Suatu hari saat di perjalanan pulang dari Puncak ke Jakarta, adik saya bertanya, “Mbak, ngapain sih orang Jakarta rela macet-macetan di hari libur Sabtu Minggu begini cuma buat lihat pegunungan?” Mungkin baginya, weekend escape yang kami lakukan ini tidak cukup menyenangkan. Dalam benaknya seperti bermunculan banyak tanya, “Mengapa hanya untuk sebuah pemandangan desa, asrinya pegunungan, persawahan dan udara yang sejuk, kami harus menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan uang?”

Padahal di kampung halaman kami suasana seperti ini merupakan barang publik yang dapat dinikmati setiap hari, hingga kadang lupa disyukuri. Adik saya lupa, bahwa sekarang saya sudah bukan lagi orang desa. Saya sudah menjadi orang Jakarta. Bagi kami warga ibukota, kemacetan dalam hitungan jam bukanlah suatu masalah. Toh, sesampainya di tujuan wisata rasa lelah itu akan terbayarkan seketika.

Sejak meninggalkan Kabupaten Malang tiga belas tahun lalu, saya baru menyadari betapa berharganya kenikmatan hidup di desa yang asri. Bagaimana tidak, di Jakarta, jutaan manusia berkumpul menghasilkan karbondioksida dan asap kotor di jalanan setiap harinya.

Udara yang menyengat dengan kisaran suhu rata-rata 29-31 derajat celcius di siang hari, 24 derajat celcius di malam hari, dan ditambah lagi dengan tuntutan hidup di ibu kota, membuat warganya lebih rentan terhadap tekanan.

Tren Weekend Escape Warga Perkotaan

Jakarta adalah kota dengan tingkat stres tertinggi di Indonesia, nomor 18 dari 150 kota di dunia yang diteliti oleh Zipjet. Kegelisahan dan stres warganya telah berkontribusi terhadap kemerosotan kesehatan mental mereka. Skor survei yang dilakukan pada tahun 2017 tersebut didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk, polusi udara, kemacetan jalan raya, dan angka kriminalitas.

Tidak mengherankan jika kemudian sebagian dari warganya mencoba refreshing dengan cara ‘melarikan diri’ sejenak ke kota-kota penyangga agar dapat mendapatkan pemandangan yang lebih segar. Bogor, Bandung, dan Serang adalah beberapa kota yang menjadi tujuan mereka.

Pola weekend escape yang menawarkan penduduk perkotaan untuk menikmati suasana pegunungan dan pedesaan seperti yang kami lakukan, juga menjadi kebutuhan warga kota terbesar kedua di Indonesia, yakni Surabaya.

Salah satu daerah tujuan yang menarik perhatian adalah Kota Malang  yang disangga oleh Kota Batu dan Kabupaten Malang. Di kota itulah saya lahir dan dibesarkan, sebelum akhirnya pada tahun 2004 saya memutuskan untuk mengikuti arus urbanisasi dengan alasan pendidikan, pekerjaan, dan perkawinan.

Wilayah Malang memang memiliki keindahan alam yang sempurna, yaitu dataran tinggi hingga gunung yang membentang mulai dari Gunung Kawi, Arjuno, Kelud, hingga Semeru. Ada juga wisata ala perkotaan dengan mal-mal di pusat kota, gurun pasir di pegunungan Bromo, hingga pantai di bagian selatan yang terkenal dengan ombaknya.

Namun demikian, bagi seorang putra daerah dari pelosok nggunung seperti saya, Kabupaten Malang belum cukup memikat untuk menahan saya berhijrah ke Jakarta. Tingkat upah petani yang kecil dan minimnya pilihan pekerjaan untuk para sarjana di pedesaan, mau tidak mau membuat kami memilih untuk bertualang di ibukota. Bagi saya lebih baik tinggal di Jakarta, menjadi PNS dengan gaji berjuta-juta, meskipun kami harus menghadapi kejamnya ibukota.

Inisiatif Udi Hartoko

Tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh seorang Udi Hartoko, Kepala Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Udi bukanlah seorang sarjana. Dia hanya alumni sekolah setingkat SMA. Namun, motivasinya luar biasa. Udi ingin tetap tinggal di desa dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi tanah kelahirannya.

Udi terpilih menjadi kepala desa pada tahun 2011. Dalam beberapa tahun sejak kepemimpinannya, Desa Pujon Kidul yang dahulu tertinggal dibandingkan desa-desa lain di kecamatan Pujon, kini menjadi buah bibir.

Diawali dengan kucuran dana desa sebesar 60 juta, Udi menginisiasi pembangunan objek wisata baru yang bertemakan, “Kembali ke Desa, Kembali ke Persawahan, dan Kembali Menyatu dengan Alam”. Tak tanggung-tanggung, seluruh aparat dan warga desa dilibatkan sebagai perencana, pelaku, dan penerima manfaat dari program desa wisata itu.

Konsep yang dibawa Udi sebenarnya sangat sederhana. Dia menciptakan desa wisata yang ramah wisatawan dengan menyediakan rumah makan (cafe), wahana berkuda dan motor, penginapan, produk pertanian dan peternakan, yang disempurnakan dengan keberadaan alam persawahan dan pegunungan Pujon Kidul. Dalam bahasa milenial, tempat wisata ini biasa disebut instagramable.

Berdayakan Pemuda

Ide sederhana menciptakan kafe, yang dalam bahasa lokalnya disebut warung kopi ini, berhasil merangkul anak muda putus sekolah untuk menjadi pekerja wisata. Mulai tukang parkir, ticketing, guide, sampai penjaga berbagai wahana di desa wisata dilakukan oleh anak-anak muda penduduk lokal. Mereka kini menjadi produktif, tidak lagi menganggur atau terpaksa ‘kabur’ meninggalkan desa mencari kerja.

Tak butuh waktu lama hingga desa wisata Pujon Kidul berubah menjadi destinasi wisata baru yang terkenal di seputar Malang. Keberhasilan mewujudkan desa wisata tak lepas dari kiprah sang kepala desa dalam memberdayakan kreativitas para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus-kampus di Kota Malang. Maklumlah, selain sebagai kota wisata, Malang juga terkenal sebagai kota pelajar.

Udi juga berupaya untuk menarik dukungan finansial dan promosi dari salah satu bank plat merah terbesar di Indonesia. Berbagai aliran dana dari pemerintah kabupaten hingga kementerian di Jakarta pun makin deras mengucur ke sana.

Desa Pujon Kidul dianggap menjanjikan kemajuan dan kebanggaan. Hasilnya, cita-cita sang kepala desa yang awalnya dianggap mimpi, bahkan ditertawakan oleh warganya sendiri, telah menjadi kenyataan. Desa wisata Pujon Kidul telah menyabet berbagai prestasi di tingkat nasional bahkan internasional sebagai sebuah desa yang berdaya. Masyarakatnya, tentu saja merasa gembira.

Kemajuan Pujon Kidul

Pujon Kidul memang bukanlah desa di mana saya dibesarkan. Namun, kecamatan kami bertetangga. Dari rumah orangtua saya di Kecamatan Ngantang, hanya dibutuhkan 20 menit berkendara ke sana. Menyaksikan kemajuan Pujon Kidul saat ini, saya pun turut bangga. Sudah berkali-kali televisi dan media massa meliput kemajuan desa yang satu ini.

Sungguh pantas jika dikatakan bahwa desa ini telah menemukan potensinya dan berhasil menggunakannya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Para petani dan peternak sapi masih tetap bekerja dengan giat setiap hari, seperti biasa sejak bertahun-tahun yang lalu.

Hanya saja, kali ini mereka menjadi seperti aktor-aktor dalam sebuah film layar lebar berukuran panoramic. Layar itu lebih keren dari layar bioskop karena ia membentang nyata dan tak terbatas dalam beberapa derajat pandangan ke depan.

Sejauh mata manusia memandang di segala penjuru arah akan tampak pemandangan luar biasa. Pemandangan itu adalah film tentang pedesaan dengan background hijaunya persawahan, pegunungan, dan sejuknya udara. Film seperti ini belum bisa diproduksi industri perfilman yang paling canggih sekalipun. Karena ia nyata, ciptaan Tuhan sang Maha Pencipta. Film itu berjudul, “Bahagianya Hidup di Desa”.

Karena keindahannya yang alami, Desa Pujon Kidul dengan cafe sawahnya mempunyai daya tarik tersendiri. Orang-orang dari kota berduyun-duyun mengunjungi desa itu, memesan makanan ndeso yang dimasak sendiri oleh para ibu rumah tangga, ber-selfie ria bersama bunga-bunga, naik kuda atau motor KLX menyusuri pematang sawah.

Kegiatan lain yang tak kalah mengasyikkan adalah ngobrol langsung dengan para petani padi dan apel, serta membeli susu sapi yang diolah lagi oleh ibu-ibu PKK. semua itu adalah aktivitas yang memberi sensasi tersendiri bagi warga kota yang berkunjung ke sana. Untuk menikmati itu semua, pengunjung cukup membayar uang parkir dan membeli kupon makan.

Setiap tamu akan disambut dengan senyuman hangat dari warga. Meskipun berada di bagian timur pulau Jawa, kabupaten Malang masih bagian dari suku Jawa. Penduduknya masih menjunjung unggah-ungguh dan menawarkan keramahan kepada siapa saja.

Kreatif Kelola Dana Desa

Luar biasa! Sebagai seorang auditor pengawasan keuangan negara, saya berdecak kagum pada siapa pun yang berhasil mengubah Pujon Kidul menjadi seperti hari ini. Pasalnya, hanya diawali dengan dana 60 juta rupiah saja, tanpa harus studi banding jauh-jauh ke luar pulau bahkan luar negeri, tanpa rapat anu-ini-anu-itu, tanpa bimtek apalagi konsultansi yang menelan dana berjuta-juta, dan hanya diawaki oleh kepala desa dan warganya sendiri, reformasi besar-besaran di tingkat desa itu telah benar-benar terjadi.

Sang kepala desa memang hanya tamatan SMA, tapi berkat niatnya yang tulus proyek aktualisasi dirinya telah menginspirasi desa-desa lain di seluruh negeri. Prestasinya jauh melebihi kehebatan disertasi seorang doktor di bidang ilmu tata wilayah pada umumnya.

Pengelolaan dananya juga jauh lebih efektif dan efisien daripada sebuah program rutin bulanan kementerian di Jakarta, yang direncanakan dan dikelola oleh para sarjana ataupun pascasarjana. Kadang kala, fakta semacam ini membuat kami merasa tertampar, lalu speechless, tak bisa berkata-kata.

Menteri PDTT mengatakan bahwa ada 74.754 desa di seluruh Indonesia. Jika saja setiap desa berhasil mengenali apa kebutuhannya, apa kekuatannya, dan bersatu padu bekerja sama untuk menggunakan dana desa yang mereka terima, maka saya sangat optimis akan hadir desa-desa lain di Indonesia dengan prestasi yang sama dengan desa wisata Pujon Kidul. Bahkan, mungkin desa-desa tersebut bisa jauh lebih hebat lagi. Kepemimpinan kepala desa adalah kata kuncinya.

Rata-rata 60% kepala desa di negara kita hanya alumni sekolah dasar. Namun, hal itu bukan lagi masalah. Bukankah kisah kesuksesan Pujon Kidul mengajarkan kepada kita bahwa yang terpenting adalah niat baik sang pemimpin untuk maju?

Jika merasa kurang kreatif, kepala desa masih punya banyak cara untuk berkreasi. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan anak-anak muda di desa. Memanfaatkan jasa mahasiswa KKN juga diperbolehkan. Bahkan, saat ini telah ada tenaga pendamping penggunaan dana desa yang diamanahi oleh Kementerian PDTT untuk mengawal akuntabilitas dan kinerja dana desa di seluruh Indonesia.

Epilog

Kepala desa memiliki peran yang strategis dalam membangun desa. Pengelolaan dana desa yang efektif terbukti dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesempatan kerja dan mencegah laju urbanisasi. Yang terpenting, dana desa harus benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat desa, bukan digunakan untuk kepentingan pribadi aparat desanya.

Kalau sampai itu tidak terjadi, tak terbayangkan betapa riweuhnya KPK, auditor negara, dan aparat penegak hukum yang harus menangani praktik korupsi uang negara dalam bentuk dana desa yang telah dialirkan ke puluhan ribu desa di seluruh Indonesia.

Lebih dari itu, cita-cita mulia menyejahterakan rakyat Indonesia dimulai dari desa akan semakin jauh dari asa. Maka, tak bisa ditawar lagi, semuanya harus berangkat dari hati. Berangkat dari niat yang tulus untuk membangun negeri. Dimulai dari desa, dimulai dari saat ini juga. Udi Hartoko telah memberi bukti kepada kita semua.***

 

 

Sofia Mahardianingtyas ▲ Active Writer

Seorang PNS kandidat Master of Economics dari Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FEUI. Ibu muda beranak tiga dan istri dari seorang lelaki bersahaja. Di tengah batasan dalam ruang geraknya, tetap percaya bahwa cita-cita harus dikejar. Semangat belajar dan saling memotivasi adalah kekuatan yang dia percaya bisa menjadi penggerak kemajuan Indonesia. Saya muda, saya berkarya, saya bercita-cita!

error: