Kebanyakan sistem, proses, atau konsep yang ada di Indonesia pada dasarnya merupakan adaptasi dari negara-negara maju. Hal itu berlaku baik di organisasi sektor swasta maupun organisasi sektor publik di Indonesia. Misalnya, pada perspektif tata kelola, konsep corporate governance, performance management, risk management, dan internal control systems sebenarnya diadopsi oleh organisasi sektor swasta dan organisasi sektor publik di Indonesia dari negara-negara maju. Adopsi tersebut memang bukanlah secara total salah. Sebab, sistem, proses, atau konsep yang diadopsi tersebut umumnya banyak yang berhasil diterapkan di negara-negara maju.

Pertanyaan pentingnya justru adalah apakah tepat berbagai konsep tersebut merupakan konsep yang plug and play, yaitu konsep yang bisa langsung diaplikasikan di Indonesia tanpa mempertimbangkan budaya (culture) dan konteks lokal? Sebagai contoh, balanced scorecard (BSC) dulu digadang-gadang sebagai terobosan baru yang efektif untuk mengukur kinerja organisasi di Indonesia. Namun, belakangan ini banyak pihak menganggap konsep ini gagal diterapkan di Indonesia.

Hal tersebut tentu tidak kemudian dapat kita artikan bahwa BSC merupakan konsep yang gagal secara total untuk dapat diterapkan di Indonesia. Soalnya, konsep yang sukses di negara-negara maju ini bisa jadi gagal diterapkan di Indonesia karena budaya dan konteks lokal Indonesia yang berbeda bila dibandingkan dengan negara-negara maju tersebut .

Demikian juga halnya dengan penerapan sistem pengendalian (control systems). Ternyata, penerapan sistem pengendalian tidaklah sama antara satu organisasi dengan organisasi lainnya dan antara satu negara dengan negara lainnya. Karena itu, tulisan ini akan berfokus pada hasil observasi atas penerapan atau aplikasi sistem pengendalian yang berbeda antara satu negara dengan negara lainnya yang penulis lakukan. Tulisan ini merujuk pada pengalaman penulis ketika memanfaatkan sarana transportasi di beberapa negara Eropa.

Sistem Transportasi dan Pengendalian

Secara umum, tujuan dibangunnya sistem transportasi di setiap negara adalah identik, yaitu untuk menyediakan pelayanan transportasi publik yang baik. Risiko utama yang dihadapi oleh sistem transportasi ini di beberapa negara pun cenderung sama, yaitu terdapat penumpang yang menggunakan sarana transportasi tanpa membeli tiket atau membayar biaya transportasi.

Risiko tersebut tentu menjadi sebuah risiko yang harus dimitigasi oleh pengelola sarana transportasi, yaitu dengan penerapan sistem pengendalian. Namun, meskipun risikonya sama, sistem pengendalian yang diterapkan ternyata tidak sama di setiap negara. Sebagai contoh, mari kita lihat sistem transportasi di Kota London, (UK). Dari sisi sistem pengendalian pada moda transportasi kereta dan tube, ternyata mereka menggunakan pintu yang hanya dapat dibuka jika penumpang telah melakukan tapping dengan kartu. Sementara itu, untuk moda transportasi bus, sistem pengendaliannya adalah memastikan setiap penumpang hanya masuk lewat pintu depan. Dengan demikian, para penumpang mesti melakukan tapping kartu yang diawasi langsung oleh sang pengemudi atau membayar dengan uang cash yang diserahkan langsung ke sang pengemudi.

Sekarang, mari bergeser ke Kota Paris (Perancis). Kota ini juga dapat dinobatkan sebagai salah satu kota dengan sarana transportasi publik yang paling efisien di dunia. Sebagai contoh, kereta di sana biasanya akan tiba tepat waktu, bus-bus ditata dengan baik dan bersih, dan commuter express (“RER”) dapat diandalkan dari segi kecepatan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hampir sama dengan yang diterapkan di London, sistem pengendalian yang diterapkan di Paris juga identik, yaitu mereka menggunakan gate sebagai filter, di mana hanya para penumpang yang memiliki tiket yang bisa masuk ke dalam sarana transportasi, terutama kereta dan RER. Hal yang sama juga diterapkan pada moda transportasi bus, yaitu pintu masuk penumpang hanya melalui pintu depan yang dapat diawasi langsung oleh sang pengemudi.

Sekarang, mari meluncur ke Eropa bagian Selatan, yaitu Italia, khususnya dengan mengeksplorasi sistem transportasi di Kota Milan. Transportasi yang disediakan di kota ini, antara lain, adalah kereta bawah tanah, bus, dan trem. Hampir sama dengan tube di London (UK) dan RER di Paris (Perancis), sistem pengendalian atas penumpang kereta bawah tanah di Milan menggunakan sistem gate sebagai akses masuk penumpang menuju peron. Namun, untuk sarana bus dan trem ternyata mereka menggunakan pendekatan yang berbeda. Akibatnya, meskipun sebenarnya penumpang harus memiliki tiket yang valid dan mereka melakukan validasi di mesin yang tersedia, penumpang yang ‘curang’ dapat saja naik di kedua sarana ini tanpa tiket.

Kejadian di Milan tersebut muncul karena pengemudi bus dan trem tidak dapat mengawasi seluruh penumpang, terutama mereka yang masuk tidak dari pintu paling depan. Nach, sistem pengendalian seperti apa yang diterapkan di sana? Konon, katanya, untuk moda bus dan trem ini akan ada petugas inspeksi yang mengenakan pakaian bebas yang secara acak akan memeriksa dan mengawasi para penumpang. Namun, berdasarkan observasi penulis dengan menggunakan moda itu beberapa hari, tidak pernah sekalipun penulis berhadapan dengan petugas inspeksi tersebut.

Anehnya, penulis malah pernah ditanya oleh sesama penumpang di sana, yaitu apakah penulis sudah melakukan validasi tiket. Hal ini merupakan temuan menarik, yaitu sistem pengendalian di Milan agak spesifik, yaitu sistem pengendalian yang terbangun di sana justru berbentuk pengendalian dari sesama penumpang dan bukan melalui sistem pengendalian dengan pendekatan formal (formal control systems), seperti penumpang harus masuk melalui pintu depan.

Sekarang, mari berpetualang ke sebuah negara di wilayah Eropa Tengah, yaitu Republik Ceko. Jaringan transportasi di negara tersebut sangat padat. Dalam wilayah Uni Eropa, negara ini memiliki kepadatan jalur kereta api tertinggi. Sebab, mereka memiliki 120 kilometer jalur kereta untuk setiap 1.000 kilometer persegi tanah. Selain kereta bawah tanah, mereka juga memiliki sarana transportasi lain, seperti bus dan trem, khususnya di Kota Praha.

Dari sisi sistem pengendaliannya, transportasi di Kota Praha menerapkan pendekatan yang berbeda. Baik pada kereta bawah tanah, bus, dan trem, mereka tidak menerapkan sistem gate ataupun pengawasan dari pengemudi bagi penumpang yang akan naik. Penumpang hanya cukup membeli tiket yang valid dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan pilihan mereka, yaitu 90 menit, 120 menit, atau 7 hari. Ketika akan menggunakan salah satu moda transportasi, mereka cukup melakukan validasi ke alat validasi yang ada sebanyak satu kali sebagai penanda start dimulainya penggunaan tiket sesuai dengan durasinya. Setelah itu, mereka boleh menggunakan sarana transportasi yang ada selama durasinya masih valid.

Pertanyaannya adalah bagaimana sistem pengendalian yang diterapkan di Kota Praha untuk memastikan bahwa para penumpang memiliki tiket yang masih valid? Ternyata, pengelola transportasi di sana menggunakan inspeksi acak (random inspection) untuk memastikan penumpang memiliki tiket yang valid. Namun, apakah sanksi bagi para penumpang yang tidak bertiket? Sanksinya adalah mereka akan mendapatkan denda yang besarnya puluhan kali lipat dari harga tiket yang seharusnya mereka beli sebelumnya.

Penutup

Setelah mengobservasi sistem transportasi di beberapa negara Eropa, terdapat poin penting yang dapat penulis simpulkan, yaitu, pertama, dengan tujuan yang sama, risiko yang sama, dan jenis transportasi yang hampir sama, beberapa negara ternyata menerapkan sistem pengendalian yang berbeda-beda. Tampaknya, budaya dan konteks lokal di masing-masing negara berpengaruh kepada pemilihan sistem pengendalian (Malmi & Brown, 2008). Tentunya, akan menarik jika kita melakukan penelitian yang lebih mendalam terkait alasan pemilihan sistem pengendalian tersebut.

Kedua, refleksi dalam tulisan ini dapat menjadi acuan bagi perancang (designer) sistem pengendalian ketika memilih sistem pengendalian yang akan diterapkan. Mengingat hasil observasi penulis mengindikasikan bahwa budaya dan konteks lokal memengaruhi pemilihan sistem pengendalian, perancang sistem pengendalian mesti merancang dan memilih sistem pengendalian yang sesuai dengan budaya dan konteks lokal.***

 

 

Betrika Oktaresa ◆ Professional Writer

Seorang ASN di Instansi Pemerintah Pusat yang baru saja menyelesaikan petualangan keilmuannya di University of Nottingham di bidang Manajemen Risiko. Profilnya dapat digambarkan dalam sebuah kalimat, "Auditor by day, writer by night, husband and father wholelife".

error: