Sebelum Cerita Leluhur Hilang: Dana Indonesia Raya dan Ikhtiar Merawat Ingatan Nusantara

by | Oct 2, 2026 | Birokrasi Berdaya | 0 comments

Rawatlah cerita sebelum ia hilang.
Jaga petuah sebelum ia terlupa.
Wariskan budaya kepada generasi yang datang.
Agar mereka mengenal akar, memahami bumi, dan tahu ke mana harus melangkah.

Ada pengalaman yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat Indonesia dari perspektif yang berbeda. Pengalaman itu saya dapatkan ketika mendapat kesempatan menjadi bagian dari Komite Seleksi Dana Indonesia Raya.

Berada di dalam proses tersebut membuat saya melihat bahwa kebudayaan Indonesia sesungguhnya jauh lebih besar daripada apa yang selama ini tampak di panggung-panggung kebudayaan. Di balik ribuan proposal yang masuk, terdapat begitu banyak manusia, komunitas, daerah, tradisi, kreativitas, dan kegelisahan yang ingin disampaikan kepada bangsa ini.

Energi kebudayaan yang begitu besar

Ada masyarakat yang ingin mempertahankan tradisi leluhurnya, komunitas yang ingin menghidupkan kembali kesenian yang mulai ditinggalkan, anak-anak muda yang ingin membawa budaya daerahnya ke ruang digital, seniman yang ingin menciptakan karya baru dari akar tradisi, dan mereka yang ingin mendokumentasikan pengetahuan yang selama ini hanya hidup dari generasi ke generasi.

Semakin membaca dan mencermati berbagai gagasan tersebut, saya semakin merasa kagum sekaligus prihatin. Kagum karena ternyata energi kebudayaan Indonesia begitu besar, tetapi prihatin karena pada saat yang sama kita juga melihat begitu banyak warisan budaya yang berada dalam posisi rentan untuk dilupakan.

Dari sanalah saya kemudian memahami bahwa Dana Indonesia Raya memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar dukungan pendanaan. Ia membuka ruang agar gagasan-gagasan kebudayaan yang selama ini mungkin hanya hidup di komunitas dapat memperoleh kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Sebab, kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena kita mengatakan bahwa kita mencintainya. Kebudayaan harus dirawat, diwariskan, didokumentasikan, dan diberi ruang untuk berkembang.

Menjaga generasi muda lewat kebudayaan

Kebutuhan itu menjadi semakin penting karena kita sedang hidup dalam zaman yang bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang hampir tanpa jeda, informasi datang dari segala penjuru dunia, dan generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Perubahan tersebut tentu membawa banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan bagi kebudayaan lokal. Sesuatu yang tidak segera didokumentasikan dapat hilang, cerita yang tidak lagi dituturkan dapat dilupakan, dan pengetahuan yang tidak diwariskan dapat berhenti pada satu generasi.

Karena itu, menjaga kebudayaan sesungguhnya juga merupakan bagian dari menjaga generasi muda. Mereka tidak hanya membutuhkan pendidikan dan keterampilan untuk menghadapi masa depan, tetapi juga membutuhkan akar, identitas, nilai, dan pengetahuan yang dapat menjadi kompas ketika dunia berubah semakin cepat.

Di titik inilah saya kembali teringat pada kekayaan terbesar yang dimiliki Nusantara: budaya lisan. Indonesia memiliki begitu banyak cerita yang diwariskan melalui tutur—legenda, cerita rakyat, hikayat, pantun, tembang, petuah, peribahasa, mantra, pengetahuan masyarakat adat, hingga nasihat para tetua.

Sebagian besar mungkin tidak pernah ditulis dalam buku. Ia hidup dari mulut ke mulut, dari kakek kepada cucu, dari ibu kepada anak, dari tetua kepada generasi muda.

Justru di situlah kekuatannya sekaligus kerentanannya. Ketika generasi yang menyimpan cerita tersebut pergi dan tidak ada yang meneruskannya, sebuah bagian dari pengetahuan bangsa juga dapat ikut hilang.

Padahal, jika kita mau mendengarkan lebih dalam, banyak budaya lisan Nusantara bukan hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.

Prinsip keberlanjutan hingga tanggung jawab antargenerasi

Lewat cerita tentang hutan yang dituturkan secara turun-temurun, leluhur kita sebenarnya telah menerapkan prinsip keberlanjutan dan konservasi. Jauh sebelum istilah climate change atau biodiversity menjadi tren global, masyarakat Nusantara sudah memiliki kearifan lokal dalam hidup berdampingan dengan alam.

Karena itu, ketika sebuah budaya lisan hilang, yang hilang bukan hanya sebuah cerita. Yang hilang bisa jadi adalah ilmu. Ilmu tentang kehidupan, ilmu tentang hubungan manusia dengan alam, ilmu tentang bagaimana mengambil tanpa merusak, menggunakan tanpa menghabiskan, dan meninggalkan sesuatu yang baik bagi generasi berikutnya.

Saya sering berpikir, jangan-jangan leluhur kita sebenarnya telah memiliki banyak jawaban tentang bagaimana merawat bumi, tetapi kita terlalu sibuk mencari jawaban baru sehingga lupa mendengarkan mereka.

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan ketika kita menghadapi perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan. Kita memang membutuhkan teknologi, kebijakan, inovasi, transisi energi, dan berbagai pendekatan baru.

Namun keberlanjutan tidak hanya persoalan teknologi. Keberlanjutan juga persoalan nilai. Bagaimana manusia memandang alam, bagaimana manusia memperlakukan sumber daya, bagaimana manusia memahami batas, dan bagaimana manusia merasa memiliki tanggung jawab terhadap generasi yang belum lahir. Sayangnya, pengetahuan seperti itu dapat hilang apabila tidak ada kepedulian untuk melestarikannya.

Saya melihat pendanaan kebudayaan dari perspektif yang sedikit berbeda. Bagi saya, dukungan terhadap kebudayaan bukan semata-mata pembiayaan sebuah pertunjukan atau kegiatan seni. Ia dapat menjadi investasi terhadap memori bangsa.

Dukungan pendanaan kebudayaan bukan sekadar pembiayaan pertunjukan, melainkan investasi terhadap memori bangsa. Saat komunitas mendokumentasikan tradisinya, anak muda mengolah karya lokal, atau cerita rakyat diadaptasi ke media digital, kita sedang menyelamatkan pengetahuan dan keberlanjutan identitas tersebut.

Agar tidak berhenti sebagai gagasan

Dalam perspektif itulah saya melihat Dana Indonesia Raya sebagai sebuah ikhtiar penting untuk merawat ingatan Nusantara. Pengalaman saya berada di dalam Komite Seleksi membuat saya melihat bahwa Indonesia memiliki begitu banyak gagasan yang layak mendapatkan ruang.

Tentu, tidak semua gagasan dapat didukung. Proses seleksi membutuhkan ketelitian, pertimbangan, dan tata kelola agar dukungan dapat diberikan secara tepat. Namun satu hal yang semakin jelas bagi saya adalah bahwa energi kebudayaan masyarakat Indonesia sangat besar.

Kita tidak kekurangan gagasan. Kita tidak kekurangan kreativitas. Kita tidak kekurangan orang-orang yang ingin menjaga warisan leluhurnya.

Yang perlu kita pastikan adalah agar energi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi memiliki kesempatan untuk menjadi karya, berkembang menjadi gerakan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan kebudayaan menurut saya bukan hanya berapa banyak kegiatan yang berhasil diselenggarakan, tetapi juga berapa banyak cerita yang berhasil diselamatkan, pengetahuan yang berhasil diwariskan, komunitas yang berhasil diperkuat, dan generasi muda yang kembali merasa memiliki kebudayaannya.

Santri Film Festival

Dalam konteks inilah saya kemudian melihat sebuah contoh yang menarik dari semangat tersebut melalui Santri Film Festival atau SANFFEST.

SANFFEST mempertemukan dunia pesantren dengan dunia sinema. Santri diberikan ruang untuk menjadi pencerita, bukan hanya menjadi penonton. Film menjadi medium untuk membawa nilai, pengalaman, tradisi, dan perspektif pesantren ke ruang publik dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda.

Bagi saya, ini merupakan contoh bagaimana kebudayaan dapat menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akarnya. Cerita lama dapat hadir melalui teknologi baru, budaya lisan dapat diterjemahkan menjadi film, dan nilai yang diwariskan para leluhur dapat dibaca kembali oleh generasi muda melalui bahasa visual yang mereka pahami.

Di sinilah saya melihat bahwa teknologi tidak harus menjadi ancaman bagi tradisi. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk menyelamatkan tradisi dari kepunahan. Di tangan generasi muda, kamera dapat menjadi alat untuk menjaga ingatan, film dapat menjadi arsip, dan cerita dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Mungkin seorang santri dapat merekam kisah seorang kiai atau tetua di kampungnya. Seorang anak muda di pesisir dapat mendokumentasikan pengetahuan nelayan tentang laut. Atau seorang pembuat film dapat mengangkat cerita masyarakat adat tentang hutan dan air. Sesuatu yang sebelumnya hanya hidup dalam ingatan dapat memiliki kesempatan untuk hidup lebih panjang melalui karya.

Karena itu, saya melihat SANFFEST bukan sekadar festival film. Ia dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk memastikan bahwa kebudayaan memiliki ruang dalam kehidupan generasi muda. Dana Indonesia Raya menyediakan ruang dan dukungan, sementara kreativitas masyarakat mengisinya dengan cerita, karya, dan gagasan.

Di antara keduanya ada satu tujuan yang sama: jangan sampai Nusantara kehilangan ingatannya. Yang kita perlukan adalah kepedulian untuk mendengarkan dan keberanian untuk merawatnya.

Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu kita bertanya tentang sebuah cerita, sebuah tradisi, sebuah petuah, atau sebuah pengetahuan yang pernah hidup di tanah ini, sementara kita hanya mampu menjawab, “Dulu pernah ada, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.”

Ketika sebuah cerita hilang, mungkin bukan hanya sebuah budaya yang hilang. Bisa jadi, kita kehilangan satu cara untuk memahami kehidupan dan satu cara untuk merawat bumi.

Merawat kebudayaan pada akhirnya sama dengan merawat bumi—keduanya bertujuan memastikan kehidupan tetap berjalan baik bagi generasi mendatang. Inilah makna terdalam dari sebuah warisan: bukan sekadar apa yang kita terima dari leluhur, melainkan apa yang berhasil kita jaga untuk diteruskan.

Sebelum cerita leluhur hilang, mari kita dengarkan. 

Sebelum ingatan Nusantara terlupakan, mari kita rawat. 

Dan sebelum generasi mendatang kehilangan akar, mari kita wariskan kembali kebudayaan sebagai pengetahuan, identitas, dan jalan untuk menjaga bumi.

0
0
Lyta Permatasari ◆ Professional Writer

Lyta Permatasari ◆ Professional Writer

Author

Alumni P3N (Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional) XXV LEMHANNAS RI 2025. Seorang Professional Writer pada Birokrat Menulis ini merupakan ASN pada Kementerian Lingkungan Hidup.

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post