Kepekaan

Kepekaan

Ketika….

Tanah dipaksa berproduksi hingga unsur hara habis

Alam diperas atas nama kemakmuran

Lahan dirampas atas nama konstitusi Machiavelli

 

Ketika….

Buruh dibayar murah atas nama strata pendidikan

Petani dianggap rendah atas nama beton bertingkat

Suara menjadi bungkam atas nama agama

Nyawa menjadi angka atas nama identitas

 

Biarkan aku menjadi Kwee Thiam Tjing

Yang masih bersuara saat Indonesia membantai “Belanda” kalah

 

Biarkan aku menjadi Munir

Yang teracun di udara demi Hak Asasi Manusia

 

Biarkan aku menjadi Marsinah

Yang termarjinalkan oleh corong senjata loreng

 

Biarkan aku menjadi rakyat Kendeng dan Kulon Progo

Yang masih bersuara atas nama “kepekaan”

 

Biarkan aku menjadi  Mereka

Yang masih bersuara saat Tanah airnya dihanguskan —- dengan Bom Napalm-nya

 

Biarkan aku menjadi  Kalian

Kamisan ke 520

Yang punya seribu nyawa

Tak pernah mati berlipat ganda

 

*) Kamisan adalah kegiatan para aktivis HAM yang berkumpul setiap hari Kamis di istana negara  untuk menyuarakan berbagai masalah HAM.

 

 

Negeri Anakku

Negeri Anakku

tidurlah anakku

dalam dekap hangat lengan ibumu,

besok

tidurmu mungkin gelisah

rumahmu jauh dari rasa aman

kampungmu sepi dari tenteram

negerimu lengang dari sejahtera

karena di kepala para pejabat

kau bukan VIP

 

 

menyusulah anakku

dalam kelimpahan air susu ibumu,

nanti

makanmu mungkin tak cukup

tanahmu sudah tak subur

bumimu sudah rengkah kekeringan

karena di pikiran para penguasa

tak perlu menyisakan apa-apa untukmu

karena engkau hanya salah satu

pemberi suara

 

 

tertawalah anakku

dalam hangat belai asuhan kami,

kelak

perjuangan hidupmu akan keras

keceriaan menguap dari matamu

hawa panas menampar wajahmu

karena kebahagiaan semakin mahal

dan yang tersisa

tinggal air mata

 

 

Antara Haru dan Malu

Antara Haru dan Malu

Ibu tua itu

Semakin renta

Di tengah usia

Menjelang senja

 

Tubuhnya kurus kering

Laksana wafat menjelang

Tubuh itu lelah terbujur

Bersiap menjemput ajal

 

Tubuh itu kalau ditimbang

Separuh beratnya telah hilang

Setiap hari terus berkurang

Yang tersisa nyaris hanya tulang

 

Ibu tua itu sudah tahunan berbaring lemah tak berdaya

Tak mampu berobat jalan

Ia pasrah menerima

Mungkin ini sudah ketetapan Tuhan

 

Oohhh… malang nian nasibmu

Pilu hati ini kala memandang wajahmu

Tak mampu ku menatap matamu

Tatapan kosong matamu itu seolah tak lagi mengenal aku

 

Tatapan matamu memanggilku

Meski aku coba memalingkan wajahku

Mencoba menahan air mata

Menahan segala rasa

 

Seorang dokter pun bereaksi tak terduga

Ibu tua itu dibawa ke rumah sakitnya

Tak satu sen pun tagihan darinya

Gubuk ibu tua itu pun direnovasinya

 

Manusia itu berhati malaikat

Luar biasa baiknya

Saudara bukan, teman pun bukan

Pasti itu pun kehendak Tuhan

 

“Ibu boleh pulang.

Setelah rumah ibu selesai saya renovasi

Nanti kalau kurang uang

Tolong saya diberi informasi,” katanya

 

Terharu aku mendengar kabar itu

Menetes lagi air mataku

Malu aku mendengar kabar itu

Karena ibu tua itu masih kerabatku

 

Terharu aku

Ada orang sebaik itu

Malu aku

Tidak mampu melakukan itu

 

Bertanya-tanya aku

Maksud hati dokter itu

Namun biarlah tetap menjadi misteriku

Hingga kini ku pun tak tahu

 

Semakin kutahu

Semakin tumbuh maluku

Semakin kutahu

Semakin aku menjadi terharu

 

Aku di rantau

Kerabatku di nagariku

Aku kini di simpang jalan

Antara haru dan malu

 

 

“Kupu-Kupuku Yang Tak Akan Kembali”

“Kupu-Kupuku Yang Tak Akan Kembali”

Hari ini,

Kulepas kau dari hatiku,

Ketika aku sedang menunggu secangkir hot cappucino datang ke mejaku,

Sambil berselancar di dunia maya bersama leptop pink-ku

 

Itu kamu

Ada ia di sampingmu

Ia

Bukan aku

 

Aaaahh….

Padahal aku tak pernah benar-benar ingin melepasmu

Meski, ya, aku melepasmu

Karena aku mencintaimu

 

Ah, aku khawatir kau tidak menangkap maksudku dengan jelas

Baiklah, sekali lagi: aku mencintaimu

Maka dari itu aku memberikanmu kesempatan untuk memilih ia dibanding aku

Karena aku percaya pada ayat yang sering aku dengar bahwa cinta semestinya membebaskan

Love should be free

Sampai akhirnya ketololanku terbukti

Salahku telah berjudi

 

Saat itu aku mulai menghitung pada tiap purnama yang bergulir,

Satu-dua purnama tak mengapa,

Tiga-empat-lima,

Berarti pertanda bahwa enam-tujuh purnama adalah suatu masa

yang tidak memerlukan bilangan ke-delapan dan ke-sembilan

 

“Cukup”, kataku sendiri

“Aku sudah tak mau lagi menunggu”

Dan bersamaan dengan datangnya seorang pelayan yang membawakan secangkir hot cappucino yang  beraroma,

Aku mengaktifkan WhatsApp-ku,

Menyortir namamu,

Lalu mem-block-mu di contact list-ku

 

Are you sure you want to block “kupukupu” from your contact list?

Yes?

No?

Done

 

Maka hari ini,

Kulepas kau dari hatiku

Tidak hanya nyatamu,

Tapi juga mayamu

***

*) Tulisan ini hasil daur ulang. Awalnya dibuat dalam rangka mengikuti lomba KKDH – Kulepas Kau Dari Hatiku, di Bandung, menjelang tutup tahun 2010.

 

 

Buku Kehidupanku

Buku Kehidupanku

Ambillah buku di depanmu

Buka buku itu dan bacalah

Dulu,

Buku itu adalah buku yang bersih,

Putih,

… tanpa goresan

 

Ingatlah, di hari pertama itu

Ketika kau menulis kisahmu, di halaman pertama buku itu

Tanganmu menari-nari sempurna,

Mengukir kisahmu,

… hingga tak sedetik pun terlewatkan

 

Di hari selanjutnya,

Kau buka lembaran yang kedua

Kau mulai lagi menulis kisahmu

Dari detik pertama hingga detik terakhir

Kau urai sempurna setiap kisahmu

Begitulah seterusnya

 

Lihatlah bukumu …

Sudah banyak kisah yang kau tulis

Kau pun tak tahu, kapan waktu itu kau tuntaskan

Kisah yang kau ukir dalam buku itu

 

Kelak kemudian,

Buku itu akan diterbitkan

Buku itu akan dikisahkan

Dibaca banyak manusia

Karya yang kau abadikan

 

Buku itu menjadi bukti

Siapa kamu …

Buku itu akan menjadi saksi,

Seberapa besar cintamu kepada-Nya

 

Tetapi, apakah yang kau tulis itu …

Kisah-kisah indah nan membanggakan?

Kisah-kisah yang membuatmu tenang?

Kisah yang membuat Sang Penciptamu ridho atas dirimu?

 

Atau,

Buku itu …

Mengisahkan kebodohanmu?

Mengisahkan keburukanmu?

 

Kisah yang membuatmu pilu dan sedih

Kisah yang membuatmu muak atas dirimu

Kisah yang membuatmu bergetar, ketakutan, mencekam jiwamu

Kisah yang membuat matamu nanar, mulut menganga, tubuh berguncang

Menyesali waktu yang kau lewatkan sia-sia

 

Lalu, kau pun meminta pada Tuhanmu waktu tuk menulis ulang kisahmu

Kau berjanji menulis kisah yang indah, kisah bahagia …

Kisah yang membuat Tuhanmu jatuh hati padamu

 

Kau berjanji,

Tak kan lagi menulis kisah seperti yang kau tulis

 

Sungguh, kau pun bermohon kepada-Nya

Berjanji sepenuh hati ‘tuk menulis ulang buku itu

Dengan kisah indah

 

Tetapi, kau kan mendengar suara: “Terlambat sudah!”

Kau tersentak,

Matamu melotot,

Wajahmu memerah,

Tubuhmu bergetar,

Lidahmu berteriak dengan keras melengking,

Hingga menjalar ke sudut-sudut negeri

 

Saat itu, semua pun sudah tak berguna

Tak ada lagi yang bisa kau lakukan

Pilu, perih yang tak terukur

Memikirkan bagaimana nasibmu nanti

Api pun sudah berkobar, berteriak lantang memanggil namamu

 

Lantas, apa lagi yang bisa kau perbuat?

Tidak ada

Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan

Kini jalanilah pilu dan getir itu

 

Namun …

Buku itu masih kau pegang

Masih ada kisah yang bisa kau tulis ulang

 

Baca ulanglah kisahmu,

Pahamilah,

Resapilah,

Sadarilah …

 

Bacalah kisahmu …

Apakah kau berkisah tentang keindahan?

Atau kau berkisah tentang kenistaan?

 

Masih ada waktu tuk menulis kisah indahmu …

Masih ada waktu menulis di bukumu

Menceritakan yang indah di akhir karyamu

Agar Tuhanmu tersenyum,

Atas kisah di penghujung karyamu

 

Dan Tuhanmu pun ridho

Mengangkatmu ke alam barzakh

 

 

Mengenang Ibuku di Senja Satu Desember itu

Mengenang Ibuku di Senja Satu Desember itu

hari ini satu desember lagi ibu

seperti setiap satu desember enam tahun terakhir

pagi ini satu duka cita dan satu suka cita

kembali tertoreh bersama

 

Ibu…,

tujuh belas tahun silam kau hembuskan nafas akhirmu

tepat sehari setelah kumohon restumu menapak ke ranah jiran

masih hangat terasa kecupmu di kening

saat kabar kepergianmu menggetarkan jiwa

butuh perjuangan panjang

kembali ke sisi jasadmu

mengenang kecupan terakhir dan sentuhan tanganmu

yang hilang untuk selamanya

 

di setiap satu desember sepuluh tahun berikutnya

hanya duka cita yang tergores atas kehilanganmu

 

lalu…,

satu desember sebelas tahun kemudian

cucumu lahir menggeser duka atas kepergianmu

kedatangannya mengalirkan kebahagiaan

 

sejak itu kujalin keakraban dengan bayi mungilku

mengganti popoknya atau memandikannya

meluluri kulitnya dengan kehangatan

menaburi tubuhnya dengan kelembutan

kadang aku begadang karena kegelisahannya

atau terjaga karena rintihannya

sering kukecup matanya yang jernih

membelai kulitnya yang halus

 

tapi, alangkah tak berdayanya bayi kecil ini

betapa rentan tubuh itu di usianya

beragam tantangan mengancam di sana sini

badannya ringkih tak berdaya

sepenuhnya pasrah pada kehendak alam

apa dayanya tanpa dekapan ibu

 

sebuah tanya mengetuk di benakku

selemah inikah dulu diriku

seringkih inikah aku di usia berbilang hari seperti ini

 

tentu saja

jawabku sendiri

 

untuk menyusu di dada ibu

atau untuk sekedar bernapas dengan baik

mesti ada tangan ibu yang menuntun

mesti ada cinta yang menghangatkan

aku tak mungkin hidup hingga kini

tanpa kasihmu ibu

 

Ibu…,

tanggal wafatmu yang sama dengan tanggal lahir cucumu

bagai untaian pesan terang benderang

pertempuranmu kala melahirkanku

dan pengorbananmu agar aku tetap bernafas

adalah dekapan tangan kehidupan

engkau bukan sekedar sumber kasih sayang

engkau adalah cinta Tuhan

dalam wujud seorang Ibu.

 

kau merawatku dalam sehat dan sakitku

dalam bersih dan kotorku

bahkan andai jika aku terlahir tak sempurna

 

ibu…,

seperti tujuh belas tahun lalu

hari ini kukembali kehilanganmu

tetapi di mata cucumu yang berbinar

kulihat engkau tersenyum

 

hanya seuntai do’a yang bisa kubisikkan

Ya Allah

Sayangi ibuku lebih dari dia menyangiku selama hidupnya

 

 

error: