Mencegah Manusia Beredar atau Terpapar?

by | Apr 3, 2021 | Birokrasi Berdaya | 2 comments

Prolog

Dalam beberapa dekade terakhir, organisasi, baik di sektor privat maupun publik, telah memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis kesehatan; seperti AIDS, SARS, Flu Burung, Zika, dan Ebola. Sebagian besar di antara mereka bisa bertahan dan pulih dengan cepat. 

Berkaca dari hal tersebut, dalam artikel yang ditulisnya di Bloomberg.com berjudul “The Cognitive Bias That Makes Us Panic About Coronavirus”, Cass R. Sunstein menjelaskan bahwa sebulan setelah wabah COVID-19 dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 31 Januari 2020, beberapa pakar bahkan sudah memperkirakan hasil yang sama. Pakar meyakini bahwa kita tidak perlu menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan, dan kita harus melanjutkan hidup seperti biasanya. 

Tak hanya sampai di situ, beberapa pemimpin dunia termasuk Donald Trump secara keliru mengatakan bahwa Covid-19 ‘tidak seburuk seasonal flu‘. Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris, secara mantap juga menyatakan bahwa Inggris dapat menghadapinya dengan ‘tindakan pencegahan ekstra’, sambil memastikan bahwa petugas kesehatan Inggris memiliki semua persiapan dan semua peralatan yang mereka miliki.

Namun, situasi berubah drastis ketika penyebaran virus ini bergerak begitu laju, bahkan angkanya bergerak eksponensial. Sampai pada beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan bahwa COVID-19 merupakan pandemi, yang didasari fakta bahwa penyebarannya begitu pesat akibat mobilitas manusia, belum adanya vaksin, dan tingkat kematian yang tinggi (Bhati et al, 2020). 

Merespons ancaman tersebut, salah satu mitigasi yang diadopsi oleh sebagian besar negara adalah pembatasan perjalanan dari dan ke luar negeri, bahkan di tingkat dalam negara, pembatasan juga dilakukan. Istilah lockdown semakin akrab di telinga masyarakat. Di Indonesia, istilah PSBB dan PPKM lebih sering digunakan. Meski menimbulkan pro dan kontra, sejatinya membatasi pergerakan manusia dari satu daerah ke daerah lainnya merupakan upaya yang rasional dilakukan, terutama saat langkah-langkah proteksi pelaku perjalanan belum benar-benar ada. Lalu pertanyaannya, sampai kapan manusia dibatasi ruang geraknya?

Teori memproteksi diri sendiri

Seluruh pihak bergerak cepat mencari solusi terbaik dalam menjawab pertanyaan di atas. Contohnya, World Tourism Organization menyusun pedoman berjudul ‘COVID-19 Tourism Recovery Technical Assistance Package’ guna membangun kepercayaan publik kepada industri pariwisata. Di dalam pedoman tersebut diatur tentang penilaian dampak, peran, dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam industri tersebut. 

Di sektor lain, akademisi misalnya, penelitian tentang persepsi risiko manusia terhadap pandemi ini terus dilakukan, termasuk penelitian tentang persepsi risiko individu dalam melakukan perjalanan, perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Salah satu teori lama yang menjadi sangat relevan dengan kondisi pandemi saat ini adalah Protection Motivation Theory (PMT) yang dibangun oleh Ronald W. Rogers (1975). 

PMT merupakan sebuah kerangka kognitif perilaku yang dibangun untuk memprediksi dan memediasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Dasar pengembangannya adalah rasa takut atau kesadaran akan ancaman terhadap keselamatan dan perubahan sikap. 

Model ini menggambarkan keputusan seseorang dalam melakukan perilaku pencegahan sebagai respons atas motivasi mereka untuk melindungi diri dari ancaman. Keputusan tersebut didasarkan pada dua aspek yaitu penilaian dan tindakan perlindungannya.

Persepsi yang lebih tinggi terkait dengan kerentanan (vulnerability) dan keparahan (severity) akan memotivasi seseorang dalam berperilaku guna mencegah risiko terjadi. Di sisi lain, penilaian seseorang dalam kemampuannya menghadapi permasalahan mencakup efikasi diri (penilaian diri atas kemampuan individu untuk berperilaku sesuai dengan yang diharapkan), efikasi respons (persepsi atas efektivitas perilaku dalam pencegahan risiko), dan biaya respons (biaya atau sumber daya yang harus dikeluarkan untuk berperilaku sesuai dengan yang disarankan). 

Memitigasi diri melalui proteksi

Nah, kerangka PMT ini telah digunakan untuk memahami dan memprediksi perilaku protektif manusia saat menghadapi ancaman, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam kondisi pandemi seperti ini, ternyata penerapan atas teori PMT menjadi sangat relevan. 

Perilaku perlindungan kesehatan sebagai prasyarat untuk perjalanan yang aman dapat merujuk pada teori tersebut. Kebersihan, kesehatan fisik, dan kesehatan mental, telah menjadi aspek terpenting dari perilaku perlindungan kesehatan. 

Arahnya, diharapkan mereka yang sudah memiliki pertimbangan tinggi terhadap faktor kesehatan, kebersihan, dan kesehatan mental akan merasakan risiko kesehatan saat ini pada tingkat yang jauh lebih tinggi. 

Misalnya, sebuah studi yang dilakukan oleh Ivanova et al. (2020) menunjukkan bahwa kebersihan, desinfeksi, dan sistem kesehatan yang andal di suatu destinasi akan menjadi faktor penting dalam keputusan wisatawan. 

Lalu, dalam studi terbaru Park dan Almanza (2020), hampir sepertiga responden menceritakan bahwa mereka mengambil tindakan perlindungan secara aktif selama perjalanan udara untuk mencegah diri mereka sakit. 

Di sisi lain, pihak penerbangan juga tidak tinggal diam. Panduan tentang langkah-langkah mitigasi risiko kesehatan masyarakat diperbarui. Protokol kesehatan perlu diperkuat mulai dari area operasional bandara, pesawat, hingga awak penerbangannya. Diharapkan hal-hal ini dapat membantu menghilangkan ketakutan para pelancong (International Civil Aviation Organization, 2020).

Kondisi-kondisi di atas relevan dengan pendapat Wong dan Yeh (2009), bahwa persepsi risiko kesehatan sebagai aspek penting dari perilaku pelancong dalam perjalanan dan Teori Motivasi Perlindungan (PMT) sebagai kerangka kerja tepat sebagai pendekatan yang digunakan. Pelancong berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk bepergian, terutama pada pandemi (Cochrane, 2008).

Mencegah manusia beredar atau terpapar?

Berdasarkan penjabaran dalam paragraf-paragraf di atas, tentu tergambar bahwa pada awalnya, mitigasi penyebaran virus COVID-19 melalui pembatasan mobilisasi merupakan upaya yang krusial. Terutama di masa awal saat kita belum terlalu paham apa itu COVID-19 dan bagaimana menanganinya. 

Di kala itu, mungkin kebanyakan dari kita belum mendapatkan asupan informasi yang cukup, sehingga persepsi atas risiko terpapar masih rendah. Lalu, berdasarkan teori PMT, penilaian dan tindakan pencegahan atas ancamannya kemungkinan besar juga belum tepat. 

Nah, bagaimana dengan kondisi saat ini, tepat setelah satu tahun COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi? Dalam enhanced protection motivation theory framework yang dibangun oleh A.S. Bhati et al (2020) dinyatakan; pertama, pihak yang bertanggung jawab dalam mengelola destinasi perjalanan harus memastikan orang-orang yang ada di sana memiliki pemahaman yang sama soal kemungkinan risiko terjadi dan ancamannya terhadap kesehatan. 

Selain itu, juga harus diberikan keyakinan bahwa orang-orang yang ada di sana berperilaku dan bertindak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini akan berpengaruh pada perilaku kita dalam memproteksi kesehatan. Sebagai unsur keduanya, yaitu paham soal kebersihan, kesehatan fisik, dan kesehatan mental. 

Di sisi lain, pada unsur ketiga, penginformasian atas hal-hal yang diperlukan terutama soal protokol kesehatan harus secara terstruktur dipublikasikan. Ketiga unsur di atas merupakan antecedents perilaku seseorang di dalam bermobiliasi, dimana jika tiga unsur tersebut telah berfungsi secara baik, maka perilaku orang tersebut akan lebih berhati-hati (cautious), sadar atau waspada (conscious), dan berani (courageous). 

Artinya, dengan proteksi yang tepat dengan memperhatikan ketiga unsur di atas, maka risiko pelancong untuk terpapar COVID-19 cenderung lebih rendah. Jadi, mitigasi yang tepat untuk saat ini, mencegah orang beredar atau mencegah orang terpapar? Anda sendiri yang mampu memberikan jawabannya.


5
1
Betrika Oktaresa ♣️ Expert Writer

Betrika Oktaresa ♣️ Expert Writer

Author

Seorang ASN di Instansi Pemerintah Pusat yang baru saja menyelesaikan petualangan keilmuannya di University of Nottingham di bidang Manajemen Risiko. Profilnya dapat digambarkan dalam sebuah kalimat, "Auditor by day, writer by night, husband and father wholelife".

2 Comments

  1. Subroto

    Wah gatal juga seorang ahli manajemen risiko akhirnya menulis tentang kondisi kekinian atas wabah virus Covid yang belum juga reda. Cukup menarik atas gagasan Anda dengan metode PMT sebagai acuan bagi warga yang ingin melakukan perjalanan wisata.
    Sementara itu, ketika awal wabah dulu muncul dua pandangan antara pembiaran (herd immunity- dengan menganggap sebagai flu biasa yang akan sembuh dengan sendirinya) dan lokdonisasi (protek wilayah untuk memotong jalur penyebaran), dsb.
    Terima kasih atas pencerahannya walau saya sudah lama tidak mengiktui perkembangan mengenai wabah, semoga gagasan tersebut dapat diterima masyarakat untuk mengurangi penyebaran wabah dan melindungi diri dari virus tersebut.

    Reply
    • Avatar

      terima kasih cak bro atas responnya

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post

error: