Berbicara tentang mudik artinya membahas tentang sesuatu yang sangat dirindukan oleh para perantau. Sebab, mudik adalah perjalanan kembali ke kampung halaman, untuk merayakan lebaran bersama keluarga besar di hari raya. Setiap tahun di Indonesia, mudik menjadi suatu tradisi “sakral” yang dilakukan oleh para perantau atau pemudik menjelang sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Bahkan, berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan, setiap tahunnya para pemudik semakin meningkat jumlahnya.  Mereka sangat berharap untuk dapat bersilaturahmi, saling bermaaf-maafan dengan sanak saudara dan handai taulan di kampung halaman. 

Tahun 2020: Tahun yang Menyedihkan

Periode mudik tahun 2020 ini menorehkan catatan sebagai mudik yang sangat menyedihkan bagi para perantau atau pemudik yang bekerja di kota-kota besar, terutama di sekitar Jakarta.  Mengapa? Karena sejak awal tahun 2020 hingga hari ini kita sedang diuji dengan pandemi. Setidaknya, masa mudik tahun ini boleh dibilang menjadi yang terberat sejak saya dilahirkan dan menjadi seorang perantau.

Di negeri kita, sudah banyak korban yang terpapar COVID-19 bahkan meninggal dunia akibat wabah ini. Beberapa di antara jenazah mereka pun meninggal dengan membawa lebih banyak kesedihan, karena banyak ditolak oleh masyarakat yang tidak paham tentang prosedur pemakaman COVID-19.

Dalam surat terbuka dari Perhimpunan Dokter Umum Indonesia, para tenaga medis menyatakan telah sangat lelah dan resah. Mereka harus berjibaku di garda terdepan – mirisnya dengan memakai Alat Perlindungan Diri (APD) seadanya saja.

Tenaga kesehatan harus menghadapi bertambah banyaknya pasien COVID-19 setiap hari, yang kini sudah semakin dekat dengan angka sepuluh ribu orang terkonfirmasi positif. Tidak sedikit dari para tenaga kesehatan ini yang harus rela berkorban nyawa demi menyelamatkan jiwa dan raga para pasiennya.

Perayaan Idul Fitri dan Wabah yang Meluas

Pemerintah Indonesia memprediksi puncak penyebaran virus mematikan ini adalah pada pertengahan bulan Mei sampai Juni 2020. Hal ini karena bulan Mei 2020 bersamaan dengan datangnya bulan suci bagi umat muslim, bulan puasa atau Ramadhan. Pada akhir bulan Mei 2020 bahkan ritual ibadah Ramadhan akan diakhiri dengan hari raya Idul Fitri.

Bulan Mei ini mempunyai muatan religius yang tinggi. Para pemudik biasanya sudah merencanakan pulang kampung sebagai bagian dari kebiasaaan mereka setiap Idul Fitri tiba. Akan tetapi, kebiasaan yang baik itu di tahun 2020 ini diperkirakan justru akan menyebabkan situasi pandemi semakin lama untuk diakhiri.

Pergerakan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lainnya yang terjadi sebagai bagian dari aktivitas merayakan Idul Fitri akan menjadi penyebab semakin banyaknya masyarakat yang terpapar COVID-19.  

Himbauan Pemerintah untuk Tidak Mudik

Pemerintah telah berupaya untuk menghimbau bagi para pemudik agar tidak bepergian/melakukan mudik di tahun 2020 ini, sampai dinyatakan bahwa negeri kita telah bersih dari COVID-19. Himbauan tersebut sejatinya ditujukan kepada masyarakat secara umum, tetapi secara khusus diatur bagi para aparatur sipil negara (ASN).

Pada tanggal 06 April 2020,  Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) mengeluarkan kebijakan berupa Surat Edaran Menteri PANRB Nomor 46 Tahun 2020 tentang Kegiatan Bepergian ke Luar Daerah dan/Atau Kegiatan Mudik dan/Atau Cuti Bagi ASN. Pemerintah melarang bagi ASN untuk mudik pada tahun ini dan memberikan ancaman sanksi disiplin apabila ada yang melanggar.

Selain itu pada Surat Edaran ini, pemerintah juga mendorong partisipasi masyarakat untuk sementara waktu tidak bepergian atau tidak mudik, selalu menggunakan masker ketika berada atau berkegiatan di luar rumah tanpa kecuali, menjaga jarak aman ketika melakukan komunikasi antar individu, secara sukarela bergotong royong membantu meringankan beban masyarakat yang lebih membutuhkan di sekitar tempat tinggalnya, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bantuan Sosial Bagi Masyarakat Tidak Mampu

Tidak hanya melarang mudik, pemerintah pusat dan daerah juga sudah menyiapkan bantuan sosial baik bagi masyarakat tidak mampu maupun para perantau (antara lain berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), sembako, diskon tarif listrik, dapur umum, dll) yang bertujuan untuk menahan laju mudik demi memutus mata rantai virus corona.

Bantuan ini diharapkan pula dapat menjadi bekal hidup bagi mereka untuk tetap tinggal di rumah selama masa pandemi COVID-19. Sebagaimana kita ketahui bersama, situasi perekonomian menjadi lesu, banyak pekerja sektor informal yang kesulitan mencari penghasilan pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Mari Merenung

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, seyogyanya kita sebagai masyarakat Indonesia yang mencintai tanah air mulai merenungkan kembali dampak dari wabah virus yang sedang melanda seluruh dunia ini. Kita, sebagai masyarakat Indonesia wajib peduli dan bergotong royong dalam menjaga kesehatan bangsa kita demi masa depan negeri Indonesia tercinta. Salah satunya, dengan memahami bahwa mudik bukanlah pilihan yang tepat pada masa lebaran tahun ini.

Jika kita mencintai diri sendiri, sanak saudara, orangtua, kampung halaman dan Indonesia tercinta ini, sebaiknya kita mulai mengurungkan niat kita tahun ini untuk tidak bepergian atau mudik dulu. Karena nantinya malah akan memperburuk situasi ini.

Banyak yang akan dirugikan dalam segala aspek dan bahkan banyak korban yang mati dengan cara menyedihkan. Namun, atas nama kemanusiaan, saya ingin mengajak kita semua merenung.

“Hai pemudik, renungkanlah dulu keputusan ini.
Sangat berat, tetapi kita berharap badai ini pasti berlalu.
Tuhan Yang Maha Esa sedang memberi ujian terberat ini agar semua umat manusia saling menjaga diri dan sesama dari dampak pandemi.”

Yakinlah, bahwa situasi ini akan berakhir dengan kemenangan bersama apabila kita seluruh masyarakat Indonesia mulai bersatu melawan virus corona – dengan mengikuti anjuran dari pemerintah yakni di rumah saja, menjaga jarak dan memakai masker ketika berada di luar.

Dengan bersatu, bangsa Indonesia akan menjadi kuat di dalam kesehatan, perekonomian, sosial, keamanan, dan pembangunan di masa depan.  Kita akan secepatnya bangkit dari keterpurukan dan membangun bangsa Indonesia dengan masa depan yang cerah.

Dengan doa dan ikhtiar dalam melawan COVID-19, semoga Tuhan Yang Maha Esa mendengar seruan umat-Nya di dalam situasi yang sangat menyedihkan ini. Kita pasti akan melewati krisis ini dengan penuh sukacita. Penulis tidak bermaksud untuk menyakiti hati, tapi harap renungkanlah kembali kata-kata ini.

“Berdoalah yang terbaik sesuai dengan keyakinanmu.
Dukunglah pemerintah dan tenaga medis dalam memutus mata rantai virus ini. Dengarkan hati nuranimu demi kemanusiaan dan kesehatan bangsa.  Untuk sementara waktu di rumah sajalah dulu sampai situasi kembali normal dan bebas dari COVID-19.”

Epilog

Sejujurnya, masih banyak kata-kata yang tidak dapat diungkapkan dalam tulisan ini. Betapa kepiluan hati penulis menyadari bahwa negeri ini sungguh sedang diuji dengan pandemi. Namun, masih ada harapan bagi kita semua umat manusia agar semakin lebih bijaksana menyikapi wabah.

Percayalah, sejarah akan mengingat tahun ini sebagai sebuah kenangan pahit bagi generasi selanjutnya – karena begitu banyak korban yang meninggal dunia secara tidak layak. Akan tetapi, sejarah juga akan mencatatnya sebagai kenangan termanis karena kita bisa melewati situasi ini dengan semangat kebersamaan NKRI.

#Indonesia bangkit#

1
0

Analis Kebijakan pada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN/RB). Berlatar belakang pendidikan sarjana hukum dari Universitas Lampung, magister hukum dari Universitas Indonesia dan master of public administration dari Western Michigan University, Amerika Serikat.

error: