Negeri Bayangan dalam Birokrasi: Saat Ilmu Dikalahkan oleh Kepentingan

by | Jan 2, 2026 | Birokrasi Efektif-Efisien | 0 comments

Birokrasi idealnya diisi oleh para ahli yang berintegritas, berilmu, dan beradab. Namun, realitanya sering berbeda. Kita hidup dalam sebuah “negeri bayangan” di mana yang tampil berkuasa bukanlah yang paling kompeten, melainkan yang paling lihai bermain citra, jaringan, dan rekayasa informasi.

Dalam konteks pengelolaan SDM Aparatur, fenomena ini bukan hanya merusak moral pegawai, tetapi juga membunuh masa depan pelayanan publik.

Artikel “Negeri Bayangan” karya Samsul Nizar mengingatkan kita: ada dua tipe aparatur:

  1. Aparatur Ilmuwan – rendah hati, berintegritas, bekerja dengan tulus untuk kebenaran.
  2. Aparatur Vampir – mengandalkan status, citra, dan jaringan untuk menutupi ketidakmampuan dan kejahatan.

Sayangnya, di banyak instansi, tipe kedua justru lebih mudah naik jabatan, lebih sering didengar, dan lebih kuat pengaruhnya. Mereka pandai berpura-pura suci, padahal penuh rekayasa.

Lima Kebiasaan Buruk di “Negeri Bayangan” Birokrasi, yaitu:

  1. Pengalihan Isu – Ketika ada masalah internal seperti korupsi atau kebocoran data, isu dialihkan ke berita sepele atau isu eksternal. Publik pun lupa, dan pelaku terbebas.
  2. Buzzer Bayaran Internal – Ada pegawai atau kelompok yang bertugas “menyerang” pihak lain, menyebar fitnah, atau membela atasan secara membabi-buta. Mereka dibayar dengan promosi, tunjangan, atau fasilitas khusus.
  3. Pencitraan Sok Suci – Tampil religius, rajin posting kegiatan sosial, padahal dalam rapat justru menghalalkan segala cara untuk mencapai target pribadi.
  4. Mencari Kambing Hitam – Ketika proyek gagal, yang disalahkan adalah staf bawah atau pihak luar. Padahal, kesalahan terjadi karena kebijakan yang salah dari pimpinan.
  5. Berkubang dalam Ketidakpedulian – Rasa malu sudah hilang. Pelanggaran dianggap biasa. Kritik diabaikan. Yang penting “aman” dan “nyaman”.

Dampaknya pada SDM Aparatur, sebagai berikut:

  • Motivasi kerja pegawai jujur turun drastis.
  • Sistem reward hancur – yang dihargai bukan prestasi, tetapi kepatuhan buta.
  • Inovasi mandek, karena yang berbicara bukan ahlinya.
  • Kepercayaan publik runtuh.

Membangun Birokrasi Nyata, Bukan Bayangan:

Kita perlu sistem SDM yang tidak hanya menilai kinerja, tetapi juga karakter. Berikut beberapa inovasi yang bisa diterapkan, yaitu:

1. Sistem Penilaian 360 Derajat dengan Bobot Integritas
Penilaian tidak hanya dari atasan, tetapi juga dari bawahan, rekan kerja, dan masyarakat yang dilayani. Bobot terbesar diberikan pada aspek kejujuran, kerendahan hati, dan kontribusi nyata.

2. Platform “Suara Tanpa Bayangan”
Wadah digital untuk melaporkan praktik pencitraan, buzzer internal, atau pengalihan isu tanpa takut dibalas. Dilengkapi dengan verifikasi data dan perlindungan identitas pelapor.

3. Pelatihan “Adab Birokrat”
Setiap pegawai wajib mengikuti pelatihan tentang etika birokrasi, kesadaran diri, dan bahaya “mental bayangan”. Bukan sekadar teori, tetapi studi kasus nyata.

4. Meritokrasi Transparan dengan Dashboard Terbuka
Setiap promosi, mutasi, atau penghargaan harus dilengkapi dengan data pendukung yang dapat diakses publik: prestasi apa, kontribusi apa, dan penilaian integritas dari siapa.

5. Gerakan “Aparatur Nyata”
Kampanye internal untuk mendorong aparat negara berani tampil apa adanya, mengakui kesalahan, dan bekerja dengan ilmu, bukan ilusi.

Mari Keluar dari Bayangan

Birokrasi bukan tempat untuk pencitraan. Birokrasi adalah ruang pelayanan, keahlian, dan tanggung jawab. Jika kita terus hidup dalam “negeri bayangan”, yang rugi bukan hanya negara, tetapi juga rakyat yang menunggu pelayanan nyata.

“Di balik setiap kebijakan yang baik, ada aparatur yang jujur. Di balik setiap kegagalan, ada bayangan yang panjang.”

Mari jadikan birokrasi kita tempat ilmu dihargai, integritas dijunjung, dan kepalsuan diberangus. Aparatur sejati tidak perlu bersembunyi di balik citra—karya nyata mereka yang akan berbicara.

*Tulisan ini terinspirasi dari refleksi Samsul Nizar tentang pentingnya kejujuran dan kejelasan dalam tata kelola birokrasi.

3
0
Andriandi Daulay ♥ Professional Writer

Andriandi Daulay ♥ Professional Writer

Author

H. Andriandi Daulay lahir di Pekanbaru pada 24 Oktober 1980. Saat ini menjabat sebagai Analis SDM Aparatur Madya di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau. Latar belakang pendidikan di bidang Akuntansi (STIE Widya Wiwaha, Yogyakarta) dan Magister Ilmu Administrasi (Universitas Islam Riau), ia berfokus mendalami manajemen sumber daya manusia, reformasi birokrasi, dan transformasi ASN. Berbagai kursus dan pelatihan telah diikutinya, termasuk Sekolah Anti Korupsi ASN (SAKTI) ICW Jakarta, Pelatihan Fungsional Kepegawaian BKN, serta Seminar Nasional tentang Reformasi Birokrasi dan Manajemen Kinerja. Ia juga meraih Satyalancana Karya Satya 10 Tahun (2017) atas pengabdiannya sebagai ASN. Sebagai seorang profesional di bidang kepegawaian, H. Andriandi Daulay aktif menulis dan berbagi wawasan. Karya-karyanya meliputi buku "Transformasi Birokrasi Wujud Penataan Pegawai" (2021), "Cinta Tanah Air Perspektif Kepegawaian" (2022), dan "Membentuk Pribadi ASN Profesional Berkarakter" (2023). Selain itu, ia juga menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan dan seminar terkait kepegawaian. Dalam pandangannya, tata kelola SDM yang baik menjadi kunci utama dalam menciptakan pelayanan prima bagi masyarakat. Dengan semangat berbagi ilmu, ia aktif menulis di blog dan berkontribusi dalam pengembangan karier Analis Kepegawaian.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post