Sebuah Refleksi: Mengambil Pelajaran dari Sistem Pendidikan Dasar di Negeri Ratu Elizabeth

Sebuah Refleksi: Mengambil Pelajaran dari Sistem Pendidikan Dasar di Negeri Ratu Elizabeth

Pendidikan tentu sangat berarti bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Bahkan, pendidikan sering disebut sebagai salah satu investasi yang paling berharga bagi manusia. Ia menjadi modal dasar membangun kesejahteraan individu sampai pada tingkat negara.

Pentingnya pendidikan juga sangat dipahami oleh Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari proporsi yang sangat besar pada belanja APBN dan APBD di bidang pendidikan. Namun, anggaran besar saja tidaklah cukup tanpa diimbangi dengan program kerja yang jelas, termasuk bagaimana sistem pendidikan yang tepat dan berfokus pada stakeholders utamanya, para pelajar.

Mengukur bagaimana kini kualitas pendidikan di Indonesia, tentu juga memerlukan banyak aspek penilaian. Namun, sebagai gambaran, dapat dilihat posisi Indonesia dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 tentang kualitas sistem pendidikan. Dengan sampel 76 negara, Indonesia berada pada peringkat 69. Sementara itu, pada daftar peringkat yang sama, the United Kingdom (UK) berada pada peringkat 20.

Berbicara pendidikan, UK memang termasuk kiblat bagi siapapun yang ingin memperdalam ilmunya. Beberapa tahun belakangan, jumlah mahasiswa asal Indonesia semakin bertambah. Bahkan, mereka tersebar merata di seluruh kota besar di UK, yaitu Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Pendidikan Dasar

Sekarang, mari kita lihat lebih jauh pendidikan dasar di UK.  Pada level pendidikan dasar, di negara ini dikenal istilah early years education, atau dapat kita persamakan dengan pre-school di Indonesia, yaitu dengan usia anak belajar di antara 3-4 tahun.

Namun, masing-masing negara di UK memiliki peraturan yang berbeda. Contohnya, Inggris sejak September 2010 mewajibkan anak berusia 3-4 tahun untuk bersekolah selama 15 jam per minggu selama 38 minggu dalam satu tahun. Hal ini berbeda dengan di Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara yang tidak mengatur tentang jumlah jam belajar yang diwajibkan dalam satu tahun pendidikan.

Kemudian, ada reception class, yaitu adalah tingkatan di antara pre-school dan primary class. Pada level ini, anak berusia 4-5 tahun diwajibkan untuk bersekolah selama 6,5 jam per hari dari Senin sampai dengan Jumat setiap minggunya selama satu tahun kalender pendidikan, yaitu Agustus – Juli tahun berikutnya.

Pada tingkatan berikutnya, negara ini mengenal primary class, yaitu yang berisi anak-anak berusia 5-12 tahun. Mereka dibagi dua kelompok, yaitu umur 5-8 tahun (key stage 1) dan umur 9-12 tahun (key stage 2). Pada umumnya, tujuan utama dari pendidikan tingkatan ini adalah menyiapkan anak-anak sehingga mampu memiliki kemampuan dasar literatur dan hitungan, seperti science (ilmu alam dan social), matematika, dan pelajaran lainnya. Assessment atau ujian hanya diberlakukan pada akhir key stage 1 dan key stage 2.

Sebagai catatan, pendidikan pada tingkatan tersebut masih bebas biaya atau gratis. Anak saya yang kebetulan menemani saya menuntut ilmu di sini berkesempatan merasakan pendidikan level dasar. Proses ini yang cukup menarik bagi saya beserta istri saya dan mungkin layak saya share kepada pembaca.

Kami sampai di Inggris pada akhir bulan September 2016. Pada waktu itu,  belum banyak mengetahui informasi tentang bagaimana menyekolahkan anak di negeri ini. Pada pertengahan bulan Oktober, kami baru mulai mencari informasi tentang proses tersebut hingga mendapatkan informasi bahwa untuk mendapatkan sekolah harus melalui school admissions (SA) di city council, semacam dinas pendidikan di pemerintah kota/kabupaten di Indonesia.

Bagaimana prosesnya? Kami hanya perlu mengirimkan email, menjelaskan kami ingin menyekolahkan anak kami yang berumur kurang 5 tahun, dan jika diperbolehkan untuk masuk tahun itu juga mengingat kalender pendidikan sudah dimulai pada bulan Agustus 2016.

Dalam email tersebut kami juga menyampaikan alamat di mana kami tinggal. Beberapa minggu kemudian, respon kami terima. Pihak SA juga memberikan daftar sekolah yang bisa kami pilih, termasuk jaraknya dari rumah kami. Setelah mempertimbangkan itu, kami memutuskan memilih satu sekolah yang jaraknya paling dekat dengan rumah kami.

Singkatnya, dua hari kemudian anak kami sudah bisa masuk ke sekolah hanya dengan menunjukkan akta kelahiran dan paspornya, tanpa biaya apapun, tanpa ditanyai saya dan istri saya ini siapa. Semua hal yang ditanyakan hanya berfokus pada anak kami. Kendala bahasa tidak merupakan beban bagi pihak sekolah. Sebab, menurut mereka, anak kami akan mampu berbahasa Inggris dalam waktu yang tidak lama.

Lalu, bagaimana dengan perbedaan agama? Sekolah menyediakan makan siang gratis, tetapi kami sempat menolak karena pertimbangan kehalalan makanannya. Namun, dengan sabar pihak sekolah menjelaskan bahwa sekolah telah memisahkan makanan halal dan yang tidak. Sebab, selain anak saya, cukup banyak anak-anak lain yang beragama Islam, dan mereka kebanyakan anak-anak keturunan India, Pakistan, dan Bangladesh.

Lalu, bagaimana cara pengajar mengajari anak-anak itu? Satu kelas biasanya berisi 20-25 anak, dengan dua pengajar, yaitu satu pengajar utama dan satu asisten. Tidak ada paksaan anak harus bisa menulis atau membaca. Setiap aktivitas yang dilakukan dibungkus dengan permainan dan dilaporkan kepada orang tua si anak melalui aplikasi yang bisa diunduh di ponsel masing-masing. Pada setiap pertengahan semester dilaksanakan parent meeting, di mana pada pertemuan tersebut guru akan menjelaskan secara detail bagaimana kemajuan anak didik kepada orang tuanya.

Membandingkan dengan Indonesia

Tentu tidak bisa kita membandingkan begitu saja sistem pendidikan di Indonesia saat ini dengan yang kami alami di sini. Terlalu naïve. Hanya saja, sekelumit cerita kami ini rasanya mampu menjadi sedikit memberikan gambaran bagaimana pendidikan dilaksanakan di negara-negara lain, yang tentu telah diakui di level internasional memiliki sistem pendidikan yang baik.

Pada level pendidikan dasar tersebut, sistem pendidikan telah memikirkan dengan matang dari mulai berapa lama waktu yang diperlukan seorang anak di sekolah pada setiap tingkatannya sampai dengan apa yang perlu dipelajari oleh anak-anak tersebut, dan tak ketinggalan, bagaimana assessment yang tepat untuk mengetahui kemajuan belajarnya.

Pendidikan yang dapat diakses oleh seluruh anak Indonesia itu juga penting. Dengan sekolah gratis, misalnya. Namun, gratis saja tidak cukup, justru yang utama adalah kualitas pendidikannya.

Salam pendidikan!

 

 

Rat Experiment

Rat Experiment

Pernah mengunjungi taman tikus? Saya sendiri juga belum pernah. Ups…maaf maksud saya, pernah membaca tentang Rat Park Experiment alias percobaan taman tikus?

Beberapa waktu lalu saat mengikuti information session 3MT (three minutes thesis) competition, pembicara yang juga merupakan pemenang kompetisi presentasi thesis dalam waktu tiga menit tahun lalu bercerita tentang taman tersebut.

Saat itu ia, Gabi, mempresentasikan kembali thesisnya yang diinspirasi dari eksperimen rat park tersebut. Menarik, baik dari cara penyampaian maupun substansi. Dalam thesisnya, ia menggunakan logika eksperimen tersebut untuk membedah dampak judi. Ia mengambil topik tersebut karena dia juga ‘korban’ judi. Jeratan judi membuat hidupnya berantakan, kehilangan harta benda, nyaris bercerai, dan pernah mencoba bunuh diri.

Pengalaman hidup itulah yang mendorongnya mendirikan yayasan freeyourself yang kegiatannya membantu para pecandu judi. Di negara bagian Victoria sendiri 200ribu orang telah menjadi korban judi. Menurut salah seorang supervisor saya yang juga suka berjudi, meski tidak sampai tahap ketagihan, para korban judi hidupnya sangat mengenaskan. Ia bisa mengenali dari sorot mata mereka yang kuyu seolah tak ada harapan.

Suatu ketika saya sempat sampaikan bahwa di Indonesia ada yang pernah mengusulkan dibangun kawasan perjudian. Tapi ditolak masyarakat. Lalu, kalau korbannya begitu banyak Pemerintah Australia tidak melarang? It’s about money. Begitu katanya. Pemerintah mendapat banyak uang dari bisnis perjudian. Makanya judi tetap langgeng.

Gabi sendiri butuh waktu empat tahun keluar dari jeratan judi. Dari pengalaman pahitnnya menjadi korban judi, dia tergerak membuat satu program yang membantu para pecandu untuk bebas. Nama programnya Social Connection Program.

Program dan thesis Gabi diinspirasi oleh Bruce Alexander dengan risetnya yang sangat populer: Rat Experiment. Dalam eksperimennya dampak narkoba, tikus biasanya ditempatkan dalam sebuah ruangan sempit dan sendirian serta disediakan heroin dan air putih. Dari dua pilihan tersebut rupanya sang tikus memilih heroin. Tak berapa lama setelah mengkonsumsi heroin tikus pun mati akibat kelebihan dosis.

Sebagai alternatif, Bruce membangun rat park atau taman tikus untuk membuktikan bahwa heroin bukanlah candu. Luas rat park sekitar 200 kali sel yang biasa digunakan untuk percobaan sebelumnya. Di dalam taman tersebut ditempati 16-20 tikus, jantan dan betina. Taman tersebut juga dilengkapi dengan aneka permainan untuk tikus. Tak lupa, heroin dan air putih juga disediakan di taman tersebut.

Anda bisa menebak perubahan perilaku tikus yang terjadi? Tepat sekali. Ketika tikus ditempatkan di dalam taman yang dilengkapi aneka permainan dan ‘komunitas tikus’, ia lebih memilih air putih meski ada heroin disebelahnya. Tikus-tikus ini lebih suka bermain dengan teman-temannya. Berlarian, berkejaran, atau sekedar ‘bercengkrama’. Hingga akhirnya, tikus-tikus ini beranak pinak, damai tanpa kecanduan heroin. Tikus-tikus ini memang masih mengkonsumsi heroin, tapi sangat-sangat jarang mereka lakukan.

Bruce menyimpulkan bahwa kecanduan tidak disebabkan oleh heroin itu sendiri, tapi lebih kepada kondisi yang menyebabkan para tikus ini ‘terpaksa’ mengkonsumsi. Desain skinner box, kandang tikus, yang sempit, terisolasi, dan hanya ada dua pilihan ‘memaksa’ mereka menjadi pecandu. Sebaliknya kehidupan sosial dan keberagaman aktivitas yang ditawarkan oleh taman tikus dengan sendirinya menjauhkan mereka dari heroin.

Rat Park experiment ini tidak hanya digunakan untuk mengatasi kecanduan narkoba, tapi juga kecanduan judi, game, makanan, belanja, dan lain sebagainya. Kondisi psikologis seseorang lah yang, berdasarkan percobaan ini, menyebabkan seseorang kecanduan.

Terkait dengan judi, yang bisa dilakukan untuk mengatasi perjudian ini diantaranya dengan menjalankan program seperti yang dijalankan oleh Gabi, yaitu Social Connection Program. Dalam program tersebut para pecandu judi diajak untuk bersosialisasi melakukan beraneka ragam kegiatan. Jika terisolasi akan mudah sekali bagi pecandu itu untuk terjerumus lebih dalam. Sebagaimana pernyataan Gabi, peran keluarga dan sahabat sangat penting dalam membebaskan para pecandu.

Bagaimana dengan kecanduan gadget? Beberapa waktu lalu, saya sempat mendiskusikan soal ini dengan teman di salah satu grup. Kami mencoba mengkaitkan dengan jenis permainan yang digemari anak saat ini. Kebetulan saat itu ada salah satu teman yang memposting foto permainan anak era-90 an. Kami coba bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lebih suka memegang gadget. Sepertinya generasi 70, 80, dan 90 adalah generasi yang beruntung karena bisa menikmati aneka permainan anak yang menyenangkan.

Mengambil pelajaran dari rat experiment ini, apakah memang gadget merupakan candu? Bisa jadi tidak. Alasan anak memilih gadget mungkin sama dengan tikus-tikus yang ditempatkan dalam skinner box yang sempit dengan hanya pilihan heroin dan air putih. Ketiadaan alternatif kegiatan dan teman-teman sebagaimana generasi yang lahir sebelum 90an mungkin penyebab utamanya. Bisa jadi….

 

 

Mencari Sisi Baik

Mencari Sisi Baik

Ohcome on…masak tidak ada satu hal positif pun yang kamu tau tentang negeriku?”

Saya masih mencoba berfikir keras mencari sisi baik negerinya. Sayang tak terlintas satu pun. Akhirnya, saya hanya tertawa dan mengatakan, “That’s all I know about your country”. Terselip rasa tidak enak, tapi apa daya. Saya hanya bisa menambahkan bahwa yang saya tahu mayoritas penduduk beragama Islam.

Seperti biasa, setiap kali berkenalan dengan orang baru, topik utama yang dibahas adalah negara asal. Ia yang memulai percakapan dengan menanyakan saya berasal dari mana, apakah saya muslim, apa yang saya lakukan di sini. Pembicaraan pun mengalir. Sempat saya jelaskan tentang Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa dengan berbagai ragam bahasa yang berbeda satu dengan yang lain.

Usai penjelasan singkat tentang Indonesia, tiba giliran saya bertanya balik. Rupanya ia berasal dari Pakistan. Baru tiga tahun ini tinggal di kota Melbourne. Saya coba memutar ingatan tentang apa yang saya tahu tentang negara tersebut. Saya tanyakan, siapa perdana menteri saat ini. Jujur, cukup lama tidak saya ikuti perkembangan berita tentang negara tetangga India tersebut.

Bisa dipastikan saat ia jelaskan tentang sang perdana menteri, saya hanya bisa berkomentar singkat: ooo…ditambah: I just know about Benazir Butho. Ia ceritakan pula tentang pergantian kepemimpinan termasuk beberapa kudeta yang terjadi. Langsung ingatan saya melayang pada pembicaraan dengan beberapa orang tua murid teman Ayla yang juga berasal dari negara yang sama. Kala itu, ia ceritakan carut marut perpolitikan dan polah tingkah para politikus di negara tersebut. Termasuk pertikaian-pertikaian antar kelompok yang sering terjadi. Belum lagi masalah listrik yang sering padam cukup lama. Sering dalam sehari listrik tidak menyala.

Cerita orang tua murid tersebut saya sampaikan kepadanya. Apa memang benar seperti itu kondisi negaranya. Ia akui. Namun, ia juga jelaskan bahwa saat ini sudah ada upaya-upaya perbaikan. Dari caranya menjelaskan saya bisa menangkap rasa optimismenya. Hingga akhirnya, ia lontarkan pertanyaan di atas yang hanya bisa saya jawab dengan senyuman.

Akhirnya, saya pun menyerah dan memintanya menjelaskan hal-hal positif tentang Pakistan. Ia pun menyebutkan sederet sisi baik negerinya, termasuk dalam hal IT dan militer. Aha…baru teringat bahwa selama ini sering mendapati komentar teman-teman, kalau mahasiswa China kebanyakan mendominisai jurusan IT di banyak universitas di sini, maka mahasiswa Pakistan banyak mendominasi bidang IT. Sedikit demi sedikit mulai nampak hal positif tersebut. Ahli IT Australia banyak yang berdarah Pakistan. Ah…entah mengapa saya terlupa. Sebaliknya, justru lebih meningat tentang mati lampu dan pertikaian dari pada IT expert.

Percakapan dengan warga Pakistan tersebut juga membuat saya ‘ngeh’ bahwa jumlah penduduk Pakistan sangat besar. Ia katakan, 200million atau dua ratus juta. Lagi-lagi saya hanya menjawab, really? Saya fikir hanya sekitar 60an juta. Ternyata hampir menyamai Indonesia. Dengan luas area yang jauh lebih kecil dari Indonesia, tentu kepadatan penduduknya sangat tinggi.

Usai pembicaraan baru terlintas: Aha…bukankah Nouman Ali Khan dan Yasir Qadhi juga dari Pakistan? Ya…dia memang layak bangga dengan negerinya. Sampai di rumah saya sempatkan menggoogling. Saya temukan nama Muhammad Iqbal, penyair terkenal yang salah satu judul bukunya menjadi nama komunitas MAKES (Al Markaz for Khudi Enlightening Studies) yang sering saya kunjungi tujuh belas tahun silam. Dari Wikipidia saya temukan juga Sadiq Khan, Mayor London yang pernah juga menjabat menjadi Menteri Transportasi Inggris. Dari situ pula saya dapati bahwa Pakistan menempati ranking enam sebagai negara dengan diaspora penduduk yang tinggi. Jumlah penduduk yang bertebaran di banyak negara tersebut berkontribusi terhadap pendapatan negara.

Masih ingat pelajaran sejarah jaman SMP tentang Mohenjo Daro dan Harappa? Lamat tapi pasti kedua nama tersebut cukup kuat terpatri dalam ingatan saya meski sudah lupa benda apakah itu. Mohenjo Daro adalah situs sisa pemukiman terbesar kebudayaan Lembah Sungai Indus yang terletak di Sind, Pakistan. Pada masa puncak kejayaannya, Mohenjo Daro adalah kota yang sangat maju di era 3300-1700 sebelum masehi. Peradaban kota ini juga disebut dengan ‘Peradaban Harrapa”. Wikipidia menyebut: Mohenjo Daro was the most advanced city of its time, with remarkably sophisticated civil engineering and urban planning. Wow….

Tinggalah saya dalam keterpanaan. Adakah saya juga hanya mengenal sisi-sisi buruk Indonesia? Smoga saja tidak…

 

 

12
error: