
Ada dua kisah yang berasal dari zaman dan tempat yang sangat berbeda, tetapi sama-sama menyimpan pelajaran penting tentang kepemimpinan.
Kisah pertama adalah mitologi Yunani tentang Icarus. Dengan sayap buatan yang direkatkan lilin, Icarus berhasil terbang meninggalkan penjara bersama ayahnya, Daedalus. Sebelum terbang, sang ayah berpesan agar ia tidak terbang terlalu rendah karena air laut akan membasahi sayapnya, dan tidak terbang terlalu tinggi karena panas matahari akan melelehkan lilin perekatnya.
Namun keberhasilan sering kali membuat manusia lupa diri. Terpesona oleh kemampuannya sendiri, Icarus terus terbang mendekati matahari. Kita tahu akhir kisah itu: lilin meleleh, sayap hancur, dan ia jatuh ke laut.
Kisah kedua datang dari dunia nyata. Jim Stockdale, seorang perwira militer Amerika Serikat, menghabiskan waktu enam tahun sebagai tawanan perang di Vietnam. Dalam kondisi penuh penyiksaan dan ketidakpastian, ia mampu bertahan.
Ketika ditanya mengapa banyak rekannya tidak sanggup melewati masa-masa sulit itu, jawabannya mengejutkan. Mereka yang paling cepat menyerah justru orang-orang yang terlalu optimistis.
Mereka terus meyakini akan bebas pada Natal, lalu Tahun Baru, lalu Paskah. Ketika harapan itu tidak terwujud, mereka kembali kecewa.
Siklus itu berulang sampai semangat mereka habis. Stockdale memilih cara berbeda. Ia tetap yakin suatu hari akan bebas, tetapi pada saat yang sama menerima kenyataan pahit yang sedang dihadapinya. Ia tidak membangun harapan di atas ilusi.
Sekilas kedua kisah ini tampak tidak berkaitan. Namun sesungguhnya keduanya berbicara tentang hal yang sama, bahwa kegagalan sering kali bukan lahir karena kurangnya kemampuan atau kurangnya mimpi besar, melainkan karena hilangnya kemampuan melihat kenyataan secara jernih.
Dalam dunia kepemimpinan, fenomena itu dikenal sebagai hubris. Istilah ini merujuk pada kesombongan yang muncul ketika seseorang merasa dirinya selalu benar, tidak lagi membutuhkan kritik, dan menganggap peringatan sebagai gangguan.
Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, David Owen, menyebutnya sebagai hubris syndrome. Menurutnya, kekuasaan yang besar sering melahirkan ilusi bahwa penilaian pribadi lebih unggul daripada data, pengalaman, maupun pandangan orang lain.
- Sindrom hubris dapat dilihat pada perjalanan politik Richard Nixon, Presiden Amerika Serikat ke-37. Setelah meraih kemenangan telak dalam Pemilu 1972, Nixon semakin yakin bahwa kepemimpinannya tidak boleh diganggu oleh lawan politik maupun kritik dari luar.
Dalam suasana itu, lingkaran kekuasaan di Gedung Putih menjadi semakin tertutup dan penuh kecurigaan. Skandal Watergate yang bermula dari penyadapan kantor Partai Demokrat menunjukkan bagaimana keinginan mempertahankan kekuasaan dapat mendorong penyalahgunaan wewenang.
Yang membuat kasus ini menjadi contoh hubris bukan sekadar tindakan ilegalnya, melainkan keyakinan bahwa dirinya dan orang-orang di sekelilingnya dapat mengendalikan keadaan serta berada di atas mekanisme pengawasan yang berlaku. Ketika fakta-fakta mulai terungkap, Nixon justru berusaha menutupinya, hingga akhirnya terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1974.
- Fenomena serupa terlihat pada Ferdinand Marcos di Filipina. Pada awal pemerintahannya, Marcos dipuji sebagai pemimpin yang cerdas dan menjanjikan modernisasi bagi negaranya. Namun kekuasaan yang terlalu lama membuat hubungan antara pemimpin dan realitas semakin renggang.
Pemberlakuan darurat militer pada tahun 1972 memperkuat konsentrasi kekuasaan di tangannya sekaligus mempersempit ruang kritik dan oposisi. Dalam lingkungan yang minim koreksi, berbagai persoalan ekonomi, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman serius.
Marcos dan lingkaran dekatnya tampak meyakini bahwa legitimasi politiknya akan tetap bertahan meskipun ketidakpuasan publik terus membesar. Ketika gelombang protes rakyat mencapai puncaknya melalui Revolusi tahun 1986, ilusi itu runtuh.
Marcos akhirnya kehilangan kekuasaan dan harus meninggalkan negaranya, menjadi contoh bagaimana pemimpin jatuh bukan karena kekurangan kekuatan, melainkan karena terlalu lama mengabaikan kenyataan yang berkembang di sekelilingnya.
Dalam kedua kasus tersebut, kritik kehilangan tempat, sementara keyakinan pemimpin menjadi satu-satunya kompas. Masalahnya, hubris tidak berhenti pada diri seorang pemimpin. Ia dapat menjelma menjadi budaya institusi. Ketika bawahan melihat atasan tidak menyukai kritik, mereka mulai memilih jalan aman.
Informasi yang tidak menyenangkan disembunyikan. Laporan dipoles agar terlihat baik. Fakta yang bertentangan dengan narasi resmi perlahan menghilang dari meja pengambilan keputusan. Di Indonesia, gejala ini dikenal dengan istilah ABS (Asal Bapak Senang).
Pada tahap tertentu, organisasi tidak lagi hidup dalam kenyataan, melainkan dalam ilusi yang diciptakannya sendiri. Semua tampak berjalan baik di atas kertas, sementara persoalan sesungguhnya terus membesar di lapangan.
Sebagai aparatur pemerintah, saya melihat tantangan terbesar birokrasi modern bukan semata-mata keterbatasan anggaran, teknologi, atau regulasi. Tantangan terbesar justru terletak pada keberanian menerima kenyataan yang tidak menyenangkan.
Banyak program publik diluncurkan dengan niat baik dan tujuan mulia. Namun tidak semua program berjalan sesuai rencana. Ada hambatan, kekurangan, bahkan kegagalan. Itu hal yang wajar. Yang berbahaya adalah ketika kritik terhadap pelaksanaan program dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah.
Padahal kritik sering kali merupakan bentuk kepedulian. Orang yang memberi peringatan belum tentu ingin sebuah program gagal. Bisa jadi mereka justru ingin program tersebut berhasil sehingga menunjukkan risiko-risiko yang perlu diantisipasi sejak awal.
Di sinilah pelajaran dari Stockdale menjadi penting. Jim Collins, penulis buku Good to Great, menyebutnya sebagai Stockdale Paradox: mempertahankan keyakinan bahwa tujuan besar dapat dicapai, sembari pada saat yang sama berani menghadapi fakta paling pahit yang sedang dihadapi.
Sayangnya, banyak pemimpin hanya mengambil separuh pelajaran. Mereka mempertahankan optimisme, tetapi menolak kenyataan. Akibatnya, optimisme berubah menjadi ilusi. Ambisi berubah menjadi kesombongan. Dan kritik dianggap musuh.
Padahal lawan dari hubris bukanlah pesimisme. Lawannya adalah kerendahan hati. Orang Yunani kuno menyebutnya sophrosyne, yaitu kesadaran bahwa tidak ada manusia yang selalu benar. Tidak ada kebijakan yang sempurna. Tidak ada institusi yang kebal dari kesalahan.
Kerendahan hati institusi terlihat ketika pemimpinnya mau mendengar kabar buruk sama seriusnya dengan kabar baik. Ketika data yang tidak sesuai harapan tetap diterima. Ketika kritik tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sistem peringatan dini.
Daedalus tidak melarang Icarus bermimpi terbang tinggi. Stockdale juga tidak kehilangan harapan untuk bebas. Keduanya mengajarkan hal yang sama, bahwa cita-cita besar hanya dapat dicapai jika berpijak pada kenyataan.
Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani bermimpi besar. Namun yang lebih penting, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang berani mendengar.
Sebab, sejarah menunjukkan institusi tidak runtuh karena kekurangan ambisi. Institusi runtuh ketika para pemimpinnya berhenti mendengar kenyataan. Dan sering kali, saat kenyataan itu akhirnya tidak bisa lagi disangkal, semuanya sudah terlambat.














0 Comments