
Saya pernah percaya bahwa selama pekerjaan dijalankan sesuai prosedur, semuanya akan baik-baik saja.
Datang tepat waktu. Mengikuti alur. Menyelesaikan tugas satu per satu. Jika lelah, itu dianggap wajar. Jika jenuh, itu bagian dari proses. Yang penting pekerjaan selesai dan tidak melanggar aturan.
Keyakinan itu saya pegang cukup lama.
Bukan karena saya tidak punya pertanyaan, melainkan karena saya percaya bahwa makna akan datang seiring waktu—setelah kita cukup sabar dan cukup patuh.
Saya berasal dari generasi milenial. Pernah berada di fase merintis karier sebagai PNS dengan semangat yang besar, sambil belajar menyesuaikan diri dengan sistem yang sudah lama berjalan.
Saya bertahan cukup lama untuk mengenal ritmenya, cukup dekat untuk memahami logikanya, dan cukup jujur pada diri sendiri untuk mengakui satu hal: tidak semua yang rapi itu otomatis bermakna.
Lebih dari setahun yang lalu, saya memutuskan untuk mundur dari PNS. Keputusan itu tidak lahir dari kemarahan. Ia datang perlahan, setelah banyak pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Saya memilih mengambil jarak—agar bisa melihat dengan lebih jernih apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Maka kemudian dari luar, saya mulai menyadari: kegelisahan yang dulu saya anggap persoalan pribadi, ternyata kini dialami oleh generasi yang baru masuk ke birokrasi.
Untuk Kalian, Generasi Z di Birokrasi
Surat ini saya tujukan untuk kalian—Generasi Z yang hari ini memilih masuk ke birokrasi. Kalian datang membawa energi baru, cara berpikir yang lebih cepat, dan kebiasaan bertanya yang kadang membuat ruang kerja terasa sedikit bergeser.
Generasi Z—mereka yang lahir kira-kira setelah 1997—tumbuh di dunia yang serba terhubung. Internet, gawai, media sosial, dan data bukan lagi alat tambahan, melainkan lingkungan hidup. Kalian terbiasa membaca pola, bukan sekadar mengikuti urutan. Terbiasa bertanya mengapa, bukan hanya bagaimana.
Di Indonesia, kalian bukan kelompok kecil. Kalian adalah kelompok usia terbesar dalam populasi produktif hari ini dan akan sangat mewarnai dunia kerja dalam dekade-dekade ke depan.
Meskipun posisi kepemimpinan akan didominasi generasi milenial dan sebagian generasi yang lebih senior, tapi keberadaan kalian akan seharusnya bisa menjadi game changer.
Terlebih, milenial sedikit banyak masih memiliki kesamaan karakter dengan Gen Z. Artinya, apa yang kalian rasakan sekarang akan sangat menentukan wajah birokrasi di masa depan.
Yang sering tidak dipahami: kalian bukan generasi yang menolak kerja keras. Kalian hanya sulit bertahan pada pekerjaan yang tidak menjelaskan ke mana tenaga dan pikiran kalian dibawa.
Kalian tidak menolak kerja. Kalian menolak kerja yang kehilangan tujuan.
Tentang Quiet Quitting yang Terlalu Cepat Distempelkan
Belakangan, istilah quiet quitting sering dilekatkan pada kalian, adik-adikku Gen Z. Bekerja secukupnya. Tidak ribut. Tidak melawan. Tapi juga tidak sepenuhnya hadir. Saya tidak melihat ini sebagai kemalasan. Saya melihatnya sebagai cara paling sunyi untuk bertahan.
Penelitian menunjukkan bahwa bagi Generasi Z, kepemimpinan dan kejelasan arah kerja sangat memengaruhi kepuasan kerja, dan kepuasan inilah yang menjadi jembatan menuju kinerja. Ketika kepuasan itu runtuh, keterlibatan ikut surut (Anggiani & Fatonah, 2025).
Quiet quitting bukan berhenti bekerja. Ia berhenti berharap.
Menurut pengamatan saya, itu karena kalian terbiasa berpikir kritis. Ketika setiap pertanyaan dijawab dengan “sudah aturannya” atau “ikuti saja prosesnya”, yang terkikis bukan disiplin, melainkan rasa memiliki.
Saya tahu kalian akrab dengan teknologi. Justru karena itu, kalian cepat merasakan ketika transformasi digital hanya mengganti kertas dengan layar—tanpa mengubah cara berpikir.
Birokrasi hari ini rajin memperbarui sistem. Aplikasi bertambah. Dashboard dipoles. Namun riset menunjukkan bahwa transformasi digital tidak otomatis meningkatkan kinerja Generasi Z jika tidak disertai kepemimpinan yang jelas dan suportif.
Dampaknya baru terasa ketika teknologi itu memperbaiki pengalaman kerja dan meningkatkan kepuasan (Anggiani & Fatonah, 2025).
Teknologi mempercepat proses. Makna menentukan apakah orang mau peduli. Faktanya, ketika sistem semakin canggih tetapi tujuan tetap kabur, kelelahan justru datang lebih cepat.
Tentang Mereka yang Ada di Tengah
Kalian tidak berhadapan langsung dengan sesuatu yang bernama “sistem”. Kalian berhadapan dengan manusia—atasan, manajer, pimpinan—yang hari ini banyak berasal dari generasi milenial. Generasi ini berada di tengah. Pernah berada di posisi kalian, dan kini memegang otoritas. Peran ini tidak netral.
Ketika pemimpin hanya meneruskan target tanpa konteks, kalian belajar untuk tidak terlalu berharap. Namun ketika pemimpin mau menjelaskan mengapa pekerjaan ini penting dan bagaimana dampaknya, keterlibatan bisa tumbuh kembali.
Pendekatan seperti reverse mentoring menunjukkan bahwa Generasi Z justru mampu memberi kontribusi nyata—terutama dalam literasi digital dan cara kerja baru—jika didukung budaya yang aman, kepemimpinan terbuka, dan struktur yang jelas (Venugopal et al., 2025).
Maka ada satu kalimat kesimpulan saya: “Organisasi tidak kekurangan talenta muda. Tapi ia sering kekurangan ruang untuk mendengar.“
Di Sini Saya Perlu Jujur
Pada titik ini, izinkan saya menyebutkan satu hal tentang diri saya—bukan di awal, karena saya tahu kata ini sering membuat orang berjaga-jaga.
Saya masih bekerja di dunia pengawasan.
Saya seorang auditor. Kalau dulu di pemerintahan, kini di sebuah perusahaan milik negara.
Saya paham, kata itu sering terdengar tidak ramah. Tapi audit, dalam bentuk terbaiknya, bukan soal mencari salah. Ia soal menjaga makna: memastikan proses masih masuk akal, tujuan masih dijaga, dan kerja kita benar-benar bernilai.
Audit hidup dari pertanyaan. Dari skeptisisme yang sehat. Dari keberanian melihat apa yang tidak nyaman. Dan mungkin karena itulah, saya bisa merasakan kegelisahan kalian.
Ketika Audit Menjadi Cermin
Dalam bentuk terbaiknya, audit menghubungkan data dengan keputusan, temuan dengan perbaikan, dan prosedur dengan dampak. Namun ketika audit berubah menjadi rutinitas administratif—laporan rapi yang tidak dibaca, sistem canggih yang tidak mengubah arah—ia kehilangan daya reflektifnya.
Kalian merasakannya dengan cepat. Audit yang kehilangan makna akan melahirkan kepatuhan, tetapi kehilangan kepedulian. Padahal, audit seharusnya menjadi ruang belajar lintas generasi—tempat teknologi, pengalaman, dan etika bertemu.
Tentang Makna yang Layak Diperjuangkan
Maka, adik-adikku,
Quiet quitting bukan dosa generasi. Ia adalah sinyal organisasi. Ia muncul ketika arah kerja kabur, ketika kepemimpinan gagal menjaga makna, dan ketika fungsi-fungsi penting—termasuk audit—kehilangan perannya sebagai alat refleksi.
Kalian tidak kekurangan kemampuan.
Kalian membutuhkan kejelasan dan alasan untuk peduli.
Surat ini bukan ajakan untuk bertahan tanpa berpikir. Juga bukan dorongan untuk pergi tanpa alasan. Ini hanya pengakuan jujur dari seseorang yang pernah berada di dalam dan kini mengamati dari luar:
Selama makna masih bisa diperjuangkan, kerja layak diperjuangkan.
Namun ketika makna benar-benar ditarik dari peredaran, jangan heran jika yang tersisa hanya kepatuhan yang sunyi.
Dengan hormat dan harapan,
Sofia, seorang auditor milenial
Mantan CPNS 17 tahun yang lalu.
Daftar Referensi
Anggiani, S., & Fatonah, F. (2025). The impact of digital leadership and job satisfaction on Indonesian Generation Z’s job performance in the workplace. Intangible Capital, 21(3), 473–488. https://doi.org/10.3926/ic.3088
Venugopal, K., Gopalakrishna, V., Ranganath, N. S., & Lakshmi, K. (2025). Reverse mentoring and knowledge transfer: The role of Gen Z in upskilling older employees. In Enhancing Workplace Productivity Through Gender Equity and Intergenerational Communication. IGI Global. https://doi.org/10.4018/979-8-3373-2903-1.ch009














0 Comments