Sebuah pepatah klasik Eropa mengatakan,
“if you want riches, go to India. If you want learning, go to Europe. But if you want imperial splendour, come to the Ottoman Empire and its capital, Istanbul”.

Pepatah tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya kemegahan Imperium Ottoman dan pesona ibukotanya, Istanbul. Istanbul benar-benar kota yang eksotis dan menyihir. Eksotisme dan sihir Istanbul sebagai bekas ibukota dua negara adidaya dunia sekaligus, Byzantium (Romawi Timur) dan Ottoman (Turki Usmani), masih terus terpancar hingga sekarang.


 

Kaisar Legendaris Perancis, Napoleon Bonaparte, bahkan pernah berujar tentang kemegahan Istanbul, “Jika dunia ini adalah satu negara, maka Istanbul yang paling pantas untuk menjadi ibukotanya”.

 

 

Terletak di tepian Selat Bosphorus yang membelah Eropa dan Asia, Istanbul pun menjadi satu-satunya kota di dunia yang berdiri mengangkangi dua benua sekaligus. Di sinilah tempat bertemunya Timur dan Barat, kota tua pusat dunia yang terkenal di masa lalu maupun di masa sekarang.

Saya dan istri berkesempatan mengunjungi Istanbul pada awal bulan November 2018 yang lalu, dalam sebuah misi perjalanan kebudayaan, pendidikan, sejarah, dan cinta tentunya. Bertolak dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, kami tiba di Bandara Internasional Sabiha Gokcen Istanbul sekitar pukul 7 malam.

Sebelumya kami sempat berkeliling Ibukota Qatar, Doha, untuk menghabiskan waktu transit seharian penuh. Bandara Sabiha Gokcen sendiri merupakan bandara internasional kedua di kota Istanbul, yang terletak di wilayah pinggiran Istanbul bagian tenggara.

Sabiha Gokcen adalah nama wanita pertama Turki yang menjadi pilot sepanjang sejarah negara itu. Sabiha Gokcen tercatat sebagai salah satu anak asuh Bapak Turki Modern Mustafa Kemal Ataturk. Sabiha Gokcen juga dikenang sebagai salah satu ikon tonggak sejarah kemodernan dan kemajuan perempuan Turki.

Setelah melewati prosesi imigrasi yang sangat mudah, kami pun keluar bandara. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Istanbul, kami tak terlalu menemukan imaji Turki yang islami sebagaimana dibayangkan pengagum Recep Teyyip Erdogan dan Adalet ve Kalknma Partisi (AKP) di Indonesia.

Kami juga tak banyak menemukan kemurungan yang berulang kali dibicarakan Orhan Pamuk (Novelis Turki Penerima Nobel Sastra 2006) sebagai jiwa Istanbul. Mungkin kami salah memilih tempat, namun di seputar hotel tempat kami menginap di dekat dermaga Eminonu, hedonisme sangat mudah terlihat.

 

 

Di Jembatan Galata, tempat di mana kami sering makan malam, berjejer restoran-restoran mewah yang dipenuhi lampu remang-remang. Tempat ini dipadati pengunjung berpakaian dandy, yang kecemerlangannya tak kalah dari orang-orang Eropa di London, Madrid, Berlin atau Paris.

Tentu gampang menemukan perempuan berhijab, tetapi jumlahnya tidak mencolok untuk ukuran negara dengan partai penguasa berbasiskan agama, yang di Indonesia banyak dianggap sebagai representasi pemerintahan Islam yang pantas diteladani.

Beberapa orang terlihat mengenakan kopiah khas Turki, fez, tetapi rasa-rasanya kebanyakan orang-orang tua yang mengenakan. Jarang anak muda yang mengenakan fez di kepalanya. Pemuda pemudi Turki lebih senang memakai pakaian modern ala Eropa.

Saat menelusuri beberapa tempat di Istanbul, bukan hal aneh melihat apa yang terjadi di mobil-mobil berkap terbuka. Public display of affection, dari sekadar berangkulan sampai berciuman, sering kali kami lihat.

Saat hangout di Jalan Istiqlal yang menjadi kawasan turis Istanbul, suasana peringatan Republic Day masih sangat terasa (peringatan Cumhuriyet Bayram atau Republic Day, 29 Oktober, untuk mengenang berdirinya Turki menjadi republik). Suara knalpot mobil, ditingkahi teriakan yang tak kami mengerti, memecah dentuman suara musik dari klub-klub malam.

 

Dari salah satu mobil dengan kap yang terbuka, sepasang anak muda mengibarkan bendera Turki sembari berciuman mesra. Tak sulit juga mencari “kehangatan” lain. Tak jauh dari kawasan bersejarah Istana Topkapi, di belakang Mesjid Biru yang indah itu, beberapa hotel memancarkan kemesuman yang tak ditutup-tutupi.

Turki adalah negara yang resminya berstatus sekuler, jadi wajar jika imaji kehidupan sekuler mudah terlihat. Tapi tak berarti suasana religius absen. Di beberapa titik sangat mudah terasa suasana tersebut. Saat waktu shalat tiba, persis seperti di Indonesia, suara azan segera menghampiri telinga di manapun kami berada.

Pada malam berikutnya, ketika kehidupan malam di seputaran Distrik Besiktas mulai berdenyut, suara azan isya terdengar di sela-sela musik yang berdentam, sesuatu yang juga akan ditemukan jika nongkrong sampai subuh di berbagai tempat hiburan malam di Indonesia.

Pada salah satu senja, kami menyambangi Uskudar, sebuah pantai yang letaknya di sisi Istanbul Asia. Sembari menikmati kesejukan udara Selat Bosphorus dan Laut Marmara, saya menyesap segelas kopi Turki yang terkenal itu. Kopi ini dijual oleh seorang bocah yang berjalan menenteng termos, hampir mirip dengan para penjual kopi di sekitar Monas.

Di sepanjang Pantai Uskudar ini, “kebeningan” wanita-wanita Turki juga sangat terasa. Sambil menunggu sang mentari terbenam, mereka duduk menikmati angin laut berdua-duan dengan pasangannya masing-masing.

 

 

Berbicara tentang korelasi sejarah Republik Turki dan Republik Indonesia, tentu tidak sulit dicarikan titik temunya. Walaupun polemik masing-masing negara berangkat dari titik pijak yang berbeda, tapi polemik itu memperlihatkan dengan baik bagaimana Turki memberikan sentuhan khas kepada kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Turki bahkan sudah lama menjadi bahan perbincangan para aktivis pergerakan nusantara jauh sebelum era perjuangan 1940an itu. Bersama kebangkitan nasional Mesir dan kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang tahun 1905, keberhasilan Kelompok Turki Muda membebaskan Bangsa Turki dari pendudukan Sekutu menjadi dian yang ikut menyalakan semangat para aktivis pergerakan Indonesia.

Hampir semua diktat pelajaran sejarah di sekolah, dalam bagian tentang zaman pergerakan, selalu menyebut “Turki Muda” sebagai salah satu elemen penting yang ikut menyumbangkan peran dalam kebangkitan nasional Indonesia.

Saat ini, selain irisan persamaan politik dengan Partai AKP, kesukaan pada pan-islamisme ala Erdogan agaknya dipicu oleh imaji tentang semangat menghidupkan lagi kejayaan Islam dengan cara-cara modern, yang mengesankan akan kesanggupan berhadapan dengan Barat secara berani.

Ditatap dari jauh, sangat mungkin imaji tentang Erdogan dan AKP memang mewakili “semangat muda” – artinya kehendak untuk maju – Islam politik yang sedang berderap-berbaris, berbareng-bergerak.

Ia (Erdogan) bukan hanya terjepit di antara Timur dan Barat, sebagaimana semua Sultan Turki Ottoman di masa silam. Berhadapan dengan Eropa yang menekankan standar tertentu jika Turki ingin diterima Uni Eropa, dikepung persoalan Timur Tengah yang pelik dan super ribet, Erdogan dan AKP mampu terus bertahan sejak berkuasa pada awal milenium ketiga.

Saat wajah Islam di beberapa negara Timur Tengah diselimuti kemuraman, ketika intrik politik di negara-negara Arab mengemuka dan kabar hedonisme para pangeran Arab tak dapat dicegah peredarannya, Erdogan menjadi pilihan paling masuk akal bagi mereka yang rindu menyaksikan Islam (politik) berkibar dengan terhormat.

Ingatlah kata-kata Napoleon yang terkenal itu: “A leader is a dealer in hope”. Pemimpin itu adalah yang mampu memberikan harapan untuk rakyatnya, bukan yang menyatakan bangsanya akan hancur suatu hari nanti.

 

 

 

2
0

Penulis adalah Peneliti di Pusat Kajian Daerah dan Anggaran, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

error: