
Bung Tomo lahir dengan nama Sutomo, lahir di kampung Blauran, Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 3 Oktober 1920. Bung Tomo tumbuh dari keluarga kelas menengah yang sangat menghargai pendidikan dan disiplin.
Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang pekerja serba bisa yang pernah menjadi Polisi Kotapraja dan Anggota Sarekat Islam. Ibunya Bung Tomo bernama Subastita adalah seorang perempuan berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Bung Tomo lahir sebagai anak sulung dari enam bersaudara. Nama kelima adiknya adalah Sulastri, Suntari, Gatot Suprapto, Subastuti, dan Hartini.
Tumbuh mandiri dan pemberani
Berkat latar belakang sang ayah yang pekerja keras Bung Tomo dididik menjadi sosok mandiri, pemberani, dan memiliki jiwa kepemimpinan sejak usia belia. Masa kecil Bung Tomo menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) atau Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Surabaya yang merupakan sekolah untuk kaum bumiputera yang pada masa itu cukup elite.
Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat, Bung Tomo melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya saat berusia 12 tahun. Sistem pengajaran menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar utama dalam kegiatan belajar mengajar, selain mata pelajaran umum kurikulumnya dikenal cukup padat dan sering kali menawarkan pelajaran sains.
Setelah lulus dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, siswa dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Algemeene Middelbare School (AMS) setara Sekolah Menengah Atas atau Hogere Burgerschool (HBS). Namun sangat disayangkan Bung Tomo terpaksa berhenti sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs akibat krisis ekonomi dunia dan kemudian melanjutkan studinya secara mandiri di sekolah Hogere Burgerschool.
Pada tahun 1912 Gerakan Pramuka Atau Kepanduan dengan nama Nederland Indische Padvinders Vereeniging masuk ke Indonesia pertama kali di Batavia (Jakarta) sejak masa penjajahan Belanda yang bertujuan untuk mendidik generasi muda dalam hal kepemimpinan dan keterampilan.
Presiden Soekarno menginisiasi penyatuan seluruh organisasi kepanduan di Indonesia menjadi satu gerakan bernama Pramuka dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX diangkat sebagai Ketua Kwartir Nasional Pertama dan menetapkan tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka. Bung Tomo pada usia 12 tahun tertarik mengikuti kegiatan Pramuka dan pada tahun 1937 di usianya ke 17 tahun menorehkan prestasi tercatat sebagai anggota pramuka yang meraih penghargaan peringkat kedua tertinggi di seluruh wilayah Hindia Belanda.
Merintis karir dan pergerakan
Perjalanan karir Bung Tomo pertama kali adalah merintis di dunia jurnalisme sebagai wartawan lepas untuk Harian Soeara Oemoem di Surabaya yang menjadi pondasi awal kiprahnya di dunia publikasi dan komunikasi. Perjalanan karier jurnalistik dan kepanduan (pramuka) di masa muda inilah yang membentuk karakter dan kemampuan orasinya yang legendaris.
Pada tahun 1938, Bung Tomo di usianya ke 18 tahun dipercaya mulai menjabat sebagai redaktur mingguan pembela rakyat di Surabaya menduduki posisi penting di surat kabar tersebut serta menjadikannya salah satu tokoh pers yang vokal sebelum masa kemerdekaan.
Pada tahun 1939, Bung Tomo di usianya ke 19 tahun juga menjadi penulis dan redaktur untuk harian berbahasa Jawa, Ekspres, sebagai strategi komunikasi dan propagandanya untuk memicu perlawanan massif kepada penjajah.
Di tahun yang sama 1939, Bung Tomo aktif di bidang seni memimpin dan menjadi Ketua Kelompok Sandiwara Pemuda Indonesia Raya di Surabaya, di mana berperan menyutradarai dan mementaskan berbagai lakon cerita-cerita perjuangan di Surabaya hingga masa awal kedatangan tentara Jepang.
Kecintaannya pada seni pementasan ini menjadi salah satu media awal baginya untuk menumbuhkan nasionalisme dan kesadaran di kalangan pemuda untuk peduli pada bangsanya dalam melawan penjajahan.
Pada tahun 1944, Bung Tomo mulai terjun ke dalam pergerakan nasional yang disponsori oleh pemerintah pendudukan Jepang. Kala itu, Bung Tomo terpilih menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru. Selain bergabung dengan organisasi resmi Jepang, Bung Tomo juga mulai membangun koneksi dan kesadaran di kalangan pemuda yang kelak mempersiapkannya menjadi anggota dan pengurus Pemuda Republik Indonesia (PRI).
Pada tanggal 12 Oktober 1945, Bung Tomo secara resmi mendirikan dan memimpin organisasi milik sendiri yang bernama Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) di Surabaya. Organisasi ini menjadi wadah penting bagi arek-arek Suroboyo dan para pejuang dalam menyusun kekuatan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pertempuran 10 November 1945
Ketika Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai deklarasi kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo langsung terjun ke dunia perjuangan bersama organisasinya Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) dan berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.
Pertempuran tanggal 10 November 1945 adalah pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia dan menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Kronologi penyebab pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah karena kedatangan sekutu dari pasukan Inggris di Surabaya bermaksud melucuti senjata tentara Jepang setelah Perang Dunia II berakhir dan hal inilah yang membuat warga Surabaya bergerak karena menilai pasukan Sekutu mengancam kemerdekaan Indonesia.
Pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato berawal dari kedatangan rombongan organisasi militer sekutu yang dibentuk pada Februari 1945 yang bertujuan mengurus evakuasi dan perawatan para tawanan perang serta interniran sipil yang ditahan oleh Kekaisaran Jepang di wilayah Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda (Indonesia).
Para tahanan tersebut terdiri dari orang Inggris dan Belanda, tergabung dalam Recovery of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI). Pada tanggal 18 September 1945, mereka menginap di Hotel Yamato dan mengibarkan bendera Belanda. Hal ini memicu kemarahan rakyat Surabaya.
Ratusan pemuda menggeruduk Hotel Yamato, meraih paksa bendera Belanda dan seorang pemuda berhasil merobek bagian bawah bendera itu hingga menyisakan warna merah dan putih. Puncaknya adalah kematian Jenderal Mallaby pada tanggal 30 Oktober 1945, tewas tertembak dan mobil yang ditumpanginya hangus akibat ledakan granat.
Pada Tanggal 9 November 1945, Inggris mengultimatum akan menggempur Kota Surabaya dari darat, laut dan udara apabila orang Indonesia di Surabaya tidak menaati Pemerintah Inggris. Mereka juga mengeluarkan instruksi bahwa pemimpin bangsa Indonesia dan para pemuda di Surabaya harus datang selambat-lambatnya 10 November 1945 pukul 06.00 WIB di tempat yang ditentukan.
Ultimatum itu tidak ditaati oleh rakyat Surabaya, sehingga terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945. Medan perang Surabaya kemudian mendapat julukan “neraka” karena kerugian yang disebabkan tidaklah sedikit. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu serta semangat membara telah membuat kota Surabaya kemudian dikenang sebagai Kota Pahlawan.
Puncak perjuangan Bung Tomo terjadi pada tanggal 10 November 1945, saat rakyat Surabaya menghadapi serangan pasukan sekutu yang ingin merebut kembali Indonesia. Dengan menggunakan radio pemberontakan, Bung Tomo menyampaikan seruan perjuangan yang membakar semangat juang rakyat.
Suara lantang Bung Tomo
“Allahu Akbar! Saudara-saudara, jangan mundur selangkah pun! Merdeka atau mati!”.
Suara lantang Bung Tomo menembus batas-batas ketakutan. Siarannya mampu mempersatukan rakyat dari berbagai kalangan pemuda, santri, ulama, hingga rakyat biasa untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Suara itulah yang kemudian menjadi simbol keberanian dan perlawanan rakyat Indonesia.
Pertempuran 10 November berakhir secara total pada akhir November 1945, atau tepatnya pertempuran besar terakhir terjadi di kawasan Gunungsari Surabaya pada tanggal 28 November 1945.
Perang besar di Surabaya ini berlangsung sengit selama kurang lebih tiga minggu setelah meletus pada 10 November 1945. Pihak Sekutu dari Tentara Inggris akhirnya berhasil menduduki dan menguasai seluruh kota pada akhir bulan tersebut.
Meskipun pejuang Indonesia kalah dari segi persenjataan, perlawanan ini dianggap sebagai kemenangan moral yang memperkuat dukungan dunia internasional terhadap kemerdekaan Republik Indonesia.
Pihak Inggris mulai mencari jalan keluar. Pada tanggal 15 November 1946, Lord Killearn seorang Komisioner Istimewa di Asia Tenggara (1946-1948) yang pernah ditugaskan secara khusus oleh pemerintah Inggris menyelesaikan persoalan-persoalan Inggris di Indonesia, menulis di buku hariannya bahwa membiarkan tentara Inggris bercokol lebih lama di Indonesia adalah suatu tindakan bunuh diri. Jalan bijak yang harus diambil adalah meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Setelah masa kemerdekaan
Bung Tomo berkarir sebagai politikus dan pejabat pemerintah, menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata dari tahun 1955-1956 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Selain menjadi Menteri di Era Kabinet Burhanuddin Harahap, Bung Tomo juga pernah menjadi anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan dilantik sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada masa Orde Baru, Bung Tomo menjadi vokal mengkritik kebijakan Presiden Soeharto yang berujung pada penahanannya di Rumah Tahanan Nirbaya, Pondok Gede, selama kurang lebih satu tahun tanpa melalui proses peradilan atas tuduhan subversi pada tahun 1978.
Bung Tomo akhirnya dibebaskan tanpa syarat dari tahanan pada Era Orde Baru bulan April 1979 dan setelahnya pada bulan September 1981 Bung Tomo berangkat ke Tanah Suci pada September 1981 namun wafat di Mekah pada tanggal 7 Oktober 1981 saat sedang menjalani wukuf di Padang Arafah.
Dikenang sebagai pahlawan
Kisah akhir hidup Bung Tomo tercatat dalam sejarah karena menjadi satu-satunya jemaah haji asal Indonesia yang jenazahnya diizinkan untuk dipulangkan ke Tanah Air dan dimakamkan di Taman Pemkaman Umum Ngagelrejo, Surabaya setelah melalui lobi diplomatik tingkat tinggi antara pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi selama delapan bulan.
Sebagai apresiasi pemerintah Bung Tomo resmi dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2008. Gelar tersebut diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Keppres Nomor 041/TK/Tahun 2008 dan diserahkan langsung kepada sang istri di Istana Merdeka.
Untuk menghormati jasa pahlawan nasional atas perannya dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945 nama Bung Tomo dijadikan Stadion Gelora Bung Tomo pada tahun 2010 yang menjadi kebanggan warga Surabaya dan menjadi markas klub sepak bola Persebaya Surabaya.
Stadion Gelora Bung Tomo juga sering digunakan untuk pertandingan internasional. Jasa besar Bung Tomo sebagai pahlawan nasional terkenang abadi sebagai orator ulung yang mengawali karir sebagai jurnalis untuk mempengaruhi opini publik, menyampaikan visi secara persuasif, dan menggerakkan masa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah yang ingin menjajah kembali Surabaya.














0 Comments