Merebaknya wabah Covid-19 atau lebih familiar dengan istilah virus Corona membuat aktivitas masyarakat berubah total. Hampir semua aktivitas masyarakat otomatis terhenti. Sedikit masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, sesuai dengan himbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing. Aktivitas lebih banyak dilakukan di dalam rumah.

Untuk mendukung pelaksanaan aktivitas di dalam rumah, beberapa perusahaan swasta menerapkan pola bekerja dari rumah, atau istilah bekennya Work From Home (WfH). Langkah ini diikuti oleh lembaga pendidikan, baik pendidikan dasar menengah maupun tinggi, yang juga menerapkan kebijakan belajar dari rumah.

Langkah mengejutkan pun dilakukan oleh instansi pemerintah. Tidak mau ketinggalan dengan pola WFH di sektor swasta, sektor pemerintah juga menerapkan pola WFH. Khususnya bagi instansi pemerintah yang berkantor di Jakarta, epicentrum penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Kebijakan WFH di instansi pemerintah bisa jadi merupakan terobosan yang unik, bahkan mungkin baru pertama kali dilakukan di sektor pemerintah. Bekerja dari rumah, bukan libur melainkan tetap bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi – hanya saja dilakukan dari rumah masing-masing.

Bagaimana Cara Bekerja Dari Rumah?

Tuntutan untuk tetap bekerja membuat para pegawai pemerintahan atau ASN dituntut untuk tetap terhubung satu dengan yang lainnya.  Mereka tetap harus melakukan koordinasi atas penyelesaian pekerjaan, atau bahkan tetap memberikan pelayanan ke masyarakat meskipun dengan pembatasan pertemuan.

Satu pertanyaan menggelitik yang bisa dilontarkan, bagaimana caranya ASN bekerja dari rumah masing-masing? Tentunya dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi. Dalam hal ini ASN dituntut untuk bisa secara cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Berdasarkan pengalaman, ketika WFH dijalankan hampir seluruh pekerjaan diselesaikan dengan menggunakan teknologi informasi. Proses WFH pada umumnya diawali dengan absen pagi dan diakhiri dengan absen sore.

Di kantor saya, untuk absensi ada syarat wajib memperlihatkan lokasi domisili. Lokasi itu tidak boleh berubah. Karena hal tersebut akan menandakan kita tidak keluar rumah. Absen pagi dan sore dilakukan dengan memberikan titik koordinat melalui aplikasi whatsapp.

Setelah berjalan beberapa hari, pola absensi menggunakan share lokasi diubah menjadi absensi menggunakan aplikasi absen yang terhubung dengan telepon selular. Di sini peran teknologi informasi sudah lebih bermain. Para ASN dipaksa untuk bisa memahami penggunaan share lokasi dan belajar aplikasi secara cepat.

Untuk pelaksanaan rapat harian, para ASN menggunakan software gratisan yang saat ini tengah naik daun bernama Zoom. Aplikasi ini memungkinkan banyak orang terhubung dalam satu zona meeting.

Karena kebutuhan mendesak untuk meeting, para ASN pun mau tidak mau dipaksa untuk belajar mengoperasikan aplikasi zoom meeting dengan baik. Padahal, tidak semua ASN cukup mudah belajar hal baru terkait penggunaan alat-alat teknologi infromasi, termasuk Zoom ini. Sehingga, sekali dua kali masih banyak yang gugup, tapi semakin lama semakin lancar.

Untuk memanggil rapat, sekarang tidak perlu lagi voice atau video call teman satu persatu, melainkan tinggal membagikan zoom room beserta kode dan password-nya. Tidak lama para peserta rapat akan tersambung secara otomatis. Mereka bisa berkumpul dalam sebuah ruang rapat – di dunia maya. Peran teknologi informasi sangat dominan. ASN pun dipaksa untuk adaptif dalam waktu yang begitu cepat.

Terakhir, untuk sharing dokumen pekerjaan, biasanya digunakan email. Namun, kelemahan email adalah bahwa kita hanya bisa sharing satu arah. Tidak bisa secara real time dilakukan revisi atau perbaikan atas dokumen.

Berbarengan dengan momentum WFH, pelaksanaan pekerjaan para ASN saat ini banyak yang menggunakan google doc dan excel worksheet, sharing dokumen bawaan google. Melalui aplikasi ini, kita bisa saling memberikan koreksi atas dokumen pekerjaan secara real time. Fungsinya tidak seperti email yang harus dikirim terlebih dahulu. Dalam beberapa hal justru lebih memudahkan.

Sekali lagi, ASN juga dipaksa untuk bisa menggunakan fitur ini. Walaupun sudah banyak yang familiar tapi sebagian ASN belum terbiasa dan memahami teknis penggunaannya. Di sini, ASN juga dipaksa untuk belajar teknologi informasi.

Memaksa ASN untuk Melek Teknologi

Berdasarkan pengalaman tiga hal di atas, dapat diambil kesimpulan sederhana. Bencana penyebaran virus covid-19 yang berdampak seluruh aktivitas harus dilakukan dari rumah, ternyata bisa memaksa ASN untuk lebih melek teknologi. Kabar baiknya, ASN melek teknologi ini menjadi satu kebutuhan bagi ASN di era revolusi industri 4.0

Selain itu, dengan adanya pemaksaan ini, proses knowledge transfer antar ASN juga bisa berlangsung lebih cepat. Dalam bayangan saya, andai kata ASN harus diikutkan pelatihan untuk memahami beberapa aplikasi di atas (share lokasi, zoom meeting, dan sharing dokumen), belum tentu mereka langsung bias mempraktikkan.

Salah satu alasannya karena belum tentu juga digunakan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari. Pemaksaan bisa membuat ASN belajar lebih cepat dan mungkin melebihi batas kemampuannya.

Apabila seperti ini, bencana akan membawa berkah bagi ASN khususnya untuk peningkatan kemampuan diri. Bagaimanapun, kita semua tetap berharap agar bencana ini segera berakhir dan aktivitas bisa kembali normal.

0
0

Seorang peneliti dan pengamat Manajemen Pengembangan Kompetensi ASN. Saat ini bekerja di Lembaga Administrasi Negara.

error: