Beberapa tahun yang lalu, pernah populer istilah ‘kesan pertama begitu menggoda’ yang dipakai sebagai jargon iklan sebuah produk parfum pria. Istilah itu saya coba munculkan kembali. Saya pinjam di sini untuk menggambarkan cerita yang ingin saya sampaikan. Namun, dengan sedikit perubahan, menjadi ‘kesan pertama yang (tidak) menggoda’.

Begini kronologinya. Pagi itu, seperti biasa, cuaca cerah dan langit terlihat indah tanpa balutan mendung (kalimat ini harus saya pakai untuk menciptakan suasana cerita pendek di tulisan ini, he he he ...).

Saya pun menyambut hari pertama masuk kantor dengan penuh semangat. Saya berangkat ke kantor dengan langkah tegap. Demi menjaga kesehatan saya sejak usia muda, saya putuskan berjalan kaki menuju kantor.

Ralat, sebenarnya kesehatan bukan alasan yang utama, tetapi karena saya memang belum mempunyai kendaraan (pembaca boleh tertawa, kalau tega).

Karena masih pegawai baru, kami belum ditempatkan di suatu unit tertentu. Kami hanya dikumpulkan di ruang perpustakaan kantor. Setiap hari kami ngantor di ruangan itu sambil menunggu-nunggu penugasan pertama kali kami.

Pagi itu, ada seorang bapak senior yang mendatangi ruangan, lalu memanggil salah satu teman saya sesama anak baru. Tanpa perlu punya analisis tajam pun saya bisa memprediksi kalau dia akan dapat tugas perjalanan dinas pertamanya.

Saya iri setengah mati! Saya kapan? Ini diskriminasi namanya! Apa semua ini karena saya lebih rupawan? (Monolog saya dalam hati, yang jelas mengada-ada.)

Satu orang, dua orang, tiga orang dipanggil, hingga hanya saya sendirian di ruangan itu. Oke, saya pastikan ini karena saya orang Jawa. Ini rasialis namanya, mentang-mentang teman-teman saya asalnya dari … upps, dari Jawa juga ternyata.

Eh, tapi tidak berarti ini bukan diskriminasi, lho! Pokoknya ini enggak adil. Saya bakal laporin ke Komnas Perlindungan Anak.

Tunggu dulu! Semesta ternyata masih melindungi atasan saya dari ancaman laporan saya itu. Panggilan untuk saya akhirnya datang juga. Untuk mempermudah penggambaran dan penjelasan, mari kita panggil saja bapak itu dengan nama Rawon.

“Mas, minggu depan kita tugas ya. Mengingat ini penugasan pertama, biar bapak saja yang bikin surat tugasnya,” jelas Pak Rawon tenang.

Karena saya terlalu antusias, saya sampai lupa mengontrol suara saya. “Baik, Pak!” jawab saya yang malah mirip orang membentak. Saya mulai panik, takut kalau gara-gara ini saya batal diajak. Belum habis rasa panik saya, Pak Rawon kembali berbicara.

“Berat ini, Mas. Harus siap-siap ya. Kita tugas perjalanan dinas ke Kabupaten Lingga,” katanya.

“Baik, Pak,” jawab saya sedikit lebih pelan.

Jujur ketika itu saya tidak pernah mendengar ada kabupaten itu, apalagi tahu di mana lokasinya.

Selesai briefing singkat dengan Pak Rawon, saya kembali ke ruangan. Sebelumnya, saya sudah dibekali dengan pedoman kerja yang isinya langkah-langkah apa aja yang akan saya lakukan nanti di sana. Dengan semangat membara, saya lahap lembar demi lembar … dan saya tertidur.

***

Begitu saya terbangun, tiba-tiba saya teringat Kabupaten Lingga. Penasaran, saya coba buka google maps. Saya coba ketik ‘Kabupaten Lingga’, dan kemudian … muncullah gambar pulau-pulau kecil di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Masyaallah, perasaan gue kok enggak enak ya. Nih pulau kok kecil-kecil amat ya, keluh saya dalam hati.

Saya mendadak pucat. Seumur hidup, satu-satunya laut yang pernah saya lihat itu cuma laut selatan di Parangtritis. Itu pun, bapak saya pernah cerita kalau dulu saya takut dengan ombak.

Cerita punya cerita, saya takut gara-gara dulu saya mengira buih-buih ombak itu panas, seperti air mendidih. Cerdas, kan? Ternyata, dari kecil bakat analisis saya memang sudah muncul … dengan cara yang aneh.

Kembali ke soal Kabupaten Lingga, ada sedikit kabar baik yang diberi tahu ke saya. Kami berangkat naik pesawat. Denger berita ini, saya langsung sujud syukur, alhamdulillah.

***

Hari keberangkatan pun tiba. Semalam saya lumayan nyenyak tidurnya. Berita soal naik pesawat itu membuat saya jauh lebih tenang. Namun, kabar soal pesawat itu cuma penenang sementara saja.

Bukan karena pesawatnya tidak ada, tetapi masalahnya pesawat yang akan kami tumpangi itu ternyata pesawat kecil bertenaga baling-baling. Makin menyeramkan, pesawat yang berkapasitas 25 orang itu cuma diisi oleh lima orang.

Perjalanan dinas yang durasinya sekitar dua jam, buat saya serasa dua hari, lama banget. Herannya, bukan saya saja yang takut, ternyata ketua tim saya, Pak Rawon, juga sama takutnya.

“Mas, ngeri ya. Saya ini takut naik-naik pesawat, apalagi yang kecil gini.”

“Iya..ya Pak. Saya juga baru pertama kali naik pesawat begini.”

Obrolan yang sama sekali tidak membantu, malahan makin memperparah keadaan.

Hati saya senang bukan kepalang, akhirnya pesawat pun mendarat di bandara. Saya selamat! Sayangnya, kebahagiaan saya cuma sesaat saja. Saya baru diinformasikan oleh pak ketua tim kalau kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan “pong-pong”.

Pong-pong adalah sebutan untuk kapal yang dipakai sebagai alat transportasi penyeberangan antar pulau. Oh, pasti kapal-kapal Feri kayak buat nyebrang dari Banyuwangi ke Bali itu. Monolog saya menenangkan hati. Atau mungkin kapal-kapal kayu kecil-kecil seperti perahu di pantai selatan?

Saya mulai deg-degan. Atau jangan-jangan getek? Rasanya, saat ini saya ingin kejang-kejang. Sambil menghela napas, menelan ludah, dan menahan kentut, saya melangkah gontai masuk mobil menuju pelabuhan pong-pong itu.

Lucunya lagi, saat bermobil menuju pelabuhan, Pak Rawon juga mengeluhkan bahwa ia takut melakukan perjalanan dengan mobil ini.

“Jalannya sempit mas, mana kanan-kiri jurang gitu. Salah dikit, selesai kita, Mas,” ujarnya tanpa menjaga perasaan saya yang juga semakin takut.

Belum habis rasa takut itu, hati saya tergerus ketika menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, ternyata pong-pong itu sejenis kapal kayu yang digerakkan oleh mesin boat. Lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjangnya 3 meter. Intinya, terlalu imut dan unyu untuk disebut kapal.

Sewaktu berlayar di laut, naudzubillah ngerinya. Bagi yang jago berenang kalian tetep tidak akan bisa jumawa. Soalnya, sepanjang perjalanan hanya hamparan laut yang terlihat. Perenang sekelas Michael Phelps pun belum tentu bisa selamat jika kecemplung di sini.

Parahnya lagi, ombak waktu itu bukan main tingginya. Saya sampai tak bisa berkata-kata, pasrah, lemas, dan mengerut.

Bagi kalian yang suka wahana permainan di Dufan, saya sarankan mending naik pong-pong aja karena lebih seru dan dijamin menantang. Bukan menantang adrenalin, tetapi menantang maut.

“Saya ini ngeri naik beginian. Di tengah laut kita ‘meregang nyawa’, apalagi mesinnya cuma satu gini. Kalau mati gimana ya,” kata Pak Rawon memecah keheningan.

“Iya … ya, Pak, saya juga ngeri.” Serius, yang ini saya memang ngeri betulan.

Yang saya lihat di sekitar cuma ada pulau-pulau kecil yang kelihatannya tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tiba-tiba, saya benci sekali dengan ketua tim saya ini karena apa yang dia katakan benar-benar terjadi.

Mesin pong-pongnya mati. Saya lirik ke ketua tim saya, raut mukanya berubah makin pucat, sudah mirip zombie yang belum makan seminggu.

Pikiran saya sudah ke mana-mana. Inikah akhir perjalanan saya? Hilang di lautan begini? Mana enggak ada sinyal. Saya kan mau nge-tweet dulu sebelum saya tiada, biar tetap eksis di sosmed.

Beruntung, Tuhan masih memberi saya kesempatan buat tetep nge-snapchat atau nge-vlog di Instagram, eh, buat tetap hidup maksudnya. Mesin bisa hidup lagi, dan perjalanan berlanjut. Saya bahagia sekali, kalau tidak ada Pak Rawon, mungkin sudah saya cium itu mas-mas nahkodanya, ehhh.

***

Tanpa perlu didebatkan, saya langsung mengalami pengalaman yang luar biasa di perjalanan dinas pertama saya. Naik tiga alat transportasi yang lain daripada yang lain. Akan tetapi, satu hal yang bisa saya petik sebagai pelajaran, seberat apa pun medan yang harus ditempuh, akan sangat berat kalau ketua timnya si bapak ini.

Kenapa? Coba kita runut, ternyata bapak ini takut naik apapun. Pesawat dia takut, perjalanan darat dia takut, eh di laut pun dia takut. Lengkap sudah. Gara-gara ini juga, buat saya, kesan pertama itu tidak menggoda. Enggak lagi-lagi deh, bos, ampuuuuun!!!

Padahal, Kabupaten Lingga ini sebenarnya menarik. Di sinilah tempat kelahiran Kerajaan Melayu, kerajaan yang perkembangannya luar biasa. Wilayah kekuasaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi meliputi juga Singapura dan Malaysia.

Kabupaten Lingga ini bahkan punya julukan ‘bundo tanah Melayu’, yang artinya ibu dari budaya Melayu. Kenapa? Karena kerajaan pertama Melayu, ya di Lingga ini. Sederhananya, kalau tidak ada Kerajaan Melayu di Lingga ini, bisa jadi tidak akan ada Singapura dan Malaysia sekarang. Jadi, tidak heran budaya melayu kental banget di daerah ini, termasuk bahasanya.

***

Betrika Oktaresa ▲ Active Writer

Seorang ASN di Instansi Pemerintah Pusat yang baru saja menyelesaikan petualangan keilmuannya di University of Nottingham di bidang Manajemen Risiko. Profilnya dapat digambarkan dalam sebuah kalimat, "Auditor by day, writer by night, husband and father wholelife".

error: