Tidak Bisa Sendiri: Mengingat Kembali Manusia sebagai Zoon Politicon

by | Mar 10, 2026 | Literasi | 0 comments

Zoon politicon adalah istilah yang berarti bahwa manusia sejak dalam kandungan hingga bertumbuh dan berkembang di dunia dinyatakan sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia dikodratkan untuk selalu hidup berdampingan dengan manusia lain atau hidup untuk bermasyarakat.

Mengapa dikatakan sejak dalam kandungan? Karena seorang bayi yang dikandung hidupnya bergantung kepada ibunya. Jika ibunya memilih mempertahankannya, ia akan dilahirkan dalam keadaan hidup. Namun, jika sebaliknya, kehidupannya tidak akan pernah ada di dunia. 

Oleh karena itu, bayi tersebut hidupnya berdampingan dengan sang ibu. Kemudian, bayi yang telah lahir, hidup, dan berkembang di dunia selalu berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Status sebagai zoon politicon kepada manusia dapat berakhir saat manusia telah meninggal.

Sejarah Istilah Zoon Politicon

Istilah zoon politicon dipelopori oleh Aristoteles, seorang filsuf asal Yunani Kuno yang dijuluki sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan. Julukan tersebut diperoleh karena Aristoteles sangat terkenal dan sangat berpengaruh di bidang ilmu pengetahuan. Istilah ini diperkenalkan sekitar 384 —322 sebelum masehi.

Zoon politicon didasarkan pada dua jenis makhluk Tuhan yang berbeda esensi, tetapi memiliki kemiripan, yakni manusia dan hewan.

Menurut Aristoteles, jika manusia hanya hidup, makan, dan minum serta menyalurkan hasrat seksual pada lawan jenisnya, manusia dan hewan tidak jauh berbeda. Manusia senantiasa hidup berkelompok dan menjalin hubungan dengan manusia lain.

Mengapa Zoon Politicon Tidak Bisa Sendiri

Stereotip manusia tidak bisa hidup sendiri merupakan penegasan dari kodrat manusia sebagai makhluk sosial atau zoon politicon. Ada beberapa penyebab mengapa sesama manusia harus selalu hidup berdampingan.

1. Manusia Dikodratkan untuk Hidup Berdampingan

Manusia sejak dalam kandungan hingga hidup di dunia telah dikodratkan untuk hidup berdampingan dengan manusia lain. Penyebabnya karena dalam hidupnya manusia selalu melakukan interaksi sosial.

Manusia tidak dapat berinteraksi sosial tanpa ada manusia lain karena dalam interaksi sosial meliputi tindakan, komunikasi, dan perilaku yang terjadi antara satu manusia dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidup masing-masing.

2. Keberlangsungan Peradaban

Albion Small mengatakan bahwa peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Dalam keberlangsungan peradaban ada transformasi dari hari ke hari. Hal ini terjadi karena perkembangan pengetahuan manusia, perkembangan zaman, dan perkembangan gaya hidup. Oleh karena itu, manusia bersama-sama untuk meningkatkan kualitas hidupnya seiring dengan keberlangsungan peradaban.

3. Dependensi Ekonomi

Setiap manusia tidak dapat bertumbuh dan berkembang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia selalu  membutuhkan manusia lain untuk menyediakan kebutuhan primer (pokok), sekunder (pelengkap) , dan tersier (mewah).

Oleh karena itu, muncul beragam profesi yang saling melengkapi dalam kehidupan sosial. 

4. Perkembangan Kognitif dan Emosional

Interaksi sosial berperan untuk memperdalam pengetahuan dan membentuk karakter. Pembelajaran, kerja sama, dan gotong royong serta diskusi melatih kemampuan berpikir kritis dan menumbuhkan empati saat keadaan mendukung.

Menurut Rahmadhani dan Putra (2024), interaksi sosial yang baik dapat meningkatkan keterampilan kritis dan kemampuan problem-solving individu.

Hal ini juga sejalan dengan teori Scaffolding yang mengatakan bahwa individu memerlukan bantuan orang lain untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi (Yusuf & Rahmawati, 2023). Oleh karena itu, interaksi sosial yang dilakukan manusia dapat membantu perkembangan kognitif mereka. 

Kaitan Zoon Politicon di Era Modern

Hakikat manusia sebagai zoon politicon masih mengikat dalam kehidupan kontemporer. Walaupun setiap manusia yang hidup dalam satu zaman terlahir dari zaman yang berbeda, sifat dasar manusia atau kodrat alamiah manusia yang selalu membutuhkan kebersamaan dan keteraturan tetap hadir dalam wujud baru.

1. Teknologi Digital, Aplikasi, dan Media Sosial

Teknologi digital terbuka bagi setiap orang yang berkeinginan untuk berekspresi secara bebas, tetapi harus mengikuti aturan yang ada. Produk dari teknologi digital berupa aplikasi dan  media sosial yang dapat digunakan orang perorangan. 

Misalnya WhatsApp, Instagram, dan X. Ketiga produk digital ini tidak hanya dimanfaatkan oleh orang-orang untuk menyenangkan diri sendiri, tetapi juga untuk tetap terhubung dengan orang lain yang jaraknya tidak memungkinkan untuk bertemu secara langsung.

2. Demokrasi dan Partisipasi Publik

Dalam praktik sistem demokrasi modern, hakikat zoon politicon terealisasikan melalui hak suara, kebebasan berpendapat, dan berpartisipasi dalam organisasi.

Partisipasi publik bukan hanya hak, melainkan juga kebutuhan manusia untuk turut serta menentukan arah kehidupan bersama. Gotong royong, musyawarah mufakat, dan aksi sosial lainnya merupakan representasi dari tindakan manusia untuk berperan dalam urusan kolektif.

3. Krisis Global

Pandemi, perubahan iklim, dan konflik internasional yang mengakibatkan dampak besar dan luas menunjukkan bahwa masalah yang terjadi tidak dapat dihadapi secara sendiri.

Penyelesaiannya dapat melalui, kerja sama internasional, pergerakan antara komunitas, dan kolaborasi internasional. Krisis ini mengingatkan bahwa manusia hanya bisa bertahan hidup jika berdampingan secara bersama. 

Zoon Politicon sebagai Pengingat

Istilah zoon politicon mengingatkan bahwa manusia tidak pernah bisa melanjutkan kehidupannya tanpa berhubungan dengan manusia lain. Dimulai dari dalam kandungan hingga menghadapi era kontemporer, setiap manusia yang tinggal di suatu tempat pasti dikelilingi oleh manusia lain.

Melalui interaksi sosial yang terus kita lakukan, kita telah memenuhi kodrat sebagai makhluk sosial dan memastikan bahwa kemanusiaan memiliki tempat untuk bertumbuh serta berkembang di dunia yang kian kompleks.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa manusia di dunia tidak pernah benar-benar sendiri. Jika pun manusia memiliki sifat individualisme yang terbentuk karena terlalu mementingkan diri sendiri dan memiliki anggapan bahwa dirinya tidak membutuhkan manusia lain.

Dapat disimpulkan bahwa manusia itu melupakan kodratnya sebagai makhluk zoon politicon. Berakhirnya hakikat sebagai zoon politicon bila manusia telah meninggal dan tidak hidup di dunia.

0
0
Cindy May Siagian ♥ Associate Writer

Cindy May Siagian ♥ Associate Writer

Author

Pengarang fiksi dan penulis nonfiksi. Beberapa publikasinya telah dimuat di berbagai redaksi. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e untuk menikmati ragam tulisannya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post