Milenial, Tapi Betah Jadi ASN: Kenapa Tidak?

Milenial, Tapi Betah Jadi ASN: Kenapa Tidak?

Generasi milenial identik dengan anak muda yang susah diatur. Banyak penelitian yang membuktikan hal ini. Namun, seperti biasa, pasti ada anomali atas hasil setiap penelitian. Tentang karakter milenial ini, salah satu anomalinya adalah saya.

Terlahir pada range mulai tahun 1980-an, saya juga tergolong milenial. Generasi milenial ini sedang menjadi mayoritas angkatan pekerja produktif di Indonesia. Dominasi milenial dalam angkatan kerja tidak terkecuali juga menjangkau wilayah birokrasi pemerintahan.

Lulus dari sekolah kedinasan pada tahun 2011, saya disahkan menjadi aparat sipil negara (ASN) pada sebuah instansi pemerintah pusat di tahun 2012. Kalau dihitung-hitung, pengalaman saya di birokrasi bisa dibilang masih sedikit.

Dalam masa enam tahun mengabdi, 2 tahun saya gunakan untuk menempuh tugas belajar strata satu. Saya pun sempat mencicipi penempatan tugas di Provinsi Sulawesi Selatan, dilanjutkan ke Provinsi Kalimantan Selatan dalam jangka waktu enam tahun tersebut.

Pengalaman pengabdian saya memang belum terlampau banyak, akan tetapi saya merasa sangat bersyukur karena pengalaman baru telah sempat saya nikmati, yaitu pengalaman mempelajari budaya yang jauh berbeda dari daerah kelahiran saya.

Periode enam tahun bisa dibagi menjadi tiga tahap: penempatan pertama, tugas belajar, kemudian dilanjut penempatan kedua. Penempatan pertama ialah di bumi anging mamiri.

Penempatan pertama itu menjadi sebuah momen yang tak terlupakan. Untuk kali pertama saya naik pesawat ke sebuah kota jauh di sana, kota yang berbeda zona waktu dengan orang tua di kampung halaman dan memisahkan kami dengan laut yang membentang.

Naluri berpetualang saya masih sangat tinggi. Terlebih sebagian besar teman seangkatan saya masih belum berkeluarga, sehingga kapanpun ada di antara kami berinisiatif untuk jalan-jalan, yang lain akan menyambut dengan sigap, “Mari mari”.

Terlebih lagi, core business instansi saya bukanlah pelayanan yang mensyaratkan “duduk diam” di depan laptop di dalam kantor. Pekerjaan kami justru mengharuskan banyak perjalanan, dari satu wilayah ke wilayah lain, umumnya masih dalam satu provinsi.

Bahagia? Pastinya. Kapan lagi jalan-jalan ke tempat baru, mencicipi makanan khasnya, mengenal kehidupan sosial dan tata kota yang baru, tetapi seluruh biayanya dibayari oleh pemerintah? Begitu polos memang pikiran saya waktu itu, masa awal-awal masuk birokrasi, saat belum tahu apa itu Loan, Asian Development Bank (ADB) atau worldbank.

Tahun ketiga kerja, terbuka kesempatan baru untuk menikmati hidup sebagai pegawai sekaligus mahasiswi, yaitu menjalani tugas belajar. Beruntungnya, instansi tempat saya bekerja membuka kesempatan beasiswa sebesar-besarnya dalam jenjang strata satu. Sebenarnya program beasiswa ini bukan hanya untuk pegawainya sendiri. Akan tetapi, justru mayoritas penerimanya adalah pegawainya sendiri, termasuk saya.

Februari 2015, petualangan saya di universitas pun dimulai. Dari sini saya merasa betapa beruntungnya saya pernah merasakan kuliah di sekolah kedinasan. Betapa kedisiplinan, integritas dalam mengerjakan tugas dan ujian, serta pola pikir nerimo atas semua prosedur, menjadi modal penting dalam meraih gelar S1.

Januari 2018 menjadi saat mutasi kedua. Lepas dari tugas belajar, saya ditempatkan kembali. Ternyata, tetap di area Waktu Indonesia Tengah (WITA), tetapi bergeser pulau ke Kalimantan. Saya ditugaskan tetap di bidang yang sama dengan lokasi sebelumnya, tetapi dengan budaya kerja dan lingkungan yang berbeda pula.

Saat awal datang ke perwakilan ini, sudah ada setidaknya 5 orang yang mengajukan mutasi ke Pulau Jawa. Pengajuan tersebut menggunakan berbagai alasan, yang utama adalah keluarga. Sempat terpikir apakah ada yang salah di Kalimantan Selatan yang indah ini, kok belum ada lima tahun sudah pada mau pindah. Ya, ternyata mayoritas mereka terpisah dengan yang terkasih di seberang pulau (baca: Jawa).

Di Kalsel, dinamika dunia kerja berubah. Selain harus lebih paham aturan, kami para pegawai juga harus paham teknologi. Mulai dari database, script, sampai troubleshooting untuk setiap kasus harus kami pahami. Saya merasa sangat terseok dalam hal teknologi, tapi beruntunglah ada “teman sebelah” yang sangat sabar mengajari. Teman saya ini telaten menjawab semua pertanyaan di sela-sela coding untuk googleplay nya.

Tahun 2019, terjadi mutasi besar-besaran ke kantor-kantor perwakilan di Pulau Jawa dari berbagai daerah lain. Termasuk di kantor kami. Entah sudah berapa orang yang dimutasi menuju pulau tersebut, tanpa diimbangi mutasi sebaliknya dari Jawa ke luar Jawa.

Menurut saya, mutasi itu memberi kebahagiaan bagi yang pulang, memberikan tantangan dan godaan ke yang masih di perantauan. Disebut tantangan karena personil di kantor yang ditinggalkan berkurang tapi target kinerja tidak berubah, sementara di sisi lain dituntut untuk meningkatkan kompetensi.

Terlebih lagi, profesi kami selaku auditor internal pemerintah mengharuskan kami tahu banyak hal. Pada masa awal-awal berdinas, bisalah menghindari tanggung jawab penugasan yang sulit, dengan alasan masih anggota tim. Akan tetapi dengan adanya mutasi, mau tidak mau “yang tersisa” harus bisa diperankan menjadi Ketua Tim atau bahkan level di atasnya.

Peran yang berbeda ini bukanlah sesuatu hal yang mudah, tetapi harus dilaksanakan. Mulai cara berkomunikasi yang baik dengan pihak eksternal, diskusi terkait penugasan dengan teman sejawat dan membahas permasalahan yang ditemui dengan atasan.

Belum lagi, terkait merumuskan rekomendasi strategis atas akar permasalahan yang dihadapi auditee, yang macam-macam bentuknya. Kadangkala urusan dengan mereka berbuntut masalah hukum. Pada momen-momen ini jiwa milenial cenderung tidak mau mengalah dan mau cepat terlihat hasilnya.

Ego yang besar, merasa ngerti teknologi sehingga kadang beranggapan program audit yang ada tidak efektif dan efisien. Cepat bosan dengan penugasan yang ada, pengen cepat ganti ke tema penugasan lain, semua itu membuat kami kadang kurang sabar dalam segala hal. Buntutnya, konflik dengan yang lain, biasanya atasan atau senior.

Perbedaan antara harapan dan kenyataan yang ada di dunia birokrasi ini tidak sedikit pula menimbulkan godaan untuk keluar dari zona birokrasi. Tawaran kerja di swasta dengan iming-iming apresiasi atas setiap prestasi, sudah banyak direngkuh oleh teman seangkatan yang lain.

Tak mengherankan kemudian jika saya mendengar ada kawan yang memilih resign dari ASN untuk menjadi pegawai swasta atau mendalami proyek start up. Kabar-kabar semacam ini bukan lagi menjadi postingan aneh atau mengagetkan dalam WhatsApp Group (WAG) saya.

Dengan dinamika ini kemudian timbul pertanyaan, apakah saya akan seperti kawan-kawan yang lain itu? Hmmm… Untuk sekarang ini, dengan yakin saya menjawab “TIDAK”. Saya masih merasa nyaman di lingkungan saya tanpa merasakan adanya integritas yang terkikis.

Saya merasa masih bisa berekspresi tanpa harus berakhir tanpa tugas dan fungsi (tusi). Barangkali, apresiasi menjadi ASN memang tidak sebesar yang diperoleh di swasta atau saat kita punya aplikasi di google play.

Tantangan untuk menekan ego dan emosi pun masih di level “Baru-baca-buku-Filosofi Teras”. Tawaran beasiswa sepertinya bisa menjadi penawar ego diri. Atau mungkin mutasi ke Jawa bisa menjadi solusi?

Jadi, aku memang milenial, tapi aku betah jadi ASN.
Begitu ceritaku. Bagaimana denganmu?

3
0
Kisah Inspiratif Seorang Pramubhakti: Setelah 30 Tahun Mengabdi

Kisah Inspiratif Seorang Pramubhakti: Setelah 30 Tahun Mengabdi

“Pak. Kalau diizinkan, saya mau pindah. Saya ingin menempati ruko sambil membuka usaha”, kalimat yang diucapkan Buyung dengan intonasi pelan itu tak pelak mengagetkan saya.

“Buyung kok bisa beli ruko ya?”, pikiran saya mendadak menerawang dengan kalkulasi harga ruko. Pastinya mahal, seperti dituliskan di brosur-brosur. Pada umumnya harga ruko-ruko ini mencapai ratusan juta bahkan milyaran Rupiah. Tentu tidak bisa masuk di nalar kalau dihubungkan dengan penghasilan bulanan Buyung, seorang pegawai honorer.

Honor atau gaji sebagai petugas kebersihan kurang lebih Rp. 2 juta perbulan. Sedangkan biaya hidup sehari-hari boleh dibilang tidak murah. Masih bersyukur kalau jumlah penghasilan tersebut bisa mencukupi pengeluaran sejak gajian di awal bulan sampai akhir bulan.

Saya sebenarnya merasa berat untuk mengizinkan buyung pindah dari komplek rumah dinas yang telah  dia tempati lebih dari 10 tahun. Saya membayangkan nantinya kalau buyung tidak lagi tinggal di kompleks, siapa lagi yang akan bersih-bersih lapangan tenis dan taman di komplek perumahan itu.

Apalagi, kegiatan lain yang ditangani buyung secara rutin ialah membersihkan mushola komplek. Ketika bulan Ramadhan, dia bahkan lebih sibuk lagi mempersiapkan hidangan buka puasa. Buyung sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari keseharian perumahan dinas kami.

Mengenal lebih jauh tentang Buyung

Buyung kecil menghabiskan waktunya di Dusun Tacipi, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Selepas lulus dari sekolah menengah pertama (SMP) dia merantau ke kota Makassar dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Usai menamatkan  pendidikan pada tahun 1989, Buyung memasukan lamaran pekerjaan di berbagai perusahaan dan instansi. Lebih dari lima tempat dia datangi. Rupanya nasib baik melabuhkannya di Kantor Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulawesi Selatan sebagai petugas kebersihan dengan honor sekitar 25 ribu Rupiah perbulan kala itu.

Meskipun bertugas hanya sebagai petugas kebersihan, pria sederhana yang nama aslinya “Ridwan” ini selalu ringan tangan membantu setiap pegawai yang meminta bantuan kepadanya. Kerja keras dia jalani demi untuk mengejar cita-citanya bekerja di Kota Anging Mamiri. Belasan kali  buyung mencoba peruntungannya untuk mendaftar calon pegawai negeri sipil (CPNS), tapi belum berhasil juga.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Di sela-sela waktunya bekerja, Buyung mencoba menambah penghasilan dengan menyediakan Indomie bagi pegawai yang enggan keluar kantor untuk makan siang. Karena banyak permintaan dari pegawai bapak-bapak, Buyung menyediakan rokok juga.

Ketekunan buyung dalam bekerja dan sifat ringan tangan yang dia miliki membuat para pegawai senang dan merasa terbantu sehingga rejeki lebih pun mengalir ke kantongnya.

Romansa Buyung dan Keyakinannya tentang Rejeki

Suatu ketika, Buyung mengatakan bahwa dia akan melamar gadis yang masih berkuliah semester 6. Usianya terpaut 16 tahun, jauh lebih muda dari Buyung.

Wah ini baru surprise, pikir saya, calon istri buyung Mahasiswi.

Selidik punya selidik Buyung ini memang luar biasa. Ternyata sejak calon istrinya masih duduk di bangku kelas 1 sekolah menengah atas (SMA) Buyung lah yang membiayai sekolahnya, dengan honor yang dia terima sebagai petugas kebersihan. Dengan penghasilan “sebesar” itu Buyung masih bisa menyisihkan biaya sekolah dan biaya kuliah untuk gadis pujaan hatinya.

Buyung percaya akan prinsip “rejeki itu kakinya empat”, semakin dikejar dia akan lari lebih cepat. Namun, dengan ketekunan dan kejujuran dalam bekerja, rejeki itu justru akan datang sendiri pada kita. Semangatnya tidak pernah pudar meskipun sudah hampir 30 tahun bekerja sebagai honorer saja. Buyung tak pernah kecewa dengan statusnya, tetapi bahkan memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja.

Buyung pun sempat belajar mengemudi mobil hingga akhirnya mahir mengendarainya. Dengan keahlian Buyung ini kantor merasa terbantu ketika sedang banyak tamu yang datang. Buyung diperankan sebagai driver cadangan.

Suatu ketika istri buyung sudah lulus sarjana. Bagi orang lain mungkin akan kesulitan mencarikan pekerjaan. Karena sikap buyung yang ringan tangan menolong pegawai, akhirnya sang istri pun dapat kerja di perusahaan daerah air minum (PDAM) atas pertolongan orang lain yang mengenal Buyung lewat jejaring pertemanannya.

Alhamdulillah setelah istrinya bekerja ekonomi buyung semakin membaik. Dari penghasilan istrinya, keluarga kecil Buyung bisa mengalokasikan untuk membeli rumah yang bisa dikembangkan menjadi tempat usaha (ruko). Hingga akhirnya, dia lontarkan kalimat yang mengagetkan saya di atas.

Epilog

Kisah Buyung memberikan banyak pelajaran yang sangat berharga. Di saat orang lain selalu berhitung secara matematis tentang pemenuhan kebutuhan hidup, dengan kesederhanaannya yang antimainstream, Buyung justru menunjukkan bahwa kerja keras, kesungguhan, dan keikhlasan pada akhirnya mengantarkannya mencapai cita-cita.

Bagi sebagian besar orang, minimnya penghasilan sering menjadi kendala mencapai cita-cita. Tak hanya itu, motivasi dalam bekerja pun sering kali tergadaikan manakala mendapati angka-angka di slip gaji seolah tak akan mencukupi kebutuhan hidup.

Kisah Buyung telah mematahkan mitos-mitos ketidakmungkinan. Satu lagi, kisah Buyung juga menunjukkan bahwa jiwa pengabdian yang tetap terjaga telah mengantarkannya mendapatkan kehidupan yang layak.

Saya pun hanya bisa tercenung, “Andai seluruh ASN negeri ini memiliki jiwa seperti Buyung, mungkin kita akan mendapati Indonesia yang lebih indah dan menyejahterakan.”

 

 

3
0
BEING A MOM: Which One is Better, to Take Unpaid Leave, to Resign, or…?

BEING A MOM: Which One is Better, to Take Unpaid Leave, to Resign, or…?

Prolog

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi dengan salah satu teman yang belum lama ini menjadi seorang ibu. Dia adalah seorang aparatur sipil negara (ASN), sama seperti saya dulu.

Setelah cuti melahirkannya berakhir, teman saya ini kembali ngantor, tetapi hanya setengah hari. Dia menolak banyak penugasan yang umumnya harus dikerjakan oleh pegawai pada posisinya. Yang ia kerjakan hanyalah menyusun laporan bulanan, sebuah tugas administratif yang biasanya dapat diselesaikan dalam satu atau dua hari.

Temanku ini memutuskan untuk bekerja seperti itu karena tidak ingin melewatkan setiap perkembangan anaknya. Dengan alasan itu pula ia memilih untuk tidak menitipkan anaknya pada “mbak” ataupun menitipkan bayinya ke Day Care.

Ketika pagi dia berangkat kantor, anaknya dirawat oleh suaminya. Siang hari ketika suaminya berangkat kerja, dia pulang untuk menemani anaknya. Mereka bergantian mengasuh anak.

Dilema integritas?

Setelah saya pancing dengan beberapa pernyataan (tentu saja saya menghindari pernyataan yang sifatnya men-judge), keluarlah statement dari dia:

“Cuma kadang muncul juga sih jiwa-jiwa idealis integritas saya, merasa tidak enak jika sering kabur dan tidak bekerja. Apalagi jika bertemu dengan atasan, saya merasa tidak enak menjadi bawahan yang mengatur atasan. Tapi, jika mengingat kalau kerja harus meninggalkan anak dengan orang lain, perasaan itu langsung lenyap”.

Lalu, pernyataannya ini mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri. Saya pernah mengungkapkannya sebagai salah satu alasan saya memilih keluar dari ASN. Yaitu, saya merasakan perasaan yang tidak enak, ketika saya berangkat kantor hanya untuk memenuhi kewajiban absensi tapi “doing nothing”, which is bukan karena kemauan saya sendiri sejujurnya.

Setiap kali berada di kantor saya merasa stress, pulang ke kosan pun useless rasanya. Perasaan saya pun tak kunjung membaik. Lalu saya bertanya-tanya sendiri “Pantaskah saya mendapatkan gaji sebesar itu dengan kontribusi yang saya berikan? Tidakkah ini semacam membuang uang negara dengan sia-sia?”

Dengan sebuah pertanyaan senada yang saya sampaikan padanya, teman saya pun menjawab, “Iya, tidak tenang rasanya. Kadang terpikir gaji yang saya terima itu halal atau tidak?”

And then, she asked me, “In your opinion, which one is better, to take unpaid leave or to resign?”

To Take Unpaid Leave or To Resign?

Saya tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Betapa tidak, saya saja belum menikah dan belum punya anak. Saya belum pernah merasakan bagaimana beratnya meninggalkan anak dengan orang lain untuk bekerja.

Dalam bayangan saya (dan calon suami), jika saya punya anak nanti, saya memang tidak akan menitipkan pada “mbak” tapi akan menitipkannya di Day Care. Tentu saja dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi.

Namun, saya berusaha untuk menjawab bagaimana jika saya berada di posisi dia. Jika memang bisa taking unpaid leave, ya why not? At least, jika kita sudah siap bekerja lagi, kita masih punya kaki. Apalagi bekerja sebagai ASN.

Saya juga menyarankan selama the unpaid leave – cuti di luar tanggungan negara (CLTN) – dia bisa sambil usaha yang bisa dikerjakan dari rumah. Jika emang sudah yakin dengan usahanya, ya sudah lanjut resign saja.

Tapi, bagaimana jika ia tidak dibolehkan CLTN? Ya, resign saja dengan menerima segala konsekuensinya. Ini pendapat saya sebagai seorang single idealis yang belum dihadapkan dengan posisi sebagai seorang ibu dan seorang istri.

Tentu saja saya akan berusaha mengerti jika kondisi (keuangan) keluarga juga sangat berpengaruh. Tapi apakah hal tersebut dapat dijadikan pembenaran?

Bagaimana jika unpaid leave or resign tidak disetujui?

Karena masih merasa penasaran dengan solusinya, pembahasan tersebut saya sampaikan kepada calon suami saya. Membahas masalah semacam ini rasanya penting juga buat persiapan masa depan kami. Lebih-lebih karena dia juga seorang ASN.

Calon suami saya berpendapat bahwa tidak semudah itu pejabat mengizinkan orang untuk mengambil cuti di luar tanggungan Negara (CLTN) atau bahkan mengizinkan pengunduran diri sebagai ASN.

Sebaliknya, mereka bisa jadi akan menawarkan solusi untuk memindahkan dia ke bidang/bagian yang pekerjaannya rutin, yang tidak perlu keluar kota, atau bahkan akan tetap mengizinkan pegawainya untuk tidak berada di kantor asal presensinya aman.

Jika saya berada di posisi teman saya, pindah ke bagian/bidang lain pun bukan solusi karena pilihannya dia adalah setengah hari pulang untuk merawat anaknya selagi suaminya pergi bekerja. Perasaan tidak enak itu pun akan tetap ada. Tidak menyelesaikan masalah.

Saya akan tetap defence dengan keputusan saya. Saya akan menyampaikan pendapat saya:

“Jika Bapak/Ibu mengijinkan saya untuk CLTN ataupun mengundurkan diri, itu berarti Bapak/Ibu menghemat pengeluaran negara tapi jika membiarkan saya tetap menjadi ASN dengan kontribusi minim, berarti Bapak/Ibu (secara kasarnya) merugikan negara.”

Bagaimana tidak merugikan negara jika tetap membayar gaji pegawai yang kontribusinya tidak sesuai? Walau kita semua paham, asalkan presensi terpenuhi, hal tersebut tidak dapat dibawa ke ranah kerugian negara.

Bagaimana jika saya menjadi pejabat?

Jika saya menjadi pejabat, saya mungkin akan menjadi pejabat yang akan dibenci para ibu. Mungkin para ibu-ibu ASN yang membaca tulisan saya ini, mereka akan berdalih “ah, belum pernah jadi ibu juga kamu, ga usah sok idealis deh!”.

Yes, I know. Apa itu akan mengubah pendapat saya? Saya tidak akan menyalahkan ataupun membenci “mereka” yang melakukannya. Saya akan tetap berusaha untuk mengerti bagaimana di posisi mereka.

Lalu bagaimana jika suatu hari nanti anak buah saya, seorang ibu, menolak penugasan yang saya berikan dan setiap hari selalu kabur (hampir setengah waktu kerja) dari kantor dengan alasan anak masih kecil tidak bisa ditinggal? Saya akan menawarkan pilihan, pindah ke bagian/bidang yang tidak perlu penugasan keluar kota tapi terdapat pekerjaan rutin yang ada setiap hari (dengan syarat pekerjaan tersebut harus selesai pada waktunya) atau take the unpaid leave.

Epilog

Dalam pembahasan kali ini, tentu saja saya tidak sedang menilai mana yang lebih baik antara menjadi ibu pekerja kantoran atau menjadi ibu rumah tangga. Saya hanya memberikan pendapat mengenai ibu pekerja kantoran yang juga memiliki kewajiban layaknya ibu rumah tangga. Menurut saya, sebagai perempuan kita harus dapat mengambil sikap atas keputusan yang telah kita ambil.

Jika kita memutuskan untuk menjadi pekerja kantoran, kita harus siap dengan konsekuensi tidak dapat melihat tumbuh kembang anak kita setiap detiknya karena kita juga mempunyai tanggung jawab lain di tempat kerja kita. Jika kita memutuskan untuk dapat melihat tumbuh kembang anak kita setiap detiknya, ya kita harus berani meninggalkan tanggung jawab yang lain dan harus siap dengan segala konsekuensinya.

Ah iya, satu lagi, ada statement yang diungkapkan teman saya tersebut “Aku kalo pulang ke rumah kadang jadi emosian dan sensi banget. Mungkin karena dilema itu juga kali ya? Emak stress, anak juga rewel”.

Akhir kata, mohon maaf jika pendapat saya dalam tulisan ini mungkin menyentil beberapa pihak. Setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Setiap orang mempunyai prinsip/pandangannya masing-masing. Semoga yang telah diputuskan dan menjadi pilihan adalah yang terbaik dengan segala konsekuensinya.

 

 

3
0
Perlunya Sikap Profesional dan Konsisten Dalam Berkarya

Perlunya Sikap Profesional dan Konsisten Dalam Berkarya

Dalam kehidupan yang semakin ketat dengan persaingan di segala lini, kita tidak boleh selalu bersikap santai atau bahkan menanti-nanti urusan yang bisa diselesaikan dengan segera. Mungkin bisa jadi hal tersebut akan mengganggu kita dalam bekerja maupun belajar.

Sikap seperti itu harus sudah dibuang jauh-jauh karena sangat tidak baik dan cenderung membuat kita menyepelekan hal yang gampang. Jangan sampai kita menyepelekan apapun yang kita lakukan.

Terkadang kesuksesan terlihat dari jejak orang tersebut melangkah. Jika salah langkah, maka habislah sudah. Hingga penyesalan pun akan menghampiri di kemudian hari. Penyesalan yang datang akan sangat disesali dan tidak akan berubah kalau tidak segera bertaubat di awal langkah.

Sikap yang saya sebutkan tadi adalah sikap yang berkaitan erat dengan profesionalisme dalam melakukan suatu hal, entah itu dalam pekerjaan atau dalam hal belajar untuk menggapai cita-cita. Sedangkan untuk dapat bersikap profesional diperlukan sebuah konsistensi, yaitu untuk dapat terus menerus berlaku profesional dan sekaligus mengembangkan diri. Bagi saya dua hal itu adalah komponen penting untuk menggapai kesuksesan.

Kesuksesan di sini tidak selalu berkaitan dengan ukuran materi. Lebih luas dari itu, kesuksesan ialah pencapaian yang sudah diperoleh semasa hidup atau semasa umur yang selalu dipijaki di setiap tahunnya.

Ketepatan waktu adalah bentuk profesionalisme

Salah satu contoh sederhana tentang profesionalisme dan konsistensi adalah kehadiran tepat waktu. Terkadang kita sangat sulit untuk datang ke tempat kerja tepat pada waktu yang telah disepakati. Lalu, kita menyiapkan berbagai alasan supaya menjadi benteng agar tidak dimarahi oleh atasan. Padahal, berbagai alasan tersebut merupakan bentuk pengabaian sikap profesional.

Budaya tidak profesional seperti itu masih selalu ada di sekitar kita dan sepertinya berlangsung secara turun temurun. Belum lagi jika karyawan yang datang terlambat tadi juga bertindak tidak tahu aturan dalam bekerja. Tentu saja sikap tidak profesional akan semakin menjadi dan tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga merugikan orang-orang di sekitarnya.

Hal tersebut harus dibasmi dengan membangkitkan kesadaran diri. Salah satu caranya ialah dengan menghubungkan profesionalisme dengan keyakinan agama.

Dalam ajaran agama Islam misalnya, sikap profesional dan konsisten telah menjadi prinsip dalam melaksanakan ibadah sholat lima waktu. Selain wajib dikerjakan alias konsisten, sholat wajib lima waktu sangat dianjurkan untuk disegerakan. Dalam hal ini, Allah SWT sangat meyukai hambanya yang profesional dan konsisten dalam beribadah kepada-Nya.

Perlu ditanamkan sejak dini

Oleh sebab itu, sikap profesional dan konsisten sebaiknya dikedepankan dalam pendidikan sejak dini. Jika sikap tersebut sudah ditanamkan sejak kecil, maka akan semakin mudah mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari bagi kelak ketika anak-anak telah dewasa.

Akan tetapi yang harus diingat ialah bahwa sebaiknya konsistensi dan profesionalisme dididik dengan pendekatan kesadaran, bukan keterpaksaan. Sebab, jika dipaksakan maka penerapannya akan sulit. Kebiasaan tepat waktu juga tidak akan berlangsung jangka panjang karena tidak datang dari hati yang ikhlas.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin sebagian dari kita merasa risih dan tidak menaruh hormat jika melihat seseorang yang tidak professional. Namun, sebagian lagi akan memakluminya.

Menurut hemat saya, jika ada orang yang demikian, ajaklah dengan tutur kata yang baik untuk selalu mengedepankan profesionalisme, jangan justru dijauhi. Sebab, semakin kita jauhi dia, semakin dia akan cenderung menjadi tidak profesional dan berakibat merugikan lebih banyak orang.

Teladan kesuksesan berkat profesionalisme dan konsistensi

Saya mempunyai dua orang ternama yang dapat dijadikan contoh tentang profesionalisme dan konsistensi. Mereka adalah Cristiano Ronaldo dan Liu Yi Fei.

Cristiano Ronaldo, pemain bola terkenal dari Portugal, telah menyabet berbagai trofi dan penghargaan sejak berseragam Sporting Lisbon hingga Juventus. Hal ini ia capai berkat kerja keras dan tentu saja sikap profesional dan konsisten di berbagai kesempatan.

Cristiano selalu berlatih dengan keras di luar lapangan dan konsisten dengan makanan yang sehat. Ini adalah salah satu bagian penting dalam upaya menjaga profesionalitas dan konsistensi untuk menjadi pesepak bola ternama. Tidak mengherankan jika ia kemudian berhasil mengantungi lima penghargaan Ballon D’Or.

Sama halnya dengan Liu Yi Fei, artis Tiongkok yang memiliki nama Amerika dengan sebutan Crystal Liu. Yi Fei selalu menjaga profesionalitas dan konsistensinya dengan selalu berlatih menyanyi dan berakting untuk menjadi semakin baik dari hari ke hari.

Xixi, panggilan akrabnya, tidak hanya lihai dalam beradu akting tapi juga mempunyai suara yang sangat bagus. Beberapa lagu soundtrack di filmnya ia nyanyikan sendiri. Beberapa di antaranya telah membawanya mendunia, misalnya lagu-lagu di album “All My Words”. Begitupun dengan single “Mayonaka No Door” dan “Fang Fei Mei Li”, cukup familiar di kalangan penikmat genre musiknya.

Karena profesionalisme dan tingkat konsistensi yang tinggi, Liu Yi Fei akhirnya dipilih dari sekian banyak artis Tiongkok untuk memerankan Mulan, film live action yang digagas oleh Disney. Film ini direncanakan tayang pada bulan Maret 2020.

Demikian, dua contoh tentang profesionalisme dan konsistensi yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Semoga menjadi inspirasi untuk kita semua.

 

 

2
0
Roker Jelita: Semangat Muda Para Wanita dari Pinggiran Ibukota

Roker Jelita: Semangat Muda Para Wanita dari Pinggiran Ibukota

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah cerita, tentang bagaimana kejamnya ibukota Jakarta. Pada suatu pagi di awal tahun 2015, kedua mata saya berkaca-kaca lalu meneteslah air mata sebagai manifestasi atas sebuah kekecewaan pada keadaan. Lokasi drama ini adalah halte busway Manggarai.

Kejamnya Ibukota Jakarta

Pagi itu, sebagai seorang pegawai rendahan sekaligus seorang ibu muda dengan dua anak yang masih balita, saya punya sebuah misi untuk tiba di kantor tepat pada waktunya, yaitu sebelum jam di alat finger print kantor saya melewati 08.00 WIB. Jelas sekali, menjalani kedua peran itu bersama-sama membutuhkan perjuangan.

Ternyata, dua tahun vakum dari rutinitas ngantor karena tugas belajar membuat saya sedikit jet lag. Akibatnya, perjalanan dari rumah di BSD–Bintaro Sonoan Dikit– menuju kantor di bilangan Jakarta Timur harus saya tempuh dalam waktu dua jam. Padahal, orang lain bisa menjalaninya kurang dari sejam.

Itupun dengan perjuangan yang tidak biasa, gencet-gencetan dengan sesama penumpang kereta rel listrik (KRL), berpacu dengan waktu dan crowded-nya suasanya pergantian jalur di stasiun Tanahabang, serta lari-larian yang melelahkan di antara Stasiun dan halte busway Manggarai.

Pada akhirnya, saya tetap terlambat. Maka dalam tangisan itu batin saya berbisik, “Gini amat ya cari uang di Jakarta”.

Mencoba berkompromi dengan kondisi

Perlahan-lahan, saya mulai berkompromi dengan keadaan. Hari demi hari, setiap pagi saya awali dengan rencana memperbaiki catatan presensi yang saya buat pada hari sebelumnya. Oleh sebab itu, otak saya terus berputar dan mencoba beberapa cara. Satu hal yang pasti, saya tetap harus mengawali perjalanan saya dengan naik KRL dari stasiun Sudimara di Tangerang Selatan.

Mengapa tidak motor sepenuhnya? Karena terlalu jauh jarak antara kantor dengan rumah, sementara ada beberapa titik macet yang menyedihkan. Mengapa tidak menggunakan mobil? Karena selain lebih lama dan melelahkan, perbandingan biaya antara menggunakan mobil pribadi dan naik kendaraan umum bisa mencapai 1:8.

Fantastis bukan? Maka tentu saja, mau tidak mau saya harus naik kereta. Bolehlah sedikit drama di dalamnya, asal tak perlu merogoh kocek terlalu dalam dan tidak terlalu lama menderita. Sah-sah saja. Toh pada akhirnya masih ada cara untuk tetap eksis dan menciptakan ‘kenyamanan’. Salah satunya, dengan menjadi orang yang tidak mudah baper alias terbawa perasaan.

Lalu apa saja alternatif setelah KRL yang pernah saya coba?
Pertama, saya menempatkan sepeda motor di tempat parkir dekat dengan stasiun Palmerah untuk meningkatkan efisiensi waktu. Adalah berlangganan parkir di halaman kantor sebuah kementerian, lalu sebuah areal parkir komersil dengan harga miring, hingga mencari parkir gratisan di kantor teman, menjadi 3 jenis eksperimen saya waktu itu.

Ketiganya kandas ketika suatu hari saya mengalami kecelakaan ringan bersama motor saya di sekitar Senayan. Keesokan harinya, terbit larangan bersepeda motor dari atasan saya di rumah, suami. Hahaha. Untunglah, dua minggu kemudian ternyata saya dinyatakan mengandung anak ketiga. Artinya, lebih aman jika menghindari resiko kecelakaan serupa.

Menemukan Komunitas Roker Jelita

Tak butuh waktu lama, pada akhirnya saya menemukan sebuah komunitas informal yang dibentuk di kantor saya. Namanya adalah Roker Jelita, singkatan dari rombongan kereta jelang lima puluh tahun. Ya, sesuai dengan namanya, grup ini mayoritas beranggotakan ibu-ibu pegawai yang mengandalkan layanan kereta KRL untuk wara-wiri setiap hari.

Usia mereka tak lagi muda, kebanyakan sudah senior secara umur dan jenjang karir. Salah satu di antaranya bahkan menjabat sebagai eselon II di kantor kami. Akan tetapi, kebersamaan menjalani rute dari wilayah urban ke pusat kota membuat kami menjadi sangat akrab layaknya keluarga. Ternyata, untuk menjadi tangguh dalam tekanan kejamnya ibukota dibutuhkan tenaga. Sumbernya, tentu saja dari komunitas semacam Roker Jelita.

Ketangguhan dan kecerdikan Roker Jelita

Awalnya saya meragukan ketangguhan mereka sebagai pengguna kereta. Bukankah fisik mereka tak lagi prima? Tapi, keraguan itu terbantahkan ketika kedua mata saya menyaksikan sendiri betapa lincah dan cekatan ibu-ibu itu menentukan posisi, berpindah jalur di stasiun dengan tangga yang naik turun, bahkan berlari mencari angkutan tercepat dari kantor ke stasiun. Dalam hitungan detik, wanita-wanita tangguh ini telah berhasil menempuh jarak puluhan meter demi sebuah misi: tidak ketinggalan kereta.

Para suhu Roker Jelita mengajari saya beberapa trik untuk memenangkan kompetisi dengan waktu. Misalnya, pada gerbong dan pintu ke berapa saya harus berdiri supaya tepat posisi turun atau naik KRL di stasiun Manggarai, Sudirman, dan Tanahabang. Dengan begitu, transit antar jalur akan lebih cepat dan meminimalisir drama tergencet ataupun terluka dalam himpitan menaiki tangga dan eskalator yang seringkali terasa tak manusiawi.

Selain itu, kami terbiasa berkelompok di pagi hari, menentukan rombongan dan memesan taksi di stasiun sudirman. Pastinya, taksi lebih aman tetapi tetap murah biayanya karena terjadi mekanisme cost sharing dalam rombongan. Setelah itu, kami hafal betul rute mana yang paling cepat dan aman untuk mengantarkan kami ke tujuan, kantor.

Kami adalah keluarga

Bertemu dengan para ibu yang tergabung di Roker Jelita sejujurnya memberi saya semangat tambahan. Bahwa ternyata kami berjuang bersama-sama dan saling menguatkan. Di pagi hari, kami berusaha datang pagi dan bersiap menjalani hari sebagai abdi negara yang profesional. Di sore hari, kami pun bergegas pulang demi sebuah transformasi kembali pada kodrat: mengurusi anak dan suami.

Canda tawa di dunia maya, di gerbong kereta, taksi, hingga sarapan pagi bersama-sama telah menjadi momen yang penting untuk mempererat solidaritas kami sebagai sebuah komunitas. Kami adalah keluarga, tak peduli usia, senioritas di tempat kerja atau bahkan latar belakang keluarga. Obrolan kami biasanya (selain tentang kereta, tentu saja) berkisar pada cerita tentang anak yang masih balita, yang hendak kuliah, hendak menikah, atau bahkan sekali dua berdiskusi tentang current issue di Indonesia.

Sesekali, ketika terjadi gangguan pada sistem kereta, grup komunikasi kami menjadi sarana yang sangat dapat diandalkan. Cepat, tepat, dan solutif adalah motto yang diam-diam kami pegang. Seperti sore itu, suatu hari di Bulan Maret 2019, ketika korsleting mengganggu jadwal perjalanan KRL rute Tanahabang-Serpong.

Mau tidak mau, kami harus menggunakan sarana transportasi lain seperti Moda Raya Terpadu (MRT), bus Transjakarta, atau taksi. Pastinya, menjalani perjalanan pulang dengan alat transportasi yang berbeda dari biasanya terasa lebih nyaman ketika dijalani bersama-sama.

Berjiwa muda, tak terkalahkan oleh kejamnya ibukota

Sungguh, bagi saya Roker Jelita bukan lagi kumpulan ibu-ibu biasa. Akan tetapi ia telah menjelma menjadi sebuah keluarga, di mana para anggotanya selalu berjiwa muda. Mereka di dalamnya adalah para wanita tangguh yang berusaha tiba dan pulang dari tempat kerjanya ke rumah di pinggiran Jakarta, tanpa air mata karena terkalahkan oleh kejamnya ibukota.

Dan inilah cerita mereka, kisah di balik kekuatan dan kelincahan yang tak lekang -dihimpit gencetan, eh zaman:

“Yang kamu bilang perjuangan naik KRL zaman sekarang ini Sof, ndak ada apa-apanya dibandingkan belasan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Kalau sekarang kereta melintas setiap 10 menit dan waktu tempuh secepat itu, maka dulu hanya ada satu pada jam-jam tertentu. Itu pun harus di sambungan gerbong naiknya, ditiup-tiup dengan semilir angin dan pemandangan pembangunan Jakarta.

Kaki tangan yang memar itu sudah biasa, karena seringkali tak ada peron yang tersedia dengan selayaknya. Melompat dari satu pintu kereta ke pintu rangkaian kereta di jalur yang lain lagi, sudah biasa meskipun kami adalah wanita.

Mau bagaimana? Ya sudah nikmati saja.

Untungnya, di sela-sela kesulitan masuk keluar gerbong lewat jendela saking padatnya –serta sekali dua terinjak-injak penumpang yang berjejal keluar masuk berebutan- masih ada sisi baiknya: bisa membeli rupa-rupa makanan dengan harga yang murah meriah.

Jadi, pada intinya, yang kalian keluhkan tentang sulitnya menjadi Roker masa kini itu, dibandingkan zaman muda kami, tak ada apa-apanya!”

Terima kasih, Roker Jelita!

 

 

 

8
0
Gali Potensi Menangkan Kompetisi

Gali Potensi Menangkan Kompetisi

Pernah membaca buku Mutiara Hati Penggugah Jiwa? Buku ini ditulis oleh Husni Mubarrok, seorang pendidik dari Gresik. Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan renyah. Ulasannya menohok dan merasuk di raga.

Di bagian awal, kita diingatkan bahwa setiap diri punya potensi, setiap diri punya kemampuan, meski kecil adanya. Potensi itu perlu digali. Dan memang harus digali. Ia akan tampak jika engkau menggalinya. Ia akan dahsyat jika dipoles. Karena itu, gali dan poleslah ia, supaya dahsyat hasilnya.

Husni Mubarrok memberikan lima tips menggali potensi diri. Pertama, yakin bahwa setiap orang punya potensi masing-masing. Potensi bisa terlihat dari bakat, minat, hobi, dan kecenderungan kita dalam melakukan sesuatu.  Kedua, bersikap positif atas potensi yang dimiliki. Karena di sanalah jalan sukses akan terbentang. Ketiga, buang jauh-jauh prasangka negatif atas kelemahan diri. Keempat, kembangkan potensi Anda karena kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana. Kelima, kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana yang terus dikembangkan hingga menjadi luar biasa.

Tekad Kuat Menggali Potensi Diri

Saya mencoba mengulas tulisan ini berdasarkan pengalaman saya selama ini. Bekerja hampir 22 tahun di birokrasi pemerintahan memberikan banyak warna dalam kehidupan saya. Itu belum termasuk pengalaman hampir 1.5 tahun di salah satu BUMN. Hampir delapan tahun saya bekerja sebagai staf pengajar di beberapa PTS.

Empat belas tahun lalu saya diminta untuk mengelola majalah di Kemenpan RB. Dari sanalah potensi sederhana yang saya miliki mulai tergali. Saya belajar secara otodidak dalam menulis dan mengelola majalah. Tak ada yang istimewa barangkali dari pengalaman tersebut. Namun, semangat belajar dari potensi sederhana tersebut terus saya kembangkan hingga saat ini.

Mungkin tak banyak birokrat yang mau dan mampu menulis di sela deraan pekerjaan tiada henti. Saya bersyukur telah memulainya dan tak berhenti hingga saat ini. Dari aktivitas menulis yang saya tekuni selama  14 tahun, saya merasa ada potensi tersembunyi di bidang literasi. Potensi itulah yang terus saya kembangkan.

Untuk bisa menulis tentu saya juga harus senang membaca dan berdiskusi dengan banyak orang. Kesempatan ini makin berkembang karena hampir enam tahun terakhir saya sering ditugaskan ke banyak kementerian, lembaga dan pemerintah daerah. Saat memberikan materi baik di saat sosialisasi maupun bimbingan teknis, saya pun terus belajar.

Sebelum memberikan materi tentu saya harus menguasai terlebih dahulu dengan mempersiapkan diri termasuk membaca beberapa buku dan referensi. Dari belajar tersebut saya mendapatkan banyak hal. Tak kurang sembilan buku hasil pengalaman mengajar dan dari perjalanan dinas saya ke banyak tempat sudah diterbitkan. Itu di luar buku-buku profil kepala daerah yang mencapai 20 buku pernah saya tulis baik sebagai penulis maupun sebagai editor.

Tunjukkan Kompetensi Anda

Dengan menulis saya makin yakin prospek ke depan makin cemerlang. Apapun bidangnya kemampuan menulis pasti dibutuhkan. Termasuk di birokrasi pemerintahan. Terakhir, buku berjudul Birokrat Menulis 2 yang segera launching adalah kumpulan-kumpulan tulisan saya dari media sosial dan media on line hampir dua tahun terakhir ini. Birokrat yang menulis buku pastilah belum banyak. Kalaupun ada biasanya adalah guru, dosen, dan peneliti.

Di dunia kerja, sering kita temukan perlakuan yang berbeda dari atasan kepada bawahannya. Hal tersebut terkait kompetensi staf maupun selera atasan. Menyikapi hal ini maka menjadi penting bagi kita untuk menunjukkan kompetensi yang kita miliki.

Selain senang belajar, berdiskusi, membaca dan menulis, saya juga senang mengajar. Dengan mengajar membuat saya harus banyak belajar. Tanpa belajar tentu materi saya jadi datar dan hambar. Jika kita menunjukkan kompetensi yang kita miliki secara maksimal, maka dapat dipastikan keberadaan kita menjadi penting.Tugas kita selanjutnya adalah melipatgandakan potensi ini.

Menulis, mengajar, dan berkarya dalam bentuk buku adalah sebuah pengalaman berharga buat saya bekerja di birokrasi pemerintahan. Inilah yang terus akan saya kembangkan sesuai potensi yang saya miliki.

Buku Birokrat Menulis 2 berkisah tentang bagaimana saya mengembangkan potensi yang saya miliki tadi. Membaca, menulis, dan mengajar adalah pengalaman yang luar biasa. Setiap pengalaman itulah saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Ke mana pun pergi, saya pastikan akan berdiskusi dengan banyak orang. Hal-hal baik dan bermanfaat akan saya catat dan menjaadikannya tulisan ringan dan menginspirasi.

Semua catatan kebaikan itulah yang akhirnya saya jadikan buku Birokrat Menulis 2. Alhamdulillah untuk pre order pertama 200 buku langsung ludes. Buku tersebut akan segera menemui pembacanya di akhir bulan November ini. Seperti halnya buku Birokrat Menulis yang terbit Desember tahun lalu, Birokrat Menulis 2 berisikan catatan-catatan dan renungan harian saya selama ini. Bedanya, di buku seri 2 tersebut Anda dapat menemukan kumpulan tulisan di media sosial saya selama hampir dua tahun terakhir ini.

Manfaatkan Media Sosial, Kembangkan Potensi

Beberapa tulisan saya juga dimuat di media online Birokrat Menulis. Laman ini sama dengan judul buku saya, tetapi pengelolanya sebuah komunitas di kalangan birokrasi yang concern dengan gerakan literasi birokrasi. Saya salah satu anggota dari komunitas ini dan cukup aktif mengirim tulisan di laman ini. Komunitas ini pula yang kian mengangkat reputasi saya sejauh ini.

Birokrat Menulis 2 seperti yang disampaikan editor buku ini, M Iqbal Dawami, terdapat nuansa yang berbeda dari segi diksi dan tema yang diangkat di setiap tulisan. Menurut alumnus Program Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini, narasi buku tersebut makin dalam dan matang serta daya nalar dan refleksi di setiap tulisan kian memukau. Penulis buku Pseudo Literasi ini sangat paham  dengan tulisan-tulisan di Buku Birokrat Menulis. Getaran rasa yang tertuang dalam rangkaian kata tentu bisa dipahaminya selaku editor buku ini.  Seperti yang dikatakan Iqbal, saya mencatat segala lalu lintas kehidupan yang saya alami. Pengalaman sosial, intelektual, dan spiritual saya tulis dan lalu saya ambil hikmah dibaliknya.

Tulisan-tulisan tersebut banyak terkait pertemuan saya dengan banyak orang di berbagai daerah sebagai seorang birokrat. Tulisan-tulisan tersebut ditulis saat menjelang keberangkatan di bandara, usai mendarat, termasuk saat berdiam di hotel menjelang kepulangan ke Jakarta. Setiap tulisan memiliki rasa yang berbeda karena perjalanan yang juga berbeda. Selain di sela-sela waktu tersebut, saya juga sering menulis di pagi hari atau sebelum saya tidur di malam hari.

Terus Gali Potensi, Tumbuhkan Percaya Diri

Kembali ke ulasan gali potensimu, meskipun kecil saya merasa kian semangat dan percaya diri. Ternyata hal-hal yang kecil dan sederhana jika dilakukan secara konsisten ternyata memiliki makna. Karya telah membuat sebuah perbedaan. Hidup tak harus disesali dengan segala keterbatasan diri. Hidup harus berjuang meskipun di tengah keterbatasan.Jika sebagian orang menganggap kita tak mampu, biarkan saja. Terus melangkah dan fokus dengan segenap potensi yang dimiliki.

Saya tentu merasa bangga menjadi urang Minang yang selama ini banyak melahirkan tokoh bangsa dan juga penulis dan penyair. Sebagai alumni Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas  Andalas Padang, saya ternyata bisa berkarya jauh dari latar belakang keilmuan saya selama di bangku kuliah.

Lalu saya kaitkan perjalanan menulis saya dengan tokoh-tokoh Republik dari Ranah Minang. siapa yang tak kenal Bung Hatta. Agus Salim, dan Sutan Syahrir. Di dunia literasi ada Buya Hamka, Taufiq Ismail, dan beberapa nama beken lainnya. Mungkin saya masih jauh dari nama-nama yang disebut tadi. Namun, tradisi baru di kalangan birokrasi paling tidak sudah saya mulai sejak sebelas tahun lalu hingga hari ini.

Seperti yang diulas oleh Husni Mubarrok kita sering menganggap anak yang tak bisa ilmu Matematika sebagai anak yang bodoh (baca kurang pintar). Mungkin ia tidak pintar di bidang Matematika, tetapi hebat di bidang bahasa. Barangkali ia tak jago di bidang Fisika, tetapi unggul di bidang pelajaran sosial.

Sekalipun seorang siswa kurang mampu di seluruh mata pelajaran, belum tentu ia gagal. Mungkin dia dilebihkan di bidang keterampilan seperti seni musik ataupun seni lukis. Begitulah Allah menciptakan manusia dengan segala keunikan, kelebihan, dan kekurangannya. Tugas manusia untuk menggali potensi diri dan kelebihan yang dimilikinya. Kesuksesan sering berangkat dari keterbatasan diri. Dari keterbatasan itulah seseorang bangkit, kemudian mengasah potensi yang dimilikinya menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat.

Berbagi pengalaman di bidang literasi di sela-sela waktu tak pernah berhenti saya lakukan. Saya yakin di tahun 2019 mendatang saya kian menemukan kesempatan terbaik. Buku Birokrat Menulis 2 adalah salah satu jalan menuju harapan terbaik tersebut.

Seperti yang disebut oleh Profesor Werry Darta Taifur,  Rektor Universitas Andalas 2012-2016 dalam testimony-nya, bahwa buku Birokrat Menulis 2 sangat pantas dibaca oleh generasi millenial dan generasi alpha yang akan menghadapi tantangan yang makin banyak dalam segala aspek kehidupan di masa mendatang.

Birokrasi yang kian kompetitif dan berbasis kinerja akan meluluhlantakkan orang-orang yang tak memiliki nilai tambah. Dan nilai tambah inilah yang akan saya jadikan pelampung diri jika terjadi turbulensi di organisasi.

 

 

1
0
error: