New Normal dan Guncangan Sosial Menuju Equilibrium Baru

New Normal dan Guncangan Sosial Menuju Equilibrium Baru

Menjelang Lebaran 2020, warganet Lumajang dikejutkan dengan sebuah foto yang diambil dari sebuah pusat perbelanjaan di kota Lumajang. Gambar tersebut menyajikan sebuah fakta: masyarakat mengabaikan himbauan untuk menjaga jarak aman dan tidak berkerumun dalam jumlah lebih dari 10 orang, sebagaimana amanat pasal 3 Perbup No. 16 tahun 2020.

Presiden Joko Widodo telah menetapkan Penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional yang bersifat nonalam sebagaimana Keputusan Presiden No. 12 tahun 2020. Hal ini karena bencana non-alam yang disebabkan oleh penyebaran COVID-19 telah berdampak meningkatnya jumlah korban dan kerugian harta benda, meluasnya cakupan wilayah yang terkena bencana serta menimbulkan implikasi pada aspek sosial ekonomi yang luas.

Oleh karena itulah diperlukan upaya percepatan penanganan agar penyebaran COVID-19 dapat diputus melalui kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Misalnya, dengan cuci tangan pakai sabun, menggunakan masker 2 lapis, menjaga jarak aman, dan tidak berkerumun.

Namun, tampaknya kepatuhan terhadap protokol kesehatan, khususnya menjelang hari raya Idul Fitri lalu tidak lagi diindahkan oleh masyarakat Lumajang. Hal ini tentunya menjadi keprihatinan tersendiri karena di saat jumlah kasus pasien positif COVID-19 terus meningkat, ternyata sikap masyarakat cenderung abai terhadap protokol kesehatan tersebut.

Risiko Kematian Akibat COVID-19

Menurut situs alodokter.com per tanggal 14 Mei 2020, case fatality rate atau tingkat kematian yang disebabkan oleh COVID-19 di Indonesia mencapai 6,5%.

Jika dikategorikan dengan menggunakan kelompok usia, maka diperoleh data bahwa tingkat kematian tertinggi adalah pada kelompok usia diatas 46 tahun, yaitu mencapai 26,2%. Sedangkan jika didasarkan pada data dari seluruh penderita COVID-19 yang meninggal dunia, maka persentase kematian tertinggi juga berada pada usia diatas 46 tahun, yaitu 74,6%.

Hal ini semestinya memberikan pemahaman bahwa kelompok yang paling rentan terhadap penyebaran COVID-19 adalah mereka yang telah “cukup” berumur, yaitu di atas usia 46 tahun. Sedangkan mereka yang berada di bawah usia 46 tahun, meskipun juga dapat meninggal dunia, tetapi kemungkinannya tidak sebesar mereka yang berusia di atas 46 tahun.

Oleh karena itulah, himbauan dan aturan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan bukanlah semata-mata untuk menyelamatkan diri kita yang berusia di bawah 46 tahun, melainkan secara khusus untuk mereka yang telah berusia di atas 46 tahun, karena mereka rentan.

Bahkan, masih menurut situs alodokter.com, seseorang yang terpapar COVID-19 bisa juga tidak menunjukkan gejala apapun, sehingga tidak perlu memeriksakan diri ke Rumah Sakit, cukup tinggal di rumah selama 14 hari dan membatasi kontak dengan orang lain. Inilah kenapa kita harus patuh menjalankan protokol kesehatan.

Realitas Kesehatan Masyarakat: Idul Fitri vs COVID-19

Lalu kenapa masyarakat (Lumajang), khususnya menjelang hari raya idul fitri tidak mengindahkan protokol kesehatan tersebut? Menurut pendapat penulis hal ini karena COVID-19 masih belum menjadi realitas keseharian masyarakat. Hal ini tentu saja berbeda dengan realitas perayaan Idul Fitri yang telah menjadi tradisi.

Idul Fitri selalu identik dengan baju baru, silaturahim, dan makanan sebagai perayaan. Masa pandemi COVID-19 tidak akan menghalangi niat masyarakat untuk tetap membeli baju baru dalam keadaan berdesak-desakan. Dengan kata lain, masyarakat lebih takut untuk tidak merayakan hari raya daripada terinfeksi COVID-19.

Mengacu pada teorinya Emile Durkheim tentang fakta sosial, maka merayakan Idul Fitri dengan membeli baju baru dalam pandangan penulis merupakan sebuah fakta sosial. Membeli baju baru merupakan sesuatu yang secara nilai, budaya, dan norma telah mengendalikan tindakan dan kepercayaan individu masyarakat secara keseluruhan.

Dengan demikian, keputusan untuk berbelanja bukanlah keputusan individual, melainkan sesuatu yang telah mengalami obyektivasi menjadi lebih dari sekedar tindakan. Berbelanja baju baru merupakan moralitas obyektif yang sui generis dalam kehidupan masyarakat.

Fakta Sosial dan Kebijakan New Normal

Selanjutnya, Emile Durkheim selalu menegaskan bahwa sebuah fakta sosial merupakan segenap bentuk keberlakuan, terpaku atau tidak, yang dapat menderakan kepada seorang insan kekangan eksternal atau lainnya, segenap bentuk keberlakuan umum dalam sebuah masyarakat yang pada saat yang sama hadir pada dirinya sendiri terlepas dari manifestasi individualnya.

Oleh karena itulah, apabila seseorang tidak membeli baju baru menjelang hari raya Idul Fitri akan ada kemungkinan seseorang tersebut akan mendapatkan gunjingan sosial, setidaknya berasal dari internal keluarganya. Membeli baju baru telah memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena kebiasaan membeli baju baru telah ada sejak lama, dan sifatnya koersif berupa gunjingan sosial jika tidak membeli baju baru dalam merayakan Idul Fitri.

Selain fakta sosial berbelanja baju baru tersebut, fakta sosial masyarakat lainnya yang tidak bisa dikekang adalah kebiasaan kebersamaan, kerjasama, solidaritas, atau bentuk lainnya dalam interaksi sosial.

Bayangkan jika Anda di sebuah perkampungan kemudian tidak pernah berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar. Yang terjadi adalah labeling terhadap anda sebagai orang yang sombong, orang yang nanti jika mati akan menggotong jenazahnya sendiri dan lain sebagainya.

Hal inilah yang (mungkin) dirasakan oleh Presiden Joko Widodo, sehingga berfatwa bahwa masyarakat harus berdamai dengan COVID-19 dan mulai melakukan penyesuaian dalam keseharian (new normal), khususnya menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian.

Apakah Presiden Joko Widodo Menyerah?

Menurut penulis tentu saja tidak. Dalam perspektif struktural fungsionalnya Talcott Parson, keadaan new normal tersebut justru merupakan tatanan sosial baru yang akan dijalankan oleh masyarakat setelah mengalami “guncangan sosial”. Bahasa yang digunakan Parsons adalah evolusioner yang tertib.

Guncangan sosial tersebut pada akhirnya akan menjadi sebuah keseimbangan kembali dalam sistem sosial. Inilah yang dinamakan dinamika dalam keseimbangan. Merujuk pada Parsons, maka keadaan new normal yang diharapkan Presiden adalah sebuah upaya integrasi sosial.

Integrasi sosial ini, meskipun tidak pernah dapat dicapai secara sempurna, tetapi secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak ke arah equilibrium yang bersifat dinamis. Yaitu, menanggapi perubahan-perubahan yang datang dari luar dengan kecenderungan memelihara. Tujuannya agar perubahan-perubahan yang terjadi di dalam sistem sebagai akibatnya, hanya akan mencapai derajat yang minimal.

Epilog

Keadaan new normal inilah yang akan kita jalani mulai dari saat ini hingga benar-benar ditemukan vaksin yang mampu membumihanguskan COVID-19 dari muka bumi. Belajar hidup di antara COVID-19 bukan berarti kita menyerah, melainkan lebih pada membiasakan protokol kesehatan dalam keseharian.

Bagaimanapun, rasa-rasanya kita memang tidak punya pilihan yang lain lagi, selain meresapi apa hakikat dari new normal dan berusaha menjalaninya. Sebab beradaptasi adalah bagian penting dari eksistensi peradaban manusia sepanjang sejarah kehidupannya. Tentu saja, penulis turut berdoa, semoga COVID-19 segera musnah dari Indonesia.

1
0
New Normal: Bukan Sekedar Perubahan

New Normal: Bukan Sekedar Perubahan

Akhir-akhir ini, istilah “new normal” menjadi primadona baru dalam pergaulan sehari-hari. Dari ibu rumah tangga, kalangan intelektual, hingga politisi dan Presiden, semua beramai-ramai bicara soal new normal. Namun, pemahaman setiap orang terhadap istilah ini sangat berbeda-beda.

Seorang Amien Rais bahkan menilai telah terjadi salah paham mengenai istilah new normal ini, sehingga beliau meminta agar istilah ini tidak dipakai lagi karena bisa mengelabui diri sendiri (CNN Indonesia, 25/05/2020).

Old dan New normal

Untuk itu, saya mencoba memaknai new normal sebagai sebuah tradisi baru yang baik, yang secara terpaksa atau sukarela dipraktikkan secara kolektif sebagai dampak dari penyebaran virus Korona.

Perkuliahan melalui Googleclassroom, rapat-rapat dan pelatihan yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom, belajar di rumah bagi anak-anak SD dengan pemberian penugasan melalui Whatsapp orangtuanya, atau tukang sayur yang melayani pengantaran ke rumah, adalah beberapa contoh rutinitas masyarakat yang dikategorikan sebagai “normal baru”. Kebiasaan mencuci tangan, memakai masker, atau menjaga jarak, baik saat masih ada pandemi maupun tidak, adalah juga new normal.

Namun, apakah benar kita sudah masuk pada era new normal itu?

Saya memiliki pendapat yang berbeda dengan pandangan umum. Saya meyakini bahwa new normal itu belum terjadi dan belum tentu dalam waktu dekat akan benar-benar menjadi kenyataan. Banyak argumen yang bisa menjelaskannya.

Pertama, jika ada new normal berarti ada situasi normal lain yang mendahuluinya, sebut saja “old normal”. Nah, coba perhatikan dengan baik, berapa lama kita hidup dalam era normal terdahulu? Berapa lama kita telah bekerja dengan cara normal, pagi buta berangkat ke kantor, terjebak kemacetan, sampai di kantor langsung absensi, menerima tamu dari luar kota secara tatap muka, berpindah dari rapat yang satu ke rapat lainnya, dan seterusnya?

Atau, sudah berapa lama anak-anak kita belajar secara “normal” di sekolah dengan ibu guru di kelasnya? Lantas, mungkinkah new normal itu terjadi begitu tiba-tiba tanpa proses pembiasaan yang panjang sampai menjadi sebuah habit?

Kedua, dari perspektif manajemen perubahan, apa yang terjadi saat ini sebenarnya barulah sebatas “perubahan”. Tetap tidak ada garansi perubahan itu akan menjadi sebuah norma baru yang akan berlangsung lama.

Model Perubahan

Salah satu teori yang sangat pas untuk menjelaskan fenomena perubahan dalam merespon pandemi Covid-19 adalah teori Kurt Lewin tentang Unfreeze, Change, Refreeze. Tahap unfreeze (mencairkan yang beku) ditandai oleh munculnya peristiwa atau situasi yang memberi urgensi untuk sebuah perubahan. Misalnya, keuntungan perusahaan yang terus merosot, kinerja karyawan, dan iklim kerja yang memburuk, dan seterusnya.

Awal Maret 2020 ketika pertama kali pemerintah mengumumkan adanya pasien positif Covid-19, adanya juga tahap unfreeze. Begitu muncul kesadaran bahwa kita sudah berada di tahap unfreeze, maka dilakukanlah berbagai cara untuk merespon, yang disebut dengan change (perubahan).

Perubahan kerja di kantor menjadi work from home (WFH), atau belajar dan kuliah dari rumah, ibadah dari rumah, belanja dari rumah, bisnis dari rumah, dan sebagainya, adalah tahap kedua dari Change Management Model-nya Lewin.

Pada tahap ketiga atau refreeze (membekukan kembali), perubahan yang terjadi pada tahap kedua tadi harus dilembagakan untuk bisa menjadi kultur baru. Syaratnya, kultur lama harus ditinggalkan sebagian atau seluruhnya, sehingga membentuk kultur baru (sama sekali baru atau kombinasi kultur lama dan kultur baru). Inilah hakekat dari new normal itu.

Kita juga bisa telaah new normal dari teori Bruce Tuckman tentang Team Development Model. Meskipun teori ini lebih tepat untuk melihat bagaimana sebuah tim bisa dibentuk dalam sebuah organisasi, tetapi logikanya cukup bermanfaat untuk melihat bagaimana respon kita terhadap pandemi bisa diinstitusionalisasi.

Menurut Tuckman, perkembangan tim atau organisasi dilalui tahapan forming, dilanjutkan dengan storming, norming, baru dihasilkan sebuah situasi baru bernama performing. Dalam konteks pandemi, tahap forming adalah tahap sebelum merebaknya virus dan masyarakat hidup dalam sebuah bentuk (form) yang ajeg atau rutin.

Pengumuman pemerintah tentang pasien positif Covid-19 menandai tahap storming, yang dipenuhi dengan kebingungan, kecemasan, dan bahkan munculnya korban jiwa dari pandemi tersebut. Segera setelah wabah ini menyebar, muncul respons untuk tetap survive di tengah gempuran wabah yang semakin mengkhawatirkan.

Kebijakan PSBB, pemberian bantuan sosial, pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung fungsi pendidikan dan perkantoran, dan sebagainya, adalah upaya membentuk norma baru (norming) untuk menggantikan tradisi lama pada tahap pertama. Nah, jika upaya norming ini bisa dilanjutkan, maka akan sampailah pada tahap selanjutnya yakni performing. Tahap inilah yang kita maknakan sebagai new normal.

Tidak Sebatas Berubah

Dari teori Lewin maupun Tuckman di atas dapat dilihat bahwa new normal itu tidak mudah untuk dicapai. New normal juga berbeda dengan perubahan, bahkan jauh lebih menantang dibanding perubahan itu sendiri. Tahapan change (Lewin) atau norming (Tuckman) belum bisa dikatakan sebagai era normal baru, tetapi masih sebatas transisi menuju era baru.

Untuk menuju kesana, kita harus pandai-pandai menjaga agar masa transisi dan segenap perubahan yang menyertainya, bisa terlembagakan menjadi tradisi dan sistem baru, bukan hanya sebagai inisiatif sesaat di kala terjadi situasi darurat.

Seandainya wabah Corona telah berlalu, kemudian kita mengulang lagi cara lama kita dalam bekerja, menempuh ilmu, berbelanja, dan seterusnya, maka tahap refreeze atau performing tidak akan pernah terwujud. Yang terjadi justru sebaliknya, kita kembali ke tahapan freeze atau forming. Dalam situasi seperti ini, tidak ada sama sekali era bernama new normal itu.

Oleh karena itu, tantangan terbesar kita adalah bagaimana melakukan institusionalisasi terhadap perubahan yang banyak terjadi di masa transisi ini. Salah satu cara yang paling efektif untuk proses institusionalisasi tersebut adalah dengan menyesuaikan seperangkat aturan yang tidak lagi kompatibel dengan perubahan.

Sebagai contoh, aturan working from home, mestinya segera diakomodir ke dalam peraturan di bidang kepegawaian. Jika tidak, maka WFH hanya akan menjadi kenangan indah di masa yang sulit. Demikian pula, jika anak-anak sekolah kembali ke kelasnya dan dijauhkan dari platform digital, sementara orang tua tidak lagi intens membimbing anaknya belajar dan menyerahkan kembali pendidikan anak sebagai urusan guru, artinya kita kembali ke masa old normal.

Epilog

Singkatnya, pandemi Covid-19 adalah momentum bagi umat manusia untuk memperbaiki cara menjalani kehidupannya. New normal adalah kurva baru yang menandakan umat manusia sudah beralih ke peradaban yang lebih baik.

Jika pandemi tidak membawa manusia ke era new normal, ada dua kerugian besar yang harus dibayar, yakni korban materi dan jiwa yang amat banyak, serta kegagalan berhijrah ke peradaban baru. Namun, new normal pun jika berlangsung terlalu lama akan menjadi usang atau obsolete, sehingga umat manusia harus mencari new normal berikutnya.

Ya, sejarah peradaban umat manusia pada hakikatnya adalah mencari perbaikan secara berkesinambungan, berpindah dari sebuah tradisi ke tradisi baru yang semakin baik.

*Tulisan ini merupakan hasil moderasi dari artikel berjudul “Tentang New Normal”, yang ditulis oleh penulis yang sama, dimuat di Inagara Magz edisi Vol. 5 No. I. Tahun 2020.  

7
0
Harapan Besar Pada Terapi Plasma Konvalesen

Harapan Besar Pada Terapi Plasma Konvalesen

Boleh dibilang, pandemi COVID-19 telah meluluhlantakkan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia tak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Kita hampir kehilangan seluruh aspek sosial yang kita miliki. Salah satu yang jelas kelihatan, teknologi transportasi antarwilayah yang canggih sekalipun kini hampir tak bisa dipergunakan.

Wabah ini memang dilaporkan berawal dari kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Januari 2020 dengan korban 3 orang tewas, setelah menderita pneumonia yang disebabkan oleh virus corona. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, COVID-19 pun menyebar ke seluruh dunia. Adapun negara yang paling banyak terpapar covid-19 adalah Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman.

Sampai dengan Rabu 27 Mei 2020 secara global telah terkonfirmasi sebanyak 5.676.415 kasus. Pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 2.426.044 dan yang meninggal sebanyak 352.590 orang. Di Indonesia sendiri sampai dengan Rabu 27 Mei 2020 kasus positif COVID-19 telah mencapai 23.851 orang, yang dinyatakan sembuh sebanyak 6.057 orang dan yang meninggal sebanyak 1.473 orang. Belum ada tanda-tanda akan terjadi pengurangan yang signifikan.

Di banyak negara telah dilakukan lockdown dan telah memberikan hasil penurunan kasus. Namun, ketika lockdown dilonggarkan ternyata jumlah pasien positif COVID-19 meningkat lagi. Adapun di Indonesia telah diberlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di beberapa kota dan provinsi, seperti DKI Jakarta, Sumatera Barat, daerah Jabodetabek, Jawa Barat, Pekan Baru, Makassar, Tangerang Selatan, Tegal, dan lain-lain.

PSBB ini di satu sisi bisa mengurangi penyebaran COVID-19 secara signifikan, tetapi secara ekonomi berdampak pada kehidupan masyarakat. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat justru tercipta akibat berinteraksi dengan orang banyak. Sehingga pembatasan sosial justru melemahkan aktivitas perekonomian, tentu saja menurunkan penghasilan.

Sedangkan bantuan sosial yang diberikan oleh Pemerintah sebesar Rp. 600 ribu perorang perbulan di samping tidak memenuhi standar hidup yang apabila dibagi perhari hanya Rp. 20 ribu, juga sangat menguras keuangan Negara. Walaupun realokasi dan refocussing anggaran Negara, daerah, serta desa telah dilakukan, tetapi beban bagi keuangan negara ini masih terlalu berat.

Menjelang berakhirnya masa tanggap darurat bencana COVID-19 pada tanggal 29 Mei 2019, bahkan belum ada tanda-tanda yang menggembirakan tentang kemungkinan berakhirnya pandemi itu di negeri ini. Justru yang terlihat adanya koordinasi yang tidak sinkron baik antarlembaga negara maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Banyak kebijakan peraturan yang membuat masyarakat menjadi bingung.  

Belum lagi faktor stress yang dialami oleh petugas medis dan petugas keamanan akibat lemahnya kesadaran masyarakat. Yang lebih berbahaya lagi adalah pasien yang berbohong yang bisa membuat terancam seluruh tenaga medis yang menanganinya dan telah terjadi di beberapa tempat. Intinya, kita belum cukup mendapatkan kabar baik soal mengatasi bencana ini.

Adalah dr Theresia Monica R, Sp.AN, KIC, MSi., seorang ahli genetika dan biologi molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha yang menyampaikan usulan tentang terapi plasma konvalesen untuk mengobati pasien positif COVID-19 beberapa waktu yang lalu.

Setelah mendapat persetujuan langsung dari Presiden Jokowi maka RSPAD Gatot Subroto dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di bawah Kementerian Riset dan Teknologi melakukan penelitian tentang terapi plasma konvalesen tersebut.

Ada harapan besar tertumpu pada terapi plasma konvalesen ini. Terapi plasma konvalesen berupa pemberian plasma dari donor pasien COVID-19 yang telah sembuh kepada pasien yang masih positif COVID-19. Antibodi yang terkandung dalam plasma tersebut diberikan kepada pasien COVID-19. Secara alami tubuh akan menghasilkan antibodi setiap kali tubuh diserang mikroorganisme seperti virus.

Antibodi yang terdapat pada plasma darah pasien COVID-19 yang sudah sembuh akan membantu pasien untuk mengatasi virus corona yang menyerangnya. Jenis terapi ini sebelumnya sudah diterapkan dalam mengatasi penyakit akibat virus lainnya seperti flu spanyol, SARS, dan virus ebola.

Untuk saat ini, terapi masih dalam skala terbatas yaitu pada pasien kondisi berat dan kondisi kritis. Pemberian terapi dianjurkan diberikan lebih awal untuk meningkatkan harapan kesembuhan pasien. Bila pasien sudah menunjukkan gejala sesak nafas agar segera diberikan terapi plasma konvalesen. Di samping untuk pengobatan pasien juga untuk lebih menghemat biaya dan waktu perawatan. Prosesnya relatif mudah dan cepat, sama seperti transfusi darah.

Pada saat ini pengujian masih dalam skala terbatas yaitu pada pasien kondisi berat di RSPAD Gatot Subroto dan RSCM. Kita sangat berharap akan keberhasilan dari pengujian skala terbatas ini. Apabila pengujian skala terbatas ini memberikan hasil yang baik dan sesuai harapan maka kemungkinan besar pengujian akan dilakukan dalam skala yang lebih luas.

Skala yang lebih luas ini kita harapkan bisa diterapkan pada semua RSU rujukan COVID-19. Apabila pengujian skala yang lebih luas ini memberikan hasil yang baik dan sesuai harapan maka kita harapkan penerapannya bisa dilakukan di seluruh RSU di seluruh Indonesia, baik pada RSU Pemerintah maupun swasta.

Menurut data, pasien sembuh dari COVID-19 sudah mencapai 3.000 orang. Kita harapkan sebagian besar dari mereka bisa menjadi donor plasma konvalesen. Kita juga mengharapkan nantinya penerapan terapi plasma konvalesen tidak hanya kepada pasien berat COVID-19 tapi juga bisa diberikan kepada pasien COVID-19 yang sedang atau ringan. Untuk jangka panjang bisa menghasilkan vaksin yang bisa diberikan sedini mungkin kepada semua orang.

Tentunya keberhasilan penerapan terapi plasma konvalesen ini harus mendapat dukungan semua pihak, terutama perusahaan dan industri. Nantinya, penerapan dalam skala yang lebih luas akan membutuhkan biaya yang sangat banyak. Bantuan dari sektor industri ini sangat penting untuk menyokong produksi massal, yang pada akhirnya mengimbangi pertumbuhan pasien terjangkit COVID-19.

Jika kondisi pandemi telah membaik berkat keberhasilan penggunaan plasma konvalesen, maka kita semua termasuk sektor industri bisa beroperasi seperti sedia kala. Kita juga mengharapkan seluruh instansi bidang kesehatan bisa bahu membahu dan bisa menghilangkan ego sektoral yang seringkali muncul dan menghambat keberhasilan kerjasama tim.

Dukungan penuh Presiden tentunya harus menjadi jaminan utama akan keberhasilan penerapan terapi plasma konvalesen dalam mengatasi wabah COVID-19. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi kita sudah bisa hidup normal kembali. Jangan berhenti untuk berusaha dan berharap untuk #IndonesiaBisaLawanCorona.

Semoga.

0
0
Sepucuk Harapan Kepada Para Ilmuwan Indonesia

Sepucuk Harapan Kepada Para Ilmuwan Indonesia

Bisa jadi, tahun 2020 ini adalah tahun ujian terberat bagi semua umat manusia. Wabah virus corona yang disebut juga COVID-19 sedang melanda seluruh dunia, tidak terkecuali di tanah air tercinta Indonesia, dengan kasus pertama awal bulan Maret 2020. Dalam sambutannya pada rapat kabinet paripurna secara virtual di bulan Mei 2020, Presiden menyatakan:

”Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai, sesuai target yang kita berikan. Yaitu, kurvanya harus turun, dan masuk pada posisi sedang di bulan Juni. Bulan Juli masuk pada posisi ringan. Dengan cara apapun! Dan itu dilakukan tidak hanya dengan Gugus Tugas COVID-19, tapi seluruh elemen bangsa.”

Banyak yang bertanya-tanya, termasuk saya, apakah pernyataan target Presiden tersebut dapat kita wujudkan bersama – mengingat obat atau vaksin belum diproduksi secara besar-besaran? Lalu, bagaimana kita semua seluruh elemen masyarakat Indonesia dapat mewujudkannya?

Saat ini, Pengobatan COVID-19 Belum Terbukti

Selain hanya mengandalkan imunitas tubuh manusia itu sendiri, belum ditemukan pengobatan yang terbukti dapat menyembuhkan pasien terdampak COVID-19. Lalu, bagaimana jika orang yang mempunyai penyakit penyerta kemudian terpapar COVID-19? Bukankah menurut jubir pemerintah, umumnya pasien yang meninggal dunia karena sudah ada penyakit bawaan seperti TBC, diabetes, hipertensi, dan infeksi lainnya.

Adapun pada tenaga medis yang telah menjadi korban keganasan COVID-19, penyebab meninggalnya ditengarai yaitu kelelahan, kecemasan, dan kurang standarnya alat pengaman diri (APD) yang dikenakan saat melaksanakan tugasnya. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam surat terbuka dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia yang sempat viral beberapa waktu yang lalu.

Produksi APD dan alat kesehatan lainnya yang dibutuhkan di Indonesia masih mengimpor dari negara lain dan itupun terbatas jumlahnya. Belum banyak perusahaan di negeri ini yang dapat memproduksi sendiri APD dan alat kesehatan lainnya secara masif.

Selain itu, masih banyak SDM tenaga medis yang belum mempunyai kemampuan dalam menggunakan alat tes kesehatan untuk mendeteksi orang-orang yang terkena COVID-19 meskipun pemerintah sudah banyak mengimpor alat-alat tersebut dari luar negeri.

Apakah karena kompetensi SDM yang terbatas atau peranan leadership pemerintah yang belum fokus terhadap masalah ini?

Banyak pertanyaan yang timbul dan bagaimana semestinya kita semua menyikapi ini. Perlu konsentrasi yang penuh dalam memikirkan “Pekerjaan Rumah (PR)” ini. Sebab, ketidakfokusan suatu negara dalam mencari solusi akan menjadi percuma atau sia-sia.

Selain itu, perlu adanya kekompakan antara pemerintah dengan para ilmuwan dengan menyingkirkan semua kepentingan pribadi, golongan, maupun politik lainnya demi bersatu melawan wabah COVID -19.

Menunggu Obat atau Vaksin

Selanjutnya bagaimana? Apakah kita akan menunggu obat atau vaksin dulu dalam mengatasi COVID -19? Banyak ilmuwan/peneliti di luar negeri sudah melakukan ujicoba untuk obat maupun vaksin sebagai solusi tercepat dalam penyembuhan di negaranya. Namun belum kita dengar hasil yang menggembirakan.

WHO sampai saat ini juga belum mengumumkan obat ataupun vaksin yang tepat untuk diberikan kepada negara-negara yang terdampak pandemi ini. Mau sampai kapan wabah ini berlangsung? Sedangkan, di Indonesia sudah banyak pasien yang terpapar virus ini, bahkan sampai meninggal.

Dalam hemat saya, apabila pemerintah tidak fokus menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat, justru akan menjadi beban terberat bagi pemerintah karena dapat melebar menjadi krisis kesehatan, ekonomi, sosial, keamanan, dan sebagainya. Indonesia akan menjadi negara yang semakin terpuruk seperti negara lainnya yang belum selesai dengan COVID-19.

Hal inilah yang ditakutkan oleh semua negara. Akan tetapi, kita masih punya kesempatan untuk belajar dari beberapa negara yang sudah bangkit dari keterpurukannya; misalnya Cina, Korea Selatan, dan Jerman.

Sesuai dengan salah satu dari 5 (lima) visi Presiden Jokowi Tahun 2019-2024 terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sudah saatnya para ilmuwan di Indonesia kompak mengambil bagian dalam solusi ini. Ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang berkualitas, khususnya di penelitian bidang farmasi atau lainnya, sudah saatnya saling bekerjasama dan bahu membahu dalam misi kemanusiaan ini.

Kita harus cepat, karena kita berlomba dengan waktu. Jangan sampai Indonesia terseok-seok oleh pandemi ini. Kinerja SDM di Indonesia yang lambat dalam memproduksi secara masif obat atau vaksin yang telah ditemukan oleh para ilmuwan saat ini, mengakibatkan ribuan korban yang meninggal akibat pandemi. Mengingat hal ini, kami masyarakat Indonesia, hanya berdoa kepada Tuhan YME agar masalah ini cepat terselesaikan.

Sinergi Para Ilmuwan dan Pemerintah

Beberapa waktu yang lalu telah ramai diberitakan penemuan penangkal virus Corona oleh ilmuwan di Indonesia, tetapi saat ini tidak begitu terdengar kelanjutannya. Apakah karena para ilmuwan berusaha berlomba-lomba untuk menemukan sendiri penemuannya dalam situasi pandemi ini hanya demi “sebuah nama besar atau komersialisasi?” 

Mengapa mereka tidak menyatukan penemuannya secara bersinergi, sehingga apabila ada kekurangan di dalam satu penelitian dapat dibantu oleh penelitian yang lainnya yang juga sedang berlangsung? Maka, hal ini diperlukan suatu sinergitas antar ilmuwan dari berbagai bidang dalam menemukan solusi untuk pandemi COVID-19.

Lupakan dulu masalah kurangnya anggaran ataupun hak paten. Sadarlah ini untuk misi kemanusiaan. Tuhan memberikan ujian ini kepada seluruh dunia, agar kita bersatu bukan egois hanya untuk sebuah nama besar dan komersialisasi.

Perlu adanya kesamaan persepsi SDM khususnya para asosiasi peneliti/ilmuwan dan tenaga medis untuk bergotong royong dalam memproduksi obat dan vaksin secara masif sampai ke seluruh daerah terpencil di Indonesia. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kualitas SDM di Indonesia meningkat.

Apabila fokus kualitas SDM dalam menyelesaikan pandemi ini dapat memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia, merupakan suatu “kabar baik” bagi segala aspek, baik nasional maupun internasional. Keyakinan SDM di Indonesia tidak kalah dibandingkan negara lain, yang merupakan suatu pembuktian dan pencapaian yang luar biasa di dunia internasional.

Bukankah Pemerintah Indonesia, saat ini, juga berani menggelontorkan sejumlah anggarannya untuk penelitian pandemi COVID-19. Jangan berlama-lama wahai para ilmuwan di seluruh Indonesia, berikan pengetahuanmu sebagai “tongkat estafet” kepada pemerintah dalam membuat kebijakan selanjutnya, serta lakukan kaderisasi terhadap para ilmuwan lainnya untuk bersama menyelesaikan bencana yang besar ini.

Sehingga, semua tenaga medis di seluruh Indonesia dapat mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan semua orang yang terdampak wabah yang berkepanjangan ini dengan SOP yang sudah mumpuni. Kami masyarakat Indonesia sesuai anjuran pemerintah,

menunggu di rumah saja, menjaga jarak, dan memakai masker untuk sementara waktu.”

Namun begitu, wahai para ilmuwan, kami juga menunggu kinerja dan keahlianmu dalam memproduksi secara besar-besaran obat maupun vaksin yang benar-benar mampu menghentikan wabah ini. Sebuah harapan yang dapat membuat seluruh masyarakat Indonesia menjadi lebih tenang.

Epilog

Dengan semua penemuan yang ada saat ini, apakah hanya tinggal utopia saja, yang pada akhirnya berujung pada ketakutan dan ketidakpercayaan diri masyarakat terhadap penelitian di Indonesia? Sehingga menimbulkan paranoid bagi semua orang, karena nyatanya belum ada sistem kesehatan yang cukup memadai dan bersinergi.

Pada akhirnya, perlu ditingkatkan kualitas penelitian melalui invention dan innovation oleh para ilmuwan Indonesia, kelompok yang paling diharapkan dalam sekian banyak struktur SDM di negara kita. Tak lupa, pendanaan penelitian juga sangat dibutuhkan, sehingga tidak menjadi kendala dalam mendukung target Presiden. Semoga Indonesia bisa, bersama-sama menanggulangi bencana virus Corona.

#Indonesia perlu bangkit dan mandiri#

0
0
Pendidikan Di Tengah Keterbatasan

Pendidikan Di Tengah Keterbatasan

Satu bulan lebih, kebijakan Belajar dari Rumah atau Learning From Home (LFH) diterapkan. Selepas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease, dunia pendidikan kita seketika mengubah pendekatan belajar keluar dari rutinitas kesehariannya.

Pemerintah berstrategi mengimplementasikan gagasan Merdeka Belajar  secara lebih cepat dan masif melalui kebijakan LFH tersebut. Di lain pihak, sekolah bergegas menyiapkan skema dan pendekatan belajar jarak jauh. Di pihak lainnya, orangtua bersiap mengambil peran lebih  dalam aktivitas belajar anak di rumah. Semua komponen bergerak serempak mengubah pendekatan pendidikan saat ini, baik secara sistematis maupun sporadis.

Berbagai respon tersebut sudah cukup memberikan gambaran bahwa semua pihak bersepakat, belajar tetap harus berjalan walau di tengah keterbatasan. Orangtua diserahkan peran  penuh dalam pembelajaran siswa yang biasanya menjadi ranah sekolah dan guru. Sumber-sumber belajar dan pendekatan pembelajaran menjadi kewenangan mutlak siswa dan orang tua, yang biasanya hanya diarahkan oleh guru dan sekolah melalui interaksi di dalam kelas.

Metode belajar digunakan dengan memanfaatkan inovasi dan berbagai media, dengan tujuan agar aktivitas pembelajaran di rumah tetap mampu dijalankan selayaknya proses belajar yang biasanya berlangsung di sekolah. Belajar memang tidak selalu harus di sekolah.  

Kendala Proses Belajar

Dalam praktiknya, kebijakan LFH menjadi pembuka tabir bahwa ada banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami dalam proses pendidikan yang sesungguhnya. Pembelajaran digital misalnya, dibangun pada konstruksi berpikir general, bahwa praktik belajar di era digital adalah aktivitas belajar yang membutuhkan dukungan penuh fasilitas yang memadai berbau teknologi.

Semakin canggih perangkat belajar, semakin berkualitas pembelajaran yang dilakukan. Ketika guru ditanyakan tentang konsep pembelajaran digital di dalam kelas, penggunaan komputer, internet dan materi presentasi, menjadi lebih banyak mereka pahami dibandingkan dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia melalui inovasi dan pendekatan strategis dalam pembelajaran.

Hal serupa juga terjadi pada praktik LFH. Pada banyak kasus, proses pembelajaran jarak jauh di rumah pada sekadar diartikan pada pelaksanaan pembelajaran melalui video/teleconference dengan pemanfaatan berbagai perangkat digital tanpa adanya proses persiapan pembelajaran dan pendampingan belajar.

Pembelajaran kurang dimaknai sebagai pemanfaatan model-model layanan pendidikan yang sifatnya terstruktur dan bersifat kontekstual yang mempertimbangkan kemampuan siswa dan orangtua.

Padahal, di beberapa daerah masih ditemukan praktik belajar di rumah tanpa perangkat digital dan aktivitas daring, namun dibangun melalui inisiatif guru yang melakukan “jemput bola” dengan mengunjungi siswa ke rumah demi memantau pembelajaran yang berlangsung di rumah.

Praktik tersebut bisa jadi dirasa lebih efektif memantau perkembangan belajar siswa dibandingkan berbagai aktivitas daring dengan kendala infrastruktur yang selalu dilematis karena belum mampu sepenuhnya tertuntaskan. Kondisi ini yang kemudian memunculkan dampak pelaksanaan LFH dirasakan tidak nyaman untuk siswa dan orangtua.

Kendala Hasil Belajar

Penentuan target pencapaian hasil belajar siswa dalam praktiknya juga menemukan kendala. Hasil Survei Cepat Pembelajaran dari Rumah dalam Masa Pencegahan Covid-19 yang dirilis Kemendikbud menunjukkan bahwa, 51,6% guru masih mengejar ketuntasan kurikulum dalam aktivitas pembelajaran mereka di LFH ini.

Padahal, sebagai sebuah praktik Merdeka Belajar, LFH memberikan ruang terbuka kepada guru untuk bereksplorasi menerapkan prinsip kemerdekaan belajar yang sesungguhnya, yaitu merumuskan kembali komitmen pada tujuan belajar yang ingin dicapai.

Dari konsep itu, fleksibilitas perlu dipahami dengan lebih jauh dalam praktik belajar. Otonomi pembelajaran yang diberikan tidak sekadar dimaknai pemberian kebebasan dan kesempatan yang diberikan dalam praktik belajar, tetapi harus mengacu pada target capaian belajar yang disepakati di awal ketika pembelajaran akan dijalankan.

Target pencapaian tujuan belajar perlu dirumuskan ulang untuk tidak sekadar mengejar ketuntasan kurikulum dan bahan ajar, namun pemahaman dan penguasaan keterampilan hidup siswa. Siswa perlu cakap dan terampil agar mampu berjuang mempertahankan hidupnya saat ini dan di masa yang akan datang. Ini yang harus sepenuhnya dipahami oleh guru, orang tua dan juga siswa.

Orangtua didorong untuk mampu melibatkan secara aktif anak-anak mereka dalam upaya menetapkan prioritas pembelajaran sehari-hari di rumah. Guru diberikan otonomi untuk melakukan penyederhanaan dalam pembelajaran, dengan tidak memberikan arahan instruksional yang kaku tentang bagaimana seharusnya siswa belajar di rumah.

Penyesuaian aktivitas belajar juga dapat disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang siswa yang beragam, dan akan menjadi sangat sulit memaksakan satu metode pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dengan segala keterbatasannya.

Di ranah tersebut, aktivitas belajar dimaknai lebih cair dan fleksibel. Siswa dibebaskan untuk menyesuaikan kebutuhan dirinya akan belajar. Guru lebih banyak melatih siswa untuk mampu mengidentifikasi kebutuhan belajarnya.

Kemampuan tersebut penting dimiliki siswa, selaras dengan karakteristik generasi yang oleh David Stillman (2017) dalam bukunya Gen Z at Work: How The Next Generation is Transforming the Workplace, yang menyebutkan bahwa salah satu karakteristik generasi muda saat ini adalah hiperkustomisasi terhadap kebutuhannya sendiri.

Metode Flipped-Classroom

Membalik proses pembelajaran, harus mulai menjadi keseharian praktik di sekolah-sekolah kita. Siswa perlu lebih banyak dibebaskan untuk mencari sendiri bahan belajar di luar aktivitas di kelas atau di rumah mereka, untuk kemudian didiskusikan secara lebih intensif dalam aktivitas belajar di dalam kelas.

Pada konsep ini, siswa masuk ke dalam kelas dengan berbekal pemahaman tentang kebutuhan belajarnya, dan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas adalah penegasan tentang pemahaman kebutuhan yang telah dimiliki setiap siswa. Ini yang dalam pendekatan pembelajaran dinamakan sebagai flipped-classroom.

Hasil kajian tentang Digitalisasi Pembelajaran yang Berkualitas dan Inklusif dari Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemendikbud (2019) menunjukkan 67,5% guru menyepakati bahwa metode flipped-classroom dalam pembelajaran dinilai lebih efektif dibandingkan dengan metode belajar tatap muka satu arah yang biasa terjadi di dalam kelas.

Aktivitas belajar di luar sekolah mendorong pembelajaran dapat dilakukan dengan didasarkan pada pemahaman tentang kondisi dan kebutuhan anak-anak yang sesungguhnya. Siswa melalui orangtua diberikan otonomi yang memerdekakan dalam mengelola proses belajaranya sehari-hari.

Anak-anak lebih banyak didekatkan dengan keluarga inti mereka untuk dapat saling belajar dan memberikan masukan. Orangtua berperan sebagai fasilitator belajar, namun aktivitas belajar tetap diserahkan sepenuhnya kepada anak-anak.

Konsep itu serupa dengan gagasan yang ingin disampaikan oleh Peter Gray (2011) dalam Freedom To Learn: The Roles of Play and Curiosity as Foundations of Learning, bahwa sesungguhnya orang dewasa tidak dapat mengintervensi pengalaman belajar anak-anak, karena anak-anaklah yang mampu mengedukasi dirinya sendiri.

Pada ranah ini, LFH memberikan keleluasaan pada anak-anak untuk menemukan hakikat belajarnya, didorong pada keyakinan bahwa pada dasarnya, setiap anak dapat bertumbuh secara alami melalui prinsip mencontoh dan menduplikasi lingkungannya tanpa harus selalu mendapatkan pendidikan pada institusi formal bernama sekolah.

Pengalaman beberapa sekolah di negara maju telah menunjukkan bahwa mekanisme ini dapat berjalan. Salah satunya seperti yang terjadi di Sudbury Valley School, Massachusetts Amerika yang dinilai berhasil menerapkan konsep belajar melalui pendekatan budaya berburu dan meramu (hunter-gatheres) di masa lalu, dan memberikan pembuktian bahwa sejak ratusan ribu tahun yang lalu, anak-anak mampu mendidik diri mereka sendiri melalui aktivitas bermain secara mandiri dan mengeksplorasi alam secara bebas.

Refleksi Atas Keterbatasan

Belajar tetap harus berjalan walau di tengah keterbatasan. Oleh karenanya, setiap aktivitas belajar harus berfokus pada upaya reflektif atas keterbatasan itu sendiri. Refleksi dilakukan untuk menilai pencapaian yang telah dilakukan dalam pembelajaran yang dijalankan.

Pada praktik LFH, sikap reflektif dapat diwujudkan dalam pembiasaan melakukan dokumentasi proses dan hasil belajar yang telah dilakukan. Fungsinya selain sebagai bahan penilaian guru, dan juga merupakan media untuk melatih siswa terbiasa mengkritisi hasil kerjanya dan terlibat dalam mengawasi proses metakognisi melalui pengalaman belajarnya.

Guru juga perlu intensif membuka ruang-ruang diskusi terbuka dengan orangtua dan siswa mereka tentang rutinitas belajar mereka di luar sekolah. Pertemuan tatap muka guru dan siswa harus mampu membangun motivasi siswa untuk terbiasa menyampaikan gagasannya secara terbuka tentang pengalaman belajar serta kebutuhan mereka akan belajar selama ini.

Pendidikan harus menjadi media penumbuhan upaya-upaya demokratisasi dalam  pembelajaran. Penyesuaian bentuk-bentuk asesmen pembelajaran menunjukkan bahwa self regulation pada siswa, orangtua dan juga guru adalah pencapaian puncak terhadap aktivitas pembelajaran yang terjadi selama ini.

LFH menekankan pada pemberian kesempatan pada siswa untuk bertanggung jawab terhadap perencanaan dan pengawasan serta melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang dilaluinya. Ini yang kemudian diharapkan akan menjadi umpan balik yang membantu semua aktor menemukan celah dan kekurangan dalam praktik pembelajaran yang dijalankan selama ini di sekolah. Baik di ranah praktik maupun kebijakan.

Epilog

Momentum pelaksanaan kebijakan LFH ini menjadi pintu pembuka berbagai kekurangan dan kelemahan dalam pendidikan Indonesia selama ini untuk selekasnya dapat diperbaiki. LFH menyadarkan banyak pihak bahwa melakukan variasi pendekatan pembelajaran dengan sistem tatap muka di dalam kelas melalui metode semacam flipped-classroom ataupun blended-learning, akan memudahkan efektivitas dan fleksibilitas pembelajaran di masa depan.

Selain itu, LFH dapat menjadi salah satu indikator dan media ujicoba perencanaan pendidikan Indonesia di masa depan yang ingin memerdekakan. Apakah gagasan Merdeka Belajar akan benar-benar mampu diimplementasikan di tengah keterbatasan, atau sekadar menawarkan kemerdekaan semu tanpa efektivitas dalam pencapaian menjembatani anak-anak pada pengalaman belajar mereka yang berkesan dan menyenangkan.***

0
0
Kedermawanan Sosial di Tengah Wabah COVID-19

Kedermawanan Sosial di Tengah Wabah COVID-19

Hampir 2 bulan wabah Novel Coronavirus atau populer disebut COVID-19 meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Wabah yang dimulai di kota Wuhan China ini kemudian menular ke seluruh dunia. Bahkan korban jiwa juga semakin banyak jumlahnya.

Di Indonesia korban jiwa sudah mencapai angka 773 orang (per Selasa/28 April 2020). Angka tersebut kemungkinan masih akan terus bertambah karena mobilitas masyarakat hanya sedikit berkurang meski telah diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sifat COVID-19 mudah menular melalui perantaraan droplet, sehingga jumlah orang yang tertular semakin banyak. Hal itu menyebabkan masyarakat mengurangi aktivitasnya di luar rumah karena mereka khawatir tertular ketika bertemu dengan orang lain di sebuah tempat atau kendaraan umum yang sedang dinaiki. Kita memang tidak tahu pasti siapakah dari orang-orang sekitar kita yang sudah membawa virus itu di dalam dirinya.

Dampak Ekonomi COVID-19

Wabah pandemik ini bukan hanya berimbas pada bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi. Kebijakan pengurangan aktivitas masyarakat di luar rumah juga dilakukan dalam bentuk pelaksanaan bekerja dari rumah (WfH) dan belajar dari rumah (LfH). Hal itu menjadikan mobilitas orang untuk bekerja dan sekolah menjadi sangat jauh berkurang dan berimbas pada banyak sektor ekonomi.

Transaksi ojek online dan taksi online menjadi sangat berkurang. Sudah banyak unggahan terkait keluhan para pengemudi yang hanya mampu membawa uang ke rumah di kisaran 20 ribu, dari yang semula 100 ribu. Bahkan terkadang para pengemudi ojol ini tidak membawa uang setelah seharian penuh ke luar untuk bekerja. Kondisi ini diperparah dengan beban membayar kontrakan dan cicilan motor ke leasing.

Di sisi lain, penutupan aktivitas kantor dan sekolah juga membuat pedagang makanan skala mikro juga kehilangan pendapatan. Semula mereka berjualan di dalam atau sekitar kantor dan sekolah. Namun, karena aktivitas perkantoran dan pendidikan dihentikan, maka berhenti pulalah usaha mereka karena tidak ada pembeli.

Besarnya kemungkinan tertular COVID-19 dari orang lain yang bertemu di jalan atau tempat lain juga mengakibatkan masyarakat tidak ingin keluar rumah untuk bertemu dengan teman atau kerabat seperti membuat janji bertemu di mal atau restoran.

Tak ada lagi orang berlalu lalang di mal. Kondisi ini membuat pengusaha retail di mal rugi dan akibatnya mereka menutup usahanya. Penutupan toko ritel di mal tentu saja akan berimbas kepada pegawai toko tersebut dengan PHK tanpa pesangon. Padahal, pekerjaan inilah yang menjadi penopang hidup keluarga di masa sulit ini.

Selain itu ada pula kegiatan ekonomi yang dihentikan karena aturan PSBB. Beberapa pabrik besar harus menghentikan kegiatan usahanya karena sifat bisnisnya yang padat karya, sementara PSBB mengharuskan pemberian jarak antarorang.

Akhirnya, gelombang PHK juga dialami oleh para buruh pabrik yang dalam kesehariannya pun sudah mengalami kesulitan hidup. Para buruh tersebut di-PHK tanpa uang pesangon yang dapat digunakan untuk cadangan biaya hidup sebelum mendapatkan pekerjaan lain.

Merebaknya Kedermawanan Sosial

Masih banyak kisah-kisah pedih terkait mewabahnya COVID-19 ini. Namun, di balik suatu musibah masih banyak terselip kisah-kisah kedermawanan sosial yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia.

Hal ini bisa terjadi karena masyarakat kita memiliki rasa empati atas musibah yang menimpa orang lain. Dalam kondisi sulit pun, mereka selalu merasa bahwa masih ada orang lain yang lebih sulit kondisinya dibandingkan diri mereka.

Sikap-sikap kedermawanan sosial masyarakat itu dapat dilihat dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh perorangan maupun kelompok masyarakat. Berikut beberaa di antaranya.

◆ Sebagian orang yang memiliki gaji bulanan menyadari bahwa kondisi WfH dan LfH membuat pengeluaran biaya transportasi utuh setiap hari. Biaya transportasi harian sebuah keluarga bisa mencapai 50 ribu per hari. Mereka kemudian memberikan ke pengemudi ojol yang mengambil order dalam bentuk makanan yang mereka pesan. Atau, mereka memberikan cash minimal 20 ribu kepada pengemudi ojol yang mengantarkan pesanan makanan, jauh dari besaran tip yang biasanya diberikan mealui aplikasi maksimal 5 ribu rupiah.

◆ Mengajak kelompok orang yang dikenal melalui WhatsApp Group (WAG) untuk membantu pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sudah tidak ada di pasaran. APD ini sangat dibutuhkan oleh para tenaga kesehatan untuk menangani pasien dan jenazah COVID-19. Ukuran virus COVID-19 yang sangat kecil dan mudah menular dengan perantaraan droplet membuat para tenaga kesehatan harus dilengkapi dengan APD level 3. Pengerjaan APD ini dilakukan oleh anggota kelompok yang memiliki kemampuan menjahit atau memesan APD kepada pihak lain.

◆ Mengajak kelompok yang tidak dikenal dalam platform media sosial seperti Facebook Group. Walaupun tidak saling mengenal secara personal, tetapi adanya empati yang tinggi membuat para anggota menyampaikan donasi dan membantu tenaga untuk menyampaikan bingkisan kepada yang terdampak COVID-19.

◆ Mengajak rekan-rekan alumni untuk mengumpulkan donasi dan digunakan untuk memborong dagangan pedagang-pedagang kecil yang mereka temui di lingkungan sekitarnya. Misalnya, yang dilakukan oleh Alumni ITB Angkatan 1994. Mereka memborong dagangan dan meminta pedagang itu membagikan dagangannya kepada orang lain yang ditemui, biasanya para pengemudi ojol yang sedang berkumpul menunggu orderan.

Tujuan memborong adalah supaya dagangan itu cepat habis, dan pedagang bisa segera pulang ke rumah untuk meminimalkan terpapar virus. Pada saat memborong, mereka juga memberikan edukasi tentang COVID-19 dan memberikan masker serta hand sanitizer.

◆ Mengajak rekan dan kerabat untuk berdonasi untuk diberikan dalam bentuk paket makanan kepada orang-orang yang dipandang terdampak COVID-19 yang ada di sekitarnya. Bantuan sembako dalam bentuk beras sebanyak 5 liter, telur 1 kg, minyak goreng 1 liter, kecap, mie instan, garam dan merica. Paket ini diberikan kepada tukang becak, pedagang keliling, para pemulung, sopir taksi offline.

Paket disampaikan langsung kepada mereka sehingga tidak mengakibatkan kerumunan orang yang bisa menjadi sarana penularan COVID-19. Hal seperti ini dilakukan oleh seorang jurnalis Tempo yang berlokasi di Surabaya. Dia mengunggah kegiatannya dan hal ini menggugah teman-temannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan pemberian paket sembako.

◆ Mempromosikan jualan rekan, kerabat, bahkan pedagang pasar tradisional kepada anggota grup. Hal ini dilakukan karena penghasilan para pedagang ini juga jauh merosot daripada hari-hari biasa. Dengan membuka akses, akan terjadi transaksi antara pedagang dan pembeli yang membutuhkan.

◆ Bergotong-royong menyiapkan makanan bagi tetangga yang sedang melakukan isolasi mandiri karena termasuk ODP atau ada keluarganya yang PDP yang sedang dirawat di rumah sakit. elain itu, berdonasi lewat Lembaga Amal Zakat yang berskala nasional seperti Aksi Cepat Tanggap dengan memberikan pilihan paket yang akan disedekahkan.

◆ Berdonasi lewat acara-acara live music dari rumah yang dilakukan oleh pemusik kenamaan seperti Didi Kempot yang mengumpulkan donasi sebanyak 7 milyar. Juga Raja Dangdut Rhoma Irama yang dalam 2 jam penampilan mengumpulkan donasi sebesara 771 juta rupiah. Kedua acara ini dilaksanakan oleh Kompas TV.

Mudah-mudahan Langkah ini bisa diikuti oleh pemusik-pemusik lainnya dengan tetap mengedepankan social distancing. Beberapa public figure menjual barang-barang berharga yang dimiliki dan uang yang diperoleh diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Selain kisah-kisah di atas, masih banyak lagi kedermawanan personal dan kelompok yang tampak di masa-masa pandemik COVID-19 ini. Wabah ini membuat banyak orang tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau kehilangan tulang punggung keluarga karena tertular virus ini dengan cara yang tidak diketahui.

Epilog

Memang dibutuhkan banyak kedermawanan di masa-masa sulit seperti ini. Sebab, penderitaan masyarakat bukan hanya sakit atau meninggal. Akan tapi kehilangan pekerjaan, bisnis sepi, bahkan pembatalan order yang sudah dipesan jauh-jauh hari.

Yang lebih menyedihkan, suasana Ramadhan tahun ini juga sudah berubah banyak dibanding tahun-tahun biasanya. Jika tahun lalu Ramadhan dibuat meriah oleh banyaknya penjual takjil di pinggir jalan yang membuka lapak dengan hanya bermodalkan meja, sekarang sudah banyak penjual takjil yang menggunakan mobilnya untuk berjualan.

Fenomena ini menyiratkan ironi di masyarakat. Kesulitan ekonomi rupanya juga dialami kelompok yang biasanya lebih mampu secara ekonomi. Beberapa postingan di media sosial menunjukkan ketiadaan makanan di rumah bukan hanya dialami oleh masyarakat miskin, tetapi sudah menjalar ke kelompok menengah yang tiba-tiba di-PHK oleh perusahaannya yang ditutup akibat terus merugi.

Semoga momentum bulan Ramadhan, bulan penuh berkah ini, bisa menjadikan masyarakat semakin banyak bersedekah, berbagi rezekinya kepada orang di sekitar yang membutuhkan. Setidaknya, sedekah makanan agar mereka bisa berbuka ataupun makan sahur.

Umat muslim sangat gembira dengan datangnya bulan ini karena segala kebaikan yang dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Juga, marilah kita bersama-sama berdoa agar wabah COVID-19 ini segera musnah dari dunia.

Kita semua tahu, doanya orang berpuasa sangatlah makbul. In syaa Allah. Semoga kedermawanan ini terus-menerus hidup di bumi Indonesia dan menjadi budaya masyarakat kita sampai kapanpun.

***

1
0
error: