Elegi Riang Penikmat Rapat

Elegi Riang Penikmat Rapat

…hanya menjadi penikmat itu bisa beneran nikmat
karena boleh hanya melihat asal nikmat,
kita pun juga boleh memilih untuk tak terlibat.
Menjadi penikmat itu nikmat, kalau (benar) tidak tahu dan tidak mampu,
karena hanya bisa melihat, tanpa terlibat…

Prolog

Hari ini saya berbunga-bunga, hatinya. Bahagia bersemburat bangga. Betapa tidak, pagi ini tidak biasanya saya mendapat undangan dari divisi strategis kantor yang mengurus segala macam hal penting di negeri ini. Bukan undangan fisik, maaf, Anda yang membaca tulisan ini tentunya telah berada di era kehidupan baru yang tidak senormal dulu.

Bukan juga melalui melalui segala macam alamat email, maaf, kantor kami telah melengkapi diri dengan hasil inovasi perkantoran digital yang terkini hasil dari inovasi teruji. Inovasi yang berhasil menghimpun hampir seluruh dokumen fisik, baik yang keluar atau masuk dari kantor kami, menjadi lembaran-lembaran digital yang tinggal klik lalu ‘go live’. Simpel, modern, dan hemat, serta berwawasan lingkungan.

Pun juga bukan undangan langsung sebenarnya. Karena hari ini, kebetulan atasan dari atasannya atasan saya, kebetulan sedang menghadiri rapat penting lainnya. Dengan demikian, undangan itu ‘jatuhlah’ ke laman elektonik saya, tiga empat lapis di bawah tujuan yang harusnya. Tapi apapun ‘sejarahnya’, tetap tidak mengurangi ‘keren’-nya undangan itu untuk saya, lhoh, asli!

Di tengah ‘kesibukan’ merekap dan menyusun(kan) surat di unit saya setiap hari, saya akhirnya dipercaya mewakili unit kerja saya di rapat se-strategis itu. Meskipun itu kondisi memaksa, walaupun saya tidak yakin mereka yang menunjuk saya merasa terpaksa.

Tetap keren! (mohon di baca dengan mengimajinasikan dalam rupa font ukuran 32, style bold, dan spasi center).

Menurut saya.

Menjadi Wakilnya Para Wakil yang Mewakili Perwakilan

Pada saatnya, saya sudah siap dengan berbagai materi yang diperlukan. Dari disposisi, saya mulai mencari dan mengemas berbagai informasi dan data yang kira-kira akan ditanyakan dari unit kerja kami, apa saja yang mungkin diperlukan sebagai bahan masukan rapat. Apa saja, meski tetap sebatas kemampuan saya. Langkah yang sedikit pintar, menurut pengalaman saya.

Eh, maaf, meski ada di dekat posisi terujung lajur rantai makanan, kalau dianalogikan dalam mata pelajaran biologi dulu, saya masih diberikan kemampuan melihat, mendengar, dan (sedikit) membaca untuk menyiapkan sedikit bahan bekal rapat nanti. Adalah meski hanya satu dua lembar kertas dari berkas yang tersisa di PC saya untuk bahan bacaan, dan kalau beruntung, bekal memberikan masukan. Entah strategis atau teknis, yang penting saya siap.

Iya, yang penting siap. Toh lembar disposisi yang saya lihat tadi pagi cukup luas untuk saya tafsirkan. Cukup ringkas dan padat, bahkan dari atasan atasannya atasan saya, hampir tak bertambah satu kata penjelas di kalimat instruksinya. Hanya dua kata, hadir dan wakili dengan tanda koma di antaranya dan tanda seru pada akhirnya.

Saya tak perlu bertanya lebih, saya kira itulah kelebihan beliau-beliau yang terbiasa berpikir dan bertindak strategis dan taktis. Kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dalam kata-kata perintah. Terjemahnya, haruslah kita yang pintar mengartikan sebagai anggota yang (diharapkan) juga pintar. Sebagaimana dogma-dogma yang sering saya dengar dalam berbagai arahan dan rapat bersama.

Berani berinisiatif, penuh tindakan inovatif!

Jangan sering bertanya bagaimana menjalankannya, tapi berilah solusi untuk segera beraksi!

Kita aparatur yang harus peka terhadap dinamika masyarakat, tuntutan banyak,

harus lah cepat dan sigap!

Berpikir.

Dalam Putaran Rapat

Dan rapat di era kehidupan normal yang baru dimulai. Saling memandang layar instrumen teknologi, bersiap dengan baju rapi, dan mencoba bertahan dengan raut wajah yang tetap terjaga berkonsentrasi. Meski saya yakin, itu setengah mati.

Rapat dibuka oleh sejawat atasannya atasan saya dengan arahan pembuka yang bernas, tidak bertele-tele, dan memaparkan tujuannya dengan jelas. ‘Ini rapat penting!’ Itulah yang saya tangkap. Begitu pentingnya sehingga semua pihak, termasuk unit kerja saya, diundang untuk membahasnya.

Begitu pentingnya, sehingga layar PC saya harus digeser-geser dua atau tiga kali kalau berkeinginan melihat semua peserta yang hadir. Begitu pentingnya sehingga kami semua para peserta dikonfirmasi dan diberikan kunci masuk yang tentu tidak sembarang orang bisa memakainya sejenak sebelum rapat.

Setelah itu berbagai pemaparan pembuka disampaikan, tentang ini dan itu segala hal terkait pentingnya hal-hal penting yang dibahas dalam forum penting ini. Penting!

Sudah jelas ini rapat penting, yang syukurnya juga, saya telah berhasil membaca pesan tersebut ketika pertama kali membuka disposisi elektronik tadi pagi.

Satu putaran topik dilalui, tapi saya pikir ini belum bagian saya untuk turut berkontribusi. Meski saya paham tentang isunya, hasil dari mencuri dengar dan sedikit mendapatkan dari hasil pengarahan dalam rapat besar tempo hari. Namun demikian, dalam beberapa hal saya mempertimbangkan untuk tidak memberikan pendapat, meski beberapa kesempatan telah didapat.

Saya pikir itu bukan porsi saya, karena menyangkut pengambilan kebijakan yang bukan area saya. Sekali lagi, meski saya bisa, segala apa yang saya sampaikan mengatasnamakan unit kerja saya, nantinya akan membawa berbagai konsekuensi ke depannya. Dan itu pasti, di luar kewenangan saya.

Putaran kedua tak terasa sudah juga dilewati dan tentunya saya sangat nikmati. Perspektif-perspektif baru yang disampaikan para peserta rapat, seolah mengkonfirmasi beberapa pemikiran tentang bagaimana sebaiknya pelaksanaan topik penting dan strategis ini dijalankan.

Koordinasi lintas kewenangan, komunikasi intensif, dan rajutan-rajutan prosedur yang mendukung kebijakan, seolah menyadarkan saya betapa kecilnya kontribusi unit kerja saya selama ini. Pun juga kesadaran berbagai potensi upaya yang dapat dilaksanakan oleh unit kerja saya. Ini penting dan semakin penting!

Tapi saya harus merelakan beberapa kesempatan untuk berkontribusi, sekali lagi. Bukan soal dampak, namun kali ini tentunya berbagai hal yang sudah saya persiapkan dan serasa mencekat di tenggorokan, harus lah pelan-pelan kembali saya telan. Kali ini ide dan pemikiran saya, rasanya harus terlebih dahulu dibicarakan dengan atasan. Hampir saya terucap, namun sekelibat ingatan menghadap.

Beberapa hari lalu, saya berdebat keras dengan atasan, karena hal ini. Ada sesuatu yang saya pikir seharusnya bisa dilaksanakan, tapi entah kenapa urung terlaksana. Atasan saya masih menyimpan satu pertimbangan. Sementara untuk saya, sudah jelas baik dalam pemikiran, lisan, dan tulisan!

Masih ada dispute yang kalau saya paksakan, akan ada ‘pembunuhan’ karakter atasan saya di forum rapat ini. Dan itu pasti oleh saya, karena masukan dan pendapat pribadi saya. Saya mungkin tipe pegawai pengkhayal, tapi tetaplah loyal.

Sesi kedua pun lewat, saya kembali hanya jadi penikmat dan masih menjadi pencatat.

Tapi tentu saya tidak akan melewatkan sesi terakhir ini, karena terkait dengan hal-hal teknis yang saya banget. Iya, ini sesi saya. Berkali-kali saya tulis kalimat untuk masukan hasil dari pemikiran berbagai pelaksanaan tugas yang saya lakukan. Tentang bagaimana soal pengisian datanya, bagaimana mendapatkannya, dan tentang bagaimana menjadikan data yang dapat dibaca dan dimengerti. Itu mainan saya. Asli, saya bisa dan terbiasa.

Seperti mendung yang menggantung, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berayun menjatuhkan air. Saya sedang menyusun-nyusun kata pembuka, ketika tiba-tiba…..

“…baiklah, saya kira untuk hal-hal teknis seperti ini, agar dibicarakan di unit teknis-nya masing-masing sebelum nanti disampaikan para pimpinan, apa solusinya.

Kita catat terlebih dahulu masalahnya. Mari kita akhiri, saya kira rapatnya efektif…”

…suara sejawat atasan atasannya atasan saya tiba-tiba menyeruak di antara pembicaraan antara moderator rapat dengan beberapa pimpinan unit kerja lain, ketika mendiskusikan hal teknis yang saya banget. Rapat usai, pembahasan selesai. Sementara rangkaian kalimat calon usulan saya masih meninggalkan tanda koma.

Epilog

Apapun tetap saya nikmati, tetap saya syukuri. Meskipun tidak jadi berucap, rapat tadi sungguh bermakna bagi diri, seolah menancap menjadi penanda di hati. Perspektif, pelajaran, dan pemikiran baru ada dalam benak tertata tegak. Saya tetap terima, meski sedikit menyesal karena melewatkan beberapa kesempatan.

Kesempatan untuk menyatakan saran yang urung digunakan. Banyak pertimbangan untuk melakukan, tepat tanpa kewenangan dan delegasi yang mengikat, rasanya saya bukan orang yang tepat. Tanpa arahan dan instruksi yang jelas tentang harus melakukan apa dan berkata apa, rasanya cukup fair kalau saya memilih untuk hanya jadi penikmat rapat serta hanya menjadi pencatat.

Bersyukur karena justru timbul motivasi dan keinginan kuat. Bila nanti di posisi atasanku saat ini, tentu aku akan memberikan arahan yang tepat dan presisi ketika meminta bawahan dari bawahannya bawahan saya untuk menghadiri rapat seperti ini.

Bila nanti aku di posisi atasan atasannya atasan saya, tentu saya akan memberikan panduan yang tepat tentang bagaimana harus berpendapat pada tempat dan saat serta momentum yang tepat. Arahan yang dapat menjadi panduan yang jelas tentang bagaimana kontribusi harus diberikan, ketika seseorang ditugasi mewakili.

Arahan yang menghilangkan keraguan tepat-tidak tepat, salah-tidak salah, sesuai-tidak sesuai, yang membuat seorang wakil terantuk pada keraguan yang menggumpal. Arahan yang menguatkan, bukan membingungkan. Arahan yang memberikan kepercayaan, sebagai penghargaan.

Bersyukur lagi karena pengalaman memberikan motivasi. Andai saya jadi pengundang dan pemimpin rapat, yaitu sejawat dari atasan atasannya atasan saya, akan saya berikan peringatan pada pimpinan yang diundang, tujuan dan maksud adanya rapat, biar yang datang juga dengan bekal yang tepat.

Andai seperti sejawat atasan atasannya atasan saya, akan saya jelaskan bahwa yang dimaksud strategis itu adalah satu prioritas sehingga tidak menjadi abai atau diabaikan. Andai saya di posisi puncak akan saya koordinasikan dan komunikasikan dengan jelas apa yang kita semua akan tuju dan harapkan. Andai saya di puncak pimpinan, saya akan bicara tegas dan lugas, apa yang saya harapkan.

Tapi tentunya akan saya lakukan nanti, kalau saya diberikan mandat pada posisi itu pada saatnya.

Itu pun kalau saya tidak lupa.

…masih di Bekasi, 22 Juni 2020, waktu check out pada presensi WfH…

4
0
Enam Prinsip Melekatkan Gagasan di Benak Orang Lain

Enam Prinsip Melekatkan Gagasan di Benak Orang Lain

Suatu hari di pertengahan tahun 2020, kepada saya diberikan waktu sangat terbatas untuk menyampaikan gagasan inovasi yang telah saya buat. Waktu yang diberikan hanya 15 menit dan itulah satu-satunya kesempatan saya men-deliver gagasan di kepala saya ke benak para pendengar. Dalam dunia bisnis, kesempatan ini seringkali disebut dengan pitching. Yaitu suatu kesempatan mempresentasikan ide bisnis dalam waktu singkat di hadapan para calon investor dengan harapan mencuri perhatian mereka dan mendapatkan pendanaan modal. Tujuannya, untuk memulai atau meningkatkan kinerja perusahaan.

Di keseharian kita pun, kesempatan ini seringkali tiba-tiba muncul. Kita dihadapkan pada situasi serba cepat dan mendadak untuk menyampaikan gagasan yang ada di kepala kita agar mudah dimengerti oleh lawan komunikasi kita.

Lantas Bagaimana Caranya?

Dalam buku Made to Stick karya duo penulis dari Harvard University dan Stanford University, disebutkan setidaknya ada enam prinsip utama yang harus kita penuhi agar gagasan kita dapat ditangkap dan melekat di benak orang lain. Penulisnya, Chip Heath dan Dan Heath, kemudian menjabarkan keenam prinsip dalam buku tersebut.

Saya akan mengelaborasi keenam prinsip tersebut satu per satu secara singkat, disertai contoh konkret. Saya pun telah mempraktikkannya dalam kompetisi pemilihan Pegawai Berprestasi Nasional di instansi tempat saya bekerja. Sebagai gambaran, instansi tersebut merupakan  salah satu Instansi Pemerintah Pusat dengan jumlah pegawai lebih dari 6000 orang. Kompetisi itupun semakin menantang ketika saya berhasil melaju dari 15 besar menjadi 5 besar.

Oleh karena itu, saya berharap penjelasan ini akan lebih mudah dipahami, sebab prinsip di atas sangat penting dalam menunjang karir profesionalitas kita – baik di birokrasi maupun di luarnya.

Sederhana

“Jika Anda mengatakan tiga hal, berarti Anda tidak mengatakan apa-apa!”

Sederhana yang dimaksud adalah poin utama gagasan yang harus dikemas secara padat. Kita harus memilih dan memformulasikan gagasan besar kita, yang jika dijabarkan dapat menjadi berhalaman-halaman naskah narasi, menjadi hanya satu kalimat inti. Penyederhanaan ini membuatnya lebih mudah disampaikan.

Di masa overload information seperti sekarang ini, orang ‘tidak punya cukup waktu dan space’ di benak mereka untuk menyimak keseluruhan paparan panjang gagasan kita. Jika kita dihadapkan pada sepuluh pesan, benak kita akan susah menangkap semuanya dalam waktu singkat. Satu pesan terkuatlah yang melekat di benak kita dan meninggalkan kesan setelahnya.

Sebagai contoh, saya memiliki sebuah gagasan inovasi proses bisnis dan teknologi yang dapat mengumpulkan semua data penting terkait kegiatan penanggulangan COVID-19 oleh pemerintah. Aktivitas ini tersebar di berbagai instansi dan lokasi. Sehingga, kehadiran inovasi bertujuan untuk kemudian menampilkan rangkuman kinerja dalam sebuah tampilan informatif dan sederhana.

Harapannya, dengan menampilkan data secara realtime dalam sebuah dashboard, para pemimpin daerah dan pengambil kebijakan dapat memutuskan dengan cepat, lalu mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara tepat di tengah situasi yang tidak menentu dan mudah berubah. Saya kemudian memformulasikan gagasan yang diberi nama MRRP itu menjadi sebuah kalimat:

“MRRP adalah aplikasi online yang mampu menyingkap kabut gelap penanggulangan COVID-19 dengan biaya murah, cepat, dan memudahkan pengguna.”

Tak Terduga

Gagasan yang tak terduga lebih mungkin untuk diingat karena kejutan membuat kita memerhatikan dan benak kita berpikir. Efek kejut ini juga yang membuat sebuah gagasan terpatri di benak pendengar.

Dalam kasus saya, saya mengajukan kombinasi “Murah, Cepat, Berkualitas” sebagai efek kejut. Kondisi umum meyakini bahwa tiga indikator tersebut tak bisa disandingkan secara bersamaan.

Jika murah dan cepat, maka tidak mungkin berkualitas. Jika murah dan berkualitas, maka tidak bisa dikerjakan dengan cepat. Dan jika cepat dan berkualitas, pasti harganya tidak murah.

Efek kejut ini yang kita manfaatkan untuk mencuri perhatian pendengar dan ‘memaksa’ mereka untuk terus memerhatikan penjelasan lanjutan atas gagasan kita.

Konkret

Ini salah satu jebakan banyak orang saat menyampaikan gagasan. Kita selalu terseret pada formulasi abstrak atas gagasan kita. Memang benar, semua gagasan bermula dari kondisi abstrak di pikiran kita. Namun, di sanalah tantangannya. Kita dituntut untuk menjadikannya konkret dan dapat dirasakan oleh panca indera lawan bicara kita. Sebab, konkret itu mudah diingat.

Gagasan di awang-awang menjadikan apa yang ingin kita sampaikan berisiko ditangkap berbeda oleh yang menerimanya. Membuatnya konkret, menjadikan suatu gagasan tampak lebih objektif untuk siapapun. Konkret adalah menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi sebuah objek.

Mana yang lebih Anda ingat antara definisi “kebenaran” dengan definisi “buah semangka”? Apapun definisi kita, orang hampir mudah sepakat mengatakan sesuatu adalah buah semangka daripada sesuatu hal masuk kategori kebenaran atau tidak. Benar, kan?

Dalam kasus saya, konsep, proses bisnis, benefit, dan kerangka kerja saya sederhakan dan konkretkan menjadi sebuah aplikasi yang siapapun bisa dengan mudah memahami apa yang saya maksud.

Kredibel

Apa yang membuat orang mempercayai suatu gagasan? Jawaban singkatnya adalah karena yang menyampaikannya memiliki kredibilitas terkait gagasan tersebut.

Sebagai contoh, kita akan lebih mudah percaya bahwa sebuah restoran memiliki masakan yang enak jika Pak Bondan sudah pernah mengatakannya maknyus. Akan berbeda jika Mas Ahmad Dhani yang mengatakannya ueenaak. Sebaliknya, kita lebih percaya bahwa suatu lagu itu bermutu saat Mas Ahmad Dhani sudah memberikan jempol pada lagu tersebut, tetapi kita mungkin masih akan skeptis dengan penilaian Pak Bondan.

Kredibilitas ini dapat dibangun dengan kredibilitas diri sendiri. Maka kita perlu untuk menjaga dan mengelola kepercayaan dan kompetensi kita pribadi. Bagaimana jika belum memiliki?

Ada strategi yang disebut dengan social proofing. Yaitu, testimoni positif atas suatu ide kita, yang akan menambah kredibilitas suatu gagasan.

Saya sendiri memanfaatkan betul strategi ini. Saya mengumpulkan apresiasi dan testimoni dari berbagai pihak yang lebih berkompeten untuk menilai gagasan saya. Ini tentu dapat menjadikan kredibilitas gagasan yang saya sampaikan semakin baik.

Emosional

Peneliti dari Carnegie Mellon University pernah melakukan riset kepada responden saat dihadapkan atas dua peristiwa berbeda, yakni:

a) Lebih dari 11 juta orang di Ethiopia mengalami kelaparan dan memerlukan bantuan dengan segera; dan

b) Seorang anak bernama Rokia di Mali mengalami ancaman dan kelaparan yang luar biasa. Dengan bantuan finansial Anda, nasib Rokia akan menjadi lebih baik dan membantu pembiayaan pendidikan Rokia.

Para peneliti memberikan surat berisi salah satu cerita tersebut ke dalam amplop dan meninggalkan mereka untuk kemudian mengisi dengan donasi yang mereka inginkan.

Hasilnya, amplop dengan isi cerita Rokia mendapatkan rata-rata donasi lebih banyak daripada amplop berisi informasi 11 juta orang di Ethiopia sedang mengalami kelaparan.

PR-nya, bagaimanakah cara menciptakan gagasan yang emosional agar melekat di benak pendengar? Cara termudah adalah menggunakan teknik asosiasi.

Kita harus mengidentifikasi isu apa yang paling penting di benak pendengar gagasan kita dan kemudian mencari hubungannya –  mengasosiasikan dengan gagasan yang ingin kita sampaikan. Kita harus menyampaikan ide kita dengan perspektif apa yang penting buat pendengar, bukan apa yang penting buat kita.

Saat terjadi asosiasi atas apa gagasan yang ingin kita sampaikan dengan sesuatu yang penting menurut perspektif pendengar kita, maka akan muncul pengaruh emosional yang membuat mereka memberikan atensi pada gagasan kita.

Dalam kasus saya, saya menyampaikan bahwa gagasan yang saya bawa ini benar-benar sesuai dengan apa yang tengah menjadi isu utama instansi yang menjadi panitia pemilihan pegawai berprestasi. Saya memformulasikan asosiasi penuh dengan kebutuhan organisasi sehingga gagasan saya lebih mudah melekat di benak pendengar.

Cerita

Tak bisa dipungkiri, kita lebih senang mendengarkan cerita daripada mendengarkan teori-teori tanpa konteks. Sebuah cerita dapat membangkitkan imajinasi mental dan lebih membuat orang larut daripada hanya potongan-potongan informasi.

Steve Jobs pun menggunakan teknik bercerita saat menyampaikan presentasi peluncuran iPhone pertama kali, dalam hampir keseluruhan sesi. Suatu presentasi mendapatkan banyak pujian dan menjadi rujukan bagaimana seharusnya mempresentasikan sesuatu dengan baik. Kuncinya adalah story telling.

Sejak kecil kita sudah terlatih mendengarkan dongeng dan senang mendengarkan cerita. Saat bergosip pun, kita mendengarkan cerita yang membuat larut.

Epilog

Dalam menyampaikan gagasan, lima prinsip awal di atas harus mampu kita ramu menjadi suatu cerita pendek untuk disampaikan kepada pendengar. Unsur sederhana, tak terduga, konkret, kredibel, dan emosional harus menjadi suatu rangkaian cerita utuh yang kemudian disampaikan kepada pendengar. Sekali lagi, agar gagasan kita melekat di benak orang lain.

Bukankah tulisan ini pun saya awali dengan cerita, dan saya bungkus dengan cerita, sehingga Anda membaca sampai akhir sini? Dan dengan menggunakan strategi ini juga, sehingga pada akhir kompetisi, saya terpilih menjadi Juara 2 Pemilihan Pegawai Berprestasi tingkat Nasional. Alhamdulillah… Segala puji bagi Allah SWT.

Untuk memudahkan, silakan gunakan Idea Hacks Canvas yang telah saya susun hasil dari formulasi teori yang dikemukakan dalam buku Made to Stick ini. Dengan canvas ini, Anda akan semakin mudah memetakan gagasan, untuk kemudian menjadikannya cerita utuh yang melekat di benak pendengar Anda.

Download gratis di sini.

4
0
Menjadi Berarti itu Sangat Berarti

Menjadi Berarti itu Sangat Berarti

“…mutasi dan promosi merupakan hal yang biasa bagi suatu organisasi, untuk itu saya ucapkan selamat menjalankan tugas di jabatan yang baru, selamat beradaptasi dan terus belajar di lingkungan baru…”

Kalimat ini seolah menjadi mantra wajib para pimpinan organisasi pemerintahan ketika kegiatan pelantikan pejabat baru selesai dilaksanakan. Kalimat yang terdengar klise terutama untuk para petugas protokoler dan upacara kedinasan suatu instansi pemerintah.

Selalu Siap

Berulang dan berulang terus di setiap kegiatan, hanya berganti pembuka, intonasi, dan dialek dari masing-masing pemimpin tertinggi dalam kegiatan pelantikan tersebut. Kalimat yang, entah benar-benar terdengar, atau hanya selintas terdengar di telinga para pegawai dalam jabatan barunya, campur baur dengan kebahagiaan (karena dilantik) atau kekalutan (karena dipindah dari zona nyaman-nya) yang melintas cepat dalam angannya masing-masing.

Kalimat yang biasanya menutup proses pelantikan serta mengantar para pejabat dalam posisi barunya, yang kadang tanpa harus ada persetujuan, mau atau tidak. Hanya satu jawaban singkat, ‘SIAP’!, dengan keyakinan suatu dogma jalanan bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang bersiap.

Mutasi, rotasi, promosi, dan bahkan demosi, adalah suatu keniscayaan dalam suatu organisasi. Tugas baru dan lingkungan baru adalah cara pembelajaran yang ditawarkan organisasi bagi pengembangan pegawai demi kepentingan organisasi.

Saya dan Anda, harus sepakat dalam hal ini, terutama pada kalimat kedua, yakni “demi kepentingan organisasi”. Itu yang seharusnya, dan juga sebaiknya, mutasi, rotasi, promosi, dan demosi merupakan kepentingan organisasi. Bukan kepentingan yang lainnya. Meski tetap saya harus memberi pernyataan disclaimer, ceteris paribus!

Dengan kepercayaan pada kepentingan organisasi itulah, kalimat penutup tersebut dapat dimaknai sebagai penyemangat pejabat lama (yang digeser) dan pejabat baru agar berkinerja semakin baik. Baik untuk dirinya sendiri, dan baik terutama untuk organisasinya.

Sayangnya kalimat di atas itu bukan merupakan penutup, tetapi justru pembuka tulisan ini, yang bagi saya seperti nasihat khotib sholat Jum’at yang berwasiat tidak hanya untuk para jamaah, tetapi justru terutama nasihat untuk dirinya sendiri.

Kenyataan Tak Seindah (dan Semudah) yang Dibayangkan

Berada di lingkungan baru (hampir) selalu menjadi tantangan bagi sebagian besar orang. Entah dalam posisi harus memimpin atau dipimpin dalam suatu birokrasi, perpindahan lingkungan memerlukan proses adaptasi yang menguras sumber daya. Sumber daya memang tidak harus selalu berarti uang, meskipun hal tersebut juga kadang sering terkuras untuk mendukung promosi dan mutasi. Sumber daya bisa berarti curahan kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan lingkungan kerja.

Kompetensi baru yang harus segera dapat dikuasai, penyesuaian cara komunikasi, dan penyesuaian diri, menjadi tantangan-tantangan yang harus dikelola dengan penuh kesungguhan dan penuh energi!

Sependek karir saya di birokrasi, sudah seringkali mendengar keluh kesah kesusahan dari rekan dan sahabat tentang lingkungan baru, jabatan baru, rekan kerja yang baru, dan pimpinan baru. Tentang bagaimana susahnya memasuki semua hal yang baru.

Hal baru yang sejatinya mungkin tidak benar-benar baru, karena toh mungkin masih satu lantai, dalam gedung yang sama, dalam organisasi yang sama. Teman-teman yang sulit diajak untuk bekerja sama (atau mungkin yang mengajak yang seharusnya belajar cara mengajak untuk bekerja sama) sebagai tantangan yang harus dihadapi.

Ada juga keluh kesah tentang atasan yang susah untuk diteladani dan diikuti (atau mungkin kita yang harus belajar menjadi bawahan yang patut dan bahkan dinanti setiap pimpinan untuk dipimpin). Atau mungkin keterbatasan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (yang mungkin saja kita yang harus di-up grade cara pengelolaan sumber daya yang terlihat terbatas).

Sentral dari berbagai kekhawatiran tersebut, bisa jadi ada di diri kita. Kita yang mungkin harus berubah, bukan ekosistem kita, bukan rekan kerja kita, atau mungkin juga bukan pimpinan kita. Hal yang dirasakan pada saat pertama kali kita memasuki suatu lingkungan baru karena konsekuensi dari mutasi dan teman-teman sejenisnya.

Kita yang harus bekerja lebih keras, yang mungkin lebih menderita, lebih sakit, lebih lelah, dan lebih yang lainnya, untuk dapat masuk dan kemudian menjadi berarti bagi suatu lingkungan baru.

Menjadi lebih berarti, mungkin bukan frasa yang cukup keren, tapi mungkin lebih dari cukup untuk menjadi awal bagi kita menjadi motor perubahan ekosistem ‘baru’ kita, suatu saat ini. Menjadi ‘berarti’ bermakna bahwa kita adalah cukup penting bagi jalannya sebuah ekosistem.

‘Cukup berarti’ adalah pilihan kata-kata, yang saya rasa, cukup mewakili kondisi realistis atas segala upaya kita sebagai ‘orang baru’ dalam suatu lingkungan yang telah terlebih dulu established.

Pilihan kata ‘cukup’ yang tidak hanya bermakna seadanya, melainkan berarti lebih dari itu. ‘Cukup’ boleh dianalogikan sebuah mur yang melengkapi baut dalam konstruksi mesin. ‘Cukup’ boleh juga dianalogikan sebagai botol air bekal perjalanan dalam perjalanan panjang di padang gersang. ‘Cukup’ itu bermakna bermanfaat dalam kondisi normal, namun sesungguhnya sangat vital dalam realitanya.

Harapan awal kita cuma cukup berarti, paling tidak untuk meminimalkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan pada saat kita menginjak suatu lingkungan baru.

Bila Tetap Tak Seindah yang Dibayangkan

Sependek karir saya di birokrasi pula, sudah seringkali saya mendengar keluh kesah tentang keputus-asa-an bila kenyataan bekerja tetap tidak seindah yang diharapkan. Rekan, sahabat, dan sejawat datang bercerita tentang keinginan berhenti untuk bertahan.

Banyak variabel disampaikan, yang tentu bukan wilayah saya untuk menilai apakah benar dan salah. Suatu kondisi yang bukan menjadi wiayah kita untuk menggugat sebuah pilihan keputusan, karena kendali seluruhnya ada di  rekan, sahabat, dan sejawat saya.

Memilih berhenti bertahan atau tetap bertahan, itu hak pribadi bila tak kunjung fit dengan ekosistem baru. Semua pilihan, bahkan ketika berhenti pun, akan menghadirkan tantangan baru dan pengorbanan yang baru.

Dalam dialog tersebut, biasanya saya kembali pada pertanyaan tentang kesiapan diri sendiri. Biasanya variabel diskusinya akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia lawan dialog. Idealisme mungkin pertanyaan mendasar untuk level usia dan pengalaman tertentu. Dialog akan semakin kompleks pada akhirnya, ketika banyak variabel yang dipertimbangkan, dalam kapasitas yang sudah semakin bertambah.

Apapun pilihannya, meninggalkan organisasi atau tetap tinggal, tantangan yang konstan adalah bagaimana kita dapat mempertahankan ‘kelas kinerja’ kita. Apapun jabatan baru, medan tugas kita, siapa rekan kerja kita, bahkan siapa pun pimpinan kita, penting untuk mempertahankan kelas kinerja kita tetap yang terbaik.

Dalam promosi, hal ini menjadi mudah untuk dipahami. Karena ‘kelas kinerja’ kita di atas rata-rata, asumsi ceteris paribus alias semua normal adanya. Ketika kita di’anugerahi’ jabatan baru di atas jabatan lama kita, sudah hampir pasti karena ‘kelas kinerja’ kita yang di atas rata-rata rekan sejawat.

Pun demikian ketika kita dialihkan ke lingkungan kerja yang baru, tanpa promosi, dengan hati yang jernih dan penuh dengan pikiran positif, dapat dengan lebih ringan menyatakan, mungkin ‘kelas kinerja’ akan lebih cocok dan mungkin akan meningkat di lingkungan kerja yang lain. Namun untuk demosi, maaf, saya tidak punya analogi, meskipun mungkin diterima dengan pikiran positif, tapi itu pasti berat.

Sampai dengan pilihan tetap di tempat, menghadapi, atau beralih ke ekosistem baru, adalah sepenuhnya di diri kita. Tetap tidak mungkin bagi kita untuk memilih siapa pimpinan kita. Pun ketika kita berada di pucuk pimpinan organisasi, karena toh masih ada pucuk-nya lagi.

Tidak mungkin kita menggantikan seluruh rekan sejawat kita dengan orang-orang yang barangkali dianggap lebih cocok dengan kita. Tidak mungkin juga kita mencoba menggantikan seluruh anak buah kita, apalagi dalam konteks organisasi pemerintahan, dengan orang-orang pilihan sesuai kriteria kita.  Tidak mungkin, pun ketika kita memilih beralih wadah dan organisasi!

Pada akhirnya tantangannya adalah sama, pertama tentang bagaimana mengelola diri kita sendiri sebelum melihat yang lain. Bagaimana kita mengelola kinerja kita, agar dapat menempatkan diri sebagai sesuatu yang berarti di mana lingkungan kita berada. Pilihan untuk tetap atau beralih akan menghadapi hal yang sama, percayalah!

Jangan harapkan di lingkungan baru, orang-orang yang belum begitu mengenal Anda akan bersuka-cita merima Anda. Pun juga, orang-orang lama yang telah mengenal Anda di lingkungan yang terdahulu, tidak akan menerima Anda suatu saat nanti ketika menjadi lebih mengenalmu.

Semua serba belum tentu, seperti halnya toko-toko dengan tagline besar ‘satu harga’, yang kenyataannya tetap saja banyak harga di dalamnya. Jadi tetaplah berpikir jernih sebelum bertindak, meski boleh saja berkeluh kesah.

Jangan harap orang-orang menjadi seperti kemauan Anda, tunjukkan saja siapa diri Anda dengan prestasi Anda!

Epilog– Form is Temporary, Class is Permanent

Ah, sudahlah, seperti saya tulis di awal, tulisan ini layaknya khutbah di sholat Jumat, mewasiati umat dan yang terpenting diri kita sendiri. Saya masih juga berproses memahami semuanya, seberat rekan sejawat dan sahabat yang beberapakali curhat tentang hal yang mungkin saya sendiri alami.

Satu hal yang saya lakukan adalah membesarkan hati dan menyemangati diri, toh semua pada akhirnya ada ujungnya. Kita hanya berupaya menghias ujungnya, dengan kemenangan dan kebanggaan, atau menjadi pecundang.

Ah, sudahlah capek, layar laptop saya sudah mulai menayangkan hiruk pikuk dalam stadion menyanyikan chant kebanggan tim-nya dalam lautan penonton berbaju merah. Sedetik saya melihat slogan yang menggambarkan persis seperti yang saya pikirkan, “Form is temporary, Class is Permanent”.

Kita akan dinilai berdasar kinerja kita, di manapun kita berada. Kita tidak berhak memilih lingkungan, kita yang harus memilih untuk mewarnai lingkungan dengan kinerja kita. Kita hanya mempertahankan ‘kelas kinerja terbaik’, paling tidak sebagai bentuk harga diri dan kebanggaan diri.

Ah, sudahlah… “….walk  on, walk on, you’ll never walk alone…”

….di tengah keriuhan ‘kantor’ kala WfH, Bekasi, 17 Juni 2020 09.22. WIB….

6
0
Selamat Hari Raya, Birokrat Menulis!

Selamat Hari Raya, Birokrat Menulis!

Tiada kata seindah doa
Tiada ikatan seindah persahabatan
Walau raga tak bersua karena kita di rumah saja
Namun suka cita hari raya Idul Fitri
tetap menjadi penyemangat di tengah pandemi

Dalam karya kita bercengkerama
Dalam tulisan kita menjalin persahabatan
Dari balik layar kami tersenyum
Menyematkan harapan pada para birokrat Indonesia
Yang setia mengabdi demi bangsa dan negara

Di tanganmu kami letakkan asa
Perjuangan kita takkan pernah sia-sia
Membuka mata, hati, dan pikiran
Lewat tulisan, lewat kata-kata

Wahai kawan,
Selamat merayakan lebaran
Selamat berbahagia bersama keluarga
Meski sebagian di antara kita harus terpisah jarak dengan mereka
Percayalah ini hanya sementara
Karena sejatinya, keluarga itu jauh di mata – dekat di hati

Merayakan kemenangan dalam hening
Tetap menghadirkan kekhidmatan
Serta harapan akan kehidupan
Dalam gemerlap bintang dan indahnya bulan

Mohon maaf atas segala khilaf

Dari meja redaksi,
atas nama
Keluarga Birokrat Menulis di seluruh penjuru nusantara

1
0
Satu Bulan Bekerja Di Rumah:  Sebuah Catatan Reflektif

Satu Bulan Bekerja Di Rumah: Sebuah Catatan Reflektif

Suatu ketika saya pernah meragukan bahwa aktivitas bekerja mampu saya jalani bersamaan dengan pelibatan keluarga di dalamnya. Semenjak saya berkeluarga, saya selalu berusaha memisahkan secara tegas urusan berkenaan dengan tugas-tugas saya di kantor dengan tanggung jawab saya sebagai orang tua di rumah.

Saya memang begitu fokus bekerja ketika berada di kantor, tapi saya pun akan memberikan totalitas hidup saya bagi keluarga saya selepas jam bekerja usai. Namun, satu bulan yang lalu, tepatnya sejak pertengahan Maret 2020, ritme kehidupan saya berubah total.

Aktivitas bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) membuat saya harus sepenuhnya mampu menjalankan kedua peran yang saya miliki secara bersamaan, pada waktu yang batasan antara keduanya, nyaris hilang.

WFH pada akhirnya tidak sekadar mengubah keseharian saya dalam beraktivitas, namun juga mengonstruksi ulang pandangan saya tentang apa itu bekerja.

Suasana Rumah

Jika sebagian orang mampu bekerja di rumah dengan waktu-waktu yang terjadwal oleh karena suasana keluarga yang relatif kondusif, maka “kemewahan” tersebut tidak sepenuhnya bisa saya dapatkan di awal saya menjalani aktivitas bekerja saya di rumah.

Bagaimana tidak, saya adalah ibu dengan dua anak laki-laki yang sedang bertumbuh aktif dengan segala problematikanya. Anak tertua saya, adalah bocah 7 tahun yang juga memiliki kewajiban belajar di rumah (School From Home/SFH). Sedangkan adiknya, balita yang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi banyak hal.

Suami saya, seorang tenaga kesehatan yang di masa pandemi ini, jauh dari kenyamanan layaknya kaum pekerja lain yang dapat bekerja di rumah dengan gawai dan perangkat digital mereka. Ia tetap harus bertugas di tempat kerjanya selama 6 hari dalam satu minggu. Terbayangkan bagaimana kepadatan hari-hari saya di rumah sejak aktivitas WFH resmi diberlakukan.

Dengan demikian, saya harus mampu membagi waktu yang saya miliki, untuk menjalankan semua peran secara bersamaan, yakni sebagai wanita bekerja, ibu yang mendampingi anak-anak saya belajar, dan juga istri bagi suami saya.

Waktu pagi saya banyak tersita untuk menyiapkan segala keperluan rumah layaknya sarapan, makan siang, menyiapkan anak-anak, membersihkan rumah serta berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. Menjelang siang, saya baru dapat mengerjakan tugas-tugas kantor sambil mendampingi anak tertua saya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Sedangkan anak kedua saya, biasanya mulai bermain dengan pengasuhnya, walau tidak menjamin suasana bekerja saya menjadi benar-benar kondusif. Seringkali ia merengek ikut masuk ke dalam ruang kerja saya, bertengkar dengan kakaknya, atau memaksa ikut mendengarkan rapat-rapat online yang saya lakukan. Anak-anak yang dalam masa di mana rasa ingin tahu akan banyak hal, menjadi bagian dari kesehariannya.

Catatan Reflektif

Setelah menjalani dua minggu bekerja di rumah, saya dilanda kelelahan hebat dan merasa jenuh menjalaninya. Saya merasa seolah tak mampu melakukan semuanya sekaligus setiap hari. Mungkin itu bagian dari kebiasaan saya yang selama ini selalu ingin memisahkan dua hal tadi, dengan tujuan agar fokus pada masing-masing kegiatannya.

Namun perlahan, setelah melewati masa dua minggu, saya mulai menemukan pola bekerja menyenangkan, yang justru mengubah pandangan saya tentang apa itu bekerja.

Saya semakin menikmati rutinitas dan kepadatan hidup saya dari hari ke hari, dengan keluarga, rumah, dan tugas-tugas kantor yang tidak juga berkurang. Saya merasa perlu untuk selalu bersikap dan berpikir positif dalam segala hal.

Mungkin itu pula yang membuat semakin hari, rutinitas hidup saya terasa semakin menyenangkan, dan membuat saya lebih banyak bersyukur mampu menjalaninya. Saya pun membuat catatan reflektif dari aktivitas keseharian saya selama satu bulan ini.

Pertama, jika di banyak diskusi yang saya ikuti menyimpulkan bahwa aktivitas belajar dari rumah (School From Home/SFH) yang dijalankan di masa pandemi ini dalam praktiknya justru membuka segala permasalahan dan kekurangan dari kesiapan sistem pendidikan kita saat ini.

Hal serupa juga berlaku pada aktivitas bekerja saya di rumah. WFH membuka banyak kekurangan saya sebagai orang tua, sekaligus perempuan pekerja. Saya berefleksi terhadap peran saya selama ini dan menyadarkan saya tentang bagaimana seharusnya saya menyeimbangkan urusan keluarga dan kepentingan saya bekerja.

Melalui WFH, saya semakin mampu memahami karakteristik kedua anak saya, suami saya, memahami kondisi rumah saya, dan juga menyadari kekurangan saya selaku pegawai selama saya beraktivitas di kantor.

Dari sana, saya mampu mengelola berbagai kekurangan tersebut secara bertahap, demi memastikan semua hal dapat tetap berjalan sesuai dengan yang seharusnya. WFH benar-benar membuat saya mampu berefleksi.

Kedua, WFH mengajarkan saya konsep merdeka bekerja yang sesungguhnya. Saya diberikan fleksibilitas pola dan pendekatan bekerja untuk tetap berorientasi pada tujuan bekerja itu sendiri.

Saya terlatih untuk mengelola emosi, konsentrasi, dan juga mengoordinasikan waktu yang saya miliki dengan menakar kebutuhan dan kapabilitas pribadi saya, dengan tetap berorientasi pada pencapaian hasil kerja yang harus tertuntaskan pada setiap harinya. Otonomi dan kepercayaan penuh yang diberikan kepada saya dalam bekerja membuat saya kreatif memanfaatkan berbagai perangkat dan pendekatan dalam bekerja.

Ketiga, WFH mengubah rutinitas bekerja saya yang tadinya mekanistik menjadi lebih humanis. Sebelum WFH diterapkan, setiap harinya, lebih dari 12 jam saya habiskan waktu saya di luar rumah, tentu saja 4 jam di antaranya adalah perjalanan pergi dan pulang dari rumah dan kantor. 

Hal itu yang kemudian menjadikan aktivitas bekerja saya bersifat mekanistik, berulang setiap hari layaknya mesin yang mengerjakan rutinitas yang sama sepanjang waktu. Namun, WFH ini mengubah segala keseharian saya tidak lagi menjadi rutinitas yang sama setiap harinya.

Saya bisa saja bekerja mengurus rumah dan keluarga hingga menjelang siang dan baru mampu bekerja selepas makan siang hingga sore, tetapi juga seringkali bekerja di pagi hari dan baru akan mengurus hal-hal di luar tugas kantor di siang hari atau menjelang malam.

Saya terbiasa bekerja sambil mendampingi belajar anak-anak saya, membantu menyelesaikan tugas sekolah, atau sekadar menemani mereka bersepeda di luar rumah. Banyak fleksibilitas yang membuat saya semakin humanis dan melupakan sejenak pola-pola mekanistis saya dalam bekerja selama ini.

Keempat, WFH justru memberikan banyak peluang bagi saya untuk mencari dan memanfaatkan sumber belajar lain, serta bertemu lebih banyak orang di luar aktivitas bekerja saya di kantor. Saya berkesempatan mengikuti beberapa diskusi online, bedah buku, diskusi-diskusi terbatas atau sekadar mengakses berbagai buku dan bahan bacaan yang tersedia cuma-cuma di banyak media.

Jika dulu saya hanya mampu membaca buku di sela-sela perjalanan saya dari dan menuju kantor di dalam kendaraan umum yang saya naiki, maka kali ini, saya dapat bebas memilih kapan saya perlu dan mau membaca.

Hal yang sama juga dengan menulis. Menulis menjadi bagian terpenting dari waktu-waktu saya bekerja, karena memberikan banyak hal baik bagi diri saya selepasnya.

Epilog

Bekerja di rumah seringkali memang terasa melelahkan dan memangkas banyak konsentrasi kita tentang banyak hal. Saya sempat merasa tidak produktif ketika saya bekerja di rumah.

Namun, satu hal yang saya syukuri atas aktivitas bekerja satu bulan belakangan ini adalah bahwa bekerja di rumah membuat saya semakin mampu bersikap reflektif dan positif. Begitu pula seharusnya dengan banyak orang di luar sana.

4
0
Birokrat Menulis, Mengapa Tidak?

Birokrat Menulis, Mengapa Tidak?

Jika anda ingin mengenal dunia, membacalah. Jika anda ingin dikenal dunia, menulislah!
(Armin Martajasa)

 

Menulis, dalam era komunikasi dan teknologi yang serba canggih saat ini, merupakan instrumen komunikasi yang paling ampuh dalam mengirimkan pesan, memberikan pemahaman sekaligus meningkatkan citra profesionalisme pegawai terhadap organisasinya.

Dengan menulis yang baik, akan terjadi transfer of knowlegde yang baik. Knowledge transfer itu sendiri merupakan sebuah prasyarat sebuah organisasi – termasuk organisasi pemerintahan – untuk terus bertransformasi menjadi sebuah organisasi yang profesional, yaitu yang mampu mendukung pengembangan kompetensi baik bagi para personilnya maupun bagi organisasi tersebut sebagai sebuah kesatuan.

Bagi penulis, seorang birokrat yang mengabdikan diri dalam bidang pengawasan intern pemerintah, menulis menjadi sebuah aktivitas wajib bagi profesi pengawasan. Dalam institusi kami, setiap bentuk penugasan dari sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban tidak bisa dilepaskan dari tulisan.

Ya. Menulis bagi auditor atau pengawas memang menjadi bentuk representasi dari kegiatan profesinya. Salah satunya dalam hal mendokumentasikan setiap detil pekerjaan. Suatu hari – misalnya, bisa jadi catatan-catatan sederhana yang dibuat itu akan menjadi bukti penting di pengadilan.

Selain itu, dalam hal output hasil pengawasan, menulis juga akan memberikan manfaat secara tepat sasaran. Karena pihak-pihak yang dikomunikasikan akan dapat lebih memahami posisi masing-masing dan dapat segera membenahi kondisi yang dirasakan kurang baik dari hasil pengawasan ini.

 

 

Birokrasi dan Kekakuan Dalam Penulisan

Sebagai birokrat, kita seringkali berada dalam lingkungan yang serba formal dan protokoler, termasuk dalam hal menulis. Maka tulisan yang dibuat para birokrat pun cenderung kaku. Banyak digunakan kata-kata formal dan penghalus seperti kata-kata ‘sehubungan’, ‘dalam rangka’, ‘sekiranya’, ‘perkenan’, dan sebagainya.

Tidak mengherankan jika kemudian banyak kita temukan kalimat-kalimat yang panjang dan membosankan dalam laporan di area birokrasi. Satu paragraf bisa lebih dari lima baris dengan hanya satu kalimat. Membuat sesak nafas orang yang membacanya.

Kerangkanya pun dibakukan lagi dalam pedoman semisal Tata Naskah Dinas. Kekakuan ini seringkali menjadi implikasi adanya template yang sudah dijadikan standar. Katanya, guna memudahkan kompilasi.

Tidak ada yang salah dengan standar penulisan. Memang seperti itulah birokrasi. Birokrasi adalah mesin dalam organisasi. Kekakuan itu menjadi wajar. Karena, birokrasi cenderung menginginkan keseragaman, standarisasi, dan kontrol, guna memudahkan mobilisasi arah komando.

Tapi bagaimana dengan menulis bebas yang membutuhkan improvisasi dan tidak memiliki pedoman baku? Di sini lah, karena dunia yang berbeda, birokrat seringkali angkat tangan. Maka, birokrat yang cenderung kaku perlu berlatih dan kembali membiasakan diri untuk menulis. Yaitu, mempelajari bukan saja bagaimana teknik dan tips menulis yang cepat dan baik, tetapi juga kesalahan apa saja yang sering dijumpai dalam penulisan.

Sebagai contoh di organisasi yang menaungi penulis, para pegawai BPKP pun harus dapat memberikan manfaat dari hasil pengawasan yang dilakukannya kepada masyarakat luas. Menulis menjadi wahana berbagi dan menunjukkan eksistensi kontribusi bagi negeri.

Meskipun begitu, komunikasi melalui penulisan kepada umum, baik sebagai berita maupun sebagai kolom opini, haruslah tetap berpegang pada koridor peraturan yang berlaku dalam posisi pegawai selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS).

 

 

Manfaat Menulis Bagi Pengembangan Profesi dan Karir

Selain menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar, menulis bermanfaat juga bagi pengembangan karir pegawai itu sendiri. Untuk pejabat fungsional auditor (PFA) misalnya, pengumpulan angka kredit untuk unsur “Pengembangan Profesi” dapat diperoleh lebih cepat.

Apabila dipenuhi dengan cara mengikuti Program Pelatihan Mandiri (PPM) di kantor untuk 8 poin yang diperlukan sebagai syarat kenaikan pangkat, itu berarti memerlukan waktu terkumpul antara 20 bulan sampai dengan 80 bulan, atau lebih dari 6 tahun.

Karena setiap penyelenggaraan PPM yang sebulan sekali atau paling banyak sebulan empat kali itu, hanya diganjar angka kredit 0,1 poin per PPM. Maka, tidak sedikit PFA yang terganjal kenaikan pangkatnya karena persoalan ini.

Padahal, dengan menulis yang dipublikasikan di media massa, pengumpulan 8 poin tersebut dapat tercukupi dengan 4 buah tulisan saja. Sesuai pedoman penilaian angka kredit, setiap tulisan yang terpublikasikan diganjar angka kredit 2 poin untuk unsur “Pengembangan Profesi”. Andaikan setiap bulan saja PFA dapat mempublikasikan tulisannya, maka waktu yang diperlukan hanya 4 bulan.

Selain bermanfaat untuk karir jabatan fungsional, kemahiran menulis pun juga diperlukan untuk kenaikan karir struktural, baik untuk promosi ke Eselon 2, maupun ke Eselon 1. Pasalnya, pada setiap seleksi jabatan tersebut, penulisan makalah menjadi mata ujian wajib yang ditetapkan Panitia Seleksi (Pansel).

Hal ini menuntut peserta seleksi untuk secara cepat dapat menuangkan permasalahan dan solusinya secara terstruktur, logis, dan dapat diterima oleh pansel dalam sebuah tulisan. Dengan penguasaan penulisan yang baik, maka bagi pegawai, kemungkinan kenaikan karir secara struktural itu pun semakin terbuka.

 

 

Mengimbangi Kemampuan Menulis dan Lisan

Memiliki kemampuan menulis itu memang penting. Namun demikian, kemampuan penulisan selayaknya harus juga diimbangi dengan kemampuan lisan. Karena, tidak semua pribadi menguasai keduanya. Ada yang tulisannya bagus, tetapi begitu bicara tergagap-gagap seperti orang yang sedang berkumur. Atau sebaliknya.

Maka, pegawai yang memiliki kemahiran tulisan maupun lisan itu niscaya dapat senantiasa diandalkan dalam setiap penugasan, bahkan meningkatkan kemungkinan untuk dapat diberikan amanah sebagai pimpinan.

Dalam situasi reformasi birokrasi yang menuntut diterapkannya sistem merit saat ini, memiliki pimpinan yang cakap – salah satunya ditandai dengan kemampuan menulis dan berbicara – telah menjadi sebuah kewajiban.

Maka, bersama tulisan ini saya ingin mengajak kita semua – khususnya Anda yang berada dalam birokrasi. Menulislah, karena menulis itu merupakan kebutuhan kita semua.

Wahai birokrat, menulislah!

 

 

Substansi artikel ini telah ditayangkan dalam laman Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat dengan judul “Menulis, Mengundang Pengembangan Karir”.

http://www.bpkp.go.id/kalbar/berita/read/23978/0/Menulis-Mendukung-Pengembangan-Karir.bpkp

0
0
error: