapi mampu mengguncang dunia.  

Perjuangan merebut identitas menjadi (being) muda ini ditandai dengan berkisarnya pembahasan dan permasalahan benturan nilai dalam gap antargenerasi. Benturan nilai ini sangat dipengaruhi oleh adanya kultur dominan di birokrasi, yakni paternalistik tadi.

Generasi muda (yang usianya masih muda) ingin membuktikan keberadaan dirinya di mata generasi seniornya. Sekali lagi bukan untuk menentang, melainkan untuk membuktikan bahwa dirinya ada dan diakui (eksis).

Selain itu, mereka juga terlihat ingin menikmati masa mudanya yang hanya sekali, yang kenikmatan itu tidak bisa mereka dapati di lingkungan kantor. Bahkan, terkadang keberadaan penting mereka di kantor tak diakui tak mengapa, yang penting bisa bergabung bersama dalam komunitas.

Itulah mengapa mereka juga bercerita bahwa saat mereka berkumpul, mereka merasa menemukan kembali semangatnya setelah terdemotivasi di kantor karena menjadi pegawai yang ‘tak dianggap’.

Menjadi (being) muda sebetulnya lekat dengan sebuah perlawanan. Para anak muda ini berupaya melawan stigma. Mereka juga terlihat melawan kultur dominan, yakni paternalistik. Mereka seperti ingin mendefinisikan diri mereka sendiri di sebuah waktu dan tempat tertentu. Apa yang selama ini mereka telah lakukan menunjukkan hal (perlawanan) tersebut.

Berbagai kegiatan digelar, semacam berkumpul dan berdiskusi bersama, menggelar seminar, kompetisi, dan juga workshop. Berbagai topik penting dan mutakhir pun dibawakan. Kegiatan-kegiatan itu pada dasarnya menunjukkan adanya sebuah perlawanan terhadap kultur paternalistik, yang selalu menganggap hanya yang seniorlah yang pantas berdiskusi secara serius dan mampu memahami permasalahan dengan baik.

Saat narasumber berupa tokoh penting bersedia menghadiri acara mereka, seolah mereka merasa membayar ‘lunas’ atas anggapan anak muda belum pantas diperhitungkan.

Mereka seperti melawan, sambil mengatakan, “Kami juga paham, kami juga mampu, dan kami juga bisa berbuat sesuatu”. Mereka juga seperti ingin berteriak,”Meskipun kami anak bawang yang belum memiliki kewenangan dan kedudukan, tapi gagasan kami penting untuk didengar”.

Apa yang mereka lawan dan buktikan adalah apa yang dianggap buruk oleh kultur dominan. Dengan demikian bisa juga dikatakan, perjuangan komunitas ASN menjadi (being) muda adalah berjuang untuk mendefinisikan identitasnya sendiri yang selama ini telah secara tetap ditentukan oleh kultur dominan.

Mereka mendefinisikan dirinya di tengah kultur dominan yang tak mampu mereka lawan.

Menjadi (Becoming) Muda

Berbeda dengan menjadi (being) muda, yang identitasnya cenderung melekat tetap, perjuangan untuk merebut identitas menjadi (becoming) muda lebih menekankan pada proses perubahan. Perubahan yang dimaksud bukanlah perubahan gaya ataupun karakter yang pada diri anak muda, melainkan perubahan dalam mendefinisikan siapa dirinya.

Proses mendefinisikan siapa dirinya adalah proses yang selalu bergerak mengikuti kondisi di luar dirinya. ASN muda tidak seyogyanya hanya berhenti pada identitas yang lincah, gaul, semangat, kreatif, dan produktif. ASN muda hendaknya lebih mampu melakukan negosiasi dengan kondisi tertentu yang membawa konsekuensi pada berubahnya identitas murni dirinya.

Beberapa pihak dalam diskusi di atas mengatakan bahwa nilai-nilai yang diusung oleh komunitas ASN muda adalah nilai-nilai yang egaliter, inklusif, dan fleksibel. Nilai-nilai inilah yang dapat menjadi modal bagi ASN muda untuk berproses menjadi (becoming) muda. Melalui nilai-nilai itulah identitas mereka dapat berubah dalam rangka bernegosiasi dengan kondisi di birokrasi.

Dalam proses becoming, yang lebih dipentingkan adalah bagaimana perubahan definisi atas dirinya mampu mempengaruhi kultur dominan yang kini melingkupinya.  Pada saat sekumpulan ASN muda mulai berpikiran hal tersebut, maka komunitas tidak lagi berkutat pada kegelisahan tentang pengakuan karakter mudanya.

Komunitas mulai bergerak untuk sebuah perubahan yang nyata. Mereka tak akan lagi takut pada dualitas senior-junior, karena mereka telah mampu melakukan negosiasi untuk mengatasinya. Terkadang mereka harus diam seribu basa saat menghadapi tekanan di kantornya. Hal itu membuat identitasnya berubah menjadi anak muda yang diam seperti patung, bukan pemuda yang lincah lagi.

Terkadang mereka perlu berkamuflase seperti bunglon untuk menghadapi situasi yang tidak menentu di kantornya.  Mereka perlu berbaju cokelat saat semua orang disekelilingnya juga berbaju cokelat agar dirinya dapat berbaur dengan seniornya, tetapi mereka tak akan melupakan tugas utamanya untuk menangkap mangsa, alias melakukan perubahan nyata di birokrasi.

Dengan demikian, perjuangan untuk menjadi (becoming) muda tak akan lekang oleh waktu dan tempat tertentu. Perjuangannya juga tak akan berhenti saat usianya tak lagi muda. Identitasnya terus berubah, sedangkan yang tetap adalah tujuannya.

Perjuangan dilakukan terus menerus untuk dapat diakui dan sejajar dengan pegawai senior lainnya. Kemudaannya tidak lagi diukur dari usia, melainkan dari cara berpikir dan gagasan segarnya.

Artinya, dalam komunitas, mereka perlu saling mendukung dan menguatkan untuk mampu mendapatkan tempat terhormat di antara para seniornya. Dalam kondisi demikian, tidak lagi ada permasalahan senior-junior, melainkan mampu-tidak mampu dan pantas-tidak pantas.

Sebuah proses menjadi (becoming) yang dimainkan oleh pegawai muda memang bukanlah suatu hal yang mudah. Mereka harus mampu menunjukkan kapasitas dan kemampuan yang lebih untuk kemudian dapat menerobos barisan patronnya.

Dengan demikian, pergerakan komunitas menjadi (becoming) muda tidak lagi mempermasalahkan gap antar generasi dari segi usia, tetapi pergerakan komunitas lebih menitikberatkan perannya untuk meremajakan wajah birokrasi yang semakin keriput.

Epilog

Meskipun tujuan dan caranya berbeda, akan tetapi baik being maupun becoming, keduanya adalah sebuah perjuangan meraih identitas diri ‘menjadi’ muda. Berbagai komunitas ASN muda yang kini semakin marak kemunculannya perlu memperhatikan hal tersebut dengan baik.

Hal itu diperlukan agar pergerakan komunitas tidak berhenti pada proses being semata, tetapi mampu berproses untuk menjadi (becoming) muda, semuda-mudanya, sehormat-hormatnya.

5
0

ASN Instansi Pemerintah Pusat dan saat ini sedang menempuh tugas belajar pada Program Studi S3 Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada. Penulis yang aktif di Birokrat Menulis ini sangat spesial, karena goresan ide-ide dalam tulisannya selalu mempertanyakan kemapanan yang telah ada, untuk tujuan perubahan birokrasi yang lebih humanis, bermartabat, dan bernilai bagi publik. Anda juga dapat mengikuti berbagai buah pemikirannya di Instagram: @mutiarizal.insight
Twiter: @rizal.mutia

error: