Mandalika

Mandalika

aku mencari senyum polos anak-anak
di pantaimu, Mandalika
wajah mereka memerah terpajan sinar mentari
berlari-lari mengejar turis
menjajakan pernak-pernik gelang, kalung, dan tumpukan tenun
tak kenal lelah menjemput rezekiNya

Mandalika
kecantikanmu terhampar indah
di antara pasir putih dan bebukitan hijau
birunya laut dan debur ombak
sungguh sempurna penciptaanmu
namun
engkau menyimpan banyak cerita berurai airmata

cerita tentang para nelayan
yang ingin menjaga aroma setiamu
nafas kehidupan mereka
denyut nadi harapan keluarga

cerita seorang istri yang bahagia menyambut suaminya pulang
dengan ikan hasil tangkapannya
sumber nafkah buat keluarganya

cerita seorang anak yang menangis meratapi ayahandanya
yang pulang tak bernyawa
digulung, ditelan ombak raksasa

Mandalika
masihkah kau tetap setia
memberi makna pada cinta
membuang sgala dendam kesumat
pada mereka yang meninggalkan desa
dan terlupa pulang

Mandalika
kenanganku telah terhempas di pantaimu
kurajut slalu benang-benang rindu
untuk slalu menjengukmu
menikmati pantaimu
kala senja berbinar
namun
engkau hanya membisu
diam memaku

 

 

Senyum Yang Kurindu

Senyum Yang Kurindu

di tepi kawah yang berpijar
izinkan kukenang kembali senyummu
meski aku gagal memilikinya

kurangkai sosokmu di benakku
kubiarkan terikat di dalam angan
agar aku tetap bisa memelukmu

dadaku sesak direjam kehilangan
sepi mengabut di mataku
sukma serasa tercabut dari tubuh

oh… alangkah curang rindu ini
aku tak sanggup menepisnya
meski telah kubenam di sela pepohonan

nyanyi pilunya tetap terdengar
sayup jauh di dalam hutan
seperti gemercik air di lembah yang menganga

petak sawah yang menguning
membangkitkan kenangan akan jemarimu
yang memainkan bulir-bulir padi

aku hanya ingin pergi
melayari laut yang biru
mengenang lebih banyak senyum
yang pernah kau sunggingkan
kalau pun tak bisa memilikinya lagi
setidaknya
kau pernah tersenyum untukku

cukuplah itu

 

 

Bukan Penampilan yang Menyelamatkanku

Bukan Penampilan yang Menyelamatkanku

Saat itu, tak seperti dulu
Semuanya serba kaku
Atasan dan teman menjauhiku
Aku serasa di tempat yang baru

Tak sepatah pun kata menyapa
Hanya tatapan penuh curiga
Senyum terpaksa pun kutrima
Seolah aku makhluk hina
Bak pelaku tindakan tercela

Ya
Ini bukan salah siapa-siapa
Telah tersiar berita
Aku memiliki harta
Yang buat orang geleng kepala

Tim pemeriksa datang dari pusat
Aku begitu terperanjat
Mereka bergerak cepat
Bagai harimau siap melompat
Agar isu liar ini tak merambat

Aku tlah berada di ruang rapat
Namun serasa di ruang sidang darurat
Kemarin aku sehat
Kini segala penyakit terasa mau kumat
Bumi yang kuinjak bagai mau kiamat

Sepuluh jariku berpeluk erat
Kakiku sesekali berpindah tempat
Mukaku tertunduk pucat
Dahiku terlipat
Ruangan ini terasa dingin sangat

Anda si Fulan itu?
Kenapa dipanggil, Anda tahu?
Anda pegawai baru?
Istri Anda bekerja?
Anak Anda berapa?
Pertanyaan pancingan dilontarkan sang pemeriksa
Namun arahnya bisa kutebak
Aku tak berharap terjebak

Mobil Anda baru?
Kontan, tanpa cicilan mengharu biru?
Bagaimana bisa?
Dari mana uangnya?
Pasti dari penggelapan!
Aku merasa dipojokkan
Buat perasaanku tertekan

Ruangan besar itu terasa sempit
Setiap jawabanku dianggap berkelit
Teh manis pun terasa pahit
Mengapa menjelaskan hal yang sederhana terasa sulit

Sebuah mobil baru
Dibelikan kakak untuk ibu
Atas namaku
Ini tak banyak orang tahu
Aku memulai pembelaanku

Mobil itu buat berjaga-jaga
Andai ibu tiba-tiba jatuh sakit
Mobil itu selalu siap siaga
Mengantarkan ibu ke rumah sakit
Itu pembelaanku berikutnya

Aku tahu
Dari awal mereka ragu
Karna penampilanku bak seorang ustaz
Jenggot terpelihara begitu lebat
Topi haji pun putih mengkilat

Aku yakin
Mereka kini ragu
Tanpa bukti awal yang kuat
Dan penjelasan yang tak kubuat-buat
Semoga aku selamat
Dari tuduhan yang sangat berat

Tahun demi tahun berlalu
Tuduhan itu bagai angin lalu
Seperti ada tetapi sesungguhnya tiada
Tak jelas lagi kelanjutan prosesnya
Sungguh aku merasa lega

Kakak mengingatkanku
Bukan penampilan yang menyelamatkanku
Namun, tak melakukan hal yang dituduhkan tlah membebaskanku
Jaga selalu akhlakmu
Pesannya selalu padaku

***

 

 

Potret

Potret

Aku lihat

Ia tengah menyiapkan kameranya

Untuk memotret wajah pemerintah

 

Aku ragu

Ia akan mampu menampakkan fakta sebenarnya

Setelah kusaksikan lensa yang ia pilih

 

Aku yakin

Ia hanya akan mampu mengambil gambar pembangunan

Dalam bentuk jalan dan jembatan

Yang pengerjaannya berkesinambungan

 

Aku percaya

Ia hanya akan memotret wajah kesejahteraan

Dari total pertumbuhan produk domestik bruto

Angka-angka kemiskinan dan pengangguran

 

Aku sangsi

Ia akan mampu menemukan

Tangisan orang yang kehilangan tanah

Tergerus atas nama investasi dan kemajuan ekonomi

 

Aku skeptis

Ia akan mampu mengetahui

Di mana orang hilang, diciduk, dan terciduk

Dituduh radikal dan teroris

Yang membawa, lalu sengaja menjatuhkan ijazah dan kartu identitasnya

Seolah-olah titisan narkissos yang terlalu bangga pada nilai-nilainya

 

Aku berharap

Ia akan mengganti lensa itu dengan lensa tele

Yang dapat menangkap kegagapan dan keputusasaan

 

Satu dalil baru yang bergerak merayap

Di antara selokan, gang, atau lorong-lorong

Diam-diam atau tidak diam-diam

Yang dicurigai mengganti pemerintah

Menjadi mimpi buruk penguasa

Karena berisi monster ciptaan R.L. Stine

 

Siapapun yang subversif diduga titisan monster itu

Lalu ramai-ramai pikiran dibungkam

Dan dimasukkan ke penjara

Seolah-olah segala hal di dunia

Bisa dininabobokan dengan segera

 

 

Hanya tersisa suara-suara bodoh

Heboh dengan nada dasar sama

Tak berbeda dengan masa menteri penerangan tempo dulu

 

Aku lantas memahami

Sebuah potret bisa terlihat buram, bisa sebaliknya

Bisa diatur pula kontras dan saturasinya

Dan segala hal yang dicipta dari lensa kameranya

Tak akan lebih baik dari lensa hati

Yang diberikan Tuhan Yang Maha Mengetahui

(2018)

 

 

Dilema Ibu, Dilema Kami

Dilema Ibu, Dilema Kami

Satu per satu

Kami lahir dari rahimmu

Satu per satu

Kami menikmati limpahan kasih sayangmu

 

Dahulu

Sungguh engkau seorang perempuan tangguh

Berjalan kaki setiap hari dari rumah ke pasar

Tak peduli telapak kakimu menebal, bersisik, dan kasar

Tak sekalipun engkau mengeluh

Bekerja keras membanting tulang

Membantu menopang beban keluarga

 

Meski beban hidup ketika itu terasa berat

Namun senyummu selalu hangat

Menyiratkan pesan kuat

Bahwa hidup harus penuh tekad

Semangat itulah yang slalu engkau ajarkan kepada kami

 

Tak boleh ada satu pun dari kami yang putus sekolah

Selalu menjadi mimpimu

Kehidupan kalian mesti lebih baik dari kami

Begitu selalu ujarmu

 

Tak terasa

Waktu begitu cepat berlalu

Satu per satu kami tumbuh mendewasa

Satu per satu kami meninggalkanmu

Mencoba meraih masa depan terbaik

Sesuai harapanmu

 

Engkau kini sudah sepuh

Usiamu lebih dari tujuh puluh

Tubuhmu memang tak kurus

Tapi berdirimu tak lagi lurus

 

Kini engkau hidup sebatang kara

Tinggal sendiri di rumah tua

Karna Ayah sudah lama tiada

Sementara kami bertujuh merantau semua

Hanya kerabat dan tetangga yang menjaga

 

Masih lekat di ingatanku

Pernah aku terbaring sakit

Elusan dan belaian jari jemarimu yang kasar

Terasa lembut dan halus

Karna engkau lakukan dari hati yang tulus

 

Aku merindukan waktu-waktu bersamamu seperti dulu

Ingin kembali memegang jari jemari itu

Aku ingin menciuminya setiap hari

Berharap doa restu darimu

 

Lama kami berusaha membujukmu

Agar engkau ikut salah satu dari kami

Namun, sampai saat ini

Engkau masih membisu

 

Ibu…

Mengapa engkau hanya terdiam

Kerut di wajahmu seakan menyiratkan sesuatu

Tatapan matamu tampak jauh menerawang

Tak terlihat sedih atau girang

 

Aku tahu engkau masih memikirkan jawaban

Atas pinta kami yang sebenarnya ringan

Aku tahu Ibu dalam dilema

Tetap memilih tinggal sendiri

Atau ikut salah satu dari kami

 

Ibu…

Tinggallah bersama salah satu dari kami

Hanya itu permintaan kami

Namun

Engkau memilih tetap tinggal di rumahmu

Karna engkau tak ingin kami saling cemburu

Karna engkau ingin berlaku adil kepada kami

Karna kasih sayangmu sama besarnya buat kami

 

Ibu…

Kuhormati pilihanmu

Walau hati kecil ini aku tak setuju

Seandainya aku bisa memaksamu

Aku ingin Ibu bisa tinggal bersamaku

 

Aku pun ingin Ibu tahu

Kadang berlinang air mata ini setiap mengingatmu

Sungguh pedih membayangkanmu

Melewati hari-hari tuamu seorang diri

Tanpa seorang pun dari kami

 

Oh Tuhan…

Sungguh ini dilema Ibu kami

Dilema Ibu untuk berbagi

Dilema kami untuk berbakti

Dilema Ibu, dilema kami

 

 

Netralitasku, Keberpihakanku

Netralitasku, Keberpihakanku

Genderang perang ditabuh waktu

Kilatan pedang bercampur mau

Baliho dan medsos bahu membahu

Semua ingin jadi pemimpin baru

 

Jurus berpadu penuh strategi

Tim sukses berjuang demi raih mimpi

Paslon sudah pasti memantaskan diri

Agar rakyat memberikan simpati

 

Persaingan memanas tidak hanya di pikiran

Tapi merambah di semua dimensi kehidupan

171 menjadi jumlah perhelatan

Memilih calon pimpinan 5 tahun ke depan

 

Ada istilah pesta demokrasi

Demi menghasilkan pemimpin sejati

Bukan sekedar untuk menarik hati

Menggiring pemilih lewat mobilisasi

 

Pemimpin daerah adalah pandu

Menuntun rakyat agar bersatu

Mengolah sumber daya tanpa ragu

Agar daerah dan negeri maju

 

Inginnya kampanye berjalan sesuai aturan

Kami tak usah ikut campur dan terbawa perasaan

Cukup bekerja baik  dengan atasan dan bawahan

Karena ini hanya rutinitas lima tahunan

 

Netralitas itu mestinya jelas

Bagi ASN berlaku secara luas

Agar rakyat tak perlu cemas

Mendapat layanan tak berkelas

 

Kita perdalam profesionalisme

Sebagai ASN yang paham ritme

Jangan terpancing isu komunisme

Juga konsep liberalisme dan anarkhisme

 

Ibu-ibu ASN yang biasa gundah

Karena dianggap memihak jika berlipstik merah

Akhirnya mencari cara mudah

Diganti lipbalm bening nuansa cerah.

 

Para petinggi menyuruh kita netral

Tetapi justru mereka yang lebih bebal

Mereka ingin menghukum yang nakal

Tapi tak cukup mampu pakai akal

 

ASN mestinya tidak galau

Menanggung bingung ataupun risau

Karena hati tak mudah silau

Oleh janji paslon yang kemilau

 

ASN berpose jangan unjuk jari

Like di medsos sementara berhenti

Tindak tanduk harus hati-hati

Karena Panwaslu bisa salah arti

 

Santun dalam berucap

Tenang dalam bersikap

Fokus terhadap tugas

Tetapi pilihan tetap bebas

 

Tapi ingat, netralitas itu ada batas

Jangan sampai bablas

Di bilik suara netralitas hilang tak berbekas

Manfaatkan hak suara dengan lugas.

 

Naik kuda memanen nanas

Membawa kain terbuat dari kertas

Pilkada lancar hingga tuntas

Untuk ASN, mari tetap jaga netralitas

 

Bandung, Akhir Februari 2018

 

 

123
error: