Refleksi Tahun 2017, Anything is Possible

Refleksi Tahun 2017, Anything is Possible

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya menempuh perjalanan Bandung – Semarang – Solo, dan siang ini saya sudah tiba di Bandung lagi. Sisa-sisa kelelahan perjalanan dari Bandung – Semarang – Solo PP sejak Sabtu malam lalu hingga pagi ini masih terasa.

Sesampai di Bandung tadi pagi sekitar  pukul 09.00 saya langsung tertidur pulas, hingga terbangun menjelang zuhur. Sekitar lima menit menjelang adzan saya menuju ke Mesjid Salman ITB, salah satu mesjid legendaris di Kota Kembang. Usai menunaikan sholat zuhur di mesjid itu, saya berdiam diri di sana hingga 30 menit lamanya untuk menyelesaikan tulisan ini.

***

Mesjid Salman adalah salah satu tempat favorit saya. Biasanya, sambil duduk-duduk di pelataran sisi kanan mesjid, saya kembali merenungi langkah-langkah yang telah saya lalui dan memikirkan bagaimana strategi yang akan saya tempuh di tahun depan.

Sama halnya dengan yang saya lakukan di Mesjid Salman, sepanjang perjalanan Bandung menuju Semarang, saya  juga mencoba mengingat-ingat langkah saya setahun yang lalu. Termasuk menghitung hari ke depan, menuju 28 Januari tahun depan saat usia saya genap 47 tahun.

Kenangan di tahun 2017 satu-persatu hadir kembali, merefleksi diri pada karya-karya yang sudah saya ciptakan. Saya ingat betul pengalaman yang dibagikan oleh Dr. Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas era Kabinet Kerja (27 Oktober 2014 – 12 Agustus 2015), saat menghadiri acara soft launching buku Birokrat Menulis. Beliau berbagi pengalaman tentang jalan yang ditempuhnya menuju istana banyak terangkat lewat buku yang ditulisnya. Kisahnya seolah-olah abadi dalam ingatan saya sebagai pengingat untuk terus menekuni dunia literasi dan seakan berpesan “teruslah berproses, suatu saat kamu akan berada di puncak kesuksesan dengan apa yang sudah kamu lakukan.”

Banyak hal yang sudah saya lakukan di sepanjang 2017 ini. Sebagian sudah tercapai, dan sebagian perlu pembenahan-pembenahan hingga dapat mencapai target. Ada juga yang malah belum sesuai harapan.

Perjuangan di dunia literasi yang sudah saya tempuh selama 10 tahun telah mengantarkan saya hingga sejauh ini. Sebuah perjalanan yang tak mudah untuk dilalui. Namun, saya percaya sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan pasti akan senantiasa dimudahkanNya. Saya begitu mempercayai hal itu. Walau umur semakin bertambah, semangat berkarya tak boleh luntur.

Saya berharap awal tahun depan, saya sudah memastikan langkah baru untuk hidup lebih nyaman dan masa depan yang lebih gemilang. Tak mungkin saya menunda-nunda lagi untuk menentukan sebuah keputusan penting dalam hidup saya. Birokrasi yang sulit diprediksi tak perlu saya kuatirkan karena selagi ada karya dimana pun peluang akan senantiasa terbuka. Yang penting tidak pernah berhenti belajar dan berusaha.

***

Di perjalanan  Bandung – Semarang – Solo itu saya menyempatkan membaca beberapa buku.  Di buku Agung Adiprasetyo  berjudul “Menjaga Api” saya menemukan kalimat berikut ini:

“Fokus pada kekuatan yang dimiliki diri sendiri akan mengakselerasi kehebatan untuk mencapai hasil yang maksimal. Sebaliknya, berharap akan mendapatkan sebanyak mungkin hasil dengan melakukan semua pekerjaan tanpa fokus yang jelas, maka yang terjadi adalah kelihatan sibuk tak menentu dan tidak akan menghasilkan apa apa.”

Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Agung Adiprasetyo bahwa fokus pada satu hal akan menghasilkan pencapaian maksimal. Kesibukan saya saat ini sedikit banyak menghalangi fokus saya untuk menulis. Sudah saatnya saya harus lebih fokus atas segala kelebihan yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk saya, yaitu menulis.

Saya harus memastikan ke mana langkah ini harus menuju di tahun depan agar saya bisa fokus menulis. Kembali mengajar di kampus atau menjadi fungsional widyaiswara, kedua pilihan tersebut  sama-sama membantu saya  untuk bisa fokus menulis. Sepertinya dua pilihan terbaik itu sama-sama menjanjikan di tahun depan. Beberapa kali saya mendiskusikan rencana saya itu kepada teman-teman dan sahabat saya.

Sebuah PTN tempat saya menyelesaikan S1 dulu adalah salah satu pilihan terbaik di tahun depan untuk berkarya. Jalan menuju sana tampaknya cukup terbuka. Namun, tentu saja saya harus mengajukan lamaran sesuai prosedur standar.

Sedangkan untuk pilihan kedua, menjadi fungsional widyaiswara, saya juga telah membangun jalan ke arah sana. Pada pertengahan Mei 2017 lalu sebuah lembaga pemerintah membuka pintunya lebar-lebar untuk saya agar bergabung. Namun, lagi-lagi saya juga harus mengajukan lamaran sebagai prosedur standar untuk bisa bergabung di lembaga itu dan tentu saja saya harus menjalani serangkaian test sebagai persyaratannya.

Di bagian lain beberapa sahabat juga menyampaikan saran agar saya mencoba peruntungan mengikuti bidding eselon 2. Alasannya, saya cukup potensial untuk bisa menduduki posisi prestise tersebut. Sayangnya, hingga akhir tahun 2017 ini  usulan tersebut tak pernah saya hiraukan. Barangkali karena kesibukan yang tak pernah berhenti menyulitkan saya untuk melengkapi berbagai persyaratan termasuk menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk bertarung memperebutkan jabatan eselon 2 tersebut.

Hanya sedikit sahabat yang memprediksi saya akan terjun menjadi politisi di tahun politik 2019 atau 2024 sebagai calon anggota legilatif atau calon kepala daerah. Untuk prediksi mereka ini, saya hanya bisa tersenyum tipis. Barangkali tantangan ini juga bisa saya pertimbangkan. Anything is Possible. He..he..he….

***

Dalam hitungan hari ke depan, tahun 2017 akan meninggalkan kita. Apa yang istimewa dari tahun 2017? Apakah banyak hal yang menyenangkan yang tercipta di tahun 2017? Apakah dipenuhi karya dan prestasi? Biasa-biasa saja tanpa prestasi, atau malah tak lebih baik dari tahun 2016?

Orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sudah saatnya kita mengevaluasi. Saatnya kita berhitung. Ibarat perniagaan kita bisa menghitung berapa untung dan rugi di tahun 2017 ini.

Saya yakin tahun 2018 tak akan mudah saya lalui. Namun, saya yakin tahun 2018 akan menghadirkan kejutan baru. Tetap optimis menyambut tantangan di masa depan. Semoga di tahun 2018 saya mampu menghadirkan karya baru yang lebih fenomenal.

Aamiin….

Bandung, Selasa 26 Desember 2017

Para Birokrat Profesional, Ubahlah Hidup Anda Dengan Berpikir dan Berperilaku Positif

Para Birokrat Profesional, Ubahlah Hidup Anda Dengan Berpikir dan Berperilaku Positif

Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan – Pramoedya Ananta Toer

Kutipan tersebut diambil dari sebuah buku berjudul Bumi Manusia yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Konteks berlaku adil dalam pikiran adalah mampu melihat dan mengolah fakta seobjektif mungkin. Ia tidak menjadi hakim tentang perkara yang belum tentu benar.

Hal itu juga berarti kita mampu melihat sisi baik dari setiap hal buruk yang ada di hadapan kita. Di saat yang sama, kita juga mampu berprasangka baik pada Tuhan saat hidup kita terhimpit masalah.

Di sisi lain, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah seorang birokrat profesional yang terpelajar. Persyaratan saat melamar calon PNS yang harus memiliki ijazah minimal SMA, diploma, atau bahkan sarjana menunjukkan keterpelajaran seorang birokrat profesional. Tidak jarang sebagian dari mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setelah diangkat sebagai PNS.

Berpikir dan Berperilaku Positif

Berpikir positif berarti mampu melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baik, yang kemudian mempengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang dalam keseharian.

Banyak tulisan, juga penelitian, yang mengemukakan manfaat berpikir positif baik bagi kesehatan maupun kehidupan  Salah satunya mengungkapkan bahwa berpikir positif akan mengubah perilaku seseorang menjadi lebih positif. Perilaku hidup yang positif akan membawa seseorang pada kehidupan yang lebih bahagia.

Sayangnya, kita sulit sekali memunculkan pikiran dan perilaku positif saat kehidupan kita jauh dari kata ideal. Akhirnya, keajaiban kata tentang positive life comes from positive mind, menjadi tak bermakna.

Namun, bagaimanapun juga, penelitian tersebut memiliki dasar ilmiah. Anda memang tidak dapat mengubah dunia, tetapi dengan berpikir positif, Anda dapat mengubah cara Anda bereaksi terahadap suatu kejadian. Pada gilirannya, hal ini dapat memiliki efek besar pada kehidupan Anda.

Berpikir Positif dan Kualitas Hidup

Banyak orang yang mengetahui bahwa berpikir positif akan membawa seseorang pada kualitas hidup yang lebih baik. Sebagian orang memang mengamalkan dan sebagian lainnya menganggap hal itu sebuah lelucon. Kabar baiknya, Anda bisa melakukannya jika Anda mau.

John C. Maxwell, menyatakan bahwa untuk menjadikan hidup lebih baik, langkah pertama adalah dimulai dari pikiran. Berikut enam langkah untuk mengubah hidup lebih baik menurut Maxwell:

  1. Mengubah cara berpikir akan mengubah keyakinan.
  2. Mengubah keyakinan akan mengubah harapan.
  3. Mengubah harapan akan mengubah sikap.
  4. Mengubah sikap akan mengubah perilaku.
  5. Mengubah perilaku akan mengubah kinerja.
  6. Mengubah kinerja akan mengubah hidup.

Dari ke-enam langkah tersebut dapat dikatakan bahwa jika seseorang mampu berpikir positif, maka akan tercermin pada sikap dan perilakunya, yang pada akhirnya dapat mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Aplikasi Berpikir Positif dalam Organisasi

Budaya organisasi merupakan cerminan dari setiap motif, hasrat, cita-cita serta perilaku setiap individu yang berada dalam sebuah organisasi. Kemajuan suatu organisasi akan sangat tergantung pada sikap dan karakter anggota organisasinya.

Tentunya, organisasi berharap sebagian besar anggotanya berpikir positif agar dapat memberikan kinerja positif bagi organisasi. Namun, bagaimanapun juga, percikan di dunia kerja sering tidak dapat dihindari. Tidak ada orang yang benar-benar memiliki seratus persen kendali atas dirinya.

Ketidakpuasan dan kekecewaan kerap berseliweran, yang apabila dibiarkan akan menjadi sebuah virus yang akan melemahkan kinerja dan produktivitas. Kuncinya, kita tidak bisa mengharapkan orang lain berubah. Kita lah yang harus mampu menguatkan diri.

William D. Brooks mengungkapkan ciri-ciri seseorang yang dikatakan berpikir positif, yaitu bila seseorang tersebut yakin akan dirinya dapat mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, merespon pujian tanpa rasa sombong dan merendahkan orang lain, peka dan menghargai perasaan orang lain, serta mampu melakukan introspeksi diri.

Adapun ciri-ciri individu yang berpikir negatif adalah berprasangka negatif terhadap kritik, selalu ingin mendapat pujian, selalu mengeluh, mencela dan meremehkan orang lain, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, dan pesimis terhadap kompetisi.

Ilustrasi berikut ini dapat menggambarkan situasi tentang konsep diri seseorang dalam dunia kerja.

Di suatu organisasi, Sulis dan Eki mengerjakan pekerjaan yang berbeda. Setelah atasan melihat hasil pekerjaan mereka, ternyata terdapat beberapa kesalahan yang cukup serius sehingga atasan menegur mereka berdua.

Reaksi Eki:

Saya sudah berusaha maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan itu! Jangankan (atasan) memuji , bahkan berterima kasih pun tidak. Maunya apa? Percuma saja saya disini!

Reaksi Sulis:

Saya sudah berusaha maksimal untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Tapi atasan saya lebih jeli dalam melihat kesalahan, dan dia benar, ada kesalahan yang cukup serius. Berarti lain kali saya harus bisa bekerja lebih teliti lagi.

Dari ilustrasi di atas, dapat dilihat kedua reaksi yang berbeda dari sebuah teguran. Saat ditegur pimpinan, pikiran dan hati Sulis mampu menerima teguran tersebut. Dia menyadari kekeliruannya saat mengerjakan tugas, dan pimpinan melihat kekeliruan itu.

Dia akan memperbaiki kekeliruannya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap tugas, dan menolak untuk mengeluh. Baginya, mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Keyakinan yang selalu dipegangnya adalah bahwa bekerja dan berkarier adalah ibadah.

Sementara itu, Eki berpendapat bahwa pimpinan tidak pernah menghargai hasil kerjanya. Dia pesimis karirnya tidak akan maju, sementara di kantor dia terkenal sebagai orang yang sering membantah pimpinan.

Karena merasa karirnya sudah tidak bisa berkembang, dia cenderung malas bekerja. Baginya, bekerja hanya sebatas menghabiskan waktu pagi hingga sore lalu mendapatkan upah bulanan.

Menurut Anda, dalam beberapa bulan ke depan, pegawai mana yang akan mengalami kemajuan berupa bekerja lebih baik? Tentu hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut. Dugaan sementara adalah Sulis.

Sebagai refleksi awal, saat Anda ditegur atasan, reaksi Anda akan seperti Eki ataukah Sulis? Anda dapat memberikan komentar di bawah artikel ini.

Epilog

Sebagai penutup, saya kembali ingin mengutip tulisan Pramoedya agar menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi diri sendiri:

Seorang terpelajar harus sudah berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Adil adalah sebuah hal yang positif, yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dalam hidup manusia. Untuk itulah, jika Anda adalah orang yang berpendidikan, perlakukanlah orang lain secara adil, baik dalam pikiran maupun perbuatan, sebagaimana Anda ingin diperlakukan orang lain secara adil, pun dalam pikiran dan juga perbuatan.

*) Tulisan ini diadaptasi dari versi yang dimuat di Buletin Kepegawaian X-Media edisi XIII, tahun 2017.

 

Menjadi Profesional Birokrasi Yang Proaktif

Menjadi Profesional Birokrasi Yang Proaktif

Tak ada orang yang dapat membuat anda merasa rendah diri tanpa seizin anda

                                                                                                —Eleanor Roosevelt

—-

 

Tidak semua orang yang memiliki visi besar mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan visinya dengan cara yang mereka inginkan. Visi perubahan terkadang lahir dari seorang pegawai biasa atau staf. Namun karena posisinya yang hanya sebagai staf –dengan atasan yang otoriter serta rekan kerja yang tak peduli, maka visi tersebut tidak bisa diaplikasikan secara sistemik di dalam organisasi, termasuk dalam organisasi birokrasi.

Saya mengenal seorang teman Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki pengetahuan manajerial organisasi yang mumpuni, dengan latar belakang sebagai aktivis mahasiswa dan se-abrek prestasi serta jaringan yang luas. Namun, dalam aktivitas kesehariannya sebagai staf di sebuah instansi, hanya karena posisinya sebagai staf, teman tersebut tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan, dia cenderung larut dengan rutinitas pekerjaan dan tradisi bekerja yang tanpa visi ke depan.

Mungkin Anda juga punya teman seperti itu. Jangan-jangan Anda salah satu dari sekian banyak orang yang saban hari sepulang kantor mendesah berat dan berujar:

Aku sudah tidak tahan lagi, tak ada yang mengetahui potensiku yang sebenarnya di kantor itu”.

Atau

Sungguh ini rutinitas yang sangat menjemukan.

Atau

Aku merasa terpenjara dengan pekerjaan ini dan sungguh aku tidak menikmatinya”.

Berbagai kalimat keluhan sejenis terlontar dari mereka yang pada dasarnya sebenarnya merupakan pribadi potensial dan berbakat.

Ujung-ujungnya, mereka menjadi manusia yang memiliki masa depan suram serta kehilangan semangat dan gairah kerja. Mereka tak pernah berhasil mencintai dan menikmati pekerjaannya sebagai akibat dari lingkungan kerja yang sangat tidak kondusif. Mereka merasa bahwa atasan dan rekan kerja tidak mendukung, bahkan terkesan tidak menginginkan kehadirannya.

Apakah kondisi seperti itu merupakan sesuatu yang tidak bisa diubah? Apakah mereka yang merasa terpenjara tersebut tidak bisa melepaskan diri? Tentu saja kondisi seperti itu bukanlah derita yang tiada akhir. Kita bisa menyaksikan betapa banyak orang yang tidak memiliki jabatan prestisius di organisasi tetapi mampu menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, bahkan bagi atasannya sekalipun.

Bagaimana dia melakukannya? Bagaimana kita mampu melakukannya? Bagaimana saya dan Anda bisa melakukannya? Anda, saya, dan siapapun Anda sangat tidak pantas untuk terjebak dan terperangkap dalam situasi kejenuhan akibat lingkungan kerja dan situasi pekerjaan yang tidak kondusif dan mendukung pencapaian tujuan.

Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan membebaskan pikiran kita, saya, dan Anda. Ya pikiran! Pikiran harus dibebaskan dari berbagai macam penjara dan kungkungan yang membuatnya merasa terjebak dan terperangkap. Rasa jenuh yang berkepanjangan, rasa tidak dihargai, dan rasa tak berarti hanya muncul dari pikiran yang terpenjara dan reaktif.

Pikiran reaktif akan membuat kita merasa tak bisa membebaskan diri dari lingkungan kerja yang tidak kondusif dengan berbagai argumen pembenaran. Kita membiarkan bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan pekerjaan yang menentukan suasana hati, perasaan, dan nuansa batin kita. Jadilah kita budak yang bekerja tanpa cita dan cinta.

Segera buang pikiran reaktif tersebut ke dalam tong sampah dan install cara berpikir proaktif dalam diri anda. Karena sesungguhnya, bukanlah bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan tumpukan pekerjaan yang memenjara kita, melainkan respon kita terhadap semua itulah yang membuat kita merasa tidak dihargai dan jenuh.

Sejarah telah membuktikan bagaimana pikiran yang proaktif merupakan kunci dalam menghadapi berbagai rangsangan negatif dari lingkungan yang tidak kondusif. Jangankan bos yang otoriter, rekan kerja yang tak peduli, dan tumpukan pekerjaan, kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II mampu dihadapi oleh Viktor Frankl, dengan menjadikan berpikir proaktif sebagai modal utama.

Dalam bukunya yang berjudul Mans Search for Meaning, Viktor Frankl menulis, “Kami yang pernah hidup di kamp konsentrasi masih ingat orang-orang yang berjalan dari barak ke barak menghibur sesama, memberikan kepingan roti terakhir mereka. Jumlah orang semacam itu memang hanya sedikit tetapi mereka membuktikan bahwa ada satu hal yang tidak bisa dirampas dari seorang manusia: kebebasan manusia yang paling dasar kebebasan untuk memilih sikap kita, bagaimanapun situasinya”.

Berpikir proaktif menunjukkan kepada kita bahwa selalu ada celah antara rangsangan yang datang dan respon yang kita berikan terhadapnya. Mungkin memang bos kita otoriter, rekan kerja kita tak peduli, dan pekerjaan kita menumpuk, tetapi kita tidak harus meresponnya dengan rasa terpenjara, tidak dihargai, dan tak bisa melakukan apa-apa. Manfaatkan celah yang ada untuk beraksi dengan lebih positif sebab sebagai manusia kita memiliki kesadaran diri, imajinasi, hati nurani, dan kehendak-bebas.

Dengan panjang lebar, Stephen R. Covey melalui bukunya The 7 Habits of Highly Effective People menjelaskan bahwa sebelum seseorang merespon sebuah rangsangan, maka dengan kesadaran diri yang dimilikinya, dia bisa memperhatikan dan bahkan menenangkan pikiran, suasana hati, dan perasaanya yang terkadang berbau reaktif dan emosional.

Lalu dengan imajinasinya, pribadi tersebut mencoba mengajukan alternatif respon yang bisa dipilihnya sebagai tanggapan terhadap sebuah rangsangan. Hati nurani berfungsi sebagai penyaring alternatif mana yang dipilih berdasarkan nilai yang dianut, dan kehendak bebas menjadi hakim yang menjadi pelaksana dari alternatif respon yang dipilih serta terbebas dari pengaruh luar.

Masihkan kita memilih untuk menjadi ASN yang selalu merasa jenuh dan terpenjara oleh situasi dan kondisi kerja yang sumpek? Masihkah Anda akan membiarkan bos Anda yang otoriter, rekan kerja Anda yang se­mau gue, atau pekerjaan yang seakan tiada habisnya menentukan diri anda?

Jawabannya terletak pada masing-masing kita, apakah kita siap berubah ke arah yang lebih baik dan melakukan perubahan tersebut, atau kita memilih bermasa bodoh dan menikmati rutinitas menjemukan itu lalu membiarkan visi perubahan kita layu sebelum berkembang!

 

Menulis adalah Menyembuhkan Diri Sendiri

Menulis adalah Menyembuhkan Diri Sendiri

Pengantar redaksi:

Menulis ternyata bisa menyembuhkan diri sendiri (self-healing). Karenanya, kita tidak bisa merendahkan manfaatnya. Penelitian menunjukkan bahwa menulis dapat membantu seseorang mengatasi tekanan dan trauma. Bahkan, menulis bermanfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh seseorang.

Hal itu bukan karena kata-kata yang ditulisnya, tetapi karena energi positif yang mengalir dari pemikiran diri dalam bentuk susunan kalimat. Energi ini bisa menyembuhkan mental dan berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik seseorang, terutama ketika sedang mengalami suatu proses kegagalan, seperti diberhentikan dari pekerjaan, bercerai dari pasangan, ditinggalkan oleh keluarga yang dicintai, atau bagi para remaja, ketika ditinggal oleh pacar tercinta.

Ternyata, bagi mereka yang bekerja di instansi publik, menulis juga mempunyai peran penting. Utamanya, ketika mereka tidak lagi difungsikan oleh pimpinan instansinya. Ketika tsunami neo-liberal reform melanda Indonesia saat ini, tidaklah aneh jika kita melihat begitu banyak mereka yang tidak difungsikan di instansi publik. Bahkan, bisa jadi mereka sebelumnya berada pada posisi eselon 1 sebuah instansi.

Mereka tidak difungsikan bisa karena tiba-tiba pemimpin instansinya berganti. Sebelum reform melanda Indonesia, sebuah instansi publik bisa bertahun-tahun dipimpin oleh pejabat yang sama. Bahkan, sebuah instansi bisa dipimpin sampai pejabat tersebut pensiun di usia senjanya. Hal itu kini sulit terjadi. Sebab, dengan berbagai alasan, reform telah membuka peluang pemimpin sebuah instansi berganti dalam hitungan detik.

Selain itu, akibat neo-liberal reform ini tidaklah aneh jika kita melihat suatu fungsi yang tadinya informal di instansi publik diformalkan dengan membentuk sebuah struktur baru. Akibatnya, mereka yang sebelumnya berperan penting di posisi informal itu malah tidak difungsikan dan digantikan oleh orang baru, yang belum tentu kompeten.

Karenanya, setiap pegawai instansi publik bisa mengalami tekanan (tension) and konflik (conflict) karena ketidakpastian (uncertainty) akibat program reform itu. Namun, yang terpenting bagi aparat instansi publik adalah bukan tentang ketidakpastian itu, tetapi bagaimana kita mampu menyembuhkan diri akibat ketidakpastian itu dan membangun kembali diri kita dari titik terendah.

Menulis bisa membantu kita melakukan hal itu. Bahkan, menulis bisa membantu kita berperan lebih jauh. Artikel berikut membuktikan hal tersebut. Penulis menguraikan bagaimana pengalaman menulisnya dapat menjadi sebuah terapi diri yang juga akhirnya bermanfaat bagi dirinya dan menginspirasi banyak orang lain di sekitarnya.

Sebuah petuah lama menyatakan:

Sejauh mana keinginan, kesungguhan, dan kesabaran Anda, maka sejarah akan menuliskannya. Kemuliaan tidak diberikan secara cuma-cuma. Kemuliaan didapat dari kesungguhan dan diperoleh dengan pengorbanan (Dr. Aidh al-Qarni).

Petuah itu mengembalikan ingatan saya pada suatu peristiwa di awal Juli 2017. Sore itu, saya hendak terbang ke kota Yogyakarta. Menjelang pesawat take-off, saya sejenak terdiam di sudut jendela pesawat. Saya memandang jauh ke depan. Saya merenungkan tentang hal yang telah saya lalui dari perjalanan hidup sepuluh tahun terakhir.

Secara cepat, banyak hal yang saya ingat kembali. Terutama perjalanan awal mula saya menulis. Perjalanan ini dimulai ketika saya lengser dari redaktur majalah di sebuah instansi publik. Setelah dua tahun lebih mengelola majalah tersebut, saya harus rela melepaskan posisi penting redaktur karena adanya struktur formal yang dibentuk oleh instansi tersebut.

Lepas dari posisi redaktur itu tidak membuat saya rendah diri. Akan tetapi, malah mendorong saya untuk terus menulis. Beruntungnya, semangat saya menulis malah membuka jalan saya bertemu dengan beberapa tokoh penting di negeri ini, seperti bupati, wali kota, gubernur, dan menteri. Pertemuan dengan mereka telah memberanikan saya untuk menulis tentang mereka.

Ketika di awal-awal menulis buku para kepala daerah, saya merasa tulisan saya masih standar dan tawar, jika tidak dapat dikatakan buruk atau kurang berkualitas. Hanya karena modal nekat saja saya akhirnya mampu bertahan sekitar lima tahun menulis berbagai buku tersebut.

Namun, dari menulis para kepala daerah itu, saya mendapatkan pengalaman luar biasa. Saya secara langsung dapat berguru kepada para praktisi politik dan pemimpin masyarakat. Dari merekalah kemudian saya belajar banyak hal, terutama tentang kepemimpinan, motivasi, maupun gairah hidup (passion).

Setelah lima tahun berlalu, saya kemudian mendapatkan banyak pertemanan. Merekalah yang kemudian hari membantu saya dalam menuliskan buku tentang para kepala daerah. Tim kecil inilah yang senantiasa mendorong saya untuk tetap menulis dan berkarya. Mereka seakan tak pernah lelah mengingatkan saya bahwa menulis adalah pekerjaan mulia.

Di kemudian hari, saya tidak lagi menulis buku tentang para kepala daerah. Saya kemudian menulis buku motivasi. Sebagaimana pernah saya tulis, buku motivasi ini sebenarnya adalah catatan harian saya. Catatan motivasi untuk diri saya sendiri, dan sebenarnya bukan untuk memotivasi orang lain. Saya membukukannya karena merasa terdorong bahwa apa yang saya rasakan perlu dibagikan kepada orang lain. Karenanya, saya mengumpulkan tulisan-tulisan pendek itu dan menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Perjuangan menulis buku motivasi ini pun tidak kalah beratnya dengan menulis buku tentang para kepala daerah. Awalnya, banyak orang mencibir apakah saya bisa merampungkan buku di tengah kesibukan rutinitas saya sebagai birokrat. Ada juga yang mengkritik tentang kualitas tulisan saya. Bahkan, ada juga fitnah yang menohok sekali, seperti saya sekedar ingin menjual buku ketika bersedia mengisi suatu pelatihan.

Semua itu kadang membuat saya galau. Namun, tekad saya telah bulat untuk terus menulis. Cibiran mereka malah menjadi tambahan energi penguat tubuh saya. Ia ibarat jamu yang rasanya pahit saat dilidah, tetapi menguatkan tubuh saya saat larut di dalam tubuh.

Dalam menyikapi cibiran itu, saya berpandangan bahwa hidup ini bukanlah untuk berpikir dan mendengarkan banyak cibiran orang. Hidup itu adalah bertindak. Lebih baik bertindak daripada sekedar menggerutu. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Pandangan hidup itu kemudian mengantarkan saya melahirkan buku Birokrat Menulis. Buku itu cukup berhasil mengambil hati para birokrat. Banyak yang memperbincangkannya. Bahkan, buku tersebut telah mengantarkan saya bertemu dengan para birokrat hebat — yang juga mempunyai gairah yang sama dengan saya — di komunitas yang kebetulan namanya sama dengan judul buku tersebut, yaitu ‘Pergerakan Birokrat Menulis’.

Kelahiran buku Birokrat Menulis juga semakin menguatkan tekad saya untuk terus menulis. Saya terus bermimpi menjadi penulis hebat dengan bermodal nekat dan keteguhan. Pertemuan dengan para birokrat yang juga penulis hebat di Pergerakan Birokrat Menulis semakin menguatkan langkah saya untuk terus maju melangkah dan menikmati setiap rintangan yang ada.

Menjadi birokrat memang adalah panggilan negara untuk mengabdi pada negeri ini. Akan tetapi, menulis juga adalah panggilan hati untuk berkontribusi dalam mengubah tradisi birokrat saat ini agar tidak hanya sekedar menyibukkan diri sendiri dengan rutinitas dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Intinya, saya tidak ingin hanya sekedar menjadi birokrat yang menghabiskan waktu dengan rutinitas kerja tanpa inovasi, refleksi, dan bertindak.

Reform Leader Academy (RLA) yang baru-baru ini saya ikuti juga telah memberi inspirasi baru yang luar biasa. Saya merasakan ikatan yang kuat di akademi ini. Dari akademi ini, saya semakin menyadari bahwa kemajuan bisa dicapai dengan melakukan sinergi, bekerja dalam tim (team work), serta inovatif.

Saya yakin, pilihan saya saat ini untuk tetap menulis, selain sebagai birokrat, akan mengantarkan saya pada arah yang tepat. Saya bermimpi langkah ini akan menginspirasi para birokrat untuk mau keluar dari zona nyamannya.

Semoga semakin banyak birokrat yang terinspirasi untuk berkarya melalui tulisan di laman Pergerakan Birokrat Menulis yang nantinya akan menginspirasi anak negeri.

 

Taubatan Nasuha Para Birokrat  Akan Bermakna Kemenangan

Taubatan Nasuha Para Birokrat Akan Bermakna Kemenangan

Hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan. Teristimewa bagi para birokrat yang berhasil menundukkan hawa nafsunya dengan menjalankan Ibadah puasa di bulan Ramadhan. Inilah hari yang dinanti setelah sebulan berjuang melawan dahaga, lapar, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa.

Perilaku keseharian birokrat yang telah menggenggam kemenangan seharusnya mencerminkan ketaatan dan kesalehan. Kesalehan sebagai implementasi keyakinan dan amalan, yang terkristal menjadi kebaikan akhlak.

Akan tetapi, menjelang detik-detik terakhir Ramadhan, kabar menyesakkan dada justru bermunculan. Operasi tangkap tangan KPK terhadap sejumlah birokrat, baik dari kalangan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, merupakan paradoks yang luar biasa.

Sejurus dengan tulisan sahabat saya M. Sudarno tentang “Parodi THR“, diperlukan upaya ekstra keras dari segenap pemangku kepentingan republik ini. Dibutuhkan usaha nyata, tidak sekedar pencitraan atau slogan-slogan semu, dalam memberantas perilaku-perilaku menyimpang (koruptif) di  dalam ekosistem birokrasi.

Materialisme kolektif sebagai akar masalah

Tidak dapat dipungkiri, di dalam masyarakat kita, termasuk dari kalangan birokrat, mayoritas orang tua bercita-cita atau mengharapkan anak-anaknya menjadi pribadi yang sukses. Sayang sekali, ukuran kesuksesan tersebut masih didominasi dengan kesuksesan materi, baik berupa pangkat, jabatan maupun harta.

Walaupun ada segelintir orang yang sudah mulai bertransformasi kepada kesuksesan hakiki, tetapi mayoritas orang masih terpaku kepada parameter “duniawi” tersebut. Yang namanya sukses itu kalau pangkatnya tinggi. Yang namanya berhasil itu kalau jabatannya bergengsi. Yang namanya makmur itu kalau hartanya melimpah. Yang namanya terhormat itu kalau bisa bagi-bagi THR atau amplop di hari raya.

Materi memang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, ketika bermetamorfosis menjadi materialisme maka akan membelenggu jiwa para pekerja birokrat. Lebih parah lagi, ketika paham materialisme ini semakin tertanam di dalam sebuah komunitas, maka akan memunculkan materialisme secara kolektif.

Mengutip tulisan Emha Ainun Nadjib, berjudul Agamaterialisme, yang menyindir para penganut materialisme dalam sebuah paragraf:

Kehilangan martabat kemanusiaan tak masalah, asal tetap punya pekerjaan, bisa menghidupi keluarga dan memastikan kemakmuran. tidak punya harga diri pribadi, harga diri kemasyarakatan dan kebangsaan, itu bukan persoalan, karena yang utama adalah tegaknya materialisme dalam kehidupan di dunia.

Lebih lanjut lagi, Cak Nun menuliskan dengan garang:

Manusia dan bangsa jenis itu (penganut materialisme), benderanya adalah “anti kemiskinan” bukan “anti pemiskinan”, karena melihat kekayaan dunia sebagai benda, bukan sebagai bahan-bahan dalam tugas akhlak.

Ya, semua yang ada pada diri manusia adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan untuk mengejawantahkan esensi hakiki kemanusiaan sebagai khalifah di muka bumi ini. Begitu pula dengan para birokrat, mereka seharusnya menebarkan manfaat dan tidak menimbulkan kerusakan di alam semesta. Sehingga, harta, pangkat, dan jabatan yang ada, haruslah memberikan kemanfaatan. Harta, pangkat, dan jabatan  tidak boleh kehilangan martabatnya, karena diperoleh dengan cara-cara yang memalukan.

Mungkin ada birokrat yang berdalih menjadi Robin Hood bagi komunitasnya, baik itu lingkungannya, masyarakatnya atau bahkan organisasinya. Mereka dengan enteng menggunakan kesempatan yang ada untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan. Tidak peduli anggaran yang mereka gunakan adalah uang rakyat.

Namun, jika Robin Hood di tanah Britania mengambil dari yang kaya dan membagikan untuk yang miskin, dan melakukan perlawanan terhadap tirani yang menindas rakyat, maka kelakuan mereka tersebut tidak seperti Robin Hood yang mereka dengung-dengungkan. Para birokrat tadi, seolah dermawan di mata komunitasnya, tetapi menggunakan dana negara yang dikemplang dengan berbagai cara, misalnya rekayasa pertanggungjawaban, atau lewat penerimaan gratifikasi, komisi/fee, suap dan sejenisnya.

Penggelembungan anggaran negara, rekayasa proyek pengadaan, atau bahkan pemotongan terhadap biaya perjalanan dinas atau honorarium, merupakan praktik jahiliyah yang masih terus berlangsung dan seharusnya sudah tidak boleh terjadi di republik ini.

Harta, pangkat, dan jabatan adalah amanah

Jika para pekerja birokrat semakin melupakan kesadaran hakiki mengenai kesuksesan yang berimplikasi kemanfaatan kepada pribadi, keluarga, dan masyarakat, maka semakin berkibarlah materialisme. Kawah candradimuka bulan puasa seharusnya menjadi lahan perenungan, menuju pengampunan Yang Maha Esa. Dahaga dan lapar di kala siang, sejatinya adalah simbol sebuah kearifan. Makanan dan minuman yang semula halal dinikmati setiap saat, akan menjadi penyebab hancurnya amalan puasa, manakala tidak dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Menikmati makanan dan minuman pun diatur. Pun halnya dengan harta, pangkat, dan jabatan yang diemban harus dikelola dengan kearifan yang luar biasa agar pemanfaatannya tidak menurunkan martabat sebagai pemegang amanah.

Harta, pangkat, dan jabatan, merupakan ujian bagi birokrat. Apakah bisa dimanfaatkan bagi kemanusiaan atau hanya semakin mengerdilkan arti kemanusiaan. Harta, pangkat, dan jabatan merupakan amanah, yang harus ditundukkan dalam menjalankan tata kelola pemerintahan, demi mewujudkan kemakmuran yang sesungguhnya. Setiap kepemimpinan akan mempertanggungjawabkan amanah yang dibebankan kepadanya.

Taubatan Nasuha

Para birokrat sungguh beruntung, karena sepanjang hayat masih dikandung badan, pintu taubat senantiasa terbuka untuk dimanfaatkan. Bagi yang menyadarinya, ada pintu Taubatan Nasuha yang merupakan taubat sesungguhnya. Sebuah rangkaian prosesi pertaubatan yang meliputi kesadaran penuh atas kekhilafan/kesalahan, diikuti upaya untuk memperbaiki diri dan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Pada hari raya Idul Fitri 1438 H ini, saatnya berbagi kesadaran dan tindakan nyata secara kolektif dan masif, mengikis materialisme yang dibingkai dalam ketamakan. Harta, pangkat, dan jabatan sebagai sebuah materi yang cukup berada dalam genggaman tangan para pengelola negeri, bukan sama sekali sebagai tujuan hati dan pikiran.

Tiada berguna harta melimpah, kalaulah tidak didapat dari sumber-sumber yang bersih dan bermartabat. Harta haruslah didapat dengan cara dan sumber yang benar, pun halnya juga digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang benar.

Tidaklah bermanfaat pangkat yang tinggi, kalaulah tidak memberikan nilai tambah positif bagi lingkungan. Pangkat yang tinggi haruslah memberikan tauladan segenap jajarannya, sekaligus memberikan pencerahan bagi masyarakat.

Tidaklah akan berkah sebuah jabatan, kalaulah diupayakan dengan cara-cara tidak prosedural. Percuma memperoleh jabatan strategis, kalau hanya akan dimanipulasi untuk kepentingan sesaat pribadi ataupun golongan. Jabatan strategis haruslah diemban oleh orang yang memiliki keahlian dan hati nurani.

Kesadaran maknawi

Kalau harta, pangkat, dan jabatan merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan yang tercela di masa lalu ataupun sekarang, maka perlulah ditinggalkan dalam rangka mengembalikan harkat dan martabat kemanusiaan. Berkubang dengan kotoran jiwa, tidak akan pernah memberikan ketenangan dan kedamaian. Bergelut dengan debu-debu dosa, hanya akan menambah masalah dan kerumitan hidup. Kini saatnya, kesadaran maknawi dibangun dalam segenap jiwa di republik ini.

 

Wahai ruh birokrat yang suci

Sudahkah kau lihat gumpalan racun ketamakan di hatimu?

Adakah harta, pangkat, dan jabatanmu telah membelenggumu?

Akankah hari-harimu hanya akan bergelimang kegundahan?

 

Wahai ruh birokrat yang suci ….

Ketika bedug bertalu dan pujian kebesaran berkumandang

Sudah kau bersihkankah raga dan pikiran dari segenap kotoran duniawi?

Mari sucikan hati, raga, dan pikiran sesuci ruhmu

Menuju kemenangan yang hakiki

 

 

Diklat Itu Bernama Puasa

Diklat Itu Bernama Puasa

Birokrasi merupakan salah satu aset bangsa yang terpenting. Pelaksana dari setiap kebijakan yang dihasilkan oleh negara untuk kepentingan rakyat. Sayangnya, birokrasi Indonesia masih dihinggapi berbagai macam penyakit yang membuat kontibusinya terhadap bangsa tidak maksimal. Dalam moment Bulan Suci Ramadhan ini, saya mencoba mengulas manfaat ibadah puasa bagi peningkatan kualitas pribadi seorang birokrat dalam membangun bangsa. Dengan harapan bisa dijadikan
sebagai bahan renungan.

—–

Di samping terjebak masalah yang bersumber dari dalam seperti rendahnya kualitas akibat proses rekrutmen, dan tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang minim, birokrasi kita juga mengalami berbagai masalah yang bersumber dari luar, seperti terbelit kasus suap atau jual beli jabatan, dipolitisasi, dikriminalisasi dan sebagainya.

Terbaru, dua kasus ‘razia’ Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kemendes PDTT dan Kejati Bengkulu seolah mempertegas kondisi tersebut. Itulah sepenggal episode miris dari cerita tentang pekerja birokrasi di negeri ini. Meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan oleh negara, tetapi mereka juga menjadi alamat dari berbagai label buruk.

Upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas birokrasi telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir. Berawal dari reformasi politik di tahun 1998 yang menjadi pemicunya. Sayangnya, hingga hampir mencapai dua dasa warsa, hasil nyata reformasi birokrasi tersebut masih jauh panggang dari api. Jangankan untuk menjadikannya sebagai birokrat profesional penyeimbang politisi, untuk sekedar mencapai kedisiplinan yang normatif saja masih sulit. Malah, dari hari kehari manajemen birokrasi makin jauh terjerumus dalam belitan rezim aturan yang tak berujung.

Perangkat pendisiplinan berupa absensi fingerprint yang marak dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu idola pimpinan instansi. Tetapi kinerja PNS secara keseluruhan tetap tidak banyak berubah. Apakah ini gejala yang menunjukkan lemahnya program reformasi birokrasi kita? Ataukah karena perangkat-perangkat pendisiplinan itu tidak bekerja dengan baik?

Dalam momen istimewa bulan suci Ramadhan ini, sebuah proses diklat (pendidikan dan pelatihan) disediakan Allah secara gratis, sebagai salah satu instrumen pendisiplinan diri. Diklat itu bernama puasa. Diklat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM, dan bisa diakses di mana saja. Pilihannya, apakah Anda mau memanfaatkannya atau tidak?

Dalam Al Qur’an, Allah berfirman yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah:183).

Puasa bermakna menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan badan, atau tidak melakukan segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar, hingga matahari terbenam. Hasil dari diklat sebulan bernama ibadah puasa itu adalah mewujudkan insan yang bertakwa.

Konsep takwa ini sangat kompleks. Menurut Fazlur Rahman (1983), takwa itu berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Di sini takwa dijelaskan keberadaannya berupa rasa takut yang muncul terhadap akibat-akibat perbuatan yang akan diterima, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Secara sederhana, takwa juga berarti kehati-hatian dalam menjalani hidup. Menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan, agar tidak menimbulkan akibat buruk bagi diri sendiri dan bagi orang lain yang ada hubungannya dengan diri kita. Akibat buruk ini tidak bisa sekedar ditelaah melalui kecerdasan intelektual. Akan tetapi juga dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Tidak hanya melalui nilai-nilai rasionalitas, akan tetapi juga nilai altruistik.

Prinsip kehati-hatian di dalam takwa bersifat aktif. Takwa menjadikan manusia aware terhadap apapun. Bahkan termasuk untuk urusan paling mendasar sekalipun. Di sini jelas terlihat bahwa hasil akhir dari takwa adalah manusia yang terjaga dari berbagai keburukan, baik yang datang dari dirinya sendiri, maupun yang datang dari luar dirinya. Dan yang paling utama, manusia tersebut tidak menjadi bencana bagi orang lain atau bagi lingkungannya.

Konsep takwa dalam agama kaffah ini, dengan demikian, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ia bisa muncul lewat tutur kata yang santun. Juga bisa lewat makanan atau nafkah yang halal. Takwa juga bisa mengejawantah dalam kejujuran dan sifat qanaah (merasa cukup), dan juga dalam menyikapi kemewahan dan jabatan tinggi.

Pertanyaan kritisnya, mengapa puasa bisa menjadikan kita bertakwa?

Dalam ritual puasa, kita berlatih mengendalikan kebutuhan paling penting dalam hidup. Kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Tetapi karena keimanan kepada Allah, maka kita melakukannya dengan penuh kesungguhan. Tanpa harus diawasi, tanpa perlu dikarantina. Dengan mengendalikan kebutuhan tersebut, akan terbentuk karakter pribadi yang kuat. Tidak gampang tergoda atau terjerumus hanya karena bujukan atau rayuan dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Puasa juga melatih kita untuk berhemat. Dengan puasa kita menyadari, bahwa ternyata selama ini kita makan melebihi daripada apa yang sebenarnya kita butuhkan. Di luar bulan puasa kita biasa makan lebih dari tiga kali, tetapi di bulan suci ini, ternyata kita masih bisa hidup walaupun makan dan minum kita lebih sedikit dari biasanya. Hal itu akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata selama ini kita terlalu banyak mengejar harta benda. Orang berpuasa, dengan demikian mampu mengikis sifat tamak dan serakah dalam dirinya.

Terakhir, puasa menumbuhkan empati. Pada saat kita berpuasa, kita diajarkan untuk turut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bisa menikmati makanan secara rutin. Kalau puasa kita pasti bertemu makanan di saat berbuka, di tempat lain ada orang yang tak tahu kapan waktunya berbuka, atau akankah mereka sempat berbuka. Kepada merekalah empati kita tumbuh sehingga ada keinginan berbagi.

Orang yang berpuasa, bekerja memenuhi kebutuhan dirinya secara halal, baik cara memperolehnya maupun substansinya, tanpa merugikan orang lain. Orang yang berpuasa itu membiarkan nafkah terdistribusi secara wajar dan alami ke segala arah, tanpa dibelokkan ke tempat yang tidak semestinya.

Orang berpuasa itu tidak akan menguasai sumber daya tertentu dan mengambil seluruh manfaatnya tanpa menyisakan bagi orang lain. Orang berpuasa itu adalah tidak membuat dan menggunakan aturan untuk melegalkan perampasan atas hak orang lain.

Pendek kata, orang berpuasa itu menyelamatkan kehidupan, memakmurkan dan menyejahterakan, serta mendorong perbaikan, di manapun ia berada. Jadi, mengapa kita tak mencoba, apa diklat ini bekerja atau tidak terhadap birokrasi?

Wallahu a’lam bish shawaab.

 

 

123
error: