Di suatu pagi nan cerah disertai udara dingin Kota Kembang, tempat saya dan keluarga tinggal,  saya berdiskusi dengan dua orang sahabat via WhatsApp (WA).

Salah satu dari mereka adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), dan satu lagi seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta. Banyak hal yang bisa saya petik dari diskusi pagi itu, tentang hidup dan kesabaran, tentang tantangan yang datang silih berganti, dan tentang dunia yang berubah kian cepat.

Saya pun lalu terkenang akan perjalanan hidup saya. Berbagai tantangan hidup yang kadangkala terasa berat juga sering saya hadapi. Hanya karena sabar dan belajar untuk sabar, saya bisa bertahan. Kalau tak sabar dan tak banyak teman, saya sudah ‘angkat koper’ untuk mencari peruntungan baru. Namun, beberapa kali saya diingatkan oleh beberapa kolega bahwa ke mana pun kita pergi kita tak akan bisa lari dari masalah hidup.

Hidup adalah sekumpulan masalah. Namun, cara kita menyikapi masalah itulah yang terpenting, yang menjadi pembeda bagi kita untuk menjadi pemenang atau pecundang. Saya bersyukur masih bertahan hingga sejauh ini.

Kali ini saya tidak ingin berbagi permasalahan hidup saya, melainkan berbagi pengalaman dalam menemukan kepercayaan diri yang membuat saya memutuskan untuk terus menulis sampai kapan pun nanti.

Menulis Adalah Jalan Hidup

Saya sungguh sadar bahwa hidup ini ibarat mengayuh sepeda. Saat kita berhenti mengayuh maka sepeda pun tak lagi melaju. Pilih melaju atau berhenti, keputusan ada di tangan kita. Hingga hari ini keputusan untuk terus membaca dan lalu menulis masih terus saya pilih.

Sudah berapa banyak orang yang mengomentari karya-karya saya hingga sejauh ini, saya tak begitu memedulikannya lagi. Saya terus berjalan, terus melangkah, dan melaju. Komentar dan kritikan juga datang silih berganti. Pujian pun sudah tak saya hiraukan lagi. Buat saya membaca, menulis, dan berkarya.  Itu saja.

Saya hanya percaya karya akan jadi pembeda. Tak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia.

Beberapa waktu yang lalu, dalam acara Bedah Buku Birokrat Menulis di PPSDM Aparatur Kementerian ESDM saya merasa sangat terharu. Tim kecil saya bekerja penuh semangat membantu hingga akhirnya kegiatan tersebut berjalan sukses dan luar biasa.

Dalam banyak hal saya tak bekerja sendiri dalam menerbitkan buku. Banyak dukungan dari teman dan sahabat di sekitar saya. Apalagi untuk sebuah event seperti peluncuran buku, talk show, dan bedah buku. Banyak tangan yang membantu.

Mereka seolah berkata, “Teruslah berkarya Pak Adrinal, jangan lelah dan jangan pernah menyerah”. Dukungan tulus inilah yang senantiasa menyemangati saya untuk tidak berhenti. Saya hanya melihat dan fokus pada dukungan-dukungan ini.

Belakangan ini banyak komunitas menulis yang telah lahir. Di antara banyak komunitas tersebut, ada satu yang paling membuat saya bahagia, yaitu komunitas Pergerakan Birokrat Menulis (PBM). Ya, komunitas ini sungguh membahagiakan saya. Bukan karena judul buku saya sama dengan komunitas ini, tetapi semangat yang saya bangun sejak sebelas tahun lalu ternyata senada dengan visi yang dibangun komunitas ini.

Saya yakin jalan saya kian mudah. Dulu saya menyebut perjuangan saya berdarah-darah. Saatnya saya berjalan seperti melewati jalan tol Cipali yang lurus dan mulus.

Mata saya sempat berkaca pagi itu. Saya tak boleh berhenti, saya bertekad untuk terus berjalan dan melaju. Tak ada waktu untuk mundur meski  tantangan silih berganti. Mundur berarti kalah dan sia sia. Saya tak mau melakukan kesia-siaan.

Saya harus kuat dan tetap semangat di sisa perjalanan yang saya pikir sebentar lagi sampai di tujuan. Betapa banyak orang yang mendukung saya selama ini. Keluarga, teman, dan sahabat. Ada juga pimpinan dan tokoh-tokoh hebat di sekeliling saya. Mereka masih menunggu dan menunggu lagi karya baru saya. Saya memang tak boleh berhenti. Saya harus terus menulis.

Seorang sahabat dekat saya yang tahu persis bagaimana cara saya menulis dan menerbitkan buku mengatakan bahwa karya-karya itu akan menjadi pelampung saya di kemudian hari.

Saat kapal mulai bocor tentu penumpang berebut pelampung. Pelampung ini akan menjadi pelampung saya, ujarnya lagi. Meski saya tak begitu paham ungkapan sahabat tadi, tetapi saya tahu bagaimana berupaya belajar dari permasalahan hidup yang tak pernah berhenti.  Dengan menulis saya tahu jalan hidup yang harus saya lalui.

Menulis adalah Kebahagiaan

Sambil sesekali saya memandang ke halaman depan rumah, sambil saya berpikir bahwa tenaga saya memang tak sekuat dulu, tetapi harapan saya masihlah tetap berkobar.

Hampir setiap minggu saya mampir ke toko buku. Saya memimpikan buku saya hadir di toko buku terkemuka dan menjadi best sellers. Mimpi lama yang hingga hari ini belum terwujud.

Meskipun belum banyak yang bisa saya hasilkan dari buku, tapi paling tidak dahaga saya sudah terlampiaskan. Saya sudah memulai tradisi baru, dan itu sudah saya mulai sejak sebelas tahun lalu.

Meskipun belum menjadi best sellers, tetapi buku-buku yang saya tulis telah membahagiakan saya. Di antaranya adalah  seringnya saya diundang ke banyak tempat baik dalam acara talk show, bedah buku, ataupun menjadi pembicara atas materi yang saya tulis. Bagi saya hal itu luar biasa.

Tak terhitung banyaknya kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang ingin menghadirkan saya dalam bimbingan teknis penyusunan Standar Operasional Prosedur (Bimtek SOP). Selain bimtek tersebut memang menjadi tugas pokok saya di kantor, juga karena saya menulis buku yang berjudul ‘Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah’.

Bahkan, sebuah kampus terkemuka di negeri ini setiap tahun selalu mengundang saya untuk bicara dalam program diklatnya mengenai penyusunan SOP intansi pemerintah. Mereka pun pernah mengungkapkan bahwa cara penyampaian saya saat memberikan materi tersebut sungguh mudah dimengerti. Ditambah lagi karena saya juga menulis buku terkait panduan praktis terkait topik tersebut. Ternyata buku telah berbicara sendiri dan menyuarakan kapasitas lebih diri saya seperti para guru besar yang memberikan kuliah di kampus yang sama.

Pernyataan dan pengakuan sahabat serta handai taulan sampai dengan undangan menghadiri berbagai acara membuat saya semakin yakin bahwa menulis adalah membahagiakan saya.

Birokrat, Menulislah!

Satu hal yang saya terus yakini bahwa wajah negeri ini akan berubah jika semakin banyak birokrat mau menulis.  Birokrat zaman now harus banyak menulis. Merekalah yang akan membuat bangsa ini melangkah maju. Wajah birokrasi pun hanya dapat diubah oleh birokratnya sendiri. Untuk mengubahnya memerlukan birokrat yang terliterasi.

Tak zaman lagi birokrat hanya melaksanakan tugas dengan muka pucat pasi tanpa inovasi. Hanya sekadar melaksanakan tugas yang telah menjadi ‘jatahnya’ tanpa kegelisahan tersendiri. Kegelisahan dan upaya mengurainya akan lebih mudah jika dituangkan dalam sebuah tulisan agar mampu berteriak semakin ‘lantang’.

Untuk itu, saya pastikan akan terus mengabdi buat negeri ini dengan menulis. Saya ingin literasi makin bergema keras di seantero negeri, dan birokrat menjadi salah satu ujung tombaknya.

Yang baik teruskan dan yang kurang tambahkan agar makin baik di waktu mendatang. Jangan hanya diam, teruslah menyuarakan kebaikan. Diam tak akan mengubah keadaan. Karena birokrat zaman now, adalah birokrat menulis. ***

 

 

Adrinal Tanjung ◆ Professional Writer

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: