Bahaya Perang Iran terhadap Persatuan Bangsa dan Solusi Mengatasinya

by | Apr 6, 2026 | Birokrasi Berdaya | 0 comments

Perang Iran telah memasuki minggu kelima dan dampaknya sangat signifikan. Beberapa negara telah terdampak ekonominya, terutama ditandai dengan kenaikan harga BBM yang melambung tinggi hingga dua kali lipat, yang disebabkan ditutupnya selat Hormuz.

Saya sendiri gagal melaksanakan penugasan dari Jakarta ke Banjarmasin karena adanya kenaikan harga avtur yang membuat saya tidak berhasil mendapatkan tiket pesawat ke Banjarmasin.

Selain dampak ekonomi, Perang Iran juga menimbulkan dampak-dampak lain yang perlu mendapatkan perhatian kita semua. Di antaranya ialah dampak kemanusiaan dengan terbunuhnya banyak masyarakat sipil, khususnya di negeri Iran.

Pada awal perang, sebanyak 165 orang siswa sekolah di Iran telah terbunuh terkena rudal Tomahawk. Selain itu terjadi kehancuran gedung-gedung dan fasilitas-fasilitas penunjang kehidupan seperti sekolah, rumah sakit, dan lain-lainnya.

Retorika Agama dalam Perang Iran

Selain dalam aspek kemanusiaan dan ekonomi, dampak perang juga mulai tampak pada aspek sosial. Bangsa Indonesia yang majemuk berpotensi diganggu persatuannya dengan mulai munculnya aura SARA pada Perang Iran ini.

President Donald J Trump menggunakan retorika agama sebagaimana ditulis oleh Reuters pada 6 April 2026 dengan judul “Trump invokes religious rhetoric in praise of Iran rescue, drawing criticism”. Presiden Trump menggunakan frasa yang biasa digunakan oleh umat Islam “Praise to Allah” yang oleh beberapa analis dikategorikan sebagai ejekan.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Peter Hegseth juga telah memulai menggunakan retorika agama sebagaimana ditulis pada 31 Maret 2026 dalam artikel berjudul “In Pentagon briefings, Hegseth leans into religious rhetoric”.
(Baca: https://www.npr.org/2026/03/31/nx-s1-5739333/in-pentagon-briefings-hegseth-leans-into-religious-rhetoric.)

Bagi bangsa Indonesia yang majemuk, retorika agama dalam Perang Iran ini akan membahayakan persatuan bangsa bila rakyat Indonesia khususnya yang beragama Islam terprovokasi.

Meskipun Iran bermazhab Syiah tetapi tidak dimungkiri bahwa Iran membawa nama resmi sebagai Republik Islam Iran. Retorika agama yang digunakan dalam Peran Iran akan berpotensi memecah persatuan bangsa bila tidak dapat dimitigasi dengan baik.

Bahaya retorika agama dalam Perang Iran ini telah disadari oleh pemimpin umat katolik sedunia yaitu Paus Leo XIV, yang lahir di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Pada peringatan Paskah Paus Leo XIV dengan tegas mengkritik retorika agama yang dilakukan oleh Presiden Trump.

Paus mengatakan,”Anda tidak dapat menggunakan Tuhan untuk membenarkan perang” sebagaimana dikutip oleh The Washington Post pada artikel “With Mideast in conflict, Pope criticizes those who invoke God in for war” tertanggal 3 April 2026.

Lebih jauh Paus Leo XIV yang lahir lahir 14 September 1955 dengan nama Robert Francis Prevost mengatakan,”Tuhan tidak akan mendengar kepada para pemimpin Perang.” Ucapan ini secara tersirat ditujukan kepada Presiden Trump yang telah menggunakan retorika agama dalam Perang Iran.

Dengan demikian, potensi terganggunya persatuan umat manusia ini disadari oleh pemimpin tertinggi agama Katolik sedunia. Bukan semata-mata menjadi concern umat muslim.

Dengan demikian potensi terganggunya persatuan bangsa di Indonesia juga perlu menjadi perhatian agar bangsa Indonesia dapat terjaga persatuannya dan tidak terprovokasi oleh retorika agama dalam Perang Iran ini.

Solusi Mengatasi Potensi Terpecahnya Persatuan Bangsa

Bangsa Indonesia tidak boleh membiarkan retorika agama dalam Perang Iran ini berkembang memprovokasi rakyat Indonesia. Harus ada upaya-upaya proaktif yang preventif dalam mencegah meningkatnya risiko terkait potensi terpecahnya persatuan bangsa.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus segera memberikan pemahaman kepada umat Islam agar tidak terprovokasi oleh retorika agama yang digunakan dalam Perang Iran.

MUI harus menggandeng ormas-ormas Islam seperti Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Al Washliyah, dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk secara aktif memberikan penerangan kepada umat Islam bahwa Perang Iran bukanlah perang agama dan tidak boleh diseret menjadi perang agama.

Ormas-ormas Islam dapat menyampaikan wawasan moderat dalam beragama kepada para pendakwah yang mereka koordinasikan, untuk kemudian wawasan moderat dalam beragama itu diteruskan dalam ceramah-ceramah di masyarakat oleh para pendakwah tersebut.

Selain itu, ormas-ormas Islam juga dapat menyampaikan wawasan moderat dalam beragama melalui televisi ataupun podcast-podcast yang berkenan mengundang mereka dalam dialog-dialog terkait Perang Iran. Juga mereka dapat menggunakan medsos-medsos resmi yang mereka miliki.

Ormas-ormas non-Islam pun perlu melakukan peran yang sama. Misalnya ormas-ormas Kristen/Katolik dapat lebih menyampaikan pesan-pesan Paskah yang disampaikan oleh Paus Leo XIV. Demikian juga ormas-ormas Hindu ataupun Budha.

Lalu, Bagaimana Peran Birokrat?

Para birokrat ASN sangat berperan dalam mengatasi potensi terpecahnya persatuan bangsa ini. ASN dapat menjadi solusi dalam mengatasi potensi terpecahnya bangsa karena provokasi akibat adanya retorika agama dalam Perang Iran ini.

Para birokrat ASN dapat menyampaikan pesan-pesan yang telah disampaikan oleh Paus Leo XIV yang menyerukan dihentikannya Perang Iran dan tidak menyetujui eskalasi perang ini menjadi perang agama.

Keberadaan birokrat ASN ini strategis karena rakyat akan lebih mendengarkan para birokrat ASN yang dipandang netral dan moderal dalam beragama. Dengan demikian para birokrat ASN dapat menjadi pemersatu bangsa di tengah ancaman potensi perpecahan bangsa yang diakibatkan oleh penggunaan retorika agama.

  • Para birokrat ASN dapat menggunakan podcast-podcast ataupun medsos-medsos yang mereka miliki untuk menyebarkan wawasan moderat dalam beragama dan menyampaikan bahwa retorika agama dalam Perang Iran merupakan hal yang keliru.
  • Wawasan ini dapat disalurkan secara natural, baik saat memberikan pelayanan publik maupun dalam interaksi sosial sehari-hari. Mengingat bahwa masyarakat sering menjadikan figur ASN sebagai rujukan dalam menanggapi berbagai isu global, momen interaksi tersebut menjadi peluang emas bagi ASN untuk menyampaikan perspektif yang tepat.

Oleh karena itu, sangat krusial bagi setiap ASN untuk membekali diri dengan pemahaman komprehensif dan akurat mengenai fakta Perang Iran sebelum mengedukasinya ke publik.

Simpulan

Penggunaan retorika agama dalam Perang Iran menimbulkan ancaman berupa risiko potensi perpecahan bangsa.

Solusi untuk mengatasi itu adalah perlunya tindakan proaktif para pemuka agama dari MUI, NU, Muhammadiyah dan lain-lain untuk memberikan penerangan kepada umat agar tidak terprovokasi dengan penggunaan retorika agama dalam Perang Iran.

Selain itu, perlu didayagunakan keberadaan para birokrat ASN di seluruh Indonesia untuk ikut menjelaskan bahwa Paus Leo XIV pun tidak menyetujui retorika agama dalam Perang Iran dan bahwa Paus Leo XIV ingin Perang Iran segera dihentikan dan dipulihkan perdamaian di Timur Tengah.

1
0
Dedhi Suharto ◆ Professional Writer

Dedhi Suharto ◆ Professional Writer

Author

Inspektur pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan yang fokus pada internal control dan risk management serta memiliki hobi menulis novel.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post