Tekad dari Makassar: Menulis dan Terus Menulis!

Tekad dari Makassar: Menulis dan Terus Menulis!

Masih terkesan dalam ingatan, sebuah peristiwa langka yang saya alami di Kota Makassar di medio April lalu. Peristiwa tersebut adalah kesempatan mengikuti kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh Pergerakan Birokat Menulis.

Bukan hanya itu saja, kesempatan untuk berjumpa secara langsung dengan para pegiat pergerakan adalah sesuatu yang sangat saya nantikan. Selama ini komunikasi dan diskusi hanya dapat saya ikuti secara online melalui grup WhatsApp.

Saat itu, keinginan saya untuk bertemu dengan para pegiat Pergerakan Birokrat Menulis cukup menggelora. Tanpa rasa lelah dan disertai dengan semangat tinggi, Jum’at malam 26 April 2018, selepas dari kantor saya berangkat menuju Kota Makassar. Perjalanan yang cukup panjang dengan menempuh waktu 10 jam terbayarkan saat mengikuti diskusi Birokrat Menulis yang diselenggarakan di Kota Makassar Sabtu malam, 27 April 2018.

Hotel Aston adalah lokasi dilaksanakannya kegiatan diskusi. Saya bergegas menuju lantai 20. Di sana saya bertemu dengan para pegiat pergerakan, yaitu Rudy M. Harahap, Mutia Rizal, Andi P. Rukka dan Eko H.W., dan Nur Ana Sejati.

Dengan rasa gembira saya berjabatan tangan dengan mereka dan berbincang penuh kehangatan. Saya tidak pernah membayangkan suasana keakraban akan terbangun seketika. Ternyata bertemu dengan orang yang punya visi dan ide yang sama, terasa bertemu dengan sahabat yang telah lama berpisah.

Tidak lama berselang para tamu mulai berdatangan. Saya mengambil peran menjemput para tamu. Peran yang diberikan oleh Tim Birokrat Menulis sungguh sangat berarti. Melalui peran ini saya bisa berdialog dengan para birokrat yang hadir pada saat itu, meskipun sebagian hanya sekadar menanyakan nama dan instansi asal mereka.

Acara dimulai, Rudy M. Harahap selaku Editor in Chief Birokrat Menulis, memperkenalkan tujuan hadirnya pergerakan Birokrat Menulis. Saya mengambil posisi sebelah kanan ruangan sambil sesekali berkeliling memantau suasana. Meskipun sederhana, tetapi cukup meriah dan peserta diskusi sangat antusias.

Acara diskusi dengan tema “Kinerja Birokrat dalam Kubangan Politik Praktis” ini menghadirkan narasumber seorang birokrat dari Provinsi Sulawesi Selatan, Zainuddin Jaka dan Adi Suryadi Culla seorang dosen Fakultas Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.

Di saat yang sama juga dilakukan peluncuran buku terbitan Birokrat Menulis, yaitu buku karya Andi P. Rukka yang berjudul Politik, Birokrasi dan Kebijakan Publik: Pokok-Pokok Pikiran dalam Memerangi Tuna Politik di Indonesia, dan buku karya Nur Ana Sejati yang berjudul Budaya Kinerja: Sebuah Upaya Revitalisasi Akuntabilitas Kinerja Sektor Publik.

Dalam bukunya, Andi P. Rukka menuangkan semua kegelisahan untuk memecahkan masalah bangsa yang tak kunjung membaik. Penulis menyatakan kebingungannya karena tidak tahu kepada siapa harus berbicara.

Bicara kepada politisi, mereka tersandera oleh koalisi. Bicara kepada birokrat, mereka lebih sibuk memperbaiki nasib. Bicara kepada akademisi, mereka pun kebanyakan hanya mengisi daftar nilai.

Di tengah kebingungan itu, akhirnya penulis memilih bicara kepada rakyat sebagai pemilik sejati negeri ini. Bagi saya buku ini perlu dibaca oleh semua kalangan agar kita tidak menjadi penyandang tuna politik.

Selanjutnya Nur Ana Sejati, melalui bukunya menyoroti Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) yang selama ini lebih dianggap sebagai sebuah kewajiban formal dalam rangka penyusunan laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP), yang saat ini berubah nama menjadi laporan kinerja (LAKIN).

SAKIP sering dipandang sebelah mata baik oleh legislator maupun kepala daerah. Dalam proses penyusunan anggaran, misalnya, fokus pembahasan lebih kepada deretan angka-angka daripada target kinerja yang ingin dicapai. Bagi tim penyusun  laporan kinerja juga sering dianggap sebagai beban.

Sebaliknya, SAKIP seharusnya dipandang sebagai falsafah organisasi yang menggerakan seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuan. Untuk itu, perlu dibangun suatu budaya kinerja, atau biasa disebut sebagai performance-driven culture.

Selanjutnya, kedua narasumber memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pergerakan Birokrat Menulis. Ada hal yang membuat saya tercengang saat Adi Suryadi Culla mengatakan, “Saya menunggu tulisan dari para birokrat yang memberontak.”

Saya memaknai kalimat Adi sebagai motivasi untuk para birokrat agar berani menulis lebih otokritis. Zaman Now memang dibutuhkan birokrat yang otokritis untuk membangkitkan gairah para birokrat lainnya agar tidak terjebak dalam kubangan politik praktis.

Birokrat sejatinya jangan terjebak dalam hal-hal yang bersifat praktis dan rutinitas. Birokrat harus berani menggugat setiap keputusan yang dianggap tidak berpihak pada masyarakat. Birokrat harus tampil terdepan, bukan hanya siap menunggu perintah pimpinan.

Pemimpin boleh berganti, pemimpin boleh dibatasi dua periode, tetapi birokrat akan selalu hadir meski pemimpin silih berganti. Birokrat harus sadar bahwa pembangunan tidak akan bertumbuh dengan semestinya manakala birokrat hanya terjebak hal-hal yang praktis dan rutin. Birokrat harus berani mengorbankan apa yang ia miliki. Birokrat harus mengembangkan dirinya dan berani keluar dari zona kenyamanan.

Seketika itu saya teringat pesan John C. Maxwell dalam bukunya Self Improvement:

“Anda harus belajar untuk melepaskan beban sebelum berusaha membawa beban lain. Anda harus melepaskan salah satu hal untuk memperoleh hal yang baru. Orang secara alamiah menahan itu. Kita ingin tinggal di zona kenyamanan dan bertahan dengan apa yang sudah diterima umum. Kadangkala lingkungan memaksa kita untuk menyerahkan sesuatu agar kita memiliki kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang baru. Namun yang lebih sering terjadi adalah, jika ingin membuat pertukaran yang positif, kita harus mempertahankan sikap yang benar dan bersedia untuk menyerahkan beberapa hal”.

Pesan Maxwell memiliki implikasi bahwa birokrat harus berani tampil tidak seperti biasanya karena hal yang biasa bisa dikerjakan oleh semua orang. Kebiasaan yang tidak benar jangan lagi dibiasakan.

Lantai 20 Hotel Aston Makassar memberi saya inspirasi dan membangkitkan hasrat untuk terus menulis. Dari sana saya bertekad untuk tetap menulis, menuangkan gagasan ataupun kegelisahan yang saya miliki.

Saya pun tak begitu memedulikan apakah nanti banyak orang mau membaca tulisan saya atau tidak. Satu hal yang saya miliki, tekad untuk menulis, menulis, dan terus menulis sampai jari-jari tangan saya terhenti dengan sendirinya.

Dari lantai 20 pun saya membulatkan tekad untuk tetap berada dalam pusaran pergerakan yang hebat ini. Sebuah pergerakan literasi bagi birokrat yang sungguh bermanfaat untuk meningkatkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pemahaman melalui berbagai paradigma. Semua itu bertujuan untuk membangun birokrasi yang lebih kuat dan memiliki nilai bagi publik.

Setelah kegiatan diskusi berakhir, saat lantai 20 semakin hening, saya masih sempat menikmati suasana hangat bersama tim Birokrat Menulis untuk melanjutkan obrolan hingga larut malam. Suasana yang sungguh menyejukkan dan membahagiakan relung sanubari saya.

Salam Birokrat Menulis.

Teruslah kritis, cerdas, dan menginspirasi tanpa batas.

 

 

Birokrat Zaman Now Adalah Birokrat Menulis

Birokrat Zaman Now Adalah Birokrat Menulis

Di suatu pagi nan cerah disertai udara dingin Kota Kembang, tempat saya dan keluarga tinggal,  saya berdiskusi dengan dua orang sahabat via WhatsApp (WA).

Salah satu dari mereka adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), dan satu lagi seorang pekerja di sebuah perusahaan swasta. Banyak hal yang bisa saya petik dari diskusi pagi itu, tentang hidup dan kesabaran, tentang tantangan yang datang silih berganti, dan tentang dunia yang berubah kian cepat.

Saya pun lalu terkenang akan perjalanan hidup saya. Berbagai tantangan hidup yang kadangkala terasa berat juga sering saya hadapi. Hanya karena sabar dan belajar untuk sabar, saya bisa bertahan. Kalau tak sabar dan tak banyak teman, saya sudah ‘angkat koper’ untuk mencari peruntungan baru. Namun, beberapa kali saya diingatkan oleh beberapa kolega bahwa ke mana pun kita pergi kita tak akan bisa lari dari masalah hidup.

Hidup adalah sekumpulan masalah. Namun, cara kita menyikapi masalah itulah yang terpenting, yang menjadi pembeda bagi kita untuk menjadi pemenang atau pecundang. Saya bersyukur masih bertahan hingga sejauh ini.

Kali ini saya tidak ingin berbagi permasalahan hidup saya, melainkan berbagi pengalaman dalam menemukan kepercayaan diri yang membuat saya memutuskan untuk terus menulis sampai kapan pun nanti.

Menulis Adalah Jalan Hidup

Saya sungguh sadar bahwa hidup ini ibarat mengayuh sepeda. Saat kita berhenti mengayuh maka sepeda pun tak lagi melaju. Pilih melaju atau berhenti, keputusan ada di tangan kita. Hingga hari ini keputusan untuk terus membaca dan lalu menulis masih terus saya pilih.

Sudah berapa banyak orang yang mengomentari karya-karya saya hingga sejauh ini, saya tak begitu memedulikannya lagi. Saya terus berjalan, terus melangkah, dan melaju. Komentar dan kritikan juga datang silih berganti. Pujian pun sudah tak saya hiraukan lagi. Buat saya membaca, menulis, dan berkarya.  Itu saja.

Saya hanya percaya karya akan jadi pembeda. Tak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia.

Beberapa waktu yang lalu, dalam acara Bedah Buku Birokrat Menulis di PPSDM Aparatur Kementerian ESDM saya merasa sangat terharu. Tim kecil saya bekerja penuh semangat membantu hingga akhirnya kegiatan tersebut berjalan sukses dan luar biasa.

Dalam banyak hal saya tak bekerja sendiri dalam menerbitkan buku. Banyak dukungan dari teman dan sahabat di sekitar saya. Apalagi untuk sebuah event seperti peluncuran buku, talk show, dan bedah buku. Banyak tangan yang membantu.

Mereka seolah berkata, “Teruslah berkarya Pak Adrinal, jangan lelah dan jangan pernah menyerah”. Dukungan tulus inilah yang senantiasa menyemangati saya untuk tidak berhenti. Saya hanya melihat dan fokus pada dukungan-dukungan ini.

Belakangan ini banyak komunitas menulis yang telah lahir. Di antara banyak komunitas tersebut, ada satu yang paling membuat saya bahagia, yaitu komunitas Pergerakan Birokrat Menulis (PBM). Ya, komunitas ini sungguh membahagiakan saya. Bukan karena judul buku saya sama dengan komunitas ini, tetapi semangat yang saya bangun sejak sebelas tahun lalu ternyata senada dengan visi yang dibangun komunitas ini.

Saya yakin jalan saya kian mudah. Dulu saya menyebut perjuangan saya berdarah-darah. Saatnya saya berjalan seperti melewati jalan tol Cipali yang lurus dan mulus.

Mata saya sempat berkaca pagi itu. Saya tak boleh berhenti, saya bertekad untuk terus berjalan dan melaju. Tak ada waktu untuk mundur meski  tantangan silih berganti. Mundur berarti kalah dan sia sia. Saya tak mau melakukan kesia-siaan.

Saya harus kuat dan tetap semangat di sisa perjalanan yang saya pikir sebentar lagi sampai di tujuan. Betapa banyak orang yang mendukung saya selama ini. Keluarga, teman, dan sahabat. Ada juga pimpinan dan tokoh-tokoh hebat di sekeliling saya. Mereka masih menunggu dan menunggu lagi karya baru saya. Saya memang tak boleh berhenti. Saya harus terus menulis.

Seorang sahabat dekat saya yang tahu persis bagaimana cara saya menulis dan menerbitkan buku mengatakan bahwa karya-karya itu akan menjadi pelampung saya di kemudian hari.

Saat kapal mulai bocor tentu penumpang berebut pelampung. Pelampung ini akan menjadi pelampung saya, ujarnya lagi. Meski saya tak begitu paham ungkapan sahabat tadi, tetapi saya tahu bagaimana berupaya belajar dari permasalahan hidup yang tak pernah berhenti.  Dengan menulis saya tahu jalan hidup yang harus saya lalui.

Menulis adalah Kebahagiaan

Sambil sesekali saya memandang ke halaman depan rumah, sambil saya berpikir bahwa tenaga saya memang tak sekuat dulu, tetapi harapan saya masihlah tetap berkobar.

Hampir setiap minggu saya mampir ke toko buku. Saya memimpikan buku saya hadir di toko buku terkemuka dan menjadi best sellers. Mimpi lama yang hingga hari ini belum terwujud.

Meskipun belum banyak yang bisa saya hasilkan dari buku, tapi paling tidak dahaga saya sudah terlampiaskan. Saya sudah memulai tradisi baru, dan itu sudah saya mulai sejak sebelas tahun lalu.

Meskipun belum menjadi best sellers, tetapi buku-buku yang saya tulis telah membahagiakan saya. Di antaranya adalah  seringnya saya diundang ke banyak tempat baik dalam acara talk show, bedah buku, ataupun menjadi pembicara atas materi yang saya tulis. Bagi saya hal itu luar biasa.

Tak terhitung banyaknya kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang ingin menghadirkan saya dalam bimbingan teknis penyusunan Standar Operasional Prosedur (Bimtek SOP). Selain bimtek tersebut memang menjadi tugas pokok saya di kantor, juga karena saya menulis buku yang berjudul ‘Panduan Praktis Menyusun SOP Instansi Pemerintah’.

Bahkan, sebuah kampus terkemuka di negeri ini setiap tahun selalu mengundang saya untuk bicara dalam program diklatnya mengenai penyusunan SOP intansi pemerintah. Mereka pun pernah mengungkapkan bahwa cara penyampaian saya saat memberikan materi tersebut sungguh mudah dimengerti. Ditambah lagi karena saya juga menulis buku terkait panduan praktis terkait topik tersebut. Ternyata buku telah berbicara sendiri dan menyuarakan kapasitas lebih diri saya seperti para guru besar yang memberikan kuliah di kampus yang sama.

Pernyataan dan pengakuan sahabat serta handai taulan sampai dengan undangan menghadiri berbagai acara membuat saya semakin yakin bahwa menulis adalah membahagiakan saya.

Birokrat, Menulislah!

Satu hal yang saya terus yakini bahwa wajah negeri ini akan berubah jika semakin banyak birokrat mau menulis.  Birokrat zaman now harus banyak menulis. Merekalah yang akan membuat bangsa ini melangkah maju. Wajah birokrasi pun hanya dapat diubah oleh birokratnya sendiri. Untuk mengubahnya memerlukan birokrat yang terliterasi.

Tak zaman lagi birokrat hanya melaksanakan tugas dengan muka pucat pasi tanpa inovasi. Hanya sekadar melaksanakan tugas yang telah menjadi ‘jatahnya’ tanpa kegelisahan tersendiri. Kegelisahan dan upaya mengurainya akan lebih mudah jika dituangkan dalam sebuah tulisan agar mampu berteriak semakin ‘lantang’.

Untuk itu, saya pastikan akan terus mengabdi buat negeri ini dengan menulis. Saya ingin literasi makin bergema keras di seantero negeri, dan birokrat menjadi salah satu ujung tombaknya.

Yang baik teruskan dan yang kurang tambahkan agar makin baik di waktu mendatang. Jangan hanya diam, teruslah menyuarakan kebaikan. Diam tak akan mengubah keadaan. Karena birokrat zaman now, adalah birokrat menulis. ***

 

 

Sebelas Tahun Berkarya: Bedah Buku Birokrat Menulis Karya Adrinal Tanjung

Sebelas Tahun Berkarya: Bedah Buku Birokrat Menulis Karya Adrinal Tanjung

Kota Bandung adalah kota yang dipenuhi anak-anak muda kreatif, yang seringkali menghadirkan hal-hal baru dan unik. Seperti tak ingin ketinggalan, kondisi itu pun kini mulai menjangkiti  para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Bandung. Hal itu dapat dilihat dari adanya geliat literasi yang mulai tumbuh di kalangan mereka. Para ASN, yang sering pula disebut sebagai para profesional birokrasi, idealnya memang tidak boleh abai dengan kegiatan literasi.

Profesional birokrasi dituntut memiliki kompetensi dan kreativitas yang tinggi. Itulah mengapa literasi di kalangan profesional birokrasi menjadi sesuatu yang niscaya. Jika profesional birokrasi terbiasa hanya mengerjakan hal rutin dan ajeg, maka tidak heran kalau banyak orang menganggap para profesional birokrasi mirip dengan sekrup dalam sebuah mesin besar yang bergerak monoton. Profesional birokrasi sudah selayaknya lebih dari itu, mampu memiliki kesanggupan berkembang, dan memiliki nilai lebih dibanding komponen mesin.

Acara bedah buku “Birokrat Menulis: My Trips My Inspiration” yang diselenggarakan pada hari Senin 30 April 2018 di Wisma PPSDM Aparatur Cisitu Bandung, merupakan salah satu langkah konkrit untuk mewujudkan birokrasi yang literate. Sebelumnya, buku tersebut juga sudah pernah dibedah pada tahun 2017 di PKP2A LAN Jatinangor dan beberapa tempat lainnya. Tingginya intensitas bedah buku Birokrat Menulis merupakan cerminan bahwa buku tersebut bermanfaat bagi masyarakat.

Bisa Karena Terbiasa

Acara yang digelar oleh Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Aparatur Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral ini, dimulai pada pukul 09.00 WIB. Diawali dengan alunan lagu Indonesia Pusaka yang dibawakan oleh grup Akustik PPSDM Aparatur.

Eko Hadi Susilo, Kepala Bidang Sumber Daya Manusia dan Aparatur PPSDM Aparatur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mempertahankan nilai-nilai PPSDM Aparatur yang jujur, profesional, berinovasi, dan berarti, maka PPSDM Aparatur selalu berupaya keras dalam membina para ASN.

Ia menuturkan bahwa buku merupakan jendela dunia. Kita bisa mengenal dunia melalui buku. Ia paham betul bahwa menulis merupakan aktivitas yang bermanfaat. Dengan menulis kita dapat menyampaikan aspirasi, bermain peran yang kita suka, dan menghidupkan kreativitas.

Jika diukur dari judul buku yang dihasilkan setiap tahunnya, Indonesia sebagai negara berkembang masih tertinggal jauh dari Malaysia. Sambutan ditutup dengan sebuah kalimat yang memotivasi, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan berulang-ulang pasti akan menghasilkan kemahiran. Begitupun dengan menulis, langkah awal adalah biasakanlah, maka kita akan bisa karena terbiasa.

Dikenal dan Mengenal Dunia

Pada salah satu halaman buku Birokrat Menulis terdapat sebuah kutipan yang berbunyi, “Jika kamu ingin mengenal dunia maka membacalah, dan jika kamu ingin dikenal dunia maka menulislah”. Kutipan tersebut juga dibacakan oleh moderator sesaat sebelum penulis dan pembedah tampil di panggung. Iringan tepuk tangan yang sangat meriah menandakan tingginya antusiasme para peserta menghadiri acara tersebut.

Berperan sebagai pembedah adalah Elli Syarifah, seorang dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Siliwangi, Cimahi. Ia sudah berkecimpung di dunia kepenulisan sejak kuliah S-1 pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan sampai sekarang masih menjadi konsultan penerbitan buku.

Ia juga sempat menjadi seorang editor sehingga tak heran sampai saat ini buku yang ditulisnya pun sudah berjumlah 18 judul. Dengan banyaknya pengalaman di dunia kepenulisan tersebut, wajar saja jika panitia menunjuknya sebagai pembedah.

Namun, sebelum pembedah menyampaikan poin-poin yang akan dibahas, moderator mempersilakan penulis untuk lebih dulu menyampaikan proses lahirnya buku Birokrat Menulis. Penulis memperkenalkan dirinya, walau sebenarnya namanya sudah terpampang besar di backdrop dan beberapa banner. Penulis bernama Adrinal Tanjung, seorang pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB. Sekarang penulis menjabat sebagai Kepala Bidang Kebijakan Tata Laksana di kementerian itu. Dari tangannya sudah lahir lebih dari 25 judul buku. Ia juga merupakan salah satu pegiat Pergerakan Birokrat Menulis yang berdiri sejak awal tahun 2017.

Kebiasaan menulis sebenarnya sudah dilakukannya sejak masih duduk di bangku SMP. Karena keterbatasan teknologi, tulisan-tulisannya waktu itu hanya dituangkan pada secuil kertas. Sekarang dengan majunya teknologi, maka proses menulis menjadi lebih mudah. Buku Birokrat Menulis adalah kumpulan pengalaman penulis sebagai seorang ASN. Pengalaman mengunjungi lebih dari 100 kota di Indonesia dan beberapa negara. Semua pengalaman itu tentu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Seperti ungkapan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, maka pengalaman tersebut harus diikat ke dalam sebuah tulisan sehingga nilai positif yang kita dapatkan bisa dibaca oleh orang lain. Bukan hanya sekarang, bahkan ketika raga sudah tidak lagi bernyawa.

Sampai saat ini, penulis merasakan betul manfaat dari menulis. Di antaranya adalah dapat berkenalan dengan banyak orang dari berbagai daerah. Semakin memiliki banyak teman, maka semakin banyak pula inspirasi hadir. Kebiasaan membagi buku saat mengisi acara atau menjadikannya sebagai hadiah kepada sahabat merupakan kepuasan tersendiri baginya.

Terdapat 5 subbagian dalam buku Birokrat Menulis, yaitu Menikmati Proses Menggapai Sukses, Sukses Adalah Pilihan, Cinta, Karya dan Kemenangan, serta Birokrat Goes International. Semua tulisan pada buku tersebut merupakan kumpulan catatan ringan yang berusaha memotivasi pembacanya. Penulis menuturkan bahwa kita tidak tahu berapa orang yang termotivasi saat mereka membaca tulisan kita. Berapa pun jumlahnya, semoga orang tersebut melakukan sesuatu lebih keras dari yang kita lakukan.

Berdamai Dengan Proses dan Menikmati Hasil

Waktu 30 menit yang diberikan panitia berlalu tak terasa. Kini giliran  Elli Syarifah selaku pembedah yang menyampaikan poin-poinnya. Ia menuturkan bahwa ia bertemu dengan penulis setahun yang lalu karena sama-sama mengemban amanah sebagai pengurus pusat di komunitas Penulis Profesional (Penpro). Pembedah menyampaikan bahwa sudah dua kali khatam membaca buku Birokrat Menulis yang kebetulan genre-nya mirip dengan yang ia tulis, yaitu seputar motivasi kehidupan.

Elli menuturkan alasan mengapa seseeorang harus menulis. Ia menjelaskan bahwa menulis itu banyak “apa-apanya”, artinya banyak yang bisa didapat ketika kita mampu menulis. Apalagi jika sampai bisa menerbitkannya ke dalam sebuah buku. Menurutnya, Adrinal Tanjung sudah membuktikan hal tersebut.

Elli juga menyampaikan kekagumannya kepada penulis terutama tentang birokrat produktif menulis. Menurutnya, jika seorang akademisi menulis itu sudah biasa karena aktivitasnya memang tidak jauh dari itu. Akan tetapi, jika seorang profesional birokrasi produktif menulis, itu menjadi pembeda dan menjadikannya luar biasa.

Menulis ibarat menaiki sebuah bukit dan menuruni lembah, banyak tantangannya. Kita perlu strategi supaya kita tidak menjadi orang yang kalah. Maka dari itu, di saat menulis kita harus menurunkan ego karena ego yang membuat kita cepat menyerah. Pun ketika kita gagal, kita tak perlu meratapinya. Hal terpenting adalah ketika kita bisa bangkit dari kegagalan tersebut.

Menulis itu sebenarnya tidak bisa dibilang mudah dan tidak bisa dibilang sulit. Artinya, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Hal terpenting sebelum kita menulis adalah kita harus banyak melihat, mendengar, membaca, dan merasakan. Selain itu, menulis juga bisa dilakukan di mana pun, saat di bandara ketika menunggu pesawat, di perjalanan, atau bahkan sebelum berangkat tidur.

Seperti halnya yang dialami oleh penulis, apapun suasana hati yang menyelimuti, semua kisah dibaliknya dapat dijadikannya menjadi sebuah tulisan. Itulah mengapa gaya tulisan dalam buku itu mengalir dan sederhana. Hal itu   merupakan ciri khas dari buku Birokrat Menulis sehingga mudah dipahami oleh pembacanya.

Tulisan dalam buku Birokrat Menulis pun tidak terlepas dari tuntunan agama. Tulisannya seolah  memiliki kekuatan spiritual yang menjelma menjadi energi untuk terus berkarya. Adrinal Tanjung memang memegang nilai bahwa agama harus menyatu padu dengan masyarakat. Terakhir, pembedah menuturkan bahwa kita harus banyak bermimpi. Ia berpesan  untuk menuliskan semua mimpi itu, sampai suatu saat, salah satu atau bahkan semua mimpi menjadi kenyataan.

Ayo Mulai Menulis!!!

Saat sesi tanya jawab, atensi peserta untuk bertanya sangat besar. Pertanyaan yang diajukan secara garis besar adalah seputar kiat menjaga mood saat menulis, bagaimana untuk mulai menulis, dan bagaimana cara membagi waktu antara kegiatan menulis, pekerjaan, dan keluarga. Penulis dan pembedah bergantian mengutarakan jawabannya.

Untuk menjaga mood saat menulis, penulis memberi saran agar niatkan sepenuh hati dan yakin bahwa kita bisa konsisten dalam menulis. Jangan mengikuti mood karena mood terkadang membawa kita pada kemalasan, sedangkan kemalasan adalah pangkal kegagalan.

Cara pertama untuk mulai menulis adalah menulis, menulis, dan menulis. Tuliskanlah apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Memulai memang susah, tetapi ketika kita sudah menemukan kenyamanan, maka kita akan susah untuk berhenti. Jangan terlalu menghiraukan benar atau tidaknya ejaan maupun susunan kalimat di saat awal menulis. Saat mulai menuangkan sebuah gagasan, tulislah saat itu juga karena gagasan tak pernah lama tinggal di otak kita. Jangan menulis sesuatu yang kita tidak tahu, jatuhnya nanti mengarang dan lebih parah lagi dapat menimbulkan hoax. Tulis saja tulisan yang ringan.

Pembedah menambahkan bahwa kita bisa mereviu tulisan dengan membaca satu bab buku. Setelah selesai membacanya, selanjutnya kita tulis ulang dengan bahasa kita sendiri. Menulis memang menjadi hobi bagi sebagian orang, dan biasanya lebih mudah untuk memulainya. Maka, jadikanlah menulis sebagai hobi agar kita juga bisa menikmati prosesnya.

Mengatur waktu antara menulis, pekerjaan, dan keluarga memang tak mudah. Namun, penulis selalu yakin dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita akan bisa membagi waktu jika kita dapat menghargai waktu dengan kedisiplinan.

Di balik karyanya, penulis pun tidak bekerja sendiri. Ia membentuk tim kecil untuk membantu lahirnya buku-buku yang ditulisnya. Bekerja sebagai seorang profesional birokrasi memang menyita waktu, apalagi berkantor di ibukota negara yang setiap harinya diwarnai kemacetan di mana-mana. Oleh karena itu, kita harus cermat ‘mencuri’ waktu, misalnya memanfaatkan kondisi jalanan yang macet atau saat menunggu dimulainya rapat dikantor.

Di akhir sesinya, pembedah menyampaikan pernyataan penutup bahwa menulis adalah membuat perbedaan, memotret kehidupan, dan mencipta sejarah. Maka menulislah!

Tiba di penghujung acara, moderator pun menutup acara dengan membacakan kutipan yang pernah Mas Pram (Pramudya Ananta Toer) tulis, bahwa:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

 

 

Delapan Cara Jitu Menjual Buku ala Yudisrizal

Delapan Cara Jitu Menjual Buku ala Yudisrizal

Menulis buku itu gampang-gampang susah. Menjualnya lebih susah lagi. Yudisrizal, penulis buku “Pelajaran Sederhana Luar Biasa”, yang bukunya diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama, akan membagikan pengalaman serunya menjual buku. Kuncinya: putus urat malu!

Mempunyai sebuah buku, yang merupakan karangan sendiri lalu terbit dan beredar ke seluruh penjuru negeri, adalah cita-cita sebagian orang termasuk saya. Maka, berawal dari coretan pendek di sebuah grup WhatsApp alumni SMA, yang kemudian terkumpul jadi banyak cerita, timbullah ide untuk menjadikannya buku dan menerbitkannya.

Lazimnya, ada dua cara yang biasa dilakukan untuk menerbitkan buku. Pertama melalui self/indie publishing, kedua melalui major publishing.

Self/indie publishing adalah menerbitkan sendiri atau menggunakan penerbit indie. Cara penerbitan ini sangat mudah dan praktis. Jenis penerbitan ini tidak memerlukan proses seleksi, namun akan ada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan dari kantong penulis, khususnya biaya cetak.

Sementara major publishing menerapkan proses yang lebih rumit untuk menerbitkan sebuah buku. Itu karena mereka menggunakan sistem seleksi dan melakukan riset naskah. Apabila naskah dinilai layak cetak, akan ada serangkaian proses editing, layouting, hingga strategi marketing yang harus dijalani agar buku laku.

Rumit dan sulit adalah dua kata yang melekat. Namun jika buku berhasil diterbitkan major publishing, maka mutu sebuah buku biasanya akan lebih diakui karena berbagai proses, terutama  editing,  dikerjakan oleh orang-orang yang profesional dan berpengalaman di bidangnya.

Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya saya pun memilih major publishing. Saat itu hanya ada satu penerbit yang terbesit dalam pikiran yaitu sebuah penerbit ternama dengan jaringan toko buku terbesar di negeri ini.

Ambisi saya, buku saya itu akan beredar ke seluruh Indonesia. Buku itu kemudian diberi judul PELAJARAN SEDERHANA LUAR BIASA (PSLB). Sebuah buku perdana yang lahir dari penulis yang belum punya nama.

Buku yang lahir di semester kedua tahun 2017, selain telah memenuhi etalase toko buku beken di seluruh Indonesia itu, juga memenuhi sebagian ruang di rumah tinggal saya. Bagaimana tidak, saat itu saya nekat mencetak ulang, bahkan sebelum cetakan pertama resmi beredar di toko buku.

Menurut pihak penerbit, belum ada penulis senekat saya yang meminta cetak ulang dua ribu buku sebelum cetakan pertama beredar di pasaran. Tetapi mereka tidak tahu bahwa saya, Yudisrizal, seorang yang punya pengalaman berjualan sejak duduk di Sekolah Dasar, punya trik jitu menjual buku.

Berikut adalah delapan trik saya menjual buku:

Satu, Promosi Sebelum Buku Terbit

Jangan menunggu buku terbit untuk melakukan promosi. Namun, promosi bisa dilakukan saat buku baru akan terbit beberapa bulan lagi. Kabari saudara, kerabat, dan juga rekan sejawat perihal buku yang akan terbit. Ceritakan sedikit tentang buku itu, dan jangan lupa disertai gimmick bonus tanda tangan. Dijamin, mereka akan penasaran dan bertanya, “kapan bukunya terbit?”

Dua, Gunakan Teknik Provokasi

Menjual buku ke teman kantor adalah cara seru berikutnya. Namun, dengan jumlah pegawai yang tidak mencapai angka seribu dan asumsi kurang dari separuh yang minat membeli buku, bisa dipastikan, buku-buku saya tidak akan laku semua. Tetapi saya selalu punya cara jitu agar buku saya laku sebanyak jumlah pegawai di kantor. Caranya adalah menolak.

Menolak bila ada pejabat level kepala divisi yang hanya membeli satu buah buku. Saya provokasi mereka untuk membeli minimal dua buku. Atau kalau perlu, semua staf yang berada di bawah kepala divisi ditraktir buku. Cara ini ternyata sangat berhasil karena mereka memborong buku saya sebanyak dua puluh bahkan lima puluh buku.

Tiga, Berdayakan Jaringan yang Ada

Saya yang dulu kurang pergaulan (kuper) kini mulai mampu membuka diri. Grup WhatsApp alumni yang awalnya hanya satu, kini berkembang menjadi tiga karena saya tambahkan juga grup alumni Sekolah Menengah Pertama dan kuliah. Di ketiga grup tersebut saya gencar melakukan promosi.

Hasilnya, seribu ekslempar buku yang ada di tangan menjadi tidak cukup lagi. Belum juga buku cetakan pertama beredar di pasaran, saya meminta pihak penerbit untuk membuat buku cetakan kedua. Dua ribu eksemplar buku baru ada di tangan. Kakak saya sempat mengingatkan agar saya tidak terlalu agresif. Tetapi hal itu dapat dimaklumi karena sang kakak tidak tahu jika saya masih menyimpan lima strategi seru lagi dalam menjual buku.

Empat, Manfaatkan Potensi Keluarga dan Saudara

Istri yang bekerja sebagai pegawai negeri punya pangsa pasar tersendiri yang dapat dimanfaatkan. Pada awalnya sang istri enggan untuk membantu saya karena  kurang percaya diri ada teman yang akan membeli buku PSLB. Setelah saya berhasil merayunya dengan jurus maut, dia pun mulai mempromosikan buku melalui grup WhatsApp yang dia punya.

Seminggu berlalu, tidak satu pun pesanan yang masuk. Respon yang ada berupa emoji satu dua jempol saja membuat istri frustrasi dan merasa jualan memang bukan bidangnya.

“Tolong japri (jalur pribadi) semua anggota grup, kalau tidak ada tanggapan jangan kecewa. Percaya deh, pasti hasilnya akan berbeda,” bujuk saya lagi. Saya mengambil keputusan itu, karena saya percaya sentuhan personal pasti akan mendatangkan hasil yang lebih baik.

Dengan sikap enggan, istri menuruti saran saya. Satu persatu teman di-japrinya. Tak lama, wajahnya semringah. Muncul senyum cerah. Istri menjadi bersemangat. Tidak tanggung-tanggung pesanan buku datang  bertubi-tubi dari berbagai kota dan provinsi.

Istri sudah, saatnya mengajarkan anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) untuk berdagang. Jurusnya sama yaitu japri semua guru. Hasilnya dapat pesanan delapan belas buku. Sang anak diberi hadiah (baca: upah) lima puluh ribu. Penghasilan perdana sang anak dari jualan buku. Penjualan buku dari anak yang kuliah ada satu dua. Lengkap sudah semua anggota keluarga inti berpartisipasi.

Selanjutnya meminta pertolongan dari kakak dan adik untuk memanfaatkan jaringan yang mereka punya. Hasilnya luar biasa! Kembali didapatkan sejumlah penjualan tambahan.

Lima,  Free Ongkir Seluruh Indonesia

Ongkos kirim (ongkir) adalah salah satu beban yang mesti ditanggung oleh para pembeli barang apa pun saat mereka memesan sebuah barang yang berada jauh dari wilayah domisilinya. Beban tersebut dapat menjadi sebuah kendala saat mereka memutuskan akan membeli atau tidak sebuah barang.

Jika barang tersebut memang telah menjadi idaman hati, tentu ongkir tidak menjadi masalah. Namun jika barang tersebut dipesannya dengan cara mencoba-coba karena belum tahu betul mutu barang, maka bisa jadi hal itu memberatkan pemesan.

Saya mengambil keputusan untuk meringankan beban mereka dengan cara memberikan fasilitas istimewa bebas ongkir kepada pemesan di seluruh Indonesia. Sebuah pengalaman unik terjadi, saat ada seorang pemesan buku dari Papua, ongkirnya adalah sebesar Rp87.000. Sementara, harga satu buku hanya Rp78.000. Karena sudah komitmen free ongkir, maka satu buku pun tetap saya kirimkan ke Papua. Nyesel? Enggak kok. Justru pada titik itu pembelajaran saya menjual buku meningkat, selain itu jurus baru pun bertambah.

Enam, Berani Bertindak Spekulatif

Belajar dari kasus Papua, saat ada pesanan sebuah buku dari Mamuju Sulawesi Barat, otak saya mulai menghitung untung/rugi penjualan buku dengan beban ongkir yang harus ditanggung. Berat buku adalah 220 gram, artinya ongkir satu buku akan sama dengan ongkir empat buku. Maka kiriman ke Mamuju yang seharusnya hanya satu buku saya tambahkan menjadi empat.

“Tolong carikan peminat untuk yang tiga buku,” pesan saya waktu itu. Agar tidak menjadi beban, segera saya berpesan kembali, “Jika tiga buku itu tidak kunjung laku dalam waktu tiga bulan, silakan sumbangkan untuk sekolah terutama Sekolah Menengah Umum (SMU) di sana.”

Beruntungnya saya, buku belum saya kirim dana pembelian empat buku telah masuk ke rekening saya. Sebuah hal yang tentu saja mengejutkan saya. Strategi ini kemudian diterapkan ke banyak pembeli. Ada yang berhasil namun lebih banyak yang gagal. Namun, saya tetap melihatnya sebagai sebuah keberhasilan karena buku bisa tersebar ke berbagai penjuru kota di Indonesia.

Tujuh, Titip Jual

Strategi ini berupa cara menitipkan buku untuk dijual oleh seseorang, semacam reseller, begitulah. Salah seorang pengajar di Ternate, Maluku Utara bersedia menjual sebanyak 20 buku. Saat itu juga, beliau sekaligus meminta nomor rekening saya untuk melakukan pembayaran. Namun, saya mengatakan untuk melakukan pembayaran jika buku-buku tersebut telah berhasil terjual semua. Saya memang orang yang cukup spekulatif, tetapi jika melihat orang lain tertular sikap saya tersebut, tidak sampai hati juga jika yang bersangkutan justru merasakan pahitnya kerugian gara-gara buku saya.

Lama tidak ada berita, tiba-tiba sebulan kemudian beliau menghubungi saya dan menanyakan nomor rekening untuk keperluan transfer. Awalnya saya tidak mau memberitahu. Tetapi beliau bilang semua buku sudah laku. Ternate memang luar biasa. Selain cerita tersebut, dua belas buku yang saya titipkan ke teman kuliah yang bekerja di Maluku Utara pun ludes semua.

Lain kota lain cerita. Strategi titip jual tidak selamanya berhasil. Untuk yang gagal, buku tidak perlu dikembalikan. Cukup sumbangkan saja ke SMP atau SMU di sana. Saya lebih menginginkan buku PSLB dapat tersebar ke segala penjuru dan memiliki manfaat, daripada buku teronggok di sudut ruangan tempat tinggal teman-teman saya.

Delapan, Hadiah Buat Peserta Training

Strategi ini menurut saya juga cukup unik. Seorang teman yang memiliki usaha pelatihan berkenan ikut membantu mengedarkan bahkan membeli buku. Pada berbagai acara pelatihan yang diadakannya, saya tawarkan agar peserta diberikan bonus buku PSLB jika mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Teman saya ini cukup membayar 70 ribu setiap buku. Pelatihan teman berlangsung sukses, saya pun kebagian untung.

Penutup

Meskipun uraian saya di atas terkesan seperti mengajarkan trik jitu menjual buku, tetapi ada satu hal yang tidak pernah lepas dari nurani saya. Hal itu adalah niatan berbagi pengalaman dan cerita kepada siapa saja melalui buku. Dengan begitu, meskipun buku tidak terjual sesuai harapan, selalu ada kepuasan lain yang menghampiri kita sebagai penulis buku.

Saya tidak memiliki catatan berapa jumlah buku yang terjual dan berapa yang dibagikan secara gratis. Semuanya saya anggap terjadi begitu saja karena pada dasarnya saya menyukai hal-hal yang seru. Yang terpenting, saya mendapat pengalaman baru dan buku saya dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Pernah saya ditanya oleh seorang rekan, “Kamu ini penulis buku atau penjual buku?” saya langsung menjawabnya, “Dua-duanya dong, dan tidak banyak yang bisa berbuat demikian.”

Dari kegiatan menulis, akhirnya saya mendapatkan kesempatan diundang oleh beberapa sekolah dan kampus di Sumatera Barat untuk menggelar acara bedah buku. Dari situ saya mampu mendapatkan kepuasan batin yang ternyata tidak kalah serunya dibanding dengan keberhasilan menjual buku.

Sekali lagi, menulis buku adalah suatu keterampilan yang mengasyikkan, tetapi memasarkan buku adalah ketrampilan yang lebih mengasyikkan lagi. Saya yakin kedua keterampilan tersebut dapat dipelajari oleh siapa saja sepanjang orang tersebut mau melakukannya, termasuk jika harus putus ‘urat malu’.

 

 

 

Refleksi Tahun 2017, Anything is Possible

Refleksi Tahun 2017, Anything is Possible

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya menempuh perjalanan Bandung – Semarang – Solo, dan siang ini saya sudah tiba di Bandung lagi. Sisa-sisa kelelahan perjalanan dari Bandung – Semarang – Solo PP sejak Sabtu malam lalu hingga pagi ini masih terasa.

Sesampai di Bandung tadi pagi sekitar  pukul 09.00 saya langsung tertidur pulas, hingga terbangun menjelang zuhur. Sekitar lima menit menjelang adzan saya menuju ke Mesjid Salman ITB, salah satu mesjid legendaris di Kota Kembang. Usai menunaikan sholat zuhur di mesjid itu, saya berdiam diri di sana hingga 30 menit lamanya untuk menyelesaikan tulisan ini.

***

Mesjid Salman adalah salah satu tempat favorit saya. Biasanya, sambil duduk-duduk di pelataran sisi kanan mesjid, saya kembali merenungi langkah-langkah yang telah saya lalui dan memikirkan bagaimana strategi yang akan saya tempuh di tahun depan.

Sama halnya dengan yang saya lakukan di Mesjid Salman, sepanjang perjalanan Bandung menuju Semarang, saya  juga mencoba mengingat-ingat langkah saya setahun yang lalu. Termasuk menghitung hari ke depan, menuju 28 Januari tahun depan saat usia saya genap 47 tahun.

Kenangan di tahun 2017 satu-persatu hadir kembali, merefleksi diri pada karya-karya yang sudah saya ciptakan. Saya ingat betul pengalaman yang dibagikan oleh Dr. Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas era Kabinet Kerja (27 Oktober 2014 – 12 Agustus 2015), saat menghadiri acara soft launching buku Birokrat Menulis. Beliau berbagi pengalaman tentang jalan yang ditempuhnya menuju istana banyak terangkat lewat buku yang ditulisnya. Kisahnya seolah-olah abadi dalam ingatan saya sebagai pengingat untuk terus menekuni dunia literasi dan seakan berpesan “teruslah berproses, suatu saat kamu akan berada di puncak kesuksesan dengan apa yang sudah kamu lakukan.”

Banyak hal yang sudah saya lakukan di sepanjang 2017 ini. Sebagian sudah tercapai, dan sebagian perlu pembenahan-pembenahan hingga dapat mencapai target. Ada juga yang malah belum sesuai harapan.

Perjuangan di dunia literasi yang sudah saya tempuh selama 10 tahun telah mengantarkan saya hingga sejauh ini. Sebuah perjalanan yang tak mudah untuk dilalui. Namun, saya percaya sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan senantiasa dimudahkanNya. Saya begitu mempercayai hal itu. Walau umur semakin bertambah, semangat berkarya tak boleh luntur.

Saya berharap awal tahun depan, saya sudah memastikan langkah baru untuk hidup lebih nyaman dan masa depan yang lebih gemilang. Tak mungkin saya menunda-nunda lagi untuk menentukan sebuah keputusan penting dalam hidup saya. Birokrasi yang sulit diprediksi tak perlu saya kuatirkan karena selagi ada karya dimana pun peluang akan senantiasa terbuka. Yang penting tidak pernah berhenti belajar dan berusaha.

***

Di perjalanan  Bandung – Semarang – Solo itu saya menyempatkan membaca beberapa buku.  Di buku Agung Adiprasetyo  berjudul “Menjaga Api” saya menemukan kalimat berikut ini:

“Fokus pada kekuatan yang dimiliki diri sendiri akan mengakselerasi kehebatan untuk mencapai hasil yang maksimal. Sebaliknya, berharap akan mendapatkan sebanyak mungkin hasil dengan melakukan semua pekerjaan tanpa fokus yang jelas, maka yang terjadi adalah kelihatan sibuk tak menentu dan tidak akan menghasilkan apa apa.”

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Agung Adiprasetyo bahwa fokus pada satu hal akan menghasilkan pencapaian maksimal. Kesibukan saya saat ini sedikit banyak menghalangi fokus saya untuk menulis. Sudah saatnya saya harus lebih fokus atas segala kelebihan yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk saya, yaitu menulis.

Saya harus memastikan ke mana langkah ini harus menuju di tahun depan agar saya bisa fokus menulis. Kembali mengajar di kampus atau menjadi fungsional widyaiswara, kedua pilihan tersebut  sama-sama membantu saya  untuk bisa fokus menulis. Sepertinya dua pilihan terbaik itu sama-sama menjanjikan di tahun depan. Beberapa kali saya mendiskusikan rencana saya itu kepada teman-teman dan sahabat saya.

Sebuah PTN tempat saya menyelesaikan S1 dulu adalah salah satu pilihan terbaik di tahun depan untuk berkarya. Jalan menuju sana tampaknya cukup terbuka. Namun, tentu saja saya harus mengajukan lamaran sesuai prosedur standar.

Sedangkan untuk pilihan kedua, menjadi fungsional widyaiswara, saya juga telah membangun jalan ke arah sana. Pada pertengahan Mei 2017 lalu sebuah lembaga pemerintah membuka pintunya lebar-lebar untuk saya agar bergabung. Namun, lagi-lagi saya juga harus mengajukan lamaran sebagai prosedur standar untuk bisa bergabung di lembaga itu dan tentu saja saya harus menjalani serangkaian test sebagai persyaratannya.

Di bagian lain beberapa sahabat juga menyampaikan saran agar saya mencoba peruntungan mengikuti bidding eselon 2. Alasannya, saya cukup potensial untuk bisa menduduki posisi prestise tersebut. Sayangnya, hingga akhir tahun 2017 ini  usulan tersebut tak pernah saya hiraukan. Barangkali karena kesibukan yang tak pernah berhenti menyulitkan saya untuk melengkapi berbagai persyaratan termasuk menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk bertarung memperebutkan jabatan eselon 2 tersebut.

Hanya sedikit sahabat yang memprediksi saya akan terjun menjadi politisi di tahun politik 2019 atau 2024 sebagai calon anggota legilatif atau calon kepala daerah. Untuk prediksi mereka ini, saya hanya bisa tersenyum tipis. Barangkali tantangan ini juga bisa saya pertimbangkan. Anything is Possible. He..he..he….

***

Dalam hitungan hari ke depan, tahun 2017 akan meninggalkan kita. Apa yang istimewa dari tahun 2017? Apakah banyak hal yang menyenangkan yang tercipta di tahun 2017? Apakah dipenuhi karya dan prestasi? Biasa-biasa saja tanpa prestasi, atau malah tak lebih baik dari tahun 2016?

Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sudah saatnya kita mengevaluasi. Saatnya kita berhitung. Ibarat perniagaan kita bisa menghitung berapa untung dan rugi di tahun 2017 ini.

Saya yakin tahun 2018 tak akan mudah saya lalui. Namun, saya yakin tahun 2018 akan menghadirkan kejutan baru. Tetap optimis menyambut tantangan di masa depan. Semoga di tahun 2018 saya mampu menghadirkan karya baru yang lebih fenomenal.

Aamiin….

Bandung, Selasa 26 Desember 2017

Para Birokrat Profesional, Ubahlah Hidup Anda Dengan Berpikir dan Berperilaku Positif

Para Birokrat Profesional, Ubahlah Hidup Anda Dengan Berpikir dan Berperilaku Positif

Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan – Pramoedya Ananta Toer

Kutipan tersebut diambil dari sebuah buku berjudul Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Konteks berlaku adil dalam pikiran adalah mampu melihat dan mengolah fakta seobjektif mungkin. Ia tidak menjadi hakim tentang perkara yang belum tentu benar.

Hal itu juga berarti kita mampu melihat sisi baik dari setiap hal buruk yang ada di hadapan kita. Di saat yang sama, kita juga mampu berprasangka baik pada Tuhan saat hidup kita terhimpit masalah.

Di sisi lain, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah seorang birokrat profesional yang terpelajar. Persyaratan saat melamar calon PNS yang harus memiliki ijazah minimal SMA, diploma, atau bahkan sarjana menunjukkan keterpelajaran seorang birokrat profesional. Tidak jarang sebagian dari mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah diangkat sebagai PNS.

Berpikir dan Berperilaku Positif

Berpikir positif berarti mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baik, yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang dalam keseharian.

Banyak tulisan, juga penelitian, yang mengemukakan manfaat berpikir positif baik bagi kesehatan maupun kehidupan  Salah satunya mengungkapkan bahwa berpikir positif akan mengubah perilaku seseorang menjadi lebih positif. Perilaku hidup yang positif akan membawa seseorang pada kehidupan yang lebih bahagia.

Sayangnya, kita sulit sekali memunculkan pikiran dan perilaku positif saat kehidupan kita jauh dari kata ideal. Akhirnya, keajaiban kata tentang positive life comes from positive mind, menjadi tak bermakna.

Namun, bagaimanapun juga, penelitian tersebut memiliki dasar ilmiah. Anda memang tidak dapat mengubah dunia, tetapi dengan berpikir positif, Anda dapat mengubah cara Anda bereaksi terahadap suatu kejadian. Pada gilirannya, hal ini dapat memiliki efek besar pada kehidupan Anda.

Berpikir Positif dan Kualitas Hidup

Banyak orang yang mengetahui bahwa berpikir positif akan membawa seseorang pada kualitas hidup yang lebih baik. Sebagian orang memang mengamalkan dan sebagian lainnya menganggap hal itu sebuah lelucon. Kabar baiknya, Anda bisa melakukannya jika Anda mau.

John C. Maxwell, menyatakan bahwa untuk menjadikan hidup lebih baik, langkah pertama adalah dimulai dari pikiran. Berikut enam langkah untuk mengubah hidup lebih baik menurut Maxwell:

  1. Mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan.
  2. Mengubah keyakinan akan mengubah harapan.
  3. Mengubah harapan akan mengubah sikap.
  4. Mengubah sikap akan mengubah perilaku.
  5. Mengubah perilaku akan mengubah kinerja.
  6. Mengubah kinerja akan mengubah hidup.

Dari ke-enam langkah tersebut dapat dikatakan bahwa jika seseorang mampu berpikir positif, maka akan tercermin pada sikap dan perilakunya, yang pada akhirnya dapat mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Aplikasi Berpikir Positif dalam Organisasi

Budaya organisasi merupakan cerminan dari setiap motif, hasrat, cita-cita serta perilaku setiap individu yang berada dalam sebuah organisasi. Kemajuan suatu organisasi akan sangat tergantung pada sikap dan karakter anggota organisasinya.

Tentunya, organisasi berharap sebagian besar anggotanya berpikir positif agar dapat memberikan kinerja positif bagi organisasi. Namun, bagaimanapun juga, percikan di dunia kerja sering tidak dapat dihindari. Tidak ada orang yang benar-benar memiliki seratus persen kendali atas dirinya.

Ketidakpuasan dan kekecewaan kerap berseliweran, yang apabila dibiarkan akan menjadi sebuah virus yang akan melemahkan kinerja dan produktivitas. Kuncinya, kita tidak bisa mengharapkan orang lain berubah. Kita lah yang harus mampu menguatkan diri.

William D. Brooks mengungkapkan ciri-ciri seseorang yang dikatakan berpikir positif, yaitu bila seseorang tersebut yakin akan dirinya dapat mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, merespon pujian tanpa rasa sombong dan merendahkan orang lain, peka dan menghargai perasaan orang lain, serta mampu melakukan introspeksi diri.

Adapun ciri-ciri individu yang berpikir negatif adalah berprasangka negatif terhadap kritik, selalu ingin mendapat pujian, selalu mengeluh, mencela dan meremehkan orang lain, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, dan pesimis terhadap kompetisi.

Ilustrasi berikut ini dapat menggambarkan situasi tentang konsep diri seseorang dalam dunia kerja.

Di suatu organisasi, Sulis dan Eki mengerjakan pekerjaan yang berbeda. Setelah atasan melihat hasil pekerjaan mereka, ternyata terdapat beberapa kesalahan yang cukup serius sehingga atasan menegur mereka berdua.

Reaksi Eki:

Saya sudah berusaha maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan itu! Jangankan (atasan) memuji , bahkan berterima kasih pun tidak. Maunya apa? Percuma saja saya disini!

Reaksi Sulis:

Saya sudah berusaha maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Tapi atasan saya lebih jeli dalam melihat kesalahan, dan dia benar, ada kesalahan yang cukup serius. Berarti lain kali saya harus bisa bekerja lebih teliti lagi.

Dari ilustrasi di atas, dapat dilihat kedua reaksi yang berbeda dari sebuah teguran. Saat ditegur pimpinan, pikiran dan hati Sulis mampu menerima teguran tersebut. Dia menyadari kekeliruannya saat mengerjakan tugas, dan pimpinan melihat kekeliruan itu.

Dia akan memperbaiki kekeliruannya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap tugas, dan menolak untuk mengeluh. Baginya, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Keyakinan yang selalu dipegangnya adalah bahwa bekerja dan berkarier adalah ibadah.

Sementara itu, Eki berpendapat bahwa pimpinan tidak pernah menghargai hasil kerjanya. Dia pesimis karirnya tidak akan maju, sementara di kantor dia terkenal sebagai orang yang sering membantah pimpinan.

Karena merasa karirnya sudah tidak bisa berkembang, dia cenderung malas bekerja. Baginya, bekerja hanya sebatas menghabiskan waktu pagi hingga sore lalu mendapatkan upah bulanan.

Menurut Anda, dalam beberapa bulan ke depan, pegawai mana yang akan mengalami kemajuan berupa bekerja lebih baik? Tentu hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dugaan sementara adalah Sulis.

Sebagai refleksi awal, saat Anda ditegur atasan, reaksi Anda akan seperti Eki ataukah Sulis? Anda dapat memberikan komentar di bawah artikel ini.

Epilog

Sebagai penutup, saya kembali ingin mengutip tulisan Pramoedya agar menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi diri sendiri:

Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Adil adalah sebuah hal yang positif, yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dalam hidup manusia. Untuk itulah, jika Anda adalah orang yang berpendidikan, perlakukanlah orang lain secara adil, baik dalam pikiran maupun perbuatan, sebagaimana Anda ingin diperlakukan orang lain secara adil, pun dalam pikiran dan juga perbuatan.

*) Tulisan ini diadaptasi dari versi yang dimuat di Buletin Kepegawaian X-Media edisi XIII, tahun 2017.

 

error: