
Tulisan ini terinspirasi sebagai hasil dari pertemuan dengan Bapak Dr. Eddy Soeparno Wakil Ketua MPR RI, pada tanggal 21 Januari 2026.
“Transisi energi Indonesia bukan sekadar agenda teknokratis penggantian sumber energi fosil menuju energi bersih, tetapi merupakan transformasi peradaban pembangunan nasional yang menentukan ketahanan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.”
Dalam perspektif kepemimpinan kebangsaan, gagasan yang sering disampaikan oleh Dr. Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR RI, mengenai pentingnya percepatan transisi energi menegaskan bahwa Indonesia harus bergerak cepat membangun sistem energi bersih yang berkeadilan, kompetitif, dan inklusif.
Sementara itu, kerangka berpikir Sarwono Kusumaatmadja mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan kebijakan elite, tetapi pada kekuatan rakyat sebagai fondasi keberlanjutan pembangunan.
Dari dua perspektif pemikiran tersebut lahirlah satu kebutuhan strategis yakni hadirnya policy–knowledge bridge leader, yaitu kepemimpinan yang mampu menjembatani kebijakan nasional, pengetahuan ilmiah, dan kekuatan masyarakat akar rumput dalam satu gerakan transformasi yang utuh.
Transisi Energi sebagai Agenda Ketahanan Nasional
Dalam pendekatan strategis, transisi energi harus dilihat sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ketergantungan terhadap energi fosil bukan hanya menimbulkan risiko lingkungan, tetapi juga kerentanan ekonomi dan geopolitik.
Oleh karena itu, percepatan energi terbarukan, efisiensi energi, serta inovasi teknologi rendah karbon menjadi pilar utama dalam menjaga daya tahan bangsa di tengah perubahan global.
Namun, transisi energi tidak akan berhasil hanya dengan regulasi, investasi, dan teknologi. Ia membutuhkan dukungan sosial yang luas, kesiapan tenaga kerja, kesiapan industri lokal, serta perubahan perilaku konsumsi energi masyarakat.
Tanpa keterlibatan rakyat, kebijakan transisi energi berpotensi menjadi program elite yang kuat di atas kertas tetapi rapuh dalam implementasi.
Pelajaran Strategis: Elite Kuat Harus Ditopang Rakyat yang Kuat
Kerangka berpikir Sarwono Kusumaatmadja selalu menempatkan rakyat sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan. Dalam perspektif ini, kekuatan elite di kebijakan tidak boleh berdiri sendiri.
Sebuah sistem nasional ibarat bangunan besar, elite adalah puncak bangunan, institusi adalah struktur, tetapi rakyat adalah fondasi dan tiang penyangga. Jika fondasi lemah, maka setinggi apa pun bangunan kebijakan berdiri, ia akan mudah roboh oleh tekanan krisis.
Transisi energi yang hanya berbasis proyek dan investasi tanpa pemberdayaan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan diantaranya resistensi sosial, ketimpangan manfaat ekonomi, serta rendahnya rasa kepemilikan masyarakat terhadap agenda perubahan.
Sebaliknya, ketika masyarakat dilibatkan sebagai pelaku utama melalui energi terbarukan berbasis komunitas, ekonomi hijau lokal, dan pendidikan iklim maka kebijakan transisi energi akan memiliki daya tahan sosial yang jauh lebih kuat.
Peran Strategis Policy–Knowledge Bridge Leader
Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang mampu menjembatani tiga dunia sekaligus:
- dunia kebijakan,
- dunia pengetahuan, dan
- dunia masyarakat.
Policy–knowledge bridge leader berperan menerjemahkan strategi nasional menjadi gerakan sosial yang dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Pemimpin jenis ini memastikan bahwa kebijakan tidak berhenti pada regulasi, tetapi hidup dalam praktik sosial dan ekonomi masyarakat.
Kepemimpinan jembatan ini memiliki beberapa fungsi strategis. Pertama, mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan data ilmiah ke dalam kebijakan yang aplikatif. Kedua, memastikan kebijakan transisi energi dirancang dengan perspektif keadilan sosial sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ketiga, membangun kemitraan lintas sektor yakni pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sebagai ekosistem transformasi yang saling menguatkan.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat pembangunan inklusif yang menekankan bahwa transformasi ekonomi hijau tidak boleh meninggalkan siapa pun. Justru, transisi energi harus menjadi peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja hijau, meningkatkan kesejahteraan daerah, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyrakat.
Fondasi Ideologis: Persatuan, Keadilan Sosial, dan Keberlanjutan
Transisi energi bukan hanya soal teknologi dan investasi, tetapi juga soal nilai. Fondasi ideologis bangsa persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial harus menjadi landasan utama dalam transformasi energi. Tanpa fondasi tersebut, percepatan pembangunan dapat menimbulkan ketimpangan sosial yang justru melemahkan stabilitas nasional.
Karena itu, kebijakan transisi energi harus memastikan bahwa masyarakat bukan hanya menjadi penerima dampak, tetapi menjadi aktor utama perubahan. Ketika rakyat kuat secara ekonomi, sosial, dan kapasitas pengetahuan, maka mereka akan menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi keberlanjutan kebijakan nasional.
Menuju Kepemimpinan Transformasional Indonesia
Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat transisi energi bukan sebagai proyek sektoral, tetapi sebagai gerakan nasional yang menghubungkan kekuatan elite kebijakan dengan kekuatan rakyat.
Elite boleh kuat dalam visi, strategi, dan pengambilan keputusan, tetapi kekuatan tersebut harus berdiri di atas fondasi masyarakat yang kuat, berdaya, dan merasa memiliki arah transformasi bangsa.
Dalam perspektif ini, policy–knowledge bridge leader menjadi figur kunci masa depan Indonesia: pemimpin yang mampu menjembatani pemikiran strategis tingkat tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat, menghubungkan inovasi teknologi dengan keadilan sosial, serta memastikan bahwa transisi energi tidak hanya memperkuat posisi Indonesia di tingkat global, tetapi juga memperkokoh persatuan dan kesejahteraan rakyat di dalam negeri.
Pada akhirnya, keberhasilan transisi energi Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berubah, tetapi oleh seberapa kuat fondasi rakyat menopang perubahan tersebut.
Ketika elite kuat, tiang penyangga kuat, dan landasan nilai kebangsaan kuat, maka bangunan besar transformasi energi Indonesia akan berdiri kokoh menghadapi berbagai krisis global di masa depan.














0 Comments