Flexing, BerAKHLAK dan Kepercayaan Publik

by | Aug 1, 2026 | Birokrasi Efektif-Efisien | 0 comments

“Media sosial memberi setiap orang ruang untuk berbagi, tetapi juga menghadirkan konsekuensi yang sering kali tidak disadari. Di ruang digital, sebuah unggahan dapat berhenti menjadi urusan pribadi dan berubah menjadi konsumsi publik.”

Fenomena itu kembali mengemuka setelah unggahan anak seorang pejabat di Kabupaten Gayo Lues yang memperlihatkan perjalanan ke Eropa memicu polemik di media sosial. Perdebatan yang berkembang tidak hanya menyoroti isi unggahan tersebut, tetapi juga menyeret jabatan sang ayah sebagai pejabat daerah hingga akhirnya memilih mengundurkan diri.

Terlepas dari benar atau salahnya penilaian publik, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa di era digital, jejak media sosial anggota keluarga dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap seorang pejabat.

Kasus tersebut bukanlah yang pertama. Beberapa tahun terakhir, publik berulang kali dihadapkan pada fenomena serupa. Unggahan mengenai gaya hidup mewah, kendaraan, barang bermerek, atau perjalanan ke luar negeri yang dilakukan oleh keluarga pejabat sering kali memicu pertanyaan publik.

Yang dipersoalkan sesungguhnya bukan semata-mata kemewahan itu sendiri, melainkan kepantasan ketika simbol-simbol kemewahan tersebut dikaitkan dengan jabatan publik yang melekat pada anggota keluarganya.

Realitas ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan perilaku masyarakat di era digital. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet Indonesia telah mencapai lebih dari 81 persen.

Artinya, sebagian besar masyarakat kini hidup dalam ruang digital yang memungkinkan informasi menyebar dalam hitungan detik. Satu unggahan yang semula ditujukan kepada teman atau pengikut dapat dengan cepat menjadi perbincangan nasional. Ruang privat dan ruang publik tidak lagi memiliki batas yang tegas.

Media Sosial sebagai Ruang Persepsi

Sensitivitas masyarakat terhadap gaya hidup keluarga pejabat tidak muncul tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kasus penyalahgunaan jabatan dan tindak pidana korupsi yang mencuat ke publik sering kali diiringi dengan sorotan terhadap gaya hidup mewah pelakunya maupun keluarganya.

Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk memori kolektif masyarakat. Akibatnya, ketika muncul unggahan yang menampilkan kemewahan dari lingkungan keluarga pejabat, publik cenderung mengaitkannya dengan isu integritas, meskipun belum tentu terdapat pelanggaran hukum. Persepsi inilah yang kemudian berkembang jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasi.

Dalam situasi seperti ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi pengalaman, tetapi juga menjadi ruang pembentukan persepsi. Masyarakat menilai, membandingkan, dan menarik kesimpulan berdasarkan apa yang mereka lihat.

Tidak jarang persepsi tersebut terbentuk lebih cepat daripada klarifikasi yang disampaikan. Di sinilah etika digital menjadi semakin penting.

Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), persoalan ini memiliki dimensi yang berbeda. ASN adalah pelayan publik yang memegang amanah negara. Karena itu, kepercayaan masyarakat merupakan modal utama dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan publik.

Kepercayaan tersebut dibangun melalui integritas, profesionalisme, dan konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Core Values ASN

Core Values ASN BerAKHLAK mengajarkan bahwa integritas seorang aparatur tidak hanya tercermin dalam kualitas pelayanan, tetapi juga dalam cara menjaga kepercayaan masyarakat.

  • Nilai Berorientasi Pelayanan mengingatkan ASN untuk selalu mengutamakan kepentingan publik.
  • Nilai Akuntabel menuntut pertanggungjawaban atas setiap tindakan,
  • sedangkan Loyal mengamanatkan kesetiaan kepada negara, konstitusi, serta institusi yang diwakili.

Ketiga nilai tersebut menjadi semakin relevan di era media sosial, ketika satu unggahan dapat memengaruhi cara masyarakat memandang seorang pelayan publik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kualitas pelayanan atau kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga melalui kemampuan menjaga kepercayaan publik.

Di era media sosial, menjaga kepercayaan tidak cukup dilakukan di ruang kerja. Setiap ASN juga dituntut memiliki kesadaran bahwa persepsi masyarakat dapat terbentuk dari berbagai hal, termasuk aktivitas digital yang melibatkan lingkungan terdekatnya.

BerAKHLAK bukan sekadar tulisan yang terpampang di dinding kantor, bukan pula akronim yang dihafalkan ketika mengikuti pelatihan.

Nilai tersebut baru menemukan maknanya ketika hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari: bagaimana seorang ASN bersikap, bagaimana ia menjaga amanah, dan bagaimana ia menyadari bahwa setiap tindakannya akan selalu dikaitkan dengan institusi yang diwakilinya.

Keluarga ASN sebagai cerminan

Perlu ditegaskan bahwa anggota keluarga ASN bukanlah ASN. Mereka tidak mengucapkan sumpah jabatan, tidak menandatangani pakta integritas, dan tidak terikat pada kode etik ASN.

Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa masyarakat sering kali tidak memisahkan secara tegas antara individu, keluarga, dan jabatan publik. Apa yang dilakukan anggota keluarga terutama di ruang digital kerap dipersepsikan sebagai cerminan nilai yang dipegang oleh seorang aparatur negara.

Kondisi ini bukan berarti keluarga ASN harus hidup dalam ketakutan atau menghilangkan kebebasan berekspresi. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama bahwa setiap unggahan memiliki dampak sosial.

Bijak bermedia sosial bukan berarti menutupi keberhasilan atau menghindari kebahagiaan, melainkan memahami bahwa ruang digital menghadirkan konsekuensi yang jauh lebih luas dibandingkan ruang privat.

Di sinilah tantangan birokrasi modern menjadi semakin kompleks. Keberhasilan membangun kepercayaan publik tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan atau keberhasilan menjalankan program kerja.

Kepercayaan juga dipengaruhi oleh citra yang terbentuk di ruang digital. Ketika masyarakat melihat adanya ketidaksesuaian antara nilai kesederhanaan yang diharapkan dari seorang pelayan publik dengan narasi yang muncul di media sosial, ruang publik dengan cepat dipenuhi berbagai tafsir.

Terlepas apakah tafsir tersebut benar atau tidak, persepsi yang terbangun sering kali lebih dahulu memengaruhi kepercayaan dibandingkan penjelasan yang datang kemudian.

Karena itu, membangun integritas ASN tidak dapat berhenti di ruang kantor. Penguatan nilai-nilai tersebut perlu berlanjut di lingkungan keluarga melalui komunikasi, keteladanan, dan kesadaran bersama bahwa jabatan publik membawa konsekuensi moral yang berbeda dengan profesi lainnya.

Kesadaran ini bukan untuk membatasi kebebasan keluarga, melainkan untuk memahami bahwa setiap unggahan di media sosial dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan.

Tantangan bagi organisasi di sekitar ASN

Perubahan lanskap digital ini juga menjadi tantangan bagi organisasi-organisasi yang selama ini berperan dalam penguatan keluarga ASN. Jika integritas ASN ingin dijaga secara berkelanjutan, maka penguatan nilai tidak cukup berhenti di kantor.

Nilai tersebut perlu bertumbuh di lingkungan keluarga, tempat karakter dibentuk dan kebiasaan sehari-hari berkembang. Dharma Wanita Persatuan, misalnya, memiliki visi membangun keluarga yang harmonis, mandiri, dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Visi tersebut menjadi semakin relevan ketika media sosial menghadirkan tantangan baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Hari ini, membangun keluarga harmonis tidak cukup dimaknai sebagai menjaga hubungan antaranggota keluarga, tetapi juga membangun kesadaran bersama mengenai etika digital, kesederhanaan, dan pentingnya menjaga nama baik institusi yang menjadi tempat pengabdian ASN.

Peran tersebut tentu bukan dimaknai sebagai upaya mengawasi kehidupan pribadi anggota keluarga ASN. Sebaliknya, DWP dapat menjadi ruang pembelajaran yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Di tengah derasnya arus media sosial, organisasi ini memiliki peluang untuk memperkuat literasi digital, etika bermedia sosial, pengelolaan gaya hidup yang bijaksana, hingga pendidikan karakter dalam keluarga.

Tema-tema tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi kebutuhan mendesak ketika ruang digital mampu mengubah sebuah unggahan pribadi menjadi isu publik dalam hitungan jam.

Kenangan pribadi vs kepercayaan publik

Pada akhirnya, keluarga merupakan ekosistem pertama tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan. Jika nilai BerAKHLAK menjadi fondasi bagi ASN dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik, maka keluarga adalah ruang tempat nilai-nilai tersebut mendapatkan penguatan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika budaya saling mengingatkan, hidup sederhana, bijak menggunakan media sosial, dan memahami arti menjaga amanah tumbuh di dalam keluarga, sesungguhnya keluarga tidak hanya mendukung karier seorang ASN, tetapi juga ikut menjaga marwah birokrasi dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Pada akhirnya, persoalan flexing bukan semata-mata tentang siapa yang memiliki barang mewah atau siapa yang berhak menikmati hasil kerja kerasnya. Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap unggahan dapat membentuk persepsi publik terhadap institusi yang dilayani oleh ASN.

Kepercayaan masyarakat dibangun dalam waktu yang lama, tetapi dapat terkikis hanya karena beberapa detik tayangan di media sosial.

Di tengah derasnya arus informasi digital, etika menjadi pagar yang menjaga kebebasan agar tidak kehilangan tanggung jawab. Sebab bagi seorang ASN, amanah jabatan tidak berhenti ketika jam kerja usai.

Dan bagi keluarganya, setiap unggahan mungkin tampak sebagai ekspresi pribadi, tetapi dalam pandangan masyarakat dapat menjadi cerminan integritas yang lebih besar.

Oleh karena itu, sebelum menekan tombol unggah, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak direnungkan bersama: apakah unggahan ini hanya akan menjadi kenangan pribadi, atau justru memengaruhi kepercayaan publik yang selama ini dibangun dengan susah payah?

1
0
Fifi Ariani ♥ Associate Writer

Fifi Ariani ♥ Associate Writer

Author

Analis Kebijakan Ahli Pertama pada Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Kinerja LAN RI

0 Comments

Leave a Reply

Sekilas Pergerakan Birokrat Menulis

Galeri Buku

Event

Diskusi STIA LAN

Diskusi Makassar

Diskusi Tjikini

Kerja sama dengan Kumparan

Mengikuti Kompetisi Riset KPK

Narasumber Diskusi Publik UGM

Program Dialog

Popular Post