
Jumat sore itu, suasana di sekitar stasiun Sudirman Jakarta agak lengang. Hujan baru saja reda, namun suasana merana karena dinginnya cuaca tergantikan oleh aroma mie ayam bakso dan jajanan yang dijajakan para pedagang kaki lima.
Tidak seperti biasanya, orang-orang belum lalu lalang keluar masuk stasiun KRL Commuter Line. Mungkin mereka masih di perjalanan, setelah beberapa saat terjebak hujan di kantor-kantornya.
Sebentar lagi, jalanan ini pasti akan penuh dengan pedagang yang berjajar rapi, lampu-lampu hias dan reklame ini akan diisi wajah lelah tapi ceria kaum urban yang segera pulang menyambut akhir pekan.
Aku sendiri memilih duduk tenang mengamati di dalam sebuah cafe, tak jauh dari situ. Sudah 15 menit aku menunggu seorang kawan, untuk ngopi sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.
Namanya Fahmi, teman seangkatan waktu SMA, tapi lebih dahulu masuk bangku kuliah. Akhirnya, di tempat kerja kami, yang tadinya sama, dia menjadi seniorku.
Fahmi membuka pintu cafe dan berjalan gontai sambil mengulas senyum ke arahku, antara senang bertemu kembali setelah 2 tahun tidak bersua, bercampur dengan ekspresi yang entah apa namanya. Antara kesal, iri, tapi bangga.
Dia menyalamiku lalu berkata.
“Kowe kok katon luwih ayem saiki? Resign bikin lebih sukses ya?”
Pertanyaan itu ia lontarkan tiba-tiba. Tidak mengherankan, sudah beberapa kali kudengar dari kawan-kawan di kantor lama. Kalau tidak salah hitung, Fahmi adalah orang ketiga belas yang bertanya demikian selama 2 tahun ini.
Seperti halnya kawan lain yang sudah duluan bertanya, kami dulu sama-sama PNS. Hampir semua seumuran. Satu gedung. Kadang makan siang di kantin yang sama. Bedanya, sekarang aku sudah keluar. Dia masih bertahan. Dan—seperti biasa—datang dengan satu paket lengkap: sambat.
“Capek, Cup,” katanya sambil menyeruput kopi. Oh ya, dia memanggilku Cup—plesetan dari nama Yusuf.
“Kerja kok rasane ngene-ngene wae. Sistem ribet. Pimpinan ora paham. Kerjaan numpuk. Ah, awakmu gak kiro ngerti. Pokoke wes slamet, mendingan, mergo wis metu.”
Aku tersenyum balik. Ini bukan sambat pertama, dan jelas bukan yang terakhir.
“Ngomong-ngomong,” kataku pelan, “Awakmu isih eling ora, zaman ndisik ngoyo pengin mlebu PNS?”
Dia terhenyak lalu tertawa kecut.
“Yo eling lah. Tapi kan waktu itu beda kondisinya dengan sekarang.”
“Bedanya di mana?”
“Sekarang rasanya ndak bahagia,” katanya. “Padahal kerjaku ya kerja yang bener. Aku lebih rajin dari kamu.”
Aku mengangguk.
“Aku percaya. Tapi gini,” aku berhenti sebentar, “Menurutmu, masalahmu itu karena kerjaannya, atau karena rasamu ke pekerjaan itu?”
Dia diam.
Dalam banyak obrolan dengan teman-teman yang masih ASN, aku belajar satu hal: tidak semua kelelahan itu soal beban kerja. Banyak yang capek karena merasa tidak berdaya. Datang, mengerjakan, pulang. Besok ulang lagi. Tanpa mempertanyakan pada diri sendiri dengan mendalam, “Aku ini lagi ngapain, sih, sebenarnya?”
Dalam teori manajemen—retensi karyawan itu bukan cuma soal orang bertahan. Retensi adalah cermin: apakah orang merasa terikat, atau cuma terjebak. Sistem bisa bikin orang bertahan, tapi hanya makna kerja yang bikin orang betah secara psikologis (Westover, 2014).
“Jadi maksudmu aku ini terjebak?”
“Bukan,” kataku cepat. “Mungkin terlalu aman sampai lupa bertanya ke diri sendiri.”
Aman itu nikmat, tapi juga berbahaya
Di Indonesia, jadi ASN itu masih incaran. Prestise ada. Nasionalisme ada. Risiko pemecatan kecil. Dan nanti—pensiun. Itu fakta. Tidak ada yang salah dengan itu.
Masalahnya muncul ketika keamanan berubah jadi alasan untuk berhenti bernegosiasi dengan diri sendiri.
“Lha terus salahku di mana?” tanya Fahmi, agak defensif.
“Bukan salah,” jawabku. “Tapi pilihan. Awakmu milih bertahan, tapi hatimu pengin kabur. Itu yang bikin capek.”
Dalam riset terbaru, banyak organisasi—termasuk sektor publik—mengalami fenomena low engagement: orang hadir secara fisik, tapi absen secara emosional. Mereka bekerja, tapi tidak merasa terhubung. Dan itu berdampak langsung ke kepuasan, kinerja, bahkan niat untuk pindah (Bisht & Sethi, 2025).
“Lha aku kan ora iso pindah sembarangan.”
Aku tertawa kecil. “Nah, itu. Karena tidak bisa pindah, akhirnya sambat.”
Fahmi merespons kalimat pedasku barusan dengan wajah sebal sepersekian detik lamanya, lalu kemudian tertawa dengan mata yang agak berkaca-kaca.
“Iya juga ya…”, selorohnya.
Sambat itu manusiawi, tapi ojo dadi identitas
Aku tidak anti-sambat. Sambat itu wajar. Tapi sambat yang tidak pernah berujung tindakan, lama-lama berubah jadi identitas.
Ada orang yang setiap hari mengeluh sistem, tapi:
- tidak pernah mencoba memperbaiki cara kerja di ruang kecilnya,
- tidak mau ambil tanggung jawab tambahan,
- tidak mau belajar hal baru,
- tapi berharap pekerjaannya memberi makna.
Aku pernah baca—dan mengalami juga—ada istilahnya: psychological empowerment. Bukan soal jabatan, tapi soal rasa. Merasa “Aku punya kontrol, aku kompeten, pekerjaanku bermakna, dan ada dampaknya.”
Aku pernah baca riset yang bilang, retensi karyawan—termasuk di organisasi besar—lebih kuat ketika orang merasa empowered, bukan sekadar digaji (Menezes et al., 2025).
“Berarti aku kurang diberdayakan dong?”, Fahmi protes lagi.
“Bisa jadi. Tapi jujur ya,” kali ini aku menatapnya semakin tajam, “kadang kita juga menunggu diberdayakan, padahal sebagian empowerment itu harus direbut.”
“Terus kowe kok iso metu?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
“Takut?” tanyanya.
“Ya iyalah. Awalnya takut,” jawabku jujur.
“Tapi lebih takut lagi kalau aku sambat seumur hidup.”
Keluar bukan pilihan semua orang. Bertahan juga bukan kesalahan. Yang jadi masalah adalah bertahan tanpa kesadaran. Aku bilang lagi ke dia, “Pilihanmu cuma dua, lan loro-lorone terhormat.”
- Bertahan, tapi bertumbuh.
Ambil peran. Cari makna. Perbaiki sistem dari dalam, sekecil apa pun. - Keluar, dengan elegan.
Bukan kabur. Tapi pindah medan.
Yang melelahkan itu bukan birokrasi.
Yang melelahkan adalah tinggal di tempat yang tidak kamu cintai, tapi juga tidak berani kamu tinggalkan.
Dia terdiam lama. Kemudian dia mencoba mencairkan kekakuannya sendiri dengan meraih kopi gula aren yang mulai dingin di atas meja.
“Kok bahasamu saiki pinter, Cup?”
Tiba-tiba dia nyengir. Ekspresinya itu mengurangi rasa bersalahku sudah sok-sokan memberi ceramah soal pilihan hidup. Soalnya, bagaimanapun, aku juga pernah galau dalam posisi seperti dia.
Fahmi melanjutkan ledekannya, “Ngomongmu saiki kok tambah akeh istilah asing. Engagement, empowerment, retensi. Kamu kan bukan orang SDM.”
Aku tertawa. “Hehe. Ini oleh-oleh dari kuliah Manajemen SDM.”
“Lha? Awakmu kuliah maneh”
“S3?”, tanya Fahmi lagi, mengonfirmasi.
“Iya. Pakai biaya sendiri, di luar jam kerja. Karena sekarang alhamdulillah penghasilan lebih tinggi dan lebih hepi, jadi lebih mudah me-manage waktu. Dari pelajaran kuliahku itu, dan dari hasil mengobservasi kawan-kawan (termasuk kamu, Fahmi) ternyata teori-teori itu bukan cuma buat korporasi. Relevan banget buat birokrasi. Soal kenapa orang bertahan, kenapa orang capek, kenapa orang sambat.”
Aku kemudian menyesap sisa kopiku dan menaruh kembali cangkirnya ke atas meja.
“Intine siji bro: ojo gur sambat”, kalimatku seolah menjadi konklusi dari obrolan ringan kami sore itu.
Kalau bertahan, bekerjalah dengan sadar.
Kalau keluar, keluarlah dengan berani.
Negara ini tidak kekurangan keluhan.
Yang kurang adalah orang-orang yang mau jujur pada pilihannya sendiri.
Fahmi tersenyum tipis.
“Tak pikir-pikir, mungkin aku kudu mulai mikir, aku iki pengin dadi opo.”
Aku ikut tersenyum.
“Lha kuwi. Cocok! Langkah awal. Gas, lanjutkan.”
Aku melirik jam di ponsel. Sudah hampir magrib. Di luar, sisa-sisa hujan membuat aspal memantulkan lampu kendaraan yang mulai ramai.
“Wis,” kataku sambil berdiri, “aku sing traktir ya.”
“Lha kok?” Fahmi refleks menolak.
“Wis, ora usah akeh mikir,” sahutku sambil melangkah ke kasir.
Aku membayarkan dua gelas kopi dan camilan yang sejak tadi hampir tak tersentuh. Mungkin karena obrolannya terlalu serius, atau mungkin karena masing-masing sedang sibuk berdialog dengan pikirannya sendiri.
Kami berjalan keluar café bersama. Udara Jakarta sore itu dingin dan lembap. Di depan pintu, kami salaman. Aku menepuk bahunya pelan—sebagai kawan lama yang paham rasanya ragu dan lelah.
“Ati-ati yo,” kataku.
“Iyo, Cup, suwun” jawabnya singkat.
Kami berpisah arah. Dia menuju stasiun, aku ke sisi jalan yang berbeda.
Langkah kami menjauh, tapi obrolan sore itu—aku yakin—akan ikut pulang bersamanya.
Dan aku tahu, setidaknya hari itu, satu orang berhenti sambat…
dan mulai mikir.
Daftar Referensi
Bisht, A., & Sethi, R. (2025). Employee engagement as a strategic imperative: Drivers, outcomes, and organizational implications. Journal of Organizational Effectiveness, 12(1), 45–62.
Menezes, D. B. S., Gumashivili, M., & Kanokon, K. (2025). The role of talent management in enhancing employee retention: Mediating the influence of psychological empowerment. Sustainability, 17(7), 3277. https://doi.org/10.3390/su17073277
Westover, J. H. (2014). Strategic human resource management. Flat World Knowledge.














0 Comments