Kesan Pertama yang (Tidak) Menggoda: Catatan Perjalanan Dinas Saya

Kesan Pertama yang (Tidak) Menggoda: Catatan Perjalanan Dinas Saya

Beberapa tahun yang lalu, pernah populer istilah ‘kesan pertama begitu menggoda’ yang dipakai sebagai jargon iklan sebuah produk parfum pria. Istilah itu saya coba munculkan kembali. Saya pinjam di sini untuk menggambarkan cerita yang ingin saya sampaikan. Namun, dengan sedikit perubahan, menjadi ‘kesan pertama yang (tidak) menggoda’.

Begini kronologinya. Pagi itu, seperti biasa, cuaca cerah dan langit terlihat indah tanpa balutan mendung (kalimat ini harus saya pakai untuk menciptakan suasana cerita pendek di tulisan ini, he he he ...).

Saya pun menyambut hari pertama masuk kantor dengan penuh semangat. Saya berangkat ke kantor dengan langkah tegap. Demi menjaga kesehatan saya sejak usia muda, saya putuskan berjalan kaki menuju kantor.

Ralat, sebenarnya kesehatan bukan alasan yang utama, tetapi karena saya memang belum mempunyai kendaraan (pembaca boleh tertawa, kalau tega).

Karena masih pegawai baru, kami belum ditempatkan di suatu unit tertentu. Kami hanya dikumpulkan di ruang perpustakaan kantor. Setiap hari kami ngantor di ruangan itu sambil menunggu-nunggu penugasan pertama kali kami.

Pagi itu, ada seorang bapak senior yang mendatangi ruangan, lalu memanggil salah satu teman saya sesama anak baru. Tanpa perlu punya analisis tajam pun saya bisa memprediksi kalau dia akan dapat tugas perjalanan dinas pertamanya.

Saya iri setengah mati! Saya kapan? Ini diskriminasi namanya! Apa semua ini karena saya lebih rupawan? (Monolog saya dalam hati, yang jelas mengada-ada.)

Satu orang, dua orang, tiga orang dipanggil, hingga hanya saya sendirian di ruangan itu. Oke, saya pastikan ini karena saya orang Jawa. Ini rasialis namanya, mentang-mentang teman-teman saya asalnya dari … upps, dari Jawa juga ternyata.

Eh, tapi tidak berarti ini bukan diskriminasi, lho! Pokoknya ini enggak adil. Saya bakal laporin ke Komnas Perlindungan Anak.

Tunggu dulu! Semesta ternyata masih melindungi atasan saya dari ancaman laporan saya itu. Panggilan untuk saya akhirnya datang juga. Untuk mempermudah penggambaran dan penjelasan, mari kita panggil saja bapak itu dengan nama Rawon.

“Mas, minggu depan kita tugas ya. Mengingat ini penugasan pertama, biar bapak saja yang bikin surat tugasnya,” jelas Pak Rawon tenang.

Karena saya terlalu antusias, saya sampai lupa mengontrol suara saya. “Baik, Pak!” jawab saya yang malah mirip orang membentak. Saya mulai panik, takut kalau gara-gara ini saya batal diajak. Belum habis rasa panik saya, Pak Rawon kembali berbicara.

“Berat ini, Mas. Harus siap-siap ya. Kita tugas perjalanan dinas ke Kabupaten Lingga,” katanya.

“Baik, Pak,” jawab saya sedikit lebih pelan.

Jujur ketika itu saya tidak pernah mendengar ada kabupaten itu, apalagi tahu di mana lokasinya.

Selesai briefing singkat dengan Pak Rawon, saya kembali ke ruangan. Sebelumnya, saya sudah dibekali dengan pedoman kerja yang isinya langkah-langkah apa aja yang akan saya lakukan nanti di sana. Dengan semangat membara, saya lahap lembar demi lembar … dan saya tertidur.

***

Begitu saya terbangun, tiba-tiba saya teringat Kabupaten Lingga. Penasaran, saya coba buka google maps. Saya coba ketik ‘Kabupaten Lingga’, dan kemudian … muncullah gambar pulau-pulau kecil di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Masyaallah, perasaan gue kok enggak enak ya. Nih pulau kok kecil-kecil amat ya, keluh saya dalam hati.

Saya mendadak pucat. Seumur hidup, satu-satunya laut yang pernah saya lihat itu cuma laut selatan di Parangtritis. Itu pun, bapak saya pernah cerita kalau dulu saya takut dengan ombak.

Cerita punya cerita, saya takut gara-gara dulu saya mengira buih-buih ombak itu panas, seperti air mendidih. Cerdas, kan? Ternyata, dari kecil bakat analisis saya memang sudah muncul … dengan cara yang aneh.

Kembali ke soal Kabupaten Lingga, ada sedikit kabar baik yang diberi tahu ke saya. Kami berangkat naik pesawat. Denger berita ini, saya langsung sujud syukur, alhamdulillah.

***

Hari keberangkatan pun tiba. Semalam saya lumayan nyenyak tidurnya. Berita soal naik pesawat itu membuat saya jauh lebih tenang. Namun, kabar soal pesawat itu cuma penenang sementara saja.

Bukan karena pesawatnya tidak ada, tetapi masalahnya pesawat yang akan kami tumpangi itu ternyata pesawat kecil bertenaga baling-baling. Makin menyeramkan, pesawat yang berkapasitas 25 orang itu cuma diisi oleh lima orang.

Perjalanan dinas yang durasinya sekitar dua jam, buat saya serasa dua hari, lama banget. Herannya, bukan saya saja yang takut, ternyata ketua tim saya, Pak Rawon, juga sama takutnya.

“Mas, ngeri ya. Saya ini takut naik-naik pesawat, apalagi yang kecil gini.”

“Iya..ya Pak. Saya juga baru pertama kali naik pesawat begini.”

Obrolan yang sama sekali tidak membantu, malahan makin memperparah keadaan.

Hati saya senang bukan kepalang, akhirnya pesawat pun mendarat di bandara. Saya selamat! Sayangnya, kebahagiaan saya cuma sesaat saja. Saya baru diinformasikan oleh pak ketua tim kalau kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan “pong-pong”.

Pong-pong adalah sebutan untuk kapal yang dipakai sebagai alat transportasi penyeberangan antar pulau. Oh, pasti kapal-kapal Feri kayak buat nyebrang dari Banyuwangi ke Bali itu. Monolog saya menenangkan hati. Atau mungkin kapal-kapal kayu kecil-kecil seperti perahu di pantai selatan?

Saya mulai deg-degan. Atau jangan-jangan getek? Rasanya, saat ini saya ingin kejang-kejang. Sambil menghela napas, menelan ludah, dan menahan kentut, saya melangkah gontai masuk mobil menuju pelabuhan pong-pong itu.

Lucunya lagi, saat bermobil menuju pelabuhan, Pak Rawon juga mengeluhkan bahwa ia takut melakukan perjalanan dengan mobil ini.

“Jalannya sempit mas, mana kanan-kiri jurang gitu. Salah dikit, selesai kita, Mas,” ujarnya tanpa menjaga perasaan saya yang juga semakin takut.

Belum habis rasa takut itu, hati saya tergerus ketika menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, ternyata pong-pong itu sejenis kapal kayu yang digerakkan oleh mesin boat. Lebarnya sekitar 1,5 meter dan panjangnya 3 meter. Intinya, terlalu imut dan unyu untuk disebut kapal.

Sewaktu berlayar di laut, naudzubillah ngerinya. Bagi yang jago berenang kalian tetep tidak akan bisa jumawa. Soalnya, sepanjang perjalanan hanya hamparan laut yang terlihat. Perenang sekelas Michael Phelps pun belum tentu bisa selamat jika kecemplung di sini.

Parahnya lagi, ombak waktu itu bukan main tingginya. Saya sampai tak bisa berkata-kata, pasrah, lemas, dan mengerut.

Bagi kalian yang suka wahana permainan di Dufan, saya sarankan mending naik pong-pong aja karena lebih seru dan dijamin menantang. Bukan menantang adrenalin, tetapi menantang maut.

“Saya ini ngeri naik beginian. Di tengah laut kita ‘meregang nyawa’, apalagi mesinnya cuma satu gini. Kalau mati gimana ya,” kata Pak Rawon memecah keheningan.

“Iya … ya, Pak, saya juga ngeri.” Serius, yang ini saya memang ngeri betulan.

Yang saya lihat di sekitar cuma ada pulau-pulau kecil yang kelihatannya tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tiba-tiba, saya benci sekali dengan ketua tim saya ini karena apa yang dia katakan benar-benar terjadi.

Mesin pong-pongnya mati. Saya lirik ke ketua tim saya, raut mukanya berubah makin pucat, sudah mirip zombie yang belum makan seminggu.

Pikiran saya sudah ke mana-mana. Inikah akhir perjalanan saya? Hilang di lautan begini? Mana enggak ada sinyal. Saya kan mau nge-tweet dulu sebelum saya tiada, biar tetap eksis di sosmed.

Beruntung, Tuhan masih memberi saya kesempatan buat tetep nge-snapchat atau nge-vlog di Instagram, eh, buat tetap hidup maksudnya. Mesin bisa hidup lagi, dan perjalanan berlanjut. Saya bahagia sekali, kalau tidak ada Pak Rawon, mungkin sudah saya cium itu mas-mas nahkodanya, ehhh.

***

Tanpa perlu didebatkan, saya langsung mengalami pengalaman yang luar biasa di perjalanan dinas pertama saya. Naik tiga alat transportasi yang lain daripada yang lain. Akan tetapi, satu hal yang bisa saya petik sebagai pelajaran, seberat apa pun medan yang harus ditempuh, akan sangat berat kalau ketua timnya si bapak ini.

Kenapa? Coba kita runut, ternyata bapak ini takut naik apapun. Pesawat dia takut, perjalanan darat dia takut, eh di laut pun dia takut. Lengkap sudah. Gara-gara ini juga, buat saya, kesan pertama itu tidak menggoda. Enggak lagi-lagi deh, bos, ampuuuuun!!!

Padahal, Kabupaten Lingga ini sebenarnya menarik. Di sinilah tempat kelahiran Kerajaan Melayu, kerajaan yang perkembangannya luar biasa. Wilayah kekuasaannya tidak hanya di Indonesia, tetapi meliputi juga Singapura dan Malaysia.

Kabupaten Lingga ini bahkan punya julukan ‘bundo tanah Melayu’, yang artinya ibu dari budaya Melayu. Kenapa? Karena kerajaan pertama Melayu, ya di Lingga ini. Sederhananya, kalau tidak ada Kerajaan Melayu di Lingga ini, bisa jadi tidak akan ada Singapura dan Malaysia sekarang. Jadi, tidak heran budaya melayu kental banget di daerah ini, termasuk bahasanya.

***

Interaksi Multikultural Dengan Tari Kelinci, Tari Soyong, dan Bakso

Interaksi Multikultural Dengan Tari Kelinci, Tari Soyong, dan Bakso

Minggu 19 November 2017 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak Indonesia yang bersekolah di Moreland Primary School (MPS). Hari itu sekolah menyelenggarakan fete atau festival dengan tema multicultural festival. Anak-anak ini akan menampilkan dua tarian, Tari Kelinci (Bunny Dance) dan Tari Soyong (Soyong Dance).

Multicultural festival atau Carnival of culture yang diselenggarakan oleh MPS adalah event dua tahunan yang dimaksudkan sebagai salah satu strategi mengumpulkan dana untuk pembiayaan sekolah. Ya, sama halnya sekolah di Indonesia, sekolah-sekolah di sini juga mengalami kesulitan pendanaan. Fete adalah salah satu cara yang cukup efektif untuk mendapatkan dana untuk membiayai kebutuhan sekolah.

Bagi citizen, permanent resident, dan para pemegang visa tertentu seperti saya yang kebetulan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia, memang tidak perlu membayar mahal. Di awal tahun tiap anak membayar 350 dollar. Jumlah yang sangat tidak signifikan dibandingkan teman-teman internasional student yang tidak disponsori pemerintah Australia.

Awalnya, saya pikir tidak akan ada biaya lain lagi selain membayar iuran tersebut. Rupanya saya salah. Kegiatan-kegiantan ekstra ternyata mengharuskan orang tua murid harus membayar, semisal excursion, sleepover di sekolah, tambahan pelajaran seperti renang, musik, dan pelajaran life education. Tidak terlalu besar, tapi cukup sering juga.

Carnival of culture atau fete yang diselenggarakan sekolah anak saya, Amira dan Ayla, juga salah satu upaya sekolah untuk menambah biaya infrastruktur. Dua tahun lalu menurut pihak sekolah uang hasil event digunakan untuk perbaikan play ground dan taman.

Bagi orang tua murid Indonesia, kami sangat senang menyambut event tersebut. Dua tahun lalu komunitas Indonesia di MPS mendapat kesempatan untuk menampilkan tari Saman dan memperkenalkan sate. Tahun ini komunitas Indonesia juga mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian Indonesia dan mempromosikan masakan Indonesia.

Alhamdulillah, di antara mahasiswa Indonesia yang ada di sini ada yang memiliki keahlian menari. Namanya mbak Fitriana Murriya, ibu dokter dari Jogja yang sedang mengambil program PhD di Melbourne University. Alhasil, untuk mempersiapkan kemeriahan fete, anak-anak pun berlatih setiap minggu selama hampir dua bulan. Tari yang dipilih adalah Tari Kelinci (Bunny Dance) dan Tari Soyong (Soyong Dance). Kedua tari tersebut sangat pas dengan karakter anak-anak.

Tak hanya anak-anak, ibu-ibu pun juga turut memeriahkan dengan mempersiapkan gemufamire dance yang sedang marak di tanah air. Sejujurnya, bukanlah hal yang mudah bagi orang tua di sini untuk sekedar menyisihkan waktu meski hanya dua jam untuk berlatih atau sekedar mengantarkan anak. Tapi, untuk memeriahkan fete dan sekaligus memperkenakan budaya dan masakan Indonesia rasanya sayang untuk disia-siakan kesempatan emas ini.

Begitulah…tanggal 19 November 2017 pun tiba. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Para bunny-bunny pun lincah melompat-lompat di panggung. Begitu juga dengan big girls yang menarikan Tari Soyong terlihat begitu gemulai menggerakkan tangan dan memainkan kipasnya.

Bagaimana dengan kami para orang tua murid? Kami pun bergembira beramai-ramai ber-gemufamire. Setelah itu dilanjutkan dengan aktivitas melayani pengunjung dengan bakso yang sudah dipersiapkan sehari sebelumnya. Cukup dengan empat dollar, mie bakso yang dilengkapi pangsit goreng pun terasa sangat lezat dinikmati di minggu siang sembari menyaksikan Sicilian Folk Dance dari Italia, Tari Saman Bhineka, Indigeneous Music, Indian Music, Band Anak MPS, serta koor anak-anak grade 1/2.

Hari itu, Tari Kelinci, Tari Soyong dan bakso menemani kemeriahan multicultural festival yang menampilkan makanan dari berbagai negara, antara lain dari India, Jerman, Chile, Ethiopia, Libanon, dan Vietnam. Bangga rasanya jadi orang Indonesia.

 

Belajar dari Sydney tentang Infrastruktur Kota Ramah dan Humanis

Belajar dari Sydney tentang Infrastruktur Kota Ramah dan Humanis

Bisakah Anda menyebutkan beberapa kota di Indonesia yang terkesan ramah dan humanis? Mungkin ada beberapa kota yang seperti itu, namun sebagian besar kota-kota di Indonesia masih jauh dari kesan ramah dan humanis.

Di tengah perjalanan tugas saya ke Australia, saya menemukan salah satu kota dengan kriteria ramah dan humanis itu. Kota itu adalah Sydney. Sydney adalah ibukota Negara Bagian New South Wales. Kota ini merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Australia yang berpenduduk 4,34 juta dengan luaswilayah 12 ribu km2.

Dua infrastruktur kota yang ramah dan humanis saya coba amati di Sydney adalah taman kota dan transportasi publik. Kedua infrastruktur tersebut bisa hadir dengan sempurna dan bermanfaat bagi warganya karena adanya kerja sama yang baik antara pemerintah dengan warga kotanya.

Transportasi Publik

Semua jalanan di Sydney lancar dan bebas macet. Jalan menjadi ruang publik yang aman untuk digunakan, bukan hanya oleh pemilik kendaraan tetapi juga oleh pejalan kaki.

Ada hal menarik lain yang patut menjadi perhatian dan dicontoh, yakni layanan transportasi dan pengelolaan lalu lintas di sana ramah bagi penyandang disabilitas. Di stasiun kereta, pemberhentian bis, dan di dalam kereta atau di bis disediakan fasilitas dan tempat khusus bagi kaum difabel. Di Sydney jumlah bukan lagi masalah, setiap warga negara mendapatkan pelayanan terbaik.

Kok bisa ya? Ternyata hal itu terjadi berkat sinergi yang baik antara pemerintah dengan warga kotanya. Di satu sisi, pemerintah menyediakan infrastruktur yang lengkap dan memadai seperti jalan, pedestrian, dan sarana transportasi umum (bis, kereta api, dan monorail). Di sisi lain, masyarakat berpartisipasi aktif menjaga ketertiban di jalan, serta membiasakan jalan kaki dan menggunakan transportasi umum.

Yang tidak kalah penting adalah penegakan aturan. Setiap pelanggaran lalu lintas dikenakan tindakan tegas dengan membayar denda. Denda ditagihkan langsung ke pihak pelanggar secara otomatis. Hal tersebut dilakukan karena penindakan atas pelanggaran lalu-lintas dilakukan secara elektronik. Untuk memantau lalu lintas, di setiap sudut kota Sydney sudah dipasang CCTV.

Taman Kota

Sydney adalah salah satu kota yang cukup serius memperhatikan dan mengelola keberadaan taman kota. Di Sydney ada puluhan taman kota yang bukan hanya indah, tetapi juga luas-luas dan dilengkapi berbagai fasilitas modern. Taman kota terbesar antara lain Centinnial Park (189Ha), Moore Park (115 Ha), Sydney Park (45 Ha), dan Queens Park (26 Ha).

Di tengah gemerlap Sydney juga ada kebun botani dengan koleksi tanaman subtropis dan tropis yang cukup lengkap, yakni The Royal Botanic Garden, kebun botani terpenting dari tiga kebun botani yang dibuka untuk umum di Sydney. Kebun lainnya yang tak kalah indah adalah Mouny Annan Botanic Gardendan Mount Tomah Botanic Garden.

Taman dan kebun botani di Sydney dikelola bersama daerah setempat, gratis masuk, dan dibuka setiap hari sepanjang tahun. Selain untuk kepentingan rekreasi dan konservasi kebun botani ini merupakan laboratorium dan menjadi pusat studi ilmu botani.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kondisi transportasi publik di kota-kota besar di Indonesia harus kita akui masih jauh dari kesan nyaman dan humanis. Terutama kondisi jalanan yang selalu macet, trotoar yang kurang memadai bagi pengguna jalan, dan sarana transportasi umum yang masih jauh dari kata nyaman. Namun, seperti yang kita saksikan pemerintah telah berupaya ke arah sana dengan berbagai proyek infrastrukturnya. Sedangkan untuk taman kota tidak perlu berkecil hati. Ada Surabaya dan Bandung yang getol dan serius menata taman kota.

Taman kota sebagai salah satu bentuk pelayanan publik seringkali kita abaikan. Kita luput memperhatikannya padahal sebuah taman memberikan banyak manfaat bagi publik. Bukan hanya sebagai paru-paru kota agar produksi oksigen bisa terjaga, taman kota juga menjamin keberlangsungan ekosistem dalam hubungan relasional simbiosis mutualisma antar mahluk hidup di tengah hiruk pikuk kota.

Di sisi lain, taman kota adalah tempat yang nyaman untuk warga kota berinteraksi dan bersosialisasi antar anak-anak, antar generasi muda, antar orang tua, serta antar lintas generasi. Di taman kota juga seorang pemuda akan menjadi penyair hebat untuk pujaan hatinya. Di sana, hijau daun dan gemerisik ranting yang tertiup angin menjadi sumber inspirasi yang tidak bertepi. Di taman kota anak-anak riang gembira bermain dan membaca dengan penuh semangat.

Mengabaikan taman kota berarti mengesampingkan arti penting lingkungan hidup dan keberlanjutannya. Menelantarkan taman kota juga berarti mengingkari hakekat manusia sebagai mahluk sosial. Lebih gawat lagi adalah pada saat kita tidak memperdulikan taman kota, artinya kita egois dan tidak empati atas kreativitas generasi muda sebagai pemilik masa depan kota.

Kuncinya lagi-lagi sederhana, yakni kepemimpinan yang kuat dan partisipasi aktif warga masyarakat. Untuk kepemimpinan, Surabaya dan Bandung relatif ideal, tinggal memacu partisipasi warga agar lebih berperan dalam memelihara dan menjaga taman kota sembari turut menggagas taman kota baru yang lebih kreatif dan humanis. Warga kota juga harus mendukung pemerintah dalam tertib berlalu-lintas.

Saatnya kita berbenah bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bahu-membahu. Pemerintah bukan “Superman” yang bisa mengatasi semua persoalan tanpa dukungan masyarakat. Demikian juga masyarakat tidak mungkin mendapatkan pelayanan yang bagus tanpa pemerintahan yang baik dan bersih.

Pelayanan publik optimal bukan hanya karena peran pemerintah, tapi juga karena adanya partisipasi aktif warga masyarakat. Pemerintahan adalah proses timbal balik yang sinergis antara pemerintah dengan warga masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama. Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita berbenah. Saatnya kita berubah dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Yuk, kita contoh Sydney!

 

 

Nottingham City Transport, Sebuah Benchmark Transportasi Kota

Nottingham City Transport, Sebuah Benchmark Transportasi Kota

Oleh: BETRIKA OKTARESA*

 

 

TransJakarta, sebuah terobosan di bidang transportasi di Jakarta yang lahir lebih dari 10 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2003 dengan nama Badan Pengola (BP) TransJakarta (berubah pada tahun 2006 menjadi Badan Layanan Umum Daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta). TransJakarta dibangun dalam sistem Bus Rapid Transit (BRT), merupakan BRT pertama di Asia Tenggara dan Selatan dengan panjang jalur rute terpanjang di dunia (208 kilometer).

Sistem BRT sendiri merupakan sebuah terobosan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada sistem bus konvensional karena BRT memiliki keunggulan dalam hal adanya jalur khusus bagi bus dan memiliki sistem atau fitur khusus untuk memudahkan penumpang dalam membeli tiket sehingga mengurangi potensi delay. Sistem ini mengkombinasikan antara pengangkutan masal, biaya yang murah, dan kemudahan akses.

Tentu dari berbagai pemberitaan di media, kinerja TransJakarta dalam mencapai tujuan pembentukannya belum dianggap memuaskan dan belum mampu mengurangi permasalahan kemacetan di ibukota. TransJakarta belum mampu secara signifikan menggiring para pengguna kendaraan bermotor menjadi pengguna layanan transportasi tersebut.

Banyak faktor yang memengaruhi hal tersebut, diantaranya jumlah armada yang dirasa masih kurang sehingga menyebabkan penumpukan penumpang di koridor dan waktu kedatangan armada bus yang sulit diperkirakan, meskipun di beberapa koridor sudah terdapat papan yang menunjukkan prediksi waktu kedatangan. Belum lagi dalam perjalanan, jalur khusus bus masih sering digunakan oleh pengendara kendaraan pribadi yang akhirnya mengganggu kelancaran perjalanan bus. Beberapa poin tersebut menyebabkan secara prinsip sistem BRT belum dapat dicapai sesuai tujuannya.

Belum tercapainya sistem BRT yang baik di Jakarta bukan berarti kegagalan, namun tentu memerlukan proses perbaikan yang serius pada banyak aspek. Salah satu langkah perbaikan yang dapat dilakukan adalah dengan belajar dari negara lain yang juga menerapkan sistem yang serupa.

Salah satu negara yang juga mengadopsi sistem BRT sebagai salah satu upaya modernisasi transportasi adalah United Kingdom, dan telah diterapkan di berbagai kota disana, seperti London, Manchester, Liverpool, Nottingham, dan kota-kota lainnya. Dari berbagai kota tersebut, Nottingham merupakan salah satu contoh yang ideal sebagai acuan (benchmark) dalam pengelolaan transportasi berbasis bus yang dikelola oleh pemerintah kota di sana dengan status Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bernama Nottingham City Transport (NCT).

NCT layak disebut sebagai acuan transportasi kota karena NCT telah beberapa kali menyabet gelar operator bus terbaik di UK dan merupakan yang terbanyak meraih predikat tersebut yaitu sebanyak empat kali, dengan gelar yang terakhir adalah tahun lalu (2016). Operator bus yang lahir pada tahun 1986 tersebut memang memiliki keunggulan di berbagai aspek, bahkan jika dibandingkan dengan pengelola bus di kota-kota lain di UK sekalipun.

Pertama, NCT memiliki jumlah bus yang besar sehingga jarak tunggu antara satu bus dengan bus selanjutnya di rute yang sama secara rata-rata hanya 15-20 menit, bahkan di rute-rute yang populer, yaitu memiliki jumlah penumpang yang banyak dan di waktu yang peak, jarak antar bus hanya 5 menit. Artinya NCT memiliki data tentang peak dan off-peak penumpang di setiap jalur, sehingga dapat disesuaikan dengan jumlah waktu tunggu antar bus.

Kedua, pada setiap bus stop dilengkapi dengan papan informasi kedatangan bus secara real-time, sehingga calon penumpang dapat melakukan self-estimation apakah waktu tunggu bus masih sesuai dengan toleransi tunggu masing-masing. Pada papan tersebut juga dilengkapi dengan informasi tambahan jika memang terdapat kejadian yang tidak biasa, seperti kemacetan atau kecelakaan,  sehingga calon penumpang terinformasikan tentang adanya potensi keterlambatan. 

Papan informasi real-time ini merupakan hal yang paling jelas membedakan NCT dengan beberapa operator bus lain di UK, karena tidak banyak yang telah melengkapi bus stop-nya dengan alat ini.

Ketiga, dengan rute berjumlah 67 rute, hampir setiap lokasi di Nottingham dapat diakses dengan menggunakan NCT bus, memenuhi prinsip transportasi yang terintegrasi.

Keempat, NCT memberikan banyak opsi untuk membeli tiket, dari mulai pembelian tiket secara cash, melalui aplikasi, atau kartu berlangganan dari mulai harian, mingguan, bulanan, sampai tahunan, tergantung kebutuhan penumpang. Uniknya, jika dibeli secara cash, bus tidak menyediakan uang kembalian sehingga penumpang harus menyiapkan uang pas. Kebijakan ini dijalankan untuk mengurangi waktu terbuang karena sopir bus harus menyiapkan uang kembalian, yang jika terakumulasi dapat menyebabkan delay perjalanan.

Kelima, NCT dapat diakses oleh siapapun, termasuk para penyandang disabilitas, hal yang mungkin masih sulit dilakukan oleh TransJakarta. Tidak sedikit terlihat penyandang disabilitas (termasuk pengguna kursi roda) dan orang-orang lanjut usia yang bisa berpergian ke city centre dari rumahnya sendirian karena kemudahan transportasi. Sebuah bukti nyata keadilan bagi seluruh rakyat dalam bidang transportasi.  

Terakhir, NCT diklaim sebagai operator bus yang memiliki perhatian yang besar dalam keselamatan lingkungan, salah satunya adalah kampanye besar-besaran dalam mengkonversi bus yang digunakan menjadi bus berbahan bakar biogas dengan target 120 biogas bus pada tahun 2020.

NCT, tanpa embel-embel menerapkan sistem BRT justru telah berhasil menerapkan poin-poin utama dari sistem tersebut, mampu secara akumulasi menjadi armada transportasi yang memenuhi kebutuhan penumpang dari seluruh penjuru Nottingham ke pusat kota dan sebaliknya, dengan biaya dan akses yang mudah, serta reliable karena jumlah bus yang tersedia dan waktu kedatangan dapat diketahui oleh penumpang.

Bahkan, kinerja NCT yang sangat baik dalam hal pelayanan, mampu menggeser concern mereka pada goal yang lain, yaitu terkait lingkungan. Menunjukkan bahwa tanggung jawab mereka tidak hanya pada pencapaian pelayanan pelanggan yang baik namun pada hal lain seperti keselamatan lingkungan sekitar.

Lalu, mampukah TransJakarta bisa mencapai apa yang dicapai oleh NCT?

 

*) Penulis adalah Pegawai Tugas Belajar BPKP di University of Nottingham, Jurusan Risk Management.

Sebuah Refleksi: Mengambil Pelajaran dari Sistem Pendidikan Dasar di Negeri Ratu Elizabeth

Sebuah Refleksi: Mengambil Pelajaran dari Sistem Pendidikan Dasar di Negeri Ratu Elizabeth

Pendidikan tentu sangat berarti bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bahkan, pendidikan sering disebut sebagai salah satu investasi yang paling berharga bagi manusia. Ia menjadi modal dasar membangun kesejahteraan individu sampai pada tingkat negara.

Pentingnya pendidikan juga sangat dipahami oleh Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari proporsi yang sangat besar pada belanja APBN dan APBD di bidang pendidikan. Namun, anggaran besar saja tidaklah cukup tanpa diimbangi dengan program kerja yang jelas, termasuk bagaimana sistem pendidikan yang tepat dan berfokus pada stakeholders utamanya, para pelajar.

Mengukur bagaimana kini kualitas pendidikan di Indonesia, tentu juga memerlukan banyak aspek penilaian. Namun, sebagai gambaran, dapat dilihat posisi Indonesia dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 tentang kualitas sistem pendidikan. Dengan sampel 76 negara, Indonesia berada pada peringkat 69. Sementara itu, pada daftar peringkat yang sama, the United Kingdom (UK) berada pada peringkat 20.

Berbicara pendidikan, UK memang termasuk kiblat bagi siapapun yang ingin memperdalam ilmunya. Beberapa tahun belakangan, jumlah mahasiswa asal Indonesia semakin bertambah. Bahkan, mereka tersebar merata di seluruh kota besar di UK, yaitu Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Pendidikan Dasar

Sekarang, mari kita lihat lebih jauh pendidikan dasar di UK.  Pada level pendidikan dasar, di negara ini dikenal istilah early years education, atau dapat kita persamakan dengan pre-school di Indonesia, yaitu dengan usia anak belajar di antara 3-4 tahun.

Namun, masing-masing negara di UK memiliki peraturan yang berbeda. Contohnya, Inggris sejak September 2010 mewajibkan anak berusia 3-4 tahun untuk bersekolah selama 15 jam per minggu selama 38 minggu dalam satu tahun. Hal ini berbeda dengan di Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara yang tidak mengatur tentang jumlah jam belajar yang diwajibkan dalam satu tahun pendidikan.

Kemudian, ada reception class, yaitu adalah tingkatan di antara pre-school dan primary class. Pada level ini, anak berusia 4-5 tahun diwajibkan untuk bersekolah selama 6,5 jam per hari dari Senin sampai dengan Jumat setiap minggunya selama satu tahun kalender pendidikan, yaitu Agustus – Juli tahun berikutnya.

Pada tingkatan berikutnya, negara ini mengenal primary class, yaitu yang berisi anak-anak berusia 5-12 tahun. Mereka dibagi dua kelompok, yaitu umur 5-8 tahun (key stage 1) dan umur 9-12 tahun (key stage 2). Pada umumnya, tujuan utama dari pendidikan tingkatan ini adalah menyiapkan anak-anak sehingga mampu memiliki kemampuan dasar literatur dan hitungan, seperti science (ilmu alam dan social), matematika, dan pelajaran lainnya. Assessment atau ujian hanya diberlakukan pada akhir key stage 1 dan key stage 2.

Sebagai catatan, pendidikan pada tingkatan tersebut masih bebas biaya atau gratis. Anak saya yang kebetulan menemani saya menuntut ilmu di sini berkesempatan merasakan pendidikan level dasar. Proses ini yang cukup menarik bagi saya beserta istri saya dan mungkin layak saya share kepada pembaca.

Kami sampai di Inggris pada akhir bulan September 2016. Pada waktu itu,  belum banyak mengetahui informasi tentang bagaimana menyekolahkan anak di negeri ini. Pada pertengahan bulan Oktober, kami baru mulai mencari informasi tentang proses tersebut hingga mendapatkan informasi bahwa untuk mendapatkan sekolah harus melalui school admissions (SA) di city council, semacam dinas pendidikan di pemerintah kota/kabupaten di Indonesia.

Bagaimana prosesnya? Kami hanya perlu mengirimkan email, menjelaskan kami ingin menyekolahkan anak kami yang berumur kurang 5 tahun, dan jika diperbolehkan untuk masuk tahun itu juga mengingat kalender pendidikan sudah dimulai pada bulan Agustus 2016.

Dalam email tersebut kami juga menyampaikan alamat di mana kami tinggal. Beberapa minggu kemudian, respon kami terima. Pihak SA juga memberikan daftar sekolah yang bisa kami pilih, termasuk jaraknya dari rumah kami. Setelah mempertimbangkan itu, kami memutuskan memilih satu sekolah yang jaraknya paling dekat dengan rumah kami.

Singkatnya, dua hari kemudian anak kami sudah bisa masuk ke sekolah hanya dengan menunjukkan akta kelahiran dan paspornya, tanpa biaya apapun, tanpa ditanyai saya dan istri saya ini siapa. Semua hal yang ditanyakan hanya berfokus pada anak kami. Kendala bahasa tidak merupakan beban bagi pihak sekolah. Sebab, menurut mereka, anak kami akan mampu berbahasa Inggris dalam waktu yang tidak lama.

Lalu, bagaimana dengan perbedaan agama? Sekolah menyediakan makan siang gratis, tetapi kami sempat menolak karena pertimbangan kehalalan makanannya. Namun, dengan sabar pihak sekolah menjelaskan bahwa sekolah telah memisahkan makanan halal dan yang tidak. Sebab, selain anak saya, cukup banyak anak-anak lain yang beragama Islam, dan mereka kebanyakan anak-anak keturunan India, Pakistan, dan Bangladesh.

Lalu, bagaimana cara pengajar mengajari anak-anak itu? Satu kelas biasanya berisi 20-25 anak, dengan dua pengajar, yaitu satu pengajar utama dan satu asisten. Tidak ada paksaan anak harus bisa menulis atau membaca. Setiap aktivitas yang dilakukan dibungkus dengan permainan dan dilaporkan kepada orang tua si anak melalui aplikasi yang bisa diunduh di ponsel masing-masing. Pada setiap pertengahan semester dilaksanakan parent meeting, di mana pada pertemuan tersebut guru akan menjelaskan secara detail bagaimana kemajuan anak didik kepada orang tuanya.

Membandingkan dengan Indonesia

Tentu tidak bisa kita membandingkan begitu saja sistem pendidikan di Indonesia saat ini dengan yang kami alami di sini. Terlalu naïve. Hanya saja, sekelumit cerita kami ini rasanya mampu menjadi sedikit memberikan gambaran bagaimana pendidikan dilaksanakan di negara-negara lain, yang tentu telah diakui di level internasional memiliki sistem pendidikan yang baik.

Pada level pendidikan dasar tersebut, sistem pendidikan telah memikirkan dengan matang dari mulai berapa lama waktu yang diperlukan seorang anak di sekolah pada setiap tingkatannya sampai dengan apa yang perlu dipelajari oleh anak-anak tersebut, dan tak ketinggalan, bagaimana assessment yang tepat untuk mengetahui kemajuan belajarnya.

Pendidikan yang dapat diakses oleh seluruh anak Indonesia itu juga penting. Dengan sekolah gratis, misalnya. Namun, gratis saja tidak cukup, justru yang utama adalah kualitas pendidikannya.

Salam pendidikan!

 

 

Rat Experiment

Rat Experiment

Pernah mengunjungi taman tikus? Saya sendiri juga belum pernah. Ups…maaf maksud saya, pernah membaca tentang Rat Park Experiment alias percobaan taman tikus?

Beberapa waktu lalu saat mengikuti information session 3MT (three minutes thesis) competition, pembicara yang juga merupakan pemenang kompetisi presentasi thesis dalam waktu tiga menit tahun lalu bercerita tentang taman tersebut.

Saat itu ia, Gabi, mempresentasikan kembali thesisnya yang diinspirasi dari eksperimen rat park tersebut. Menarik, baik dari cara penyampaian maupun substansi. Dalam thesisnya, ia menggunakan logika eksperimen tersebut untuk membedah dampak judi. Ia mengambil topik tersebut karena dia juga ‘korban’ judi. Jeratan judi membuat hidupnya berantakan, kehilangan harta benda, nyaris bercerai, dan pernah mencoba bunuh diri.

Pengalaman hidup itulah yang mendorongnya mendirikan yayasan freeyourself yang kegiatannya membantu para pecandu judi. Di negara bagian Victoria sendiri 200ribu orang telah menjadi korban judi. Menurut salah seorang supervisor saya yang juga suka berjudi, meski tidak sampai tahap ketagihan, para korban judi hidupnya sangat mengenaskan. Ia bisa mengenali dari sorot mata mereka yang kuyu seolah tak ada harapan.

Suatu ketika saya sempat sampaikan bahwa di Indonesia ada yang pernah mengusulkan dibangun kawasan perjudian. Tapi ditolak masyarakat. Lalu, kalau korbannya begitu banyak Pemerintah Australia tidak melarang? It’s about money. Begitu katanya. Pemerintah mendapat banyak uang dari bisnis perjudian. Makanya judi tetap langgeng.

Gabi sendiri butuh waktu empat tahun keluar dari jeratan judi. Dari pengalaman pahitnnya menjadi korban judi, dia tergerak membuat satu program yang membantu para pecandu untuk bebas. Nama programnya Social Connection Program.

Program dan thesis Gabi diinspirasi oleh Bruce Alexander dengan risetnya yang sangat populer: Rat Experiment. Dalam eksperimennya dampak narkoba, tikus biasanya ditempatkan dalam sebuah ruangan sempit dan sendirian serta disediakan heroin dan air putih. Dari dua pilihan tersebut rupanya sang tikus memilih heroin. Tak berapa lama setelah mengkonsumsi heroin tikus pun mati akibat kelebihan dosis.

Sebagai alternatif, Bruce membangun rat park atau taman tikus untuk membuktikan bahwa heroin bukanlah candu. Luas rat park sekitar 200 kali sel yang biasa digunakan untuk percobaan sebelumnya. Di dalam taman tersebut ditempati 16-20 tikus, jantan dan betina. Taman tersebut juga dilengkapi dengan aneka permainan untuk tikus. Tak lupa, heroin dan air putih juga disediakan di taman tersebut.

Anda bisa menebak perubahan perilaku tikus yang terjadi? Tepat sekali. Ketika tikus ditempatkan di dalam taman yang dilengkapi aneka permainan dan ‘komunitas tikus’, ia lebih memilih air putih meski ada heroin disebelahnya. Tikus-tikus ini lebih suka bermain dengan teman-temannya. Berlarian, berkejaran, atau sekedar ‘bercengkrama’. Hingga akhirnya, tikus-tikus ini beranak pinak, damai tanpa kecanduan heroin. Tikus-tikus ini memang masih mengkonsumsi heroin, tapi sangat-sangat jarang mereka lakukan.

Bruce menyimpulkan bahwa kecanduan tidak disebabkan oleh heroin itu sendiri, tapi lebih kepada kondisi yang menyebabkan para tikus ini ‘terpaksa’ mengkonsumsi. Desain skinner box, kandang tikus, yang sempit, terisolasi, dan hanya ada dua pilihan ‘memaksa’ mereka menjadi pecandu. Sebaliknya kehidupan sosial dan keberagaman aktivitas yang ditawarkan oleh taman tikus dengan sendirinya menjauhkan mereka dari heroin.

Rat Park experiment ini tidak hanya digunakan untuk mengatasi kecanduan narkoba, tapi juga kecanduan judi, game, makanan, belanja, dan lain sebagainya. Kondisi psikologis seseorang lah yang, berdasarkan percobaan ini, menyebabkan seseorang kecanduan.

Terkait dengan judi, yang bisa dilakukan untuk mengatasi perjudian ini diantaranya dengan menjalankan program seperti yang dijalankan oleh Gabi, yaitu Social Connection Program. Dalam program tersebut para pecandu judi diajak untuk bersosialisasi melakukan beraneka ragam kegiatan. Jika terisolasi akan mudah sekali bagi pecandu itu untuk terjerumus lebih dalam. Sebagaimana pernyataan Gabi, peran keluarga dan sahabat sangat penting dalam membebaskan para pecandu.

Bagaimana dengan kecanduan gadget? Beberapa waktu lalu, saya sempat mendiskusikan soal ini dengan teman di salah satu grup. Kami mencoba mengkaitkan dengan jenis permainan yang digemari anak saat ini. Kebetulan saat itu ada salah satu teman yang memposting foto permainan anak era-90 an. Kami coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih suka memegang gadget. Sepertinya generasi 70, 80, dan 90 adalah generasi yang beruntung karena bisa menikmati aneka permainan anak yang menyenangkan.

Mengambil pelajaran dari rat experiment ini, apakah memang gadget merupakan candu? Bisa jadi tidak. Alasan anak memilih gadget mungkin sama dengan tikus-tikus yang ditempatkan dalam skinner box yang sempit dengan hanya pilihan heroin dan air putih. Ketiadaan alternatif kegiatan dan teman-teman sebagaimana generasi yang lahir sebelum 90an mungkin penyebab utamanya. Bisa jadi….

 

 

error: