Roker Jelita: Semangat Muda Para Wanita dari Pinggiran Ibukota

Roker Jelita: Semangat Muda Para Wanita dari Pinggiran Ibukota

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita, tentang bagaimana kejamnya ibukota Jakarta. Pada suatu pagi di awal tahun 2015, kedua mata saya berkaca-kaca lalu meneteslah air mata sebagai manifestasi atas sebuah kekecewaan pada keadaan. Lokasi drama ini adalah halte busway Manggarai.

Kejamnya Ibukota Jakarta

Pagi itu, sebagai seorang pegawai rendahan sekaligus seorang ibu muda dengan dua anak yang masih balita, saya punya sebuah misi untuk tiba di kantor tepat pada waktunya, yaitu sebelum jam di alat finger print kantor saya melewati 08.00 WIB. Jelas sekali, menjalani kedua peran itu bersama-sama membutuhkan perjuangan.

Ternyata, dua tahun vakum dari rutinitas ngantor karena tugas belajar membuat saya sedikit jet lag. Akibatnya, perjalanan dari rumah di BSD–Bintaro Sonoan Dikit– menuju kantor di bilangan Jakarta Timur harus saya tempuh dalam waktu dua jam. Padahal, orang lain bisa menjalaninya kurang dari sejam.

Itupun dengan perjuangan yang tidak biasa, gencet-gencetan dengan sesama penumpang kereta rel listrik (KRL), berpacu dengan waktu dan crowded-nya suasanya pergantian jalur di stasiun Tanahabang, serta lari-larian yang melelahkan di antara Stasiun dan halte busway Manggarai.

Pada akhirnya, saya tetap terlambat. Maka dalam tangisan itu batin saya berbisik, “Gini amat ya cari uang di Jakarta”.

Mencoba berkompromi dengan kondisi

Perlahan-lahan, saya mulai berkompromi dengan keadaan. Hari demi hari, setiap pagi saya awali dengan rencana memperbaiki catatan presensi yang saya buat pada hari sebelumnya. Oleh sebab itu, otak saya terus berputar dan mencoba beberapa cara. Satu hal yang pasti, saya tetap harus mengawali perjalanan saya dengan naik KRL dari stasiun Sudimara di Tangerang Selatan.

Mengapa tidak motor sepenuhnya? Karena terlalu jauh jarak antara kantor dengan rumah, sementara ada beberapa titik macet yang menyedihkan. Mengapa tidak menggunakan mobil? Karena selain lebih lama dan melelahkan, perbandingan biaya antara menggunakan mobil pribadi dan naik kendaraan umum bisa mencapai 1:8.

Fantastis bukan? Maka tentu saja, mau tidak mau saya harus naik kereta. Bolehlah sedikit drama di dalamnya, asal tak perlu merogoh kocek terlalu dalam dan tidak terlalu lama menderita. Sah-sah saja. Toh pada akhirnya masih ada cara untuk tetap eksis dan menciptakan ‘kenyamanan’. Salah satunya, dengan menjadi orang yang tidak mudah baper alias terbawa perasaan.

Lalu apa saja alternatif setelah KRL yang pernah saya coba?
Pertama, saya menempatkan sepeda motor di tempat parkir dekat dengan stasiun Palmerah untuk meningkatkan efisiensi waktu. Adalah berlangganan parkir di halaman kantor sebuah kementerian, lalu sebuah areal parkir komersil dengan harga miring, hingga mencari parkir gratisan di kantor teman, menjadi 3 jenis eksperimen saya waktu itu.

Ketiganya kandas ketika suatu hari saya mengalami kecelakaan ringan bersama motor saya di sekitar Senayan. Keesokan harinya, terbit larangan bersepeda motor dari atasan saya di rumah, suami. Hahaha. Untunglah, dua minggu kemudian ternyata saya dinyatakan mengandung anak ketiga. Artinya, lebih aman jika menghindari resiko kecelakaan serupa.

Menemukan Komunitas Roker Jelita

Tak butuh waktu lama, pada akhirnya saya menemukan sebuah komunitas informal yang dibentuk di kantor saya. Namanya adalah Roker Jelita, singkatan dari rombongan kereta jelang lima puluh tahun. Ya, sesuai dengan namanya, grup ini mayoritas beranggotakan ibu-ibu pegawai yang mengandalkan layanan kereta KRL untuk wara-wiri setiap hari.

Usia mereka tak lagi muda, kebanyakan sudah senior secara umur dan jenjang karir. Salah satu di antaranya bahkan menjabat sebagai eselon II di kantor kami. Akan tetapi, kebersamaan menjalani rute dari wilayah urban ke pusat kota membuat kami menjadi sangat akrab layaknya keluarga. Ternyata, untuk menjadi tangguh dalam tekanan kejamnya ibukota dibutuhkan tenaga. Sumbernya, tentu saja dari komunitas semacam Roker Jelita.

Ketangguhan dan kecerdikan Roker Jelita

Awalnya saya meragukan ketangguhan mereka sebagai pengguna kereta. Bukankah fisik mereka tak lagi prima? Tapi, keraguan itu terbantahkan ketika kedua mata saya menyaksikan sendiri betapa lincah dan cekatan ibu-ibu itu menentukan posisi, berpindah jalur di stasiun dengan tangga yang naik turun, bahkan berlari mencari angkutan tercepat dari kantor ke stasiun. Dalam hitungan detik, wanita-wanita tangguh ini telah berhasil menempuh jarak puluhan meter demi sebuah misi: tidak ketinggalan kereta.

Para suhu Roker Jelita mengajari saya beberapa trik untuk memenangkan kompetisi dengan waktu. Misalnya, pada gerbong dan pintu ke berapa saya harus berdiri supaya tepat posisi turun atau naik KRL di stasiun Manggarai, Sudirman, dan Tanahabang. Dengan begitu, transit antar jalur akan lebih cepat dan meminimalisir drama tergencet ataupun terluka dalam himpitan menaiki tangga dan eskalator yang seringkali terasa tak manusiawi.

Selain itu, kami terbiasa berkelompok di pagi hari, menentukan rombongan dan memesan taksi di stasiun sudirman. Pastinya, taksi lebih aman tetapi tetap murah biayanya karena terjadi mekanisme cost sharing dalam rombongan. Setelah itu, kami hafal betul rute mana yang paling cepat dan aman untuk mengantarkan kami ke tujuan, kantor.

Kami adalah keluarga

Bertemu dengan para ibu yang tergabung di Roker Jelita sejujurnya memberi saya semangat tambahan. Bahwa ternyata kami berjuang bersama-sama dan saling menguatkan. Di pagi hari, kami berusaha datang pagi dan bersiap menjalani hari sebagai abdi negara yang profesional. Di sore hari, kami pun bergegas pulang demi sebuah transformasi kembali pada kodrat: mengurusi anak dan suami.

Canda tawa di dunia maya, di gerbong kereta, taksi, hingga sarapan pagi bersama-sama telah menjadi momen yang penting untuk mempererat solidaritas kami sebagai sebuah komunitas. Kami adalah keluarga, tak peduli usia, senioritas di tempat kerja atau bahkan latar belakang keluarga. Obrolan kami biasanya (selain tentang kereta, tentu saja) berkisar pada cerita tentang anak yang masih balita, yang hendak kuliah, hendak menikah, atau bahkan sekali dua berdiskusi tentang current issue di Indonesia.

Sesekali, ketika terjadi gangguan pada sistem kereta, grup komunikasi kami menjadi sarana yang sangat dapat diandalkan. Cepat, tepat, dan solutif adalah motto yang diam-diam kami pegang. Seperti sore itu, suatu hari di Bulan Maret 2019, ketika korsleting mengganggu jadwal perjalanan KRL rute Tanahabang-Serpong.

Mau tidak mau, kami harus menggunakan sarana transportasi lain seperti Moda Raya Terpadu (MRT), bus Transjakarta, atau taksi. Pastinya, menjalani perjalanan pulang dengan alat transportasi yang berbeda dari biasanya terasa lebih nyaman ketika dijalani bersama-sama.

Berjiwa muda, tak terkalahkan oleh kejamnya ibukota

Sungguh, bagi saya Roker Jelita bukan lagi kumpulan ibu-ibu biasa. Akan tetapi ia telah menjelma menjadi sebuah keluarga, di mana para anggotanya selalu berjiwa muda. Mereka di dalamnya adalah para wanita tangguh yang berusaha tiba dan pulang dari tempat kerjanya ke rumah di pinggiran Jakarta, tanpa air mata karena terkalahkan oleh kejamnya ibukota.

Dan inilah cerita mereka, kisah di balik kekuatan dan kelincahan yang tak lekang -dihimpit gencetan, eh zaman:

“Yang kamu bilang perjuangan naik KRL zaman sekarang ini Sof, ndak ada apa-apanya dibandingkan belasan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Kalau sekarang kereta melintas setiap 10 menit dan waktu tempuh secepat itu, maka dulu hanya ada satu pada jam-jam tertentu. Itu pun harus di sambungan gerbong naiknya, ditiup-tiup dengan semilir angin dan pemandangan pembangunan Jakarta.

Kaki tangan yang memar itu sudah biasa, karena seringkali tak ada peron yang tersedia dengan selayaknya. Melompat dari satu pintu kereta ke pintu rangkaian kereta di jalur yang lain lagi, sudah biasa meskipun kami adalah wanita.

Mau bagaimana? Ya sudah nikmati saja.

Untungnya, di sela-sela kesulitan masuk keluar gerbong lewat jendela saking padatnya –serta sekali dua terinjak-injak penumpang yang berjejal keluar masuk berebutan- masih ada sisi baiknya: bisa membeli rupa-rupa makanan dengan harga yang murah meriah.

Jadi, pada intinya, yang kalian keluhkan tentang sulitnya menjadi Roker masa kini itu, dibandingkan zaman muda kami, tak ada apa-apanya!”

Terima kasih, Roker Jelita!

 

 

 

8
0
Gali Potensi Menangkan Kompetisi

Gali Potensi Menangkan Kompetisi

Pernah membaca buku Mutiara Hati Penggugah Jiwa? Buku ini ditulis oleh Husni Mubarrok, seorang pendidik dari Gresik. Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan renyah. Ulasannya menohok dan merasuk di raga.

Di bagian awal, kita diingatkan bahwa setiap diri punya potensi, setiap diri punya kemampuan, meski kecil adanya. Potensi itu perlu digali. Dan memang harus digali. Ia akan tampak jika engkau menggalinya. Ia akan dahsyat jika dipoles. Karena itu, gali dan poleslah ia, supaya dahsyat hasilnya.

Husni Mubarrok memberikan lima tips menggali potensi diri. Pertama, yakin bahwa setiap orang punya potensi masing-masing. Potensi bisa terlihat dari bakat, minat, hobi, dan kecenderungan kita dalam melakukan sesuatu.  Kedua, bersikap positif atas potensi yang dimiliki. Karena di sanalah jalan sukses akan terbentang. Ketiga, buang jauh-jauh prasangka negatif atas kelemahan diri. Keempat, kembangkan potensi Anda karena kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana. Kelima, kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana yang terus dikembangkan hingga menjadi luar biasa.

Tekad Kuat Menggali Potensi Diri

Saya mencoba mengulas tulisan ini berdasarkan pengalaman saya selama ini. Bekerja hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan memberikan banyak warna dalam kehidupan saya. Itu belum termasuk pengalaman hampir 1.5 tahun di salah satu BUMN. Hampir delapan tahun saya bekerja sebagai staf pengajar di beberapa PTS.

Empat belas tahun lalu saya diminta untuk mengelola majalah di Kemenpan RB. Dari sanalah potensi sederhana yang saya miliki mulai tergali. Saya belajar secara otodidak dalam menulis dan mengelola majalah. Tak ada yang istimewa barangkali dari pengalaman tersebut. Namun, semangat belajar dari potensi sederhana tersebut terus saya kembangkan hingga saat ini.

Mungkin tak banyak birokrat yang mau dan mampu menulis di sela deraan pekerjaan tiada henti. Saya bersyukur telah memulainya dan tak berhenti hingga saat ini. Dari aktivitas menulis yang saya tekuni selama  14 tahun, saya merasa ada potensi tersembunyi di bidang literasi. Potensi itulah yang terus saya kembangkan.

Untuk bisa menulis tentu saya juga harus senang membaca dan berdiskusi dengan banyak orang. Kesempatan ini makin berkembang karena hampir enam tahun terakhir saya sering ditugaskan ke banyak kementerian, lembaga dan pemerintah daerah. Saat memberikan materi baik di saat sosialisasi maupun bimbingan teknis, saya pun terus belajar.

Sebelum memberikan materi tentu saya harus menguasai terlebih dahulu dengan mempersiapkan diri termasuk membaca beberapa buku dan referensi. Dari belajar tersebut saya mendapatkan banyak hal. Tak kurang sembilan buku hasil pengalaman mengajar dan dari perjalanan dinas saya ke banyak tempat sudah diterbitkan. Itu di luar buku-buku profil kepala daerah yang mencapai 20 buku pernah saya tulis baik sebagai penulis maupun sebagai editor.

Tunjukkan Kompetensi Anda

Dengan menulis saya makin yakin prospek ke depan makin cemerlang. Apapun bidangnya kemampuan menulis pasti dibutuhkan. Termasuk di birokrasi pemerintahan. Terakhir, buku berjudul Birokrat Menulis 2 yang segera launching adalah kumpulan-kumpulan tulisan saya dari media sosial dan media on line hampir dua tahun terakhir ini. Birokrat yang menulis buku pastilah belum banyak. Kalaupun ada biasanya adalah guru, dosen, dan peneliti.

Di dunia kerja, sering kita temukan perlakuan yang berbeda dari atasan kepada bawahannya. Hal tersebut terkait kompetensi staf maupun selera atasan. Menyikapi hal ini maka menjadi penting bagi kita untuk menunjukkan kompetensi yang kita miliki.

Selain senang belajar, berdiskusi, membaca dan menulis, saya juga senang mengajar. Dengan mengajar membuat saya harus banyak belajar. Tanpa belajar tentu materi saya jadi datar dan hambar. Jika kita menunjukkan kompetensi yang kita miliki secara maksimal, maka dapat dipastikan keberadaan kita menjadi penting.Tugas kita selanjutnya adalah melipatgandakan potensi ini.

Menulis, mengajar, dan berkarya dalam bentuk buku adalah sebuah pengalaman berharga buat saya bekerja di birokrasi pemerintahan. Inilah yang terus akan saya kembangkan sesuai potensi yang saya miliki.

Buku Birokrat Menulis 2 berkisah tentang bagaimana saya mengembangkan potensi yang saya miliki tadi. Membaca, menulis, dan mengajar adalah pengalaman yang luar biasa. Setiap pengalaman itulah saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Ke mana pun pergi, saya pastikan akan berdiskusi dengan banyak orang. Hal-hal baik dan bermanfaat akan saya catat dan menjaadikannya tulisan ringan dan menginspirasi.

Semua catatan kebaikan itulah yang akhirnya saya jadikan buku Birokrat Menulis 2. Alhamdulillah untuk pre order pertama 200 buku langsung ludes. Buku tersebut akan segera menemui pembacanya di akhir bulan November ini. Seperti halnya buku Birokrat Menulis yang terbit Desember tahun lalu, Birokrat Menulis 2 berisikan catatan-catatan dan renungan harian saya selama ini. Bedanya, di buku seri 2 tersebut Anda dapat menemukan kumpulan tulisan di media sosial saya selama hampir dua tahun terakhir ini.

Manfaatkan Media Sosial, Kembangkan Potensi

Beberapa tulisan saya juga dimuat di media online Birokrat Menulis. Laman ini sama dengan judul buku saya, tetapi pengelolanya sebuah komunitas di kalangan birokrasi yang concern dengan gerakan literasi birokrasi. Saya salah satu anggota dari komunitas ini dan cukup aktif mengirim tulisan di laman ini. Komunitas ini pula yang kian mengangkat reputasi saya sejauh ini.

Birokrat Menulis 2 seperti yang disampaikan editor buku ini, M Iqbal Dawami, terdapat nuansa yang berbeda dari segi diksi dan tema yang diangkat di setiap tulisan. Menurut alumnus Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini, narasi buku tersebut makin dalam dan matang serta daya nalar dan refleksi di setiap tulisan kian memukau. Penulis buku Pseudo Literasi ini sangat paham  dengan tulisan-tulisan di Buku Birokrat Menulis. Getaran rasa yang tertuang dalam rangkaian kata tentu bisa dipahaminya selaku editor buku ini.  Seperti yang dikatakan Iqbal, saya mencatat segala lalu lintas kehidupan yang saya alami. Pengalaman sosial, intelektual, dan spiritual saya tulis dan lalu saya ambil hikmah dibaliknya.

Tulisan-tulisan tersebut banyak terkait pertemuan saya dengan banyak orang di berbagai daerah sebagai seorang birokrat. Tulisan-tulisan tersebut ditulis saat menjelang keberangkatan di bandara, usai mendarat, termasuk saat berdiam di hotel menjelang kepulangan ke Jakarta. Setiap tulisan memiliki rasa yang berbeda karena perjalanan yang juga berbeda. Selain di sela-sela waktu tersebut, saya juga sering menulis di pagi hari atau sebelum saya tidur di malam hari.

Terus Gali Potensi, Tumbuhkan Percaya Diri

Kembali ke ulasan gali potensimu, meskipun kecil saya merasa kian semangat dan percaya diri. Ternyata hal-hal yang kecil dan sederhana jika dilakukan secara konsisten ternyata memiliki makna. Karya telah membuat sebuah perbedaan. Hidup tak harus disesali dengan segala keterbatasan diri. Hidup harus berjuang meskipun di tengah keterbatasan.Jika sebagian orang menganggap kita tak mampu, biarkan saja. Terus melangkah dan fokus dengan segenap potensi yang dimiliki.

Saya tentu merasa bangga menjadi urang Minang yang selama ini banyak melahirkan tokoh bangsa dan juga penulis dan penyair. Sebagai alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas  Andalas Padang, saya ternyata bisa berkarya jauh dari latar belakang keilmuan saya selama di bangku kuliah.

Lalu saya kaitkan perjalanan menulis saya dengan tokoh-tokoh Republik dari Ranah Minang. siapa yang tak kenal Bung Hatta. Agus Salim, dan Sutan Syahrir. Di dunia literasi ada Buya Hamka, Taufiq Ismail, dan beberapa nama beken lainnya. Mungkin saya masih jauh dari nama-nama yang disebut tadi. Namun, tradisi baru di kalangan birokrasi paling tidak sudah saya mulai sejak sebelas tahun lalu hingga hari ini.

Seperti yang diulas oleh Husni Mubarrok kita sering menganggap anak yang tak bisa ilmu Matematika sebagai anak yang bodoh (baca kurang pintar). Mungkin ia tidak pintar di bidang Matematika, tetapi hebat di bidang bahasa. Barangkali ia tak jago di bidang Fisika, tetapi unggul di bidang pelajaran sosial.

Sekalipun seorang siswa kurang mampu di seluruh mata pelajaran, belum tentu ia gagal. Mungkin dia dilebihkan di bidang keterampilan seperti seni musik ataupun seni lukis. Begitulah Allah menciptakan manusia dengan segala keunikan, kelebihan, dan kekurangannya. Tugas manusia untuk menggali potensi diri dan kelebihan yang dimilikinya. Kesuksesan sering berangkat dari keterbatasan diri. Dari keterbatasan itulah seseorang bangkit, kemudian mengasah potensi yang dimilikinya menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat.

Berbagi pengalaman di bidang literasi di sela-sela waktu tak pernah berhenti saya lakukan. Saya yakin di tahun 2019 mendatang saya kian menemukan kesempatan terbaik. Buku Birokrat Menulis 2 adalah salah satu jalan menuju harapan terbaik tersebut.

Seperti yang disebut oleh Profesor Werry Darta Taifur,  Rektor Universitas Andalas 2012-2016 dalam testimony-nya, bahwa buku Birokrat Menulis 2 sangat pantas dibaca oleh generasi millenial dan generasi alpha yang akan menghadapi tantangan yang makin banyak dalam segala aspek kehidupan di masa mendatang.

Birokrasi yang kian kompetitif dan berbasis kinerja akan meluluhlantakkan orang-orang yang tak memiliki nilai tambah. Dan nilai tambah inilah yang akan saya jadikan pelampung diri jika terjadi turbulensi di organisasi.

 

 

1
0
40 Tahun Akuntansi Unand:  Alumni Unand Pulanglah, Kita Meloncat Bersama!

40 Tahun Akuntansi Unand: Alumni Unand Pulanglah, Kita Meloncat Bersama!

Prolog

Berbeda dengan Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) dan Manajemen yang lahir lebih dulu, maka Jurusan Akuntansi Universitas Andalas (Unand) Padang adalah anak bungsu di lingkungan Fakultas Ekonomi yang kini berubah menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Kampus Jati dan Limau Manis menjadi saksinya.

Dua November telah kami tetapkan sebagai hari yang bersejarah. 40 tahun sudah usiamu kini. Usia yang cukup matang dalam kisah dan perjalanan panjang. Kita patut berbangga menjadi bagian dari sebuah nama besar.

Kini, saatnya kita berkumpul, membangun kebersamaan di tengah tantangan zaman yang makin tak ringan. Kini saatnya kita bahu membahu dan bergandeng tangan di tengah kompetisi yang kian ketat.

Akuntansi Unand Padang, kami bangga padamu. Dengan selembar ijazah dari almamater kami gagah berani bertarung menantang hidup. Dengan tempaan selama lima tahun, enam tahun, bahkan ada yang hingga sembilan tahun atau sepuluh tahun, justru membuat kami kian matang.

Life Begins at Forty

40 tahun adalah saat usia menuju titik puncak dan menjadi awal hari depan yang kian cemerlang. Waktu kian dekat menuju hari puncak. Ranah Minang tak sabar menanti para alumni untuk kembali berkumpul, bernostalgia, menjalin networking, intermezo, dan me-refresh kepenatan akibat lelah di pekerjaan.

Dari berbagai penjuru kota di tanah air kami akan berkumpul di Padang kota tercinta, mengenang masa-masa susah hingga kini. Zaman kian berubah dan para alumni akan terus berkiprah demi nama besar Unand.

Tak semua dari kami menjadi orang kantoran. Sebagian ada yang memutuskan menjadi usahawan. Kami bangga, ada alumni yang menjadi birokrat, bankir, akademisi, praktisi, auditor internal, auditor eksternal, hingga menjadi politisi dan pejabat gubernur. Selain itu ada juga yang memutuskan menjadi pengusaha dan berwirausaha. Apapun profesinya kami merasa tertantang untuk menjaga nama besar Akuntansi Unand Padang.

Di awal September 2018 lalu, salah satu alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Unand Padang dilantik menjadi penjabat Gubernur Bali. Inilah salah satu prestasi tertinggi alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Unand Padang yang sempat terekam dalam usia yang memasuki 40 tahun.

Siapakah gerangan yang menjadi penjabat Gubernur Bali tersebut. Alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Unand Padang angkatan 1981 ini bernama Drs. Hamdani, Ak, MM. Terakhir jabatan beliau adalah staf ahli Menteri Dalam Negeri.

Apa Makna Jabatan dan Posisi Bagi Alumni?

Sebelum mengulas lebih jauh, saya ingin memotret beberapa jabatan yang cukup strategis yang sudah diraih oleh alumni Akuntansi Unand Padang. Jabatan kepala dinas dan kepala badan di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan kabupaten/kota sudah cukup banyak. Untuk level direksi, kepala divisi dan kepala departemen di beberapa BUMN juga sudah tak terhitung lagi.

Di luar pemerintahan dan BUMN, peran alumni di pasar tenaga kerja seperti Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Konsultan Pajak juga tak bisa dianggap enteng. Para alumni di beberapa KAP besar juga tak terhitung. Namun, perlu ada data resmi terkait hal ini.

Sebelum acara puncak Reuni Akbar juga digelar sharing seasion, pada tanggal 29-31 Oktober 2018 dan Seminar Nasional 1 November 2018 di Kampus Limau Manis Universitas Andalas. Puncak Reuni Akbar akan diselenggarakan tanggal 2 November 2018 di Hotel Kyriad Bumi Minang Padang. Kehadiran para alumni di pertemuan akbar tersebut sangatlah penting dan dinantikan.

Hingga hari ini sumbangan dari para donatur sudah mendekati sebesar 1 Milyar rupiah. Dan hampir 500 orang alumni saat ini sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir.

Meloncatlah Lebih Tinggi

Sambil menikmati udara segar kota Bandung di pagi ini saya pun mencatat banyak kiprah alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Unand selama ini yang semakin diperhitungkan, baik di birokrasi pemerintahan maupun di luar birokrasi pemerintahan. Jika sebelumnya hanya jabatan terkait akuntansi, audit, dan perpajakan yang dirambah. Namun, dengan segala potensi yang dimiliki ternyata bidang lain pun sudah dimasuki dan berhasil.

Jika dulu hanya di badan atau institusi terkait auditing dan keuangan maka saat ini juga merambah di kementerian lain. Peran alumni menjadi kian penting menyambut tantangan yang kian tak ringan.

Berdasarkan data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat ini posisi Universitas Andalas berada di posisi ke-10 nasional. Oleh karena itu, alumni Akuntansi Unand Padang pun harus bisa menembus posisi 10 besar Nasional dan terbaik di luar pulau Jawa. Alumni Akuntansi Unand Padang harus bisa sejajar dengan alumni Akuntansi UI, UGM, Unpad, dan Undip. Hal ini jelas tidak mustahil dicapai melihat kiprah alumni hingga saat ini.

Pertemuan 40 tahun Akuntansi Unand Padang dapat juga dijadikan sebagai ajang berbagi pengalaman bagi para alumni kepada para junior yang akan melanjutkan kiprahnya yang lebih hebat lagi bagi kejayaan Akuntansi Unand Padang. Pertemuan ini selain mendekatkan antara dunia kampus dengan praktik kerja di lapangan yang kadang tak didapatkan selama di bangku kuliah, juga akan semakin mendekatkan dan merekatkan para alumni demi kemajuan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Unand Padang.

Epilog

Ayo Uda dan Uni, kawan-kawan, serta adiak-adiak kasadonyo. Mari kito pulang ka Padang. Maramikan alek kito. Yang di Padang jaan sampai lupo. Mangumpua yang taserak manyambuik masa depan gilang gemilang. Melompatlah lebih tinggi untuk kemajuan negeri dan membuat reputasi kita makin tinggi.

Pasti Bisa. Bersama Kita Bisa. Insya Allah….***

 

 

0
0
Tekad dari Makassar: Menulis dan Terus Menulis!

Tekad dari Makassar: Menulis dan Terus Menulis!

Masih terkesan dalam ingatan, sebuah peristiwa langka yang saya alami di Kota Makassar di medio April lalu. Peristiwa tersebut adalah kesempatan mengikuti kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh Pergerakan Birokat Menulis.

Bukan hanya itu saja, kesempatan untuk berjumpa secara langsung dengan para pegiat pergerakan adalah sesuatu yang sangat saya nantikan. Selama ini komunikasi dan diskusi hanya dapat saya ikuti secara online melalui grup WhatsApp.

Saat itu, keinginan saya untuk bertemu dengan para pegiat Pergerakan Birokrat Menulis cukup menggelora. Tanpa rasa lelah dan disertai dengan semangat tinggi, Jum’at malam 26 April 2018, selepas dari kantor saya berangkat menuju Kota Makassar. Perjalanan yang cukup panjang dengan menempuh waktu 10 jam terbayarkan saat mengikuti diskusi Birokrat Menulis yang diselenggarakan di Kota Makassar Sabtu malam, 27 April 2018.

Hotel Aston adalah lokasi dilaksanakannya kegiatan diskusi. Saya bergegas menuju lantai 20. Di sana saya bertemu dengan para pegiat pergerakan, yaitu Rudy M. Harahap, Mutia Rizal, Andi P. Rukka dan Eko H.W., dan Nur Ana Sejati.

Dengan rasa gembira saya berjabatan tangan dengan mereka dan berbincang penuh kehangatan. Saya tidak pernah membayangkan suasana keakraban akan terbangun seketika. Ternyata bertemu dengan orang yang punya visi dan ide yang sama, terasa bertemu dengan sahabat yang telah lama berpisah.

Tidak lama berselang para tamu mulai berdatangan. Saya mengambil peran menjemput para tamu. Peran yang diberikan oleh Tim Birokrat Menulis sungguh sangat berarti. Melalui peran ini saya bisa berdialog dengan para birokrat yang hadir pada saat itu, meskipun sebagian hanya sekadar menanyakan nama dan instansi asal mereka.

Acara dimulai, Rudy M. Harahap selaku Editor in Chief Birokrat Menulis, memperkenalkan tujuan hadirnya pergerakan Birokrat Menulis. Saya mengambil posisi sebelah kanan ruangan sambil sesekali berkeliling memantau suasana. Meskipun sederhana, tetapi cukup meriah dan peserta diskusi sangat antusias.

Acara diskusi dengan tema “Kinerja Birokrat dalam Kubangan Politik Praktis” ini menghadirkan narasumber seorang birokrat dari Provinsi Sulawesi Selatan, Zainuddin Jaka dan Adi Suryadi Culla seorang dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Di saat yang sama juga dilakukan peluncuran buku terbitan Birokrat Menulis, yaitu buku karya Andi P. Rukka yang berjudul Politik, Birokrasi dan Kebijakan Publik: Pokok-Pokok Pikiran dalam Memerangi Tuna Politik di Indonesia, dan buku karya Nur Ana Sejati yang berjudul Budaya Kinerja: Sebuah Upaya Revitalisasi Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik.

Dalam bukunya, Andi P. Rukka menuangkan semua kegelisahan untuk memecahkan masalah bangsa yang tak kunjung membaik. Penulis menyatakan kebingungannya karena tidak tahu kepada siapa harus berbicara.

Bicara kepada politisi, mereka tersandera oleh koalisi. Bicara kepada birokrat, mereka lebih sibuk memperbaiki nasib. Bicara kepada akademisi, mereka pun kebanyakan hanya mengisi daftar nilai.

Di tengah kebingungan itu, akhirnya penulis memilih bicara kepada rakyat sebagai pemilik sejati negeri ini. Bagi saya buku ini perlu dibaca oleh semua kalangan agar kita tidak menjadi penyandang tuna politik.

Selanjutnya Nur Ana Sejati, melalui bukunya menyoroti Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) yang selama ini lebih dianggap sebagai sebuah kewajiban formal dalam rangka penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), yang saat ini berubah nama menjadi laporan kinerja (LAKIN).

SAKIP sering dipandang sebelah mata baik oleh legislator maupun kepala daerah. Dalam proses penyusunan anggaran, misalnya, fokus pembahasan lebih kepada deretan angka-angka daripada target kinerja yang ingin dicapai. Bagi tim penyusun  laporan kinerja juga sering dianggap sebagai beban.

Sebaliknya, SAKIP seharusnya dipandang sebagai falsafah organisasi yang menggerakan seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuan. Untuk itu, perlu dibangun suatu budaya kinerja, atau biasa disebut sebagai performance-driven culture.

Selanjutnya, kedua narasumber memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pergerakan Birokrat Menulis. Ada hal yang membuat saya tercengang saat Adi Suryadi Culla mengatakan, “Saya menunggu tulisan dari para birokrat yang memberontak.”

Saya memaknai kalimat Adi sebagai motivasi untuk para birokrat agar berani menulis lebih otokritis. Zaman Now memang dibutuhkan birokrat yang otokritis untuk membangkitkan gairah para birokrat lainnya agar tidak terjebak dalam kubangan politik praktis.

Birokrat sejatinya jangan terjebak dalam hal-hal yang bersifat praktis dan rutinitas. Birokrat harus berani menggugat setiap keputusan yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat. Birokrat harus tampil terdepan, bukan hanya siap menunggu perintah pimpinan.

Pemimpin boleh berganti, pemimpin boleh dibatasi dua periode, tetapi birokrat akan selalu hadir meski pemimpin silih berganti. Birokrat harus sadar bahwa pembangunan tidak akan bertumbuh dengan semestinya manakala birokrat hanya terjebak hal-hal yang praktis dan rutin. Birokrat harus berani mengorbankan apa yang ia miliki. Birokrat harus mengembangkan dirinya dan berani keluar dari zona kenyamanan.

Seketika itu saya teringat pesan John C. Maxwell dalam bukunya Self Improvement:

“Anda harus belajar untuk melepaskan beban sebelum berusaha membawa beban lain. Anda harus melepaskan salah satu hal untuk memperoleh hal yang baru. Orang secara alamiah menahan itu. Kita ingin tinggal di zona kenyamanan dan bertahan dengan apa yang sudah diterima umum. Kadangkala lingkungan memaksa kita untuk menyerahkan sesuatu agar kita memiliki kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang baru. Namun yang lebih sering terjadi adalah, jika ingin membuat pertukaran yang positif, kita harus mempertahankan sikap yang benar dan bersedia untuk menyerahkan beberapa hal”.

Pesan Maxwell memiliki implikasi bahwa birokrat harus berani tampil tidak seperti biasanya karena hal yang biasa bisa dikerjakan oleh semua orang. Kebiasaan yang tidak benar jangan lagi dibiasakan.

Lantai 20 Hotel Aston Makassar memberi saya inspirasi dan membangkitkan hasrat untuk terus menulis. Dari sana saya bertekad untuk tetap menulis, menuangkan gagasan ataupun kegelisahan yang saya miliki.

Saya pun tak begitu memedulikan apakah nanti banyak orang mau membaca tulisan saya atau tidak. Satu hal yang saya miliki, tekad untuk menulis, menulis, dan terus menulis sampai jari-jari tangan saya terhenti dengan sendirinya.

Dari lantai 20 pun saya membulatkan tekad untuk tetap berada dalam pusaran pergerakan yang hebat ini. Sebuah pergerakan literasi bagi birokrat yang sungguh bermanfaat untuk meningkatkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pemahaman melalui berbagai paradigma. Semua itu bertujuan untuk membangun birokrasi yang lebih kuat dan memiliki nilai bagi publik.

Setelah kegiatan diskusi berakhir, saat lantai 20 semakin hening, saya masih sempat menikmati suasana hangat bersama tim Birokrat Menulis untuk melanjutkan obrolan hingga larut malam. Suasana yang sungguh menyejukkan dan membahagiakan relung sanubari saya.

Salam Birokrat Menulis.

Teruslah kritis, cerdas, dan menginspirasi tanpa batas.

 

 

0
0
Birokrat Zaman Now Adalah Birokrat Menulis

Birokrat Zaman Now Adalah Birokrat Menulis

Di suatu pagi nan cerah disertai udara dingin Kota Kembang, tempat saya dan keluarga tinggal,  saya berdiskusi dengan dua orang sahabat via WhatsApp (WA).

Salah satu dari mereka adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), dan satu lagi seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta. Banyak hal yang bisa saya petik dari diskusi pagi itu, tentang hidup dan kesabaran, tentang tantangan yang datang silih berganti, dan tentang dunia yang berubah kian cepat.

Saya pun lalu terkenang akan perjalanan hidup saya. Berbagai tantangan hidup yang kadangkala terasa berat juga sering saya hadapi. Hanya karena sabar dan belajar untuk sabar, saya bisa bertahan. Kalau tak sabar dan tak banyak teman, saya sudah ‘angkat koper’ untuk mencari peruntungan baru. Namun, beberapa kali saya diingatkan oleh beberapa kolega bahwa ke mana pun kita pergi kita tak akan bisa lari dari masalah hidup.

Hidup adalah sekumpulan masalah. Namun, cara kita menyikapi masalah itulah yang terpenting, yang menjadi pembeda bagi kita untuk menjadi pemenang atau pecundang. Saya bersyukur masih bertahan hingga sejauh ini.

Kali ini saya tidak ingin berbagi permasalahan hidup saya, melainkan berbagi pengalaman dalam menemukan kepercayaan diri yang membuat saya memutuskan untuk terus menulis sampai kapan pun nanti.

Menulis Adalah Jalan Hidup

Saya sungguh sadar bahwa hidup ini ibarat mengayuh sepeda. Saat kita berhenti mengayuh maka sepeda pun tak lagi melaju. Pilih melaju atau berhenti, keputusan ada di tangan kita. Hingga hari ini keputusan untuk terus membaca dan lalu menulis masih terus saya pilih.

Sudah berapa banyak orang yang mengomentari karya-karya saya hingga sejauh ini, saya tak begitu memedulikannya lagi. Saya terus berjalan, terus melangkah, dan melaju. Komentar dan kritikan juga datang silih berganti. Pujian pun sudah tak saya hiraukan lagi. Buat saya membaca, menulis, dan berkarya.  Itu saja.

Saya hanya percaya karya akan jadi pembeda. Tak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia.

Beberapa waktu yang lalu, dalam acara Bedah Buku Birokrat Menulis di PPSDM Aparatur Kementerian ESDM saya merasa sangat terharu. Tim kecil saya bekerja penuh semangat membantu hingga akhirnya kegiatan tersebut berjalan sukses dan luar biasa.

Dalam banyak hal saya tak bekerja sendiri dalam menerbitkan buku. Banyak dukungan dari teman dan sahabat di sekitar saya. Apalagi untuk sebuah event seperti peluncuran buku, talk show, dan bedah buku. Banyak tangan yang membantu.

Mereka seolah berkata, “Teruslah berkarya Pak Adrinal, jangan lelah dan jangan pernah menyerah”. Dukungan tulus inilah yang senantiasa menyemangati saya untuk tidak berhenti. Saya hanya melihat dan fokus pada dukungan-dukungan ini.

Belakangan ini banyak komunitas menulis yang telah lahir. Di antara banyak komunitas tersebut, ada satu yang paling membuat saya bahagia, yaitu komunitas Pergerakan Birokrat Menulis (PBM). Ya, komunitas ini sungguh membahagiakan saya. Bukan karena judul buku saya sama dengan komunitas ini, tetapi semangat yang saya bangun sejak sebelas tahun lalu ternyata senada dengan visi yang dibangun komunitas ini.

Saya yakin jalan saya kian mudah. Dulu saya menyebut perjuangan saya berdarah-darah. Saatnya saya berjalan seperti melewati jalan tol Cipali yang lurus dan mulus.

Mata saya sempat berkaca pagi itu. Saya tak boleh berhenti, saya bertekad untuk terus berjalan dan melaju. Tak ada waktu untuk mundur meski  tantangan silih berganti. Mundur berarti kalah dan sia sia. Saya tak mau melakukan kesia-siaan.

Saya harus kuat dan tetap semangat di sisa perjalanan yang saya pikir sebentar lagi sampai di tujuan. Betapa banyak orang yang mendukung saya selama ini. Keluarga, teman, dan sahabat. Ada juga pimpinan dan tokoh-tokoh hebat di sekeliling saya. Mereka masih menunggu dan menunggu lagi karya baru saya. Saya memang tak boleh berhenti. Saya harus terus menulis.

Seorang sahabat dekat saya yang tahu persis bagaimana cara saya menulis dan menerbitkan buku mengatakan bahwa karya-karya itu akan menjadi pelampung saya di kemudian hari.

Saat kapal mulai bocor tentu penumpang berebut pelampung. Pelampung ini akan menjadi pelampung saya, ujarnya lagi. Meski saya tak begitu paham ungkapan sahabat tadi, tetapi saya tahu bagaimana berupaya belajar dari permasalahan hidup yang tak pernah berhenti.  Dengan menulis saya tahu jalan hidup yang harus saya lalui.

Menulis adalah Kebahagiaan

Sambil sesekali saya memandang ke halaman depan rumah, sambil saya berpikir bahwa tenaga saya memang tak sekuat dulu, tetapi harapan saya masihlah tetap berkobar.

Hampir setiap minggu saya mampir ke toko buku. Saya memimpikan buku saya hadir di toko buku terkemuka dan menjadi best sellers. Mimpi lama yang hingga hari ini belum terwujud.

Meskipun belum banyak yang bisa saya hasilkan dari buku, tapi paling tidak dahaga saya sudah terlampiaskan. Saya sudah memulai tradisi baru, dan itu sudah saya mulai sejak sebelas tahun lalu.

Meskipun belum menjadi best sellers, tetapi buku-buku yang saya tulis telah membahagiakan saya. Di antaranya adalah  seringnya saya diundang ke banyak tempat baik dalam acara talk show, bedah buku, ataupun menjadi pembicara atas materi yang saya tulis. Bagi saya hal itu luar biasa.

Tak terhitung banyaknya kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang ingin menghadirkan saya dalam bimbingan teknis penyusunan Standar Operasional Prosedur (Bimtek SOP). Selain bimtek tersebut memang menjadi tugas pokok saya di kantor, juga karena saya menulis buku yang berjudul ‘Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah’.

Bahkan, sebuah kampus terkemuka di negeri ini setiap tahun selalu mengundang saya untuk bicara dalam program diklatnya mengenai penyusunan SOP intansi pemerintah. Mereka pun pernah mengungkapkan bahwa cara penyampaian saya saat memberikan materi tersebut sungguh mudah dimengerti. Ditambah lagi karena saya juga menulis buku terkait panduan praktis terkait topik tersebut. Ternyata buku telah berbicara sendiri dan menyuarakan kapasitas lebih diri saya seperti para guru besar yang memberikan kuliah di kampus yang sama.

Pernyataan dan pengakuan sahabat serta handai taulan sampai dengan undangan menghadiri berbagai acara membuat saya semakin yakin bahwa menulis adalah membahagiakan saya.

Birokrat, Menulislah!

Satu hal yang saya terus yakini bahwa wajah negeri ini akan berubah jika semakin banyak birokrat mau menulis.  Birokrat zaman now harus banyak menulis. Merekalah yang akan membuat bangsa ini melangkah maju. Wajah birokrasi pun hanya dapat diubah oleh birokratnya sendiri. Untuk mengubahnya memerlukan birokrat yang terliterasi.

Tak zaman lagi birokrat hanya melaksanakan tugas dengan muka pucat pasi tanpa inovasi. Hanya sekadar melaksanakan tugas yang telah menjadi ‘jatahnya’ tanpa kegelisahan tersendiri. Kegelisahan dan upaya mengurainya akan lebih mudah jika dituangkan dalam sebuah tulisan agar mampu berteriak semakin ‘lantang’.

Untuk itu, saya pastikan akan terus mengabdi buat negeri ini dengan menulis. Saya ingin literasi makin bergema keras di seantero negeri, dan birokrat menjadi salah satu ujung tombaknya.

Yang baik teruskan dan yang kurang tambahkan agar makin baik di waktu mendatang. Jangan hanya diam, teruslah menyuarakan kebaikan. Diam tak akan mengubah keadaan. Karena birokrat zaman now, adalah birokrat menulis. ***

 

 

0
0
Sebelas Tahun Berkarya: Bedah Buku Birokrat Menulis Karya Adrinal Tanjung

Sebelas Tahun Berkarya: Bedah Buku Birokrat Menulis Karya Adrinal Tanjung

Kota Bandung adalah kota yang dipenuhi anak-anak muda kreatif, yang seringkali menghadirkan hal-hal baru dan unik. Seperti tak ingin ketinggalan, kondisi itu pun kini mulai menjangkiti  para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Bandung. Hal itu dapat dilihat dari adanya geliat literasi yang mulai tumbuh di kalangan mereka. Para ASN, yang sering pula disebut sebagai para profesional birokrasi, idealnya memang tidak boleh abai dengan kegiatan literasi.

Profesional birokrasi dituntut memiliki kompetensi dan kreativitas yang tinggi. Itulah mengapa literasi di kalangan profesional birokrasi menjadi sesuatu yang niscaya. Jika profesional birokrasi terbiasa hanya mengerjakan hal rutin dan ajeg, maka tidak heran kalau banyak orang menganggap para profesional birokrasi mirip dengan sekrup dalam sebuah mesin besar yang bergerak monoton. Profesional birokrasi sudah selayaknya lebih dari itu, mampu memiliki kesanggupan berkembang, dan memiliki nilai lebih dibanding komponen mesin.

Acara bedah buku “Birokrat Menulis: My Trips My Inspiration” yang diselenggarakan pada hari Senin 30 April 2018 di Wisma PPSDM Aparatur Cisitu Bandung, merupakan salah satu langkah konkrit untuk mewujudkan birokrasi yang literate. Sebelumnya, buku tersebut juga sudah pernah dibedah pada tahun 2017 di PKP2A LAN Jatinangor dan beberapa tempat lainnya. Tingginya intensitas bedah buku Birokrat Menulis merupakan cerminan bahwa buku tersebut bermanfaat bagi masyarakat.

Bisa Karena Terbiasa

Acara yang digelar oleh Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Aparatur Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral ini, dimulai pada pukul 09.00 WIB. Diawali dengan alunan lagu Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh grup Akustik PPSDM Aparatur.

Eko Hadi Susilo, Kepala Bidang Sumber Daya Manusia dan Aparatur PPSDM Aparatur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mempertahankan nilai-nilai PPSDM Aparatur yang jujur, profesional, berinovasi, dan berarti, maka PPSDM Aparatur selalu berupaya keras dalam membina para ASN.

Ia menuturkan bahwa buku merupakan jendela dunia. Kita bisa mengenal dunia melalui buku. Ia paham betul bahwa menulis merupakan aktivitas yang bermanfaat. Dengan menulis kita dapat menyampaikan aspirasi, bermain peran yang kita suka, dan menghidupkan kreativitas.

Jika diukur dari judul buku yang dihasilkan setiap tahunnya, Indonesia sebagai negara berkembang masih tertinggal jauh dari Malaysia. Sambutan ditutup dengan sebuah kalimat yang memotivasi, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang pasti akan menghasilkan kemahiran. Begitupun dengan menulis, langkah awal adalah biasakanlah, maka kita akan bisa karena terbiasa.

Dikenal dan Mengenal Dunia

Pada salah satu halaman buku Birokrat Menulis terdapat sebuah kutipan yang berbunyi, “Jika kamu ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah”. Kutipan tersebut juga dibacakan oleh moderator sesaat sebelum penulis dan pembedah tampil di panggung. Iringan tepuk tangan yang sangat meriah menandakan tingginya antusiasme para peserta menghadiri acara tersebut.

Berperan sebagai pembedah adalah Elli Syarifah, seorang dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi, Cimahi. Ia sudah berkecimpung di dunia kepenulisan sejak kuliah S-1 pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan sampai sekarang masih menjadi konsultan penerbitan buku.

Ia juga sempat menjadi seorang editor sehingga tak heran sampai saat ini buku yang ditulisnya pun sudah berjumlah 18 judul. Dengan banyaknya pengalaman di dunia kepenulisan tersebut, wajar saja jika panitia menunjuknya sebagai pembedah.

Namun, sebelum pembedah menyampaikan poin-poin yang akan dibahas, moderator mempersilakan penulis untuk lebih dulu menyampaikan proses lahirnya buku Birokrat Menulis. Penulis memperkenalkan dirinya, walau sebenarnya namanya sudah terpampang besar di backdrop dan beberapa banner. Penulis bernama Adrinal Tanjung, seorang pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB. Sekarang penulis menjabat sebagai Kepala Bidang Kebijakan Tata Laksana di kementerian itu. Dari tangannya sudah lahir lebih dari 25 judul buku. Ia juga merupakan salah satu pegiat Pergerakan Birokrat Menulis yang berdiri sejak awal tahun 2017.

Kebiasaan menulis sebenarnya sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku SMP. Karena keterbatasan teknologi, tulisan-tulisannya waktu itu hanya dituangkan pada secuil kertas. Sekarang dengan majunya teknologi, maka proses menulis menjadi lebih mudah. Buku Birokrat Menulis adalah kumpulan pengalaman penulis sebagai seorang ASN. Pengalaman mengunjungi lebih dari 100 kota di Indonesia dan beberapa negara. Semua pengalaman itu tentu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Seperti ungkapan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, maka pengalaman tersebut harus diikat ke dalam sebuah tulisan sehingga nilai positif yang kita dapatkan bisa dibaca oleh orang lain. Bukan hanya sekarang, bahkan ketika raga sudah tidak lagi bernyawa.

Sampai saat ini, penulis merasakan betul manfaat dari menulis. Di antaranya adalah dapat berkenalan dengan banyak orang dari berbagai daerah. Semakin memiliki banyak teman, maka semakin banyak pula inspirasi hadir. Kebiasaan membagi buku saat mengisi acara atau menjadikannya sebagai hadiah kepada sahabat merupakan kepuasan tersendiri baginya.

Terdapat 5 subbagian dalam buku Birokrat Menulis, yaitu Menikmati Proses Menggapai Sukses, Sukses Adalah Pilihan, Cinta, Karya dan Kemenangan, serta Birokrat Goes International. Semua tulisan pada buku tersebut merupakan kumpulan catatan ringan yang berusaha memotivasi pembacanya. Penulis menuturkan bahwa kita tidak tahu berapa orang yang termotivasi saat mereka membaca tulisan kita. Berapa pun jumlahnya, semoga orang tersebut melakukan sesuatu lebih keras dari yang kita lakukan.

Berdamai Dengan Proses dan Menikmati Hasil

Waktu 30 menit yang diberikan panitia berlalu tak terasa. Kini giliran  Elli Syarifah selaku pembedah yang menyampaikan poin-poinnya. Ia menuturkan bahwa ia bertemu dengan penulis setahun yang lalu karena sama-sama mengemban amanah sebagai pengurus pusat di komunitas Penulis Profesional (Penpro). Pembedah menyampaikan bahwa sudah dua kali khatam membaca buku Birokrat Menulis yang kebetulan genre-nya mirip dengan yang ia tulis, yaitu seputar motivasi kehidupan.

Elli menuturkan alasan mengapa seseeorang harus menulis. Ia menjelaskan bahwa menulis itu banyak “apa-apanya”, artinya banyak yang bisa didapat ketika kita mampu menulis. Apalagi jika sampai bisa menerbitkannya ke dalam sebuah buku. Menurutnya, Adrinal Tanjung sudah membuktikan hal tersebut.

Elli juga menyampaikan kekagumannya kepada penulis terutama tentang birokrat produktif menulis. Menurutnya, jika seorang akademisi menulis itu sudah biasa karena aktivitasnya memang tidak jauh dari itu. Akan tetapi, jika seorang profesional birokrasi produktif menulis, itu menjadi pembeda dan menjadikannya luar biasa.

Menulis ibarat menaiki sebuah bukit dan menuruni lembah, banyak tantangannya. Kita perlu strategi supaya kita tidak menjadi orang yang kalah. Maka dari itu, di saat menulis kita harus menurunkan ego karena ego yang membuat kita cepat menyerah. Pun ketika kita gagal, kita tak perlu meratapinya. Hal terpenting adalah ketika kita bisa bangkit dari kegagalan tersebut.

Menulis itu sebenarnya tidak bisa dibilang mudah dan tidak bisa dibilang sulit. Artinya, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Hal terpenting sebelum kita menulis adalah kita harus banyak melihat, mendengar, membaca, dan merasakan. Selain itu, menulis juga bisa dilakukan di mana pun, saat di bandara ketika menunggu pesawat, di perjalanan, atau bahkan sebelum berangkat tidur.

Seperti halnya yang dialami oleh penulis, apapun suasana hati yang menyelimuti, semua kisah dibaliknya dapat dijadikannya menjadi sebuah tulisan. Itulah mengapa gaya tulisan dalam buku itu mengalir dan sederhana. Hal itu   merupakan ciri khas dari buku Birokrat Menulis sehingga mudah dipahami oleh pembacanya.

Tulisan dalam buku Birokrat Menulis pun tidak terlepas dari tuntunan agama. Tulisannya seolah  memiliki kekuatan spiritual yang menjelma menjadi energi untuk terus berkarya. Adrinal Tanjung memang memegang nilai bahwa agama harus menyatu padu dengan masyarakat. Terakhir, pembedah menuturkan bahwa kita harus banyak bermimpi. Ia berpesan  untuk menuliskan semua mimpi itu, sampai suatu saat, salah satu atau bahkan semua mimpi menjadi kenyataan.

Ayo Mulai Menulis!!!

Saat sesi tanya jawab, atensi peserta untuk bertanya sangat besar. Pertanyaan yang diajukan secara garis besar adalah seputar kiat menjaga mood saat menulis, bagaimana untuk mulai menulis, dan bagaimana cara membagi waktu antara kegiatan menulis, pekerjaan, dan keluarga. Penulis dan pembedah bergantian mengutarakan jawabannya.

Untuk menjaga mood saat menulis, penulis memberi saran agar niatkan sepenuh hati dan yakin bahwa kita bisa konsisten dalam menulis. Jangan mengikuti mood karena mood terkadang membawa kita pada kemalasan, sedangkan kemalasan adalah pangkal kegagalan.

Cara pertama untuk mulai menulis adalah menulis, menulis, dan menulis. Tuliskanlah apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Memulai memang susah, tetapi ketika kita sudah menemukan kenyamanan, maka kita akan susah untuk berhenti. Jangan terlalu menghiraukan benar atau tidaknya ejaan maupun susunan kalimat di saat awal menulis. Saat mulai menuangkan sebuah gagasan, tulislah saat itu juga karena gagasan tak pernah lama tinggal di otak kita. Jangan menulis sesuatu yang kita tidak tahu, jatuhnya nanti mengarang dan lebih parah lagi dapat menimbulkan hoax. Tulis saja tulisan yang ringan.

Pembedah menambahkan bahwa kita bisa mereviu tulisan dengan membaca satu bab buku. Setelah selesai membacanya, selanjutnya kita tulis ulang dengan bahasa kita sendiri. Menulis memang menjadi hobi bagi sebagian orang, dan biasanya lebih mudah untuk memulainya. Maka, jadikanlah menulis sebagai hobi agar kita juga bisa menikmati prosesnya.

Mengatur waktu antara menulis, pekerjaan, dan keluarga memang tak mudah. Namun, penulis selalu yakin dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita akan bisa membagi waktu jika kita dapat menghargai waktu dengan kedisiplinan.

Di balik karyanya, penulis pun tidak bekerja sendiri. Ia membentuk tim kecil untuk membantu lahirnya buku-buku yang ditulisnya. Bekerja sebagai seorang profesional birokrasi memang menyita waktu, apalagi berkantor di ibukota negara yang setiap harinya diwarnai kemacetan di mana-mana. Oleh karena itu, kita harus cermat ‘mencuri’ waktu, misalnya memanfaatkan kondisi jalanan yang macet atau saat menunggu dimulainya rapat dikantor.

Di akhir sesinya, pembedah menyampaikan pernyataan penutup bahwa menulis adalah membuat perbedaan, memotret kehidupan, dan mencipta sejarah. Maka menulislah!

Tiba di penghujung acara, moderator pun menutup acara dengan membacakan kutipan yang pernah Mas Pram (Pramudya Ananta Toer) tulis, bahwa:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

 

 

0
0
error: