Ada sebuah pertanyaan. Mengapa birokrat terlihat jarang menghasilkan tulisan yang dikonsumsi masyarakat? Pada level individu, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, seperti kurang berminat, merasa kurang terampil, atau tidak punya waktu.

Pada level institusi, sebenarnya tulisan yang dihasilkan birokrasi sangat banyak. Ada kajian, forecast, nota keuangan, term of reference, rekomendasi, briefing note, proses bisnis, standard operating procedure, analisis, modul, naskah akademis, rencana anggaran, rencana kerja, naskah pidato, nota dinas, tanggapan, rancangan regulasi, ketetapan, laporan, keterangan dan berbagai dokumen dalam beragam bentuk dan tujuan. Semua ini adalah tulisan. Secara umum, tulisan-tulisan tersebut memiliki kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan artikel di blog. Hanya saja mungkin tidak menjadi konsumsi masyarakat luas karena sifatnya atau karena batas publikasinya.

Melihat banyaknya produk tertulis yang dihasilkan birokrasi, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa transparankah birokrasi mempublikasikan tulisan-tulisan yang dihasilkannya. Dokumen-dokumen tersebut akan menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik dibuat dan dilaksanakan. Lebih dari itu, tulisan-tulisan tersebut sedikit banyak mempengaruhi dan mengungkapkan seberapa baik pelayanan publik, penghormatan terhadap demokrasi, pemuliaan hak-hak asasi manusia, dan pelaksanaan konstitusi.

Ada satu lagi jawaban kenapa mungkin tidak terlihat banyak tulisan yang dihasilkan seorang birokrat. Tulisan bukanlah produk akhir pekerjaan birokrasi. Seorang birokrat dituntut untuk membuktikan dan merealisasikan apa yang ditulisnya menjadi kenyataan. Dan ini lebih menantang dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Di dunia riil, seorang birokrat akan berhadapan dengan kondisi yang lebih kompleks dibandingkan dengan sebuah dunia ideal yang ada di benak atau tulisannya. Birokrat tersebut akan menghadapi pergulatan ide, kompetisi sumber daya, persaingan ego sektoral, rumitnya peraturan, resistensi pemangku kepentingan, penyesuaian sistem, perubahan cara kerja, serta berbagai keterbatasan dan tantangan yang lebih pelik dibandingkan dengan menghasilkan sebuah tulisan. Alhasil, merealisasikan satu gagasan saja pada dunia nyata menjadi lebih sulit dibandingkan dengan menulis berlembar-lembar halaman.

Pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa untuk merealisasikan satu gagasan di pemerintahan bisa memakan waktu sampai dua tahun. Bahkan lebih. Bandingkan dengan menulis sebuah artikel di blog yang dapat dikerjakan dalam hitungan jam atau hari. Butuh stamina dan kreativitas yang lebih tinggi untuk merealisasikan sebuah gagasan dibandingkan dengan hanya menulis gagasan tersebut di atas kertas. Pada akhirnya, satu gagasan yang berhasil dilaksanakan dan dimanfaatkan oleh banyak orang akan lebih bermaslahat dari pada berlembar-lembar tulisan tapi tidak direalisasikan.

 

Dody Dharma Hutabarat ♥ Associate Writer

ASN pada Instansi Pemerintah Pusat yang saat ini sedang menempuh PhD Candidate pada University of Illinois at Chicago, Amerika Serikat.

error: