Menjadi Profesional Birokrasi Yang Proaktif

Menjadi Profesional Birokrasi Yang Proaktif

Tak ada orang yang dapat membuat anda merasa rendah diri tanpa seizin anda

                                                                                                —Eleanor Roosevelt

—-

 

Tidak semua orang yang memiliki visi besar mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan visinya dengan cara yang mereka inginkan. Visi perubahan terkadang lahir dari seorang pegawai biasa atau staf. Namun karena posisinya yang hanya sebagai staf –dengan atasan yang otoriter serta rekan kerja yang tak peduli, maka visi tersebut tidak bisa diaplikasikan secara sistemik di dalam organisasi, termasuk dalam organisasi birokrasi.

Saya mengenal seorang teman Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki pengetahuan manajerial organisasi yang mumpuni, dengan latar belakang sebagai aktivis mahasiswa dan se-abrek prestasi serta jaringan yang luas. Namun, dalam aktivitas kesehariannya sebagai staf di sebuah instansi, hanya karena posisinya sebagai staf, teman tersebut tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan, dia cenderung larut dengan rutinitas pekerjaan dan tradisi bekerja yang tanpa visi ke depan.

Mungkin Anda juga punya teman seperti itu. Jangan-jangan Anda salah satu dari sekian banyak orang yang saban hari sepulang kantor mendesah berat dan berujar:

Aku sudah tidak tahan lagi, tak ada yang mengetahui potensiku yang sebenarnya di kantor itu”.

Atau

Sungguh ini rutinitas yang sangat menjemukan.

Atau

Aku merasa terpenjara dengan pekerjaan ini dan sungguh aku tidak menikmatinya”.

Berbagai kalimat keluhan sejenis terlontar dari mereka yang pada dasarnya sebenarnya merupakan pribadi potensial dan berbakat.

Ujung-ujungnya, mereka menjadi manusia yang memiliki masa depan suram serta kehilangan semangat dan gairah kerja. Mereka tak pernah berhasil mencintai dan menikmati pekerjaannya sebagai akibat dari lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif. Mereka merasa bahwa atasan dan rekan kerja tidak mendukung, bahkan terkesan tidak menginginkan kehadirannya.

Apakah kondisi seperti itu merupakan sesuatu yang tidak bisa diubah? Apakah mereka yang merasa terpenjara tersebut tidak bisa melepaskan diri? Tentu saja kondisi seperti itu bukanlah derita yang tiada akhir. Kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang tidak memiliki jabatan prestisius di organisasi tetapi mampu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, bahkan bagi atasannya sekalipun.

Bagaimana dia melakukannya? Bagaimana kita mampu melakukannya? Bagaimana saya dan Anda bisa melakukannya? Anda, saya, dan siapapun Anda sangat tidak pantas untuk terjebak dan terperangkap dalam situasi kejenuhan akibat lingkungan kerja dan situasi pekerjaan yang tidak kondusif dan mendukung pencapaian tujuan.

Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan membebaskan pikiran kita, saya, dan Anda. Ya pikiran! Pikiran harus dibebaskan dari berbagai macam penjara dan kungkungan yang membuatnya merasa terjebak dan terperangkap. Rasa jenuh yang berkepanjangan, rasa tidak dihargai, dan rasa tak berarti hanya muncul dari pikiran yang terpenjara dan reaktif.

Pikiran reaktif akan membuat kita merasa tak bisa membebaskan diri dari lingkungan kerja yang tidak kondusif dengan berbagai argumen pembenaran. Kita membiarkan bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan pekerjaan yang menentukan suasana hati, perasaan, dan nuansa batin kita. Jadilah kita budak yang bekerja tanpa cita dan cinta.

Segera buang pikiran reaktif tersebut ke dalam tong sampah dan install cara berpikir proaktif dalam diri anda. Karena sesungguhnya, bukanlah bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan tumpukan pekerjaan yang memenjara kita, melainkan respon kita terhadap semua itulah yang membuat kita merasa tidak dihargai dan jenuh.

Sejarah telah membuktikan bagaimana pikiran yang proaktif merupakan kunci dalam menghadapi berbagai rangsangan negatif dari lingkungan yang tidak kondusif. Jangankan bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan tumpukan pekerjaan, kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II mampu dihadapi oleh Viktor Frankl, dengan menjadikan berpikir proaktif sebagai modal utama.

Dalam bukunya yang berjudul Mans Search for Meaning, Viktor Frankl menulis, “Kami yang pernah hidup di kamp konsentrasi masih ingat orang-orang yang berjalan dari barak ke barak menghibur sesama, memberikan kepingan roti terakhir mereka. Jumlah orang semacam itu memang hanya sedikit tetapi mereka membuktikan bahwa ada satu hal yang tidak bisa dirampas dari seorang manusia: kebebasan manusia yang paling dasar kebebasan untuk memilih sikap kita, bagaimanapun situasinya”.

Berpikir proaktif menunjukkan kepada kita bahwa selalu ada celah antara rangsangan yang datang dan respon yang kita berikan terhadapnya. Mungkin memang bos kita otoriter, rekan kerja kita tak peduli, dan pekerjaan kita menumpuk, tetapi kita tidak harus meresponnya dengan rasa terpenjara, tidak dihargai, dan tak bisa melakukan apa-apa. Manfaatkan celah yang ada untuk beraksi dengan lebih positif sebab sebagai manusia kita memiliki kesadaran diri, imajinasi, hati nurani, dan kehendak-bebas.

Dengan panjang lebar, Stephen R. Covey melalui bukunya The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan bahwa sebelum seseorang merespon sebuah rangsangan, maka dengan kesadaran diri yang dimilikinya, dia bisa memperhatikan dan bahkan menenangkan pikiran, suasana hati, dan perasaanya yang terkadang berbau reaktif dan emosional.

Lalu dengan imajinasinya, pribadi tersebut mencoba mengajukan alternatif respon yang bisa dipilihnya sebagai tanggapan terhadap sebuah rangsangan. Hati nurani berfungsi sebagai penyaring alternatif mana yang dipilih berdasarkan nilai yang dianut, dan kehendak bebas menjadi hakim yang menjadi pelaksana dari alternatif respon yang dipilih serta terbebas dari pengaruh luar.

Masihkan kita memilih untuk menjadi ASN yang selalu merasa jenuh dan terpenjara oleh situasi dan kondisi kerja yang sumpek? Masihkah Anda akan membiarkan bos Anda yang otoriter, rekan kerja Anda yang se­mau gue, atau pekerjaan yang seakan tiada habisnya menentukan diri anda?

Jawabannya terletak pada masing-masing kita, apakah kita siap berubah ke arah yang lebih baik dan melakukan perubahan tersebut, atau kita memilih bermasa bodoh dan menikmati rutinitas menjemukan itu lalu membiarkan visi perubahan kita layu sebelum berkembang!

 

Menulis adalah Menyembuhkan Diri Sendiri

Menulis adalah Menyembuhkan Diri Sendiri

Pengantar redaksi:

Menulis ternyata bisa menyembuhkan diri sendiri (self-healing). Karenanya, kita tidak bisa merendahkan manfaatnya. Penelitian menunjukkan bahwa menulis dapat membantu seseorang mengatasi tekanan dan trauma. Bahkan, menulis bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh seseorang.

Hal itu bukan karena kata-kata yang ditulisnya, tetapi karena energi positif yang mengalir dari pemikiran diri dalam bentuk susunan kalimat. Energi ini bisa menyembuhkan mental dan berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik seseorang, terutama ketika sedang mengalami suatu proses kegagalan, seperti diberhentikan dari pekerjaan, bercerai dari pasangan, ditinggalkan oleh keluarga yang dicintai, atau bagi para remaja, ketika ditinggal oleh pacar tercinta.

Ternyata, bagi mereka yang bekerja di instansi publik, menulis juga mempunyai peran penting. Utamanya, ketika mereka tidak lagi difungsikan oleh pimpinan instansinya. Ketika tsunami neo-liberal reform melanda Indonesia saat ini, tidaklah aneh jika kita melihat begitu banyak mereka yang tidak difungsikan di instansi publik. Bahkan, bisa jadi mereka sebelumnya berada pada posisi eselon 1 sebuah instansi.

Mereka tidak difungsikan bisa karena tiba-tiba pemimpin instansinya berganti. Sebelum reform melanda Indonesia, sebuah instansi publik bisa bertahun-tahun dipimpin oleh pejabat yang sama. Bahkan, sebuah instansi bisa dipimpin sampai pejabat tersebut pensiun di usia senjanya. Hal itu kini sulit terjadi. Sebab, dengan berbagai alasan, reform telah membuka peluang pemimpin sebuah instansi berganti dalam hitungan detik.

Selain itu, akibat neo-liberal reform ini tidaklah aneh jika kita melihat suatu fungsi yang tadinya informal di instansi publik diformalkan dengan membentuk sebuah struktur baru. Akibatnya, mereka yang sebelumnya berperan penting di posisi informal itu malah tidak difungsikan dan digantikan oleh orang baru, yang belum tentu kompeten.

Karenanya, setiap pegawai instansi publik bisa mengalami tekanan (tension) and konflik (conflict) karena ketidakpastian (uncertainty) akibat program reform itu. Namun, yang terpenting bagi aparat instansi publik adalah bukan tentang ketidakpastian itu, tetapi bagaimana kita mampu menyembuhkan diri akibat ketidakpastian itu dan membangun kembali diri kita dari titik terendah.

Menulis bisa membantu kita melakukan hal itu. Bahkan, menulis bisa membantu kita berperan lebih jauh. Artikel berikut membuktikan hal tersebut. Penulis menguraikan bagaimana pengalaman menulisnya dapat menjadi sebuah terapi diri yang juga akhirnya bermanfaat bagi dirinya dan menginspirasi banyak orang lain di sekitarnya.

Sebuah petuah lama menyatakan:

Sejauh mana keinginan, kesungguhan, dan kesabaran Anda, maka sejarah akan menuliskannya. Kemuliaan tidak diberikan secara cuma-cuma. Kemuliaan didapat dari kesungguhan dan diperoleh dengan pengorbanan (Dr. Aidh al-Qarni).

Petuah itu mengembalikan ingatan saya pada suatu peristiwa di awal Juli 2017. Sore itu, saya hendak terbang ke kota Yogyakarta. Menjelang pesawat take-off, saya sejenak terdiam di sudut jendela pesawat. Saya memandang jauh ke depan. Saya merenungkan tentang hal yang telah saya lalui dari perjalanan hidup sepuluh tahun terakhir.

Secara cepat, banyak hal yang saya ingat kembali. Terutama perjalanan awal mula saya menulis. Perjalanan ini dimulai ketika saya lengser dari redaktur majalah di sebuah instansi publik. Setelah dua tahun lebih mengelola majalah tersebut, saya harus rela melepaskan posisi penting redaktur karena adanya struktur formal yang dibentuk oleh instansi tersebut.

Lepas dari posisi redaktur itu tidak membuat saya rendah diri. Akan tetapi, malah mendorong saya untuk terus menulis. Beruntungnya, semangat saya menulis malah membuka jalan saya bertemu dengan beberapa tokoh penting di negeri ini, seperti bupati, wali kota, gubernur, dan menteri. Pertemuan dengan mereka telah memberanikan saya untuk menulis tentang mereka.

Ketika di awal-awal menulis buku para kepala daerah, saya merasa tulisan saya masih standar dan tawar, jika tidak dapat dikatakan buruk atau kurang berkualitas. Hanya karena modal nekat saja saya akhirnya mampu bertahan sekitar lima tahun menulis berbagai buku tersebut.

Namun, dari menulis para kepala daerah itu, saya mendapatkan pengalaman luar biasa. Saya secara langsung dapat berguru kepada para praktisi politik dan pemimpin masyarakat. Dari merekalah kemudian saya belajar banyak hal, terutama tentang kepemimpinan, motivasi, maupun gairah hidup (passion).

Setelah lima tahun berlalu, saya kemudian mendapatkan banyak pertemanan. Merekalah yang kemudian hari membantu saya dalam menuliskan buku tentang para kepala daerah. Tim kecil inilah yang senantiasa mendorong saya untuk tetap menulis dan berkarya. Mereka seakan tak pernah lelah mengingatkan saya bahwa menulis adalah pekerjaan mulia.

Di kemudian hari, saya tidak lagi menulis buku tentang para kepala daerah. Saya kemudian menulis buku motivasi. Sebagaimana pernah saya tulis, buku motivasi ini sebenarnya adalah catatan harian saya. Catatan motivasi untuk diri saya sendiri, dan sebenarnya bukan untuk memotivasi orang lain. Saya membukukannya karena merasa terdorong bahwa apa yang saya rasakan perlu dibagikan kepada orang lain. Karenanya, saya mengumpulkan tulisan-tulisan pendek itu dan menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Perjuangan menulis buku motivasi ini pun tidak kalah beratnya dengan menulis buku tentang para kepala daerah. Awalnya, banyak orang mencibir apakah saya bisa merampungkan buku di tengah kesibukan rutinitas saya sebagai birokrat. Ada juga yang mengkritik tentang kualitas tulisan saya. Bahkan, ada juga fitnah yang menohok sekali, seperti saya sekedar ingin menjual buku ketika bersedia mengisi suatu pelatihan.

Semua itu kadang membuat saya galau. Namun, tekad saya telah bulat untuk terus menulis. Cibiran mereka malah menjadi tambahan energi penguat tubuh saya. Ia ibarat jamu yang rasanya pahit saat dilidah, tetapi menguatkan tubuh saya saat larut di dalam tubuh.

Dalam menyikapi cibiran itu, saya berpandangan bahwa hidup ini bukanlah untuk berpikir dan mendengarkan banyak cibiran orang. Hidup itu adalah bertindak. Lebih baik bertindak daripada sekedar menggerutu. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Pandangan hidup itu kemudian mengantarkan saya melahirkan buku Birokrat Menulis. Buku itu cukup berhasil mengambil hati para birokrat. Banyak yang memperbincangkannya. Bahkan, buku tersebut telah mengantarkan saya bertemu dengan para birokrat hebat — yang juga mempunyai gairah yang sama dengan saya — di komunitas yang kebetulan namanya sama dengan judul buku tersebut, yaitu ‘Pergerakan Birokrat Menulis’.

Kelahiran buku Birokrat Menulis juga semakin menguatkan tekad saya untuk terus menulis. Saya terus bermimpi menjadi penulis hebat dengan bermodal nekat dan keteguhan. Pertemuan dengan para birokrat yang juga penulis hebat di Pergerakan Birokrat Menulis semakin menguatkan langkah saya untuk terus maju melangkah dan menikmati setiap rintangan yang ada.

Menjadi birokrat memang adalah panggilan negara untuk mengabdi pada negeri ini. Akan tetapi, menulis juga adalah panggilan hati untuk berkontribusi dalam mengubah tradisi birokrat saat ini agar tidak hanya sekedar menyibukkan diri sendiri dengan rutinitas dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Intinya, saya tidak ingin hanya sekedar menjadi birokrat yang menghabiskan waktu dengan rutinitas kerja tanpa inovasi, refleksi, dan bertindak.

Reform Leader Academy (RLA) yang baru-baru ini saya ikuti juga telah memberi inspirasi baru yang luar biasa. Saya merasakan ikatan yang kuat di akademi ini. Dari akademi ini, saya semakin menyadari bahwa kemajuan bisa dicapai dengan melakukan sinergi, bekerja dalam tim (team work), serta inovatif.

Saya yakin, pilihan saya saat ini untuk tetap menulis, selain sebagai birokrat, akan mengantarkan saya pada arah yang tepat. Saya bermimpi langkah ini akan menginspirasi para birokrat untuk mau keluar dari zona nyamannya.

Semoga semakin banyak birokrat yang terinspirasi untuk berkarya melalui tulisan di laman Pergerakan Birokrat Menulis yang nantinya akan menginspirasi anak negeri.

 

Taubatan Nasuha Para Birokrat  Akan Bermakna Kemenangan

Taubatan Nasuha Para Birokrat Akan Bermakna Kemenangan

Hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan. Teristimewa bagi para birokrat yang berhasil menundukkan hawa nafsunya dengan menjalankan Ibadah puasa di bulan Ramadhan. Inilah hari yang dinanti setelah sebulan berjuang melawan dahaga, lapar, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa.

Perilaku keseharian birokrat yang telah menggenggam kemenangan seharusnya mencerminkan ketaatan dan kesalehan. Kesalehan sebagai implementasi keyakinan dan amalan, yang terkristal menjadi kebaikan akhlak.

Akan tetapi, menjelang detik-detik terakhir Ramadhan, kabar menyesakkan dada justru bermunculan. Operasi tangkap tangan KPK terhadap sejumlah birokrat, baik dari kalangan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, merupakan paradoks yang luar biasa.

Sejurus dengan tulisan sahabat saya M. Sudarno tentang “Parodi THR“, diperlukan upaya ekstra keras dari segenap pemangku kepentingan republik ini. Dibutuhkan usaha nyata, tidak sekedar pencitraan atau slogan-slogan semu, dalam memberantas perilaku-perilaku menyimpang (koruptif) di  dalam ekosistem birokrasi.

Materialisme kolektif sebagai akar masalah

Tidak dapat dipungkiri, di dalam masyarakat kita, termasuk dari kalangan birokrat, mayoritas orang tua bercita-cita atau mengharapkan anak-anaknya menjadi pribadi yang sukses. Sayang sekali, ukuran kesuksesan tersebut masih didominasi dengan kesuksesan materi, baik berupa pangkat, jabatan maupun harta.

Walaupun ada segelintir orang yang sudah mulai bertransformasi kepada kesuksesan hakiki, tetapi mayoritas orang masih terpaku kepada parameter “duniawi” tersebut. Yang namanya sukses itu kalau pangkatnya tinggi. Yang namanya berhasil itu kalau jabatannya bergengsi. Yang namanya makmur itu kalau hartanya melimpah. Yang namanya terhormat itu kalau bisa bagi-bagi THR atau amplop di hari raya.

Materi memang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, ketika bermetamorfosis menjadi materialisme maka akan membelenggu jiwa para pekerja birokrat. Lebih parah lagi, ketika paham materialisme ini semakin tertanam di dalam sebuah komunitas, maka akan memunculkan materialisme secara kolektif.

Mengutip tulisan Emha Ainun Nadjib, berjudul Agamaterialisme, yang menyindir para penganut materialisme dalam sebuah paragraf:

Kehilangan martabat kemanusiaan tak masalah, asal tetap punya pekerjaan, bisa menghidupi keluarga dan memastikan kemakmuran. tidak punya harga diri pribadi, harga diri kemasyarakatan dan kebangsaan, itu bukan persoalan, karena yang utama adalah tegaknya materialisme dalam kehidupan di dunia.

Lebih lanjut lagi, Cak Nun menuliskan dengan garang:

Manusia dan bangsa jenis itu (penganut materialisme), benderanya adalah “anti kemiskinan” bukan “anti pemiskinan”, karena melihat kekayaan dunia sebagai benda, bukan sebagai bahan-bahan dalam tugas akhlak.

Ya, semua yang ada pada diri manusia adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan untuk mengejawantahkan esensi hakiki kemanusiaan sebagai khalifah di muka bumi ini. Begitu pula dengan para birokrat, mereka seharusnya menebarkan manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan di alam semesta. Sehingga, harta, pangkat, dan jabatan yang ada, haruslah memberikan kemanfaatan. Harta, pangkat, dan jabatan  tidak boleh kehilangan martabatnya, karena diperoleh dengan cara-cara yang memalukan.

Mungkin ada birokrat yang berdalih menjadi Robin Hood bagi komunitasnya, baik itu lingkungannya, masyarakatnya atau bahkan organisasinya. Mereka dengan enteng menggunakan kesempatan yang ada untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan. Tidak peduli anggaran yang mereka gunakan adalah uang rakyat.

Namun, jika Robin Hood di tanah Britania mengambil dari yang kaya dan membagikan untuk yang miskin, dan melakukan perlawanan terhadap tirani yang menindas rakyat, maka kelakuan mereka tersebut tidak seperti Robin Hood yang mereka dengung-dengungkan. Para birokrat tadi, seolah dermawan di mata komunitasnya, tetapi menggunakan dana negara yang dikemplang dengan berbagai cara, misalnya rekayasa pertanggungjawaban, atau lewat penerimaan gratifikasi, komisi/fee, suap dan sejenisnya.

Penggelembungan anggaran negara, rekayasa proyek pengadaan, atau bahkan pemotongan terhadap biaya perjalanan dinas atau honorarium, merupakan praktik jahiliyah yang masih terus berlangsung dan seharusnya sudah tidak boleh terjadi di republik ini.

Harta, pangkat, dan jabatan adalah amanah

Jika para pekerja birokrat semakin melupakan kesadaran hakiki mengenai kesuksesan yang berimplikasi kemanfaatan kepada pribadi, keluarga, dan masyarakat, maka semakin berkibarlah materialisme. Kawah candradimuka bulan puasa seharusnya menjadi lahan perenungan, menuju pengampunan Yang Maha Esa. Dahaga dan lapar di kala siang, sejatinya adalah simbol sebuah kearifan. Makanan dan minuman yang semula halal dinikmati setiap saat, akan menjadi penyebab hancurnya amalan puasa, manakala tidak dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Menikmati makanan dan minuman pun diatur. Pun halnya dengan harta, pangkat, dan jabatan yang diemban harus dikelola dengan kearifan yang luar biasa agar pemanfaatannya tidak menurunkan martabat sebagai pemegang amanah.

Harta, pangkat, dan jabatan, merupakan ujian bagi birokrat. Apakah bisa dimanfaatkan bagi kemanusiaan atau hanya semakin mengerdilkan arti kemanusiaan. Harta, pangkat, dan jabatan merupakan amanah, yang harus ditundukkan dalam menjalankan tata kelola pemerintahan, demi mewujudkan kemakmuran yang sesungguhnya. Setiap kepemimpinan akan mempertanggungjawabkan amanah yang dibebankan kepadanya.

Taubatan Nasuha

Para birokrat sungguh beruntung, karena sepanjang hayat masih dikandung badan, pintu taubat senantiasa terbuka untuk dimanfaatkan. Bagi yang menyadarinya, ada pintu Taubatan Nasuha yang merupakan taubat sesungguhnya. Sebuah rangkaian prosesi pertaubatan yang meliputi kesadaran penuh atas kekhilafan/kesalahan, diikuti upaya untuk memperbaiki diri dan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Pada hari raya Idul Fitri 1438 H ini, saatnya berbagi kesadaran dan tindakan nyata secara kolektif dan masif, mengikis materialisme yang dibingkai dalam ketamakan. Harta, pangkat, dan jabatan sebagai sebuah materi yang cukup berada dalam genggaman tangan para pengelola negeri, bukan sama sekali sebagai tujuan hati dan pikiran.

Tiada berguna harta melimpah, kalaulah tidak didapat dari sumber-sumber yang bersih dan bermartabat. Harta haruslah didapat dengan cara dan sumber yang benar, pun halnya juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang benar.

Tidaklah bermanfaat pangkat yang tinggi, kalaulah tidak memberikan nilai tambah positif bagi lingkungan. Pangkat yang tinggi haruslah memberikan tauladan segenap jajarannya, sekaligus memberikan pencerahan bagi masyarakat.

Tidaklah akan berkah sebuah jabatan, kalaulah diupayakan dengan cara-cara tidak prosedural. Percuma memperoleh jabatan strategis, kalau hanya akan dimanipulasi untuk kepentingan sesaat pribadi ataupun golongan. Jabatan strategis haruslah diemban oleh orang yang memiliki keahlian dan hati nurani.

Kesadaran maknawi

Kalau harta, pangkat, dan jabatan merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan yang tercela di masa lalu ataupun sekarang, maka perlulah ditinggalkan dalam rangka mengembalikan harkat dan martabat kemanusiaan. Berkubang dengan kotoran jiwa, tidak akan pernah memberikan ketenangan dan kedamaian. Bergelut dengan debu-debu dosa, hanya akan menambah masalah dan kerumitan hidup. Kini saatnya, kesadaran maknawi dibangun dalam segenap jiwa di republik ini.

 

Wahai ruh birokrat yang suci

Sudahkah kau lihat gumpalan racun ketamakan di hatimu?

Adakah harta, pangkat, dan jabatanmu telah membelenggumu?

Akankah hari-harimu hanya akan bergelimang kegundahan?

 

Wahai ruh birokrat yang suci ….

Ketika bedug bertalu dan pujian kebesaran berkumandang

Sudah kau bersihkankah raga dan pikiran dari segenap kotoran duniawi?

Mari sucikan hati, raga, dan pikiran sesuci ruhmu

Menuju kemenangan yang hakiki

 

 

Diklat Itu Bernama Puasa

Diklat Itu Bernama Puasa

Birokrasi merupakan salah satu aset bangsa yang terpenting. Pelaksana dari setiap kebijakan yang dihasilkan oleh negara untuk kepentingan rakyat. Sayangnya, birokrasi Indonesia masih dihinggapi berbagai macam penyakit yang membuat kontibusinya terhadap bangsa tidak maksimal. Dalam moment Bulan Suci Ramadhan ini, saya mencoba mengulas manfaat ibadah puasa bagi peningkatan kualitas pribadi seorang birokrat dalam membangun bangsa. Dengan harapan bisa dijadikan
sebagai bahan renungan.

—–

Di samping terjebak masalah yang bersumber dari dalam seperti rendahnya kualitas akibat proses rekrutmen, dan tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang minim, birokrasi kita juga mengalami berbagai masalah yang bersumber dari luar, seperti terbelit kasus suap atau jual beli jabatan, dipolitisasi, dikriminalisasi dan sebagainya.

Terbaru, dua kasus ‘razia’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kemendes PDTT dan Kejati Bengkulu seolah mempertegas kondisi tersebut. Itulah sepenggal episode miris dari cerita tentang pekerja birokrasi di negeri ini. Meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh negara, tetapi mereka juga menjadi alamat dari berbagai label buruk.

Upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas birokrasi telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Berawal dari reformasi politik di tahun 1998 yang menjadi pemicunya. Sayangnya, hingga hampir mencapai dua dasa warsa, hasil nyata reformasi birokrasi tersebut masih jauh panggang dari api. Jangankan untuk menjadikannya sebagai birokrat profesional penyeimbang politisi, untuk sekedar mencapai kedisiplinan yang normatif saja masih sulit. Malah, dari hari kehari manajemen birokrasi makin jauh terjerumus dalam belitan rezim aturan yang tak berujung.

Perangkat pendisiplinan berupa absensi fingerprint yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu idola pimpinan instansi. Tetapi kinerja PNS secara keseluruhan tetap tidak banyak berubah. Apakah ini gejala yang menunjukkan lemahnya program reformasi birokrasi kita? Ataukah karena perangkat-perangkat pendisiplinan itu tidak bekerja dengan baik?

Dalam momen istimewa bulan suci Ramadhan ini, sebuah proses diklat (pendidikan dan pelatihan) disediakan Allah secara gratis, sebagai salah satu instrumen pendisiplinan diri. Diklat itu bernama puasa. Diklat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM, dan bisa diakses di mana saja. Pilihannya, apakah Anda mau memanfaatkannya atau tidak?

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah:183).

Puasa bermakna menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, atau tidak melakukan segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar, hingga matahari terbenam. Hasil dari diklat sebulan bernama ibadah puasa itu adalah mewujudkan insan yang bertakwa.

Konsep takwa ini sangat kompleks. Menurut Fazlur Rahman (1983), takwa itu berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Di sini takwa dijelaskan keberadaannya berupa rasa takut yang muncul terhadap akibat-akibat perbuatan yang akan diterima, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Secara sederhana, takwa juga berarti kehati-hatian dalam menjalani hidup. Menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan, agar tidak menimbulkan akibat buruk bagi diri sendiri dan bagi orang lain yang ada hubungannya dengan diri kita. Akibat buruk ini tidak bisa sekedar ditelaah melalui kecerdasan intelektual. Akan tetapi juga dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Tidak hanya melalui nilai-nilai rasionalitas, akan tetapi juga nilai altruistik.

Prinsip kehati-hatian di dalam takwa bersifat aktif. Takwa menjadikan manusia aware terhadap apapun. Bahkan termasuk untuk urusan paling mendasar sekalipun. Di sini jelas terlihat bahwa hasil akhir dari takwa adalah manusia yang terjaga dari berbagai keburukan, baik yang datang dari dirinya sendiri, maupun yang datang dari luar dirinya. Dan yang paling utama, manusia tersebut tidak menjadi bencana bagi orang lain atau bagi lingkungannya.

Konsep takwa dalam agama kaffah ini, dengan demikian, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa muncul lewat tutur kata yang santun. Juga bisa lewat makanan atau nafkah yang halal. Takwa juga bisa mengejawantah dalam kejujuran dan sifat qanaah (merasa cukup), dan juga dalam menyikapi kemewahan dan jabatan tinggi.

Pertanyaan kritisnya, mengapa puasa bisa menjadikan kita bertakwa?

Dalam ritual puasa, kita berlatih mengendalikan kebutuhan paling penting dalam hidup. Kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Tetapi karena keimanan kepada Allah, maka kita melakukannya dengan penuh kesungguhan. Tanpa harus diawasi, tanpa perlu dikarantina. Dengan mengendalikan kebutuhan tersebut, akan terbentuk karakter pribadi yang kuat. Tidak gampang tergoda atau terjerumus hanya karena bujukan atau rayuan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Puasa juga melatih kita untuk berhemat. Dengan puasa kita menyadari, bahwa ternyata selama ini kita makan melebihi daripada apa yang sebenarnya kita butuhkan. Di luar bulan puasa kita biasa makan lebih dari tiga kali, tetapi di bulan suci ini, ternyata kita masih bisa hidup walaupun makan dan minum kita lebih sedikit dari biasanya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata selama ini kita terlalu banyak mengejar harta benda. Orang berpuasa, dengan demikian mampu mengikis sifat tamak dan serakah dalam dirinya.

Terakhir, puasa menumbuhkan empati. Pada saat kita berpuasa, kita diajarkan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bisa menikmati makanan secara rutin. Kalau puasa kita pasti bertemu makanan di saat berbuka, di tempat lain ada orang yang tak tahu kapan waktunya berbuka, atau akankah mereka sempat berbuka. Kepada merekalah empati kita tumbuh sehingga ada keinginan berbagi.

Orang yang berpuasa, bekerja memenuhi kebutuhan dirinya secara halal, baik cara memperolehnya maupun substansinya, tanpa merugikan orang lain. Orang yang berpuasa itu membiarkan nafkah terdistribusi secara wajar dan alami ke segala arah, tanpa dibelokkan ke tempat yang tidak semestinya.

Orang berpuasa itu tidak akan menguasai sumber daya tertentu dan mengambil seluruh manfaatnya tanpa menyisakan bagi orang lain. Orang berpuasa itu adalah tidak membuat dan menggunakan aturan untuk melegalkan perampasan atas hak orang lain.

Pendek kata, orang berpuasa itu menyelamatkan kehidupan, memakmurkan dan menyejahterakan, serta mendorong perbaikan, di manapun ia berada. Jadi, mengapa kita tak mencoba, apa diklat ini bekerja atau tidak terhadap birokrasi?

Wallahu a’lam bish shawaab.

 

 

Cara Jitu Mengatasi Problematika Pemerintahan

Cara Jitu Mengatasi Problematika Pemerintahan

Pemerintahan adalah serangkaian kegiatan berupa keputusan maupun tindakan yang sistemik dan terstruktur untuk mengelola sumberdaya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehebat apapun tata kelola pemerintahan, apabila kesejahteraan masyarakatnya tidak beranjak atau pergerakannya lambat maka patut diduga pemerintahan itu gagal.

Keterbatasan sumber daya dalam mengelola pemerintahan bukanlah alasan bagi pemimpin pemerintahan untuk berkelit. Karena sumpah jabatan dan karena eksistensinya sebagai yang terutama dari yang utama (primus interpares), pemimpin pemerintahan harus mampu menggerakan roda pemerintahan untuk mengejar ketertinggalan dan mewujudkan semua harapan masyarakat. Seberat apapun permasalahan yang dihadapi, pemimpin pemerintahan harus mampu memberikan solusi.

Pertanyaannya, bagaimana mengatasi problematika pemerintahan yang kompleks di tengah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia, alam, keuangan maupun yang lainnya? Sebuah pertanyaan substansial yang bisa kita jawab dengan pendekatan yang sederhana tapi mengena, yakni dengan cara mencari pengungkitnya.

Ibarat sebuah truk dengan beban 8 ton, tidak mungkin diangkat dengan alat yang lain kecuali dengan dongkrak yang beratnya hanya 5 kg. Kecil tapi bisa mengungkit yang besar. Demikian juga dalam mengatasi berbagai permasalahan pemerintahan, tidak sepatutnya kita menghambur-hamburkan anggaran di tengah kesulitan ekonomi. Kita harus mampu menemukan pengungkitnya.

Mulailah dengan menentukan satu masalah inti yang akan dijadikan pengungkit. Apabila masalah inti dapat diatasi maka masalah lainnya secara bertahap akan terurai dan pada akhirnya akan terselesaikan. Bisa jadi masalah inti yang dijadikan pengungkit tersebut bukanlah masalah besar, mungkin hanya masalah kecil tapi berdampak besar. Karena itu patokan utama dalam menentukan masalah inti adalah pengaruhnya, sejauh mana masalah tersebut mempengaruhi maupun dipengaruhi masalah lainnya.

Dalam sebuah sistem, termasuk sistem sosial, tidak ada permasalahan yang berdiri sendiri. Setiap persoalan selalu dan saling berkelindan erat dengan yang lainnya. Problematika pemerintahan adalah bagian dari permasalahan sosial. Janganlah berpikir parsial, melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang. Berpikirlah sistemik, satu persoalan dengan yang lainnya pasti ada benang merah. Satu dengan yang lainnya pasti saling terhubung. Mengungkit masalah inti, sejatinya mengangkat dan menyelesaikan permasalahan lainnya. Itulah cara jitu mengatasi problematika pemerintahan. (Jatinangor, Sabtu  11/03).

 

 

Indahnya Berpemerintahan

Indahnya Berpemerintahan

Mengelola pemerintahan itu sejatinya bukan hanya mudah, tetapi juga indah, selama kita melakukannya dengan melibatkan hati dan penuh cinta. Laksana sejoli yang sedang memadu cinta, bawaannya gembira, rela berkorban, berani mengambil resiko dan sarat kreativitas. Serasa dunia milik berdua, begitu kata pujangga.

Pun demikian dalam berpemerintahan. Tatkala pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan mengasihi, maka akan tumbuh gairah untuk saling menjaga dan menguatkan. Semua komponen akan gembira menjalani peran masing-masing walaupun banyak kesulitan, rakyat akan rela berkorban untuk suksesnya pembangunan, demikian juga dengan pemimpin akan merasa bangga mengambil resiko tertinggi demi kesejahteraan rakyatnya.

Jangan ditanya urusan kreativitas. Hadirnya hati dan cinta dalam berpemerintahan akan menstimulasi imajinasi pemimpin dan rakyatnya untuk melahirkan karya terbaik. Bahkan hal yang tidak mungkin sekalipun, dengan kreativitas bersama akan menjadi kenyataan. Terobosan-terobosan “gila” yang diluar nalar sekalipun akan bermunculan untuk mengejar kertinggalan.

John Kotter dalam bukunya “The Heart of Change” menyampaikan bahwa 70 % organisasi yang melakukan perubahan mengalami kegagalan karena hanya menggunakan “otak”, tanpa melibatkan “hati”. Hal tersebut bisa dipahami karena setiap perubahan, terlebih perubahan radikal, pasti membutuhkan energi lebih dan kesadaran ekstra.

Logika dengan kalkulasi dan keterukurannya tidak mungkin memenuhi hal demikian. Hanya hati yang bisa menjawabnya karena kedalaman rasa tidak ada batasnya. Disanalah kita akan menemukan indahnya berpemerintahan, disaat pemimpin dan rakyatnya memiliki energi lebih dan kesadaran ekstra karena hati dan cinta hadir diantara mereka.

 

 

error: