Berharap Banyak kepada Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Berharap Banyak kepada Kepala Sekolah di Masa Pandemi

Ketika pandemi covid-19 melanda dunia, negeri ini menjadi salah satu negara yang tidak bisa lolos dari sebaran virus tersebut. Sejak kemunculannya di Indonesia pada bulan Maret 2020, pandemi covid-19 memberikan dampak yang nyata dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat, tidak hanya sektor ekonomi, tetapi juga sektor pendidikan.

Dalam sekejap, pandemi “mampu” mengubah kebijakan pembelajaran. Sejumlah sekolah dari jenjang SD hingga perguruan tinggi terpaksa ditutup, yang tentunya menimbulkan sejumlah dampak bagi peserta didik maupun tenaga pengajar.

Dampak yang paling jelas terlihat atas perubahan dunia pendidikan saat pandemi adalah keefektifan proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Salah satunya dalam proses pembelajaran, tidak semua peserta didik mampu beradaptasi dengan metode pendidikan yang baru ini.

Terlebih pada jenjang sekolah dasar (SD), lantaran anak yang berada pada jenjang pendidikan ini sangat rentan akan tidak mendapatkan materi belajar yang memadai jika tidak mendapatkan pengajaran secara tatap muka dengan gurunya.

Paling tidak, sebanyak 19,7 juta peserta didik SD, 8,2 juta peserta didik SMP, masing-masing 4,4 juta peserta didik SMA dan SMK, serta 122 ribu peserta didik SLB (Kemendikbud, Dapodik 2020), yang semula belajar normal tatap  muka di sekolah berubah dratis menjadi belajar di rumah atau melalui metode belajar dalam jaringan (daring).

Sama halnya lebih dari 2,3 juta guru dan tenaga pendidik dari SD hingga SMK, termasuk guru SLB mau tidak mau merubah skenario pembelajaran dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pertanyaannya, apakah mereka sudah siap dengan berbagai tantangan dalam pembelajaran jarak jauh?

Tabel Rekapitulasi Data Pokok Pendidikan Nasional

Proses Belajar Harus Tetap Berjalan!

John Dewey, salah seorang filsuf dari Mazhab Pragmatisme dalam “The Child and The Curriculum” mengemukakaan perubahan yang terjadi dalam masyarakat pasti ada dan tak terhindarkan. Pandangan ini sebenarnya tidak terlepas dari pemikiran filsafatnya mengenai realitas yang dipandangnya selalu mengalir.

Dewey mengatakan bahwa pendidikan lantas menjadi sebuah proses pembaharuan terus-menerus demi kelangsungan masyarakat dan anggota-anggotanya melalui keterampilan, teknik, kreativitas, dan sebagainya. Sebuah pembelajaran yang terus disampaikan, dikomunikasikan seturut dengan keadaan yang dihadapi.

Kesimpulannya adalah dalam kondisi apapun, pendidikan harus tetap berjalan.

Agar kegiatan pendidikan dapat berjalan seperti biasa, pemerintah melakukan KBM dengan sistem online atau sistem daring. Di balik tuntutan kepada semua pihak untuk bisa beradaptasi dengan sistem belajar daring atau online atau sistem PJJ, tidak menutup kemungkinan timbul beberapa masalah dalam keberlangsungan proses pembelajaran.

Misalnya, peserta didik maupun tenaga pendidik diharuskan memiliki akses jaringan internet, ketersediaan sarana perangkat belajar, seperti internet maupun laptop atau HP untuk menunjang proses pembelajaran.

Selain itu, dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang tidak dapat dihindari adalah “memaksa” guru menguasai penggunaan IT (information technology), untuk memanfaatkan berbagai aplikasi pembelajaran.

Guru tak boleh asing dengan google meet, zoomgoogle classroomyoutube, media elektronik, maupun media sosial whatsapp. Tanpa mengecilkan kemampuan para guru, tidak sedikit orang tua dan guru yang masih merasakan kesulitan akan hal ini.

Belum lagi bicara akses, banyak daerah yang memiliki akses internet kurang baik atau tidak lancar. Hasilnya, banyak peserta didik yang tidak dapat belajar secara maksimal, baik dalam hal penyampaian materi pelajaran maupun penugasan yang diberikan oleh guru selama pandemi.

Kebijakan Kemendikbud

Untuk mengurangi beban guru dan peserta didik, agar pembelajaran tetap berjalan, Kemendikud pun melakukan penyesuaian pembelajaran tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 2/2020 tentang Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di lingkungan Kemendikbud serta SE Nomor 3/2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan.

Menurut Mas Menteri, pada Adaptasi Sistem Pendidikan selama Covid-19, sangat dibutuhkan kerja sama antara Kemenlu, Kemendikbud, dan Ketua Tim Pakar Penanganan. Hal ini dilakukan untuk mendorong para guru untuk tidak sekedar menyelesaikan semua materi dalam kurikulum.

Namun yang paling penting adalah siswa masih terlibat dalam pembelajaran yang relevan –seperti keterampilan hidup, kesehatan, dan empati.

Berbagai kebijakan lain dikeluarkan seperti pembatalan ujian nasional (UN), penyesuaian ujian sekolah, implementasi pembelajaran jarak jauh, hingga pendekatan online untuk proses pendaftaran siswa, serta Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan BOP yang fleksibel.

Grafik Jumlah Sekolah, Peserta Didik, Guru dan Tenaga Kependidikan Menurut Jenjang
(angka menunjukkan jumlah peserta didik dan guru, keadaan Agustus 2020)

Peran Kepala Sekolah

Dengan sistem pembelajaran jarak jauh, terjadi pergeseran pola pembelajaran. Di antaranya, peserta didik tidak diwajibkan untuk datang ke sekolah maupun kampus untuk melaksanakan pembelajaran. Banyak sarana yang pada akhirnya diterapkan oleh guru untuk melaksanakan KBM secara jarak jauh.

Dari sisi kreativitas, baik dari guru maupun peserta didik dituntut untuk berlaku kreatif. Sebagai contoh, tidak sedikit guru membuat materi pembelajaran yang disajikan dalam bentuk video-video pembelajaran. Selain itu, banyak juga peserta didik yang mendapatkan penugasan pembuatan video pembelajaran yang menarik.

Salah satu pemeran utama dalam maju tidaknya sebuah proses pembelajaran adalah kepala sekolah (kepsek). Kepsek merupakan ujung tombak dalam keberhasilan maju atau tidaknya sebuah sekolah yang ia pimpin.

Sebagai leader, kepsek memikul tanggung jawab terhadap kenyamanan dan ketertiban lingkungan sekolah yang harus dirasakan oleh guru, peserta didik, dan orang tua; serta membangun atmosfir pendidikan yang memastikan peserta didik tetap mendapatkan pembelajaran meski di masa tanggap pandemi.

Dengan adanya keputusan yang mensyaratkan siswa dan guru melakukan pembelajaran dari rumah, mau tidak mau kepsek harus menularkan semangat perubahan kepada guru, siswa, dan orang tua secara cepat dan tepat.

Jika kepseknya kurang inovatif, bagaimana bisa memaksimalkan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah?

Dalam masa sulit ini, saatnya kepsek berperan dalam menghadapi kondisi abnormal. Sesuai tugas pokok dan fungsinya, idealnya kepala sekolah menjadi pemegang kunci pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) terlebih di masa pandemi;

  1. Selaku manajerial, dengan keluarnya SE dari Kemendikbud terkait kurikulum, sudah seharusnya kepsek membuat alur kerja yang jelas untuk guru dalam melaksanakan tugasnya. Dengan warga sekolah, kepsek harus mereviu kurikulum yang digunakan dalam kondisi darurat, melakukan gagasan dalam rencana program tahunan, dan mengembangkan manajemen partisipatif dalam pelaksanaannya.
  2. Selaku supervisor, kepsek harus melakukan pengawasan dan pemantauan kondisi pembelajaran. Merupakan tugasnya untuk mengukur kinerja guru saat memfasilitasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan media laporan tertulis guru  yang bisa diisi melalui google form. 

Kepsek juga harus proaktif masuk ketika terjadi interaksi kelas, misalnya pada whatsapp grup kelas, untuk mengetahui langsung proses PJJ yang berjalan antara guru, orang tua, dan peserta didik.

Karena kondisi darurat, Kepsek juga dapat menyusun format supervisi yang lebih sederhana, bahkan lebih sering mengajak berdiskusi para guru mulai dari pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), memetakan kurikulum BDR, hingga penilaian PJJ yang sesuai. Kepsek juga bisa meminta para guru antar mata pelajaran untuk berkolaborasi dan mengatur jadwal agar beban tugas peserta didik tidak terlalu tinggi.

Di sinilah juga tidak lepas peran aktif dinas pendidikan kabupaten/kota selaku pengelola pendidikan di jenjang SD dan SMP, serta peran dinas pendidikan provinsi selaku pengelola pendidikan jenjang SMA dan SMK, yang di era desentralisasi ini berada di bawah Pemda kabupaten/kota (SD-SMP), dan Pemprov (SMA-SMK).

 

 

Memberikan Ekstra Energi

Mengajar online artinya guru membutuhkan ekstra energi mulai menyiapkan materi, dan lain-lain, selayaknya kepsek memberikan motivasi kepada para guru agar apapun kendala dan permasalahan yang dihadapi dapat dibicarakan. Kepsek juga bisa mendorong guru untuk banyak belajar dari internet dengan mengikuti pelatihan webinar yang diadakan oleh berbagai lembaga agar dapat menambah wawasan.

Menjawab banyaknya keluhan dari para guru dan orangtua murid yang merasa sulit menyediakan kebutuhan kuota internet dalam kegiatan PJJ selama pandemi, selayaknya kepsek memberikan kucuran stimulus sebagai konsekuensi program baru.

Misalnya dengan pemasangan wifi, pemberian kuota guru dan peserta didik, pengadaan gawai untuk guru maupun perangkat lain yang dibutuhkan. Sekarang, kuota para guru pun sudah dimasukkan ke dana bos sesuai SE Mendikbud yang sudah membolehkan dana BOS untuk pembelian pulsa guru, sekolah, dan orang tua peserta didik.

Fleksibilitas terhadap dana BOS dan BOP ini telah ada dalam Permendikbud No. 19/2020 tentang Perubahan Atas Permendikbud No. 8/2020 tentang Juknis BOS Reguler. Dalam Permendikbud tersebut dijelaskan sekolah dapat menggunakan dana BOS Reguler untuk pembiayaan langganan daya dan jasa, yang mana penggunaannya tidak lagi dibatasi dari sisi persentase.

Begitupun dengan pembayaran honor untuk guru honorer, yang dianggap jauh lebih fleksibel dan tidak lagi dibatasi seperti sebelumnya, yaitu maksimal 50 persen.

Manfaatkan guru yang mampu IT, biasanya mereka adalah petugas operator data yang ada di unit sekolah. Guru yang melek IT harus mendampingi guru lain yang gagap tidak terbiasa dengan IT. Semestinya, tidak ada alasan lagi kuota sebagai penghalang bagi para guru untuk mengoperasikan aplikasi pembelajaran daring/online.

Seluruh warga sekolah tentunya sangat merindukan sekolah terutama bagi peserta didik, sekolah adalah rumah kedua bagi mereka. Orang tua pun demikian, banyak yang kewalahan karena menjadi guru dadakan di rumah bagi anaknya.

Pandemi covid-19 memang telah memberikan dampak yang dapat melemahkan aktivitas manusia. Banyak masyarakat beranggapan bahwa masa ini adalah masa sulit dan dirasakan nyata oleh setiap orang. Namun, masyarakat tidak bisa menjadikan pandemi covid-19 sebagai sebab untuk tidak melaksanakan kegiatan terutama dalam bidang pendidikan. 

Tetaplah belajar, Indonesia.
Teruslah menjaga, para Kepala Sekolah.

8
0
Laskar Jemari Responsif

Laskar Jemari Responsif

Aku beruntung saat harus diisolasi di rumah sakit seperti ini, sebab aku mampu memilih untuk selalu berbahagia. Kebahagiaanku pun selalu didukung oleh dunia maya. Keberadaan dunia maya membuatku mampu menembus isolasi ruang bertekanan negatif yang mengungkungku. Dengan dunia maya aku dapat berinteraksi dengan banyak sahabat dan membuatku merasa nikmat. Menikmati hari-hari isolasi akibat terkena Covid 19 ini.

Awal cerita ini bermula dari tes usap (swab) pertama yang kujalani di tanggal 4 Agustus 2020. Dari tes tersebut aku dinyatakan positif.  Bukan perkara mudah untukku menerimanya, karena sebelumnya aku berkeyakinan hasilnya akan negatif.

Sudah lebih dari 3 bulan aku menggunakan mobil pribadi saat berangkat dan pulang ke kantor. Aku pun selalu mengikuti protokol kesehatan dengan memakai masker,  menjaga jarak,  dan selalu mencuci tangan pakai sabun.  Setiap cek suhu pun selalu suhu badan rendah,  yakni di sekitar kisaran 36 derajat celcius. 

Namun, apa bisa dikata, pada akhirnya akupun terkena. Aku memilih untuk tetap bahagia menerima kenyataan.  Aku berharap pilihan hati yang bahagia ini akan membuat tubuhku tetap fit dan mampu meningkatkan imunitas tubuh hingga Covid 19 dapat terbersihkan dari tubuhku.

Apakah pilihan hati yang bahagia ini rasional?  Bagi saya, iya.  Kesedihan hanya membuat tubuh semakin ringkih,  sedang kebahagiaan memicu energi positif yang terdapat dalam tubuh.  Setidak-tidaknya itulah yang saya yakini selama ini.  Akupun sering terbantu dengan pilihan hati untuk tetap bahagia ini.

Tentu pilihan hati yang bahagia dalam menerima takdir bukanlah satu-satunya ikhtiar.  Aku tetap berikhtiar dengan mengikuti prosedur medis rumah sakit yang merawatku. Jelas, tak lupa aku selalu berdoa, serta memohon didoakan oleh orang-orang yang bersedia mendoakan.

Di tengah pilihan hati yang bahagia, akupun merasakan dukungan tak terhingga dari dunia maya. Aku begitu bersyukur banyak sobat-sobat memberikan tanda like dan komen positif terkait postinganku. Kusebut saja mereka sebagai “Laskar Jemari Responsif”.



Seberapa pentingkah like dan komen positif? Bagiku sangat penting. Menulis tentu sesuatu yang menyita waktu, pikiran, dan perasaan. Karena itu, kurasa semua penulis, termasuk aku, ingin dihargai/diapresiasi atas apa yang ditulis.

Hal itu dikarenakan sang penulis telah berusaha memberi nilai tambah pada dunia ini –sekecil apa pun gagasan yang ada. Yang penting gagasannya otentik dan merupakan ungkapan jiwa berkebajikan yang ingin memberi kontribusi, walau sekecil apa pun, untuk peradaban yang lebih baik.

Ada yang berpendapat seharusnya kita ikhlas dalam berbuat termasuk menulis tanpa mengharapkan pujian atau apresiasi dari orang lain, kecuali mengharapkan ridha Allah SWT. Menurutku pendapat ini bagus bila malaikat yang menyatakannya kehilangan sisi kemanusiaannya.

Menyukai pujian atau apresiasi yang sewajarnya tanpa “rakus pujian” yang menimbulkan kesombongan adalah manusiawi. Allah SWT tidak pernah mencela. Bahkan, Allah SWT tak segan-segan memuji hamba-Nya yang berbuat kebajikan sekecil apa pun.

Bukankah Allah SWT memuji Nabi Muhammad SAW karena memiliki akhlak mulia? Bahkan Allah SWT menyatakan dalam QS Ar Rahman, hal jazaul ihsan illal ihsan? Bahwa kebaikan pantas dibalas dengan kebaikan.

Untuk itulah tulisan yang baik, yang terdapat kebaikan di dalamnya –sekecil apa pun, pantas mendapat apresiasi. Dalam dunia maya berbentuk like dan komen positif.

Jadi, kita bisa saja menulis dan berharap mendapat like dan komen positif, tapi tetap dengan ikhlas dan mengharap ridha Allah SWT. Keikhlasan itu letaknya pada jiwa yang berkebajikan, tidak terpengaruh oleh keinginan manusiawi untuk diapresiasi perbuatannya tanpa berlebihan.



Karena itu aku berterima kasih kepada ‘Laskar Jemari Responsif’. Mereka telah membahagiakanku dengan like dan komen positifnya.

Itu meningkatkan kualitas emosiku di saat sedang terpuruk seperti ini. Itu membuatku lebih optimis dalam menghadapi Covid 19. Hal itu juga membuatkau semakin memiliki harapan besar untuk bisa segera sembuh.

Ada yang meragukan bahwa komen positif berupa doa itu relevan. Bahkan, ada sebagian yang sinis dengan mengatakan, “Memangnya Tuhan main medsos?” Aku kadang ingin tertawa bila mendapati kalimat seperti itu.

Allah SWT yang kukenal sangat mengetahui isi hati kita yang tersembunyi. Karena itu seluruh isi medsos yang tidak tersembunyi tentu Allah SWT sangat mengetahuinya. Allah SWT akan mengabulkan doa-doa yang ada dalam medsos sepanjang doa-doa tersebut tulus dipanjatkan.


Karena itu, mari kita budayakan memberi tanda like dan juga komen positif bila kita membaca suatu tulisan, terlebih tulisan yang memiliki makna.

Meskipun kadang terlihat sepele, tulisan tetap selalu bermakna dan lahir otentik dari jiwa berkebajikan. Terlebih lagi, tulisan selalu saja memiliki manfaat bagi orang lain, entah siapapun dia.

Mari tetap jaga kesehatan dan tetap bahagia.

Cisarua, 11 Agustus 2020

*Optimis sembuh Covid 19 dengan dukungan like dan komen positif sobat-sobat Laskar Jemari Responsif

6
0
Jalan Sunyi Para Pemberani

Jalan Sunyi Para Pemberani

Malam itu, kantin mess pertambangan di tengah sebuah hutan Kalimantan mulai sepi. Seorang laki-laki setengah baya mendatangi meja saya yang masih kosong dan meminta izin untuk bergabung. Saya mempersilakan dengan senang hati, dan tak lama kemudian kami pun terlibat dalam obrolan yang akan selalu saya ingat bertahun-tahun kemudian.

Siapa dia? Namanya, sebut saja, N. Ia bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan Amerika yang memasok material khusus untuk berbagai industri. Saya sendiri saat itu sedang dalam penugasan sebagai konsultan untuk implementasi UK Bribery Act (UKBA), yakni undang-undang anti-penyuapan Inggris. 

Ketika N bertanya lebih jauh mengenai pekerjaan saya, saya hanya menjawab seperlunya. Bertahun-tahun bekerja sebagai konsultan kejahatan keuangan mengajarkan saya untuk tahu diri.

Ya tahu diri, karena hampir setiap kali saya terlibat obrolan mengenai penerapan sistem anti-penyuapan pada perusahaan swasta, lawan bicara saya selalu menjawab dengan skeptis.

Frase “ini Indonesia”, “suap sudah menjadi budaya”, “bisnis memang begitu”, dan seterusnya, selalu saya dengar. 

Jadi saya benar-benar terkejut waktu N merespon, “Wah, menarik Mas. Sudah waktunya pencegahan korupsi di sektor swasta ditangani dengan lebih serius.”

Dari situlah N menceritakan pengalaman uniknya sebagai manajer di perusahaan Amerika yang wajib menetapkan US Foreign Corrupt Practices Act (FCPA). Mirip dengan UKBA, FCPA adalah undang-undang Amerika yang melarang perusahaan Amerika menyuap pejabat pemerintah di luar negeri. 

Beberapa tahun sebelumnya, menurut ceritanya, N hampir saja mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Ia mengambil keputusan itu setelah diminta memimpin tim penjualan dengan target khusus proyek -proyek pemerintah dan BUMN.

Sambil menyerahkan surat pengunduran diri, N mengatakan kepada atasannya, Direktur Pemasaran, “Boss, this is Indonesia. There’s no way you can sell to government entities without paying anything.” 

Atasannya, seorang warga negara India, memintanya duduk dan mengajaknya bicara. Direktur tersebut bercerita bahwa ia pernah berada dalam posisi yang sama sewaktu menjadi manajer penjualan di India. 

Sambil tersenyum sang bos mengatakan, “Kamu tahu India kan, kurang korup apa coba?” Tapi pada saat itu ia bersedia untuk menerima posisi tersebut karena percaya bahwa tidak semua orang bisa dibeli dengan uang. Lalu dengan gaya meyakinkan sang bos menambahkan, “Masa sih, dari seratus pintu yang kamu ketuk semuanya minta suap?”

Rupanya atasan N adalah orang yang sangat persuasif. Setelah mendengarkan paparan sang bos, N memutuskan untuk membatalkan pengunduran dirinya.

Sambil menyeruput kopinya, N mengatakan kepada saya bahwa itu adalah keputusan yang tidak pernah ia sesali. Bukan karena akhirnya berhasil mencapai target penjualan, tetapi karena pengalaman berharga yang didapatnya dari sana.

Ia melanjutkan kisahnya. Ada suatu saat ia memenangkan tender pengadaan perangkat rambu-rambu lalu lintas senilai belasan milyar di Kementerian Perhubungan. Sejak proses tender sampai dengan pekerjaan selesai, tak sepeserpun ia dimintai uang oleh counterpart-nya di Kementerian. 

Karena penasaran, suatu ketika ia menanyakan hal itu ke pimpinan proyek. Jawabannya mengejutkan, “Pak N, saya punya mimpi suatu hari nanti standar keselamatan lalu lintas di Indonesia akan sama dengan di negara-negara maju.

Cuma itu yang saya inginkan. Kalau Bapak menanyakan apa yang bisa Bapak bantu, bantu saja staf secara maksimal untuk memastikan perangkat yang sudah kita pasang ini terpelihara dengan baik.”

Di lain kesempatan lagi, ia memenangkan tender pengadaan material di sebuah bank BUMN. Hal yang sama terjadi. Tak ada “permintaan khusus” dari pejabat bank tersebut kepada pemenang tender.

Suatu hari mereka mengadakan rapat teknis dengan pihak bank di kantor bank tersebut. Ketika waktu makan malam tiba, mereka reses dari rapat untuk makan malam sebentar.

Tak ada undangan untuk fancy dinner atau jamuan. Lucunya, kedua tim tersebut kemudian bertemu secara tidak sengaja di gerobak nasi goreng di belakang kantor bank tersebut. Dan mereka membayar sendiri-sendiri makan malamnya.

Banyak cerita positif lain yang akhirnya membuka mata N – dan mata saya sendiri – bahwa kita punya banyak orang baik yang menempuh jalan sunyi ketika mereka melakukan pekerjaannya dengan penuh integritas. Bukan saja karena dianggap aneh oleh lingkungannya, melainkan juga karena tak seorangpun mengangkat cerita mereka.

Kami terus berbicara sampai larut malam, dan baru berhenti setelah pengelola kantin mengusir kami secara halus.

Sesampainya di kamar, saya tidak bisa berhenti memikirkan obrolan tadi. Selama bertahun-tahun, kita bukan hanya nrimo terhadap pandangan bahwa korupsi adalah budaya bangsa, tetapi juga membesar-besarkannya melalui obrolan dengan teman, famili, sampai sopir taksi.

Saking tidak percaya dirinya, bahkan kemajuan yang kita buat sendiri pun disikapi dengan skeptis. 

Saya ingat pada awal KPK berdiri, begitu banyak para pelaku kejahatan keuangan terkena operasi tangkap tangan. Hal itu membuat sebagian besar orang berpikir bahwa korupsi di zaman reformasi lebih gila daripada zaman orde baru (Orba), karena lebih banyak orang yang ditangkap.

Entah mengapa tidak terpikir oleh mereka bahwa fenomena itu justru disebabkan adanya penegakan hukum yang lebih efektif dibandingkan pada masa Orba.

Skeptisisme memang diperlukan untuk mencegah kita berpuas diri. Sikap ini juga merupakan prinsip dasar ketika melakukan audit/investigasi. Namun, jika konteksnya adalah merintis perubahan, skeptisme bisa membahayakan. 

Dari pengalaman saya membantu klien menerapkan sistem anti-penyuapan, masalah terbesar yang sering muncul adalah skeptisme dari para pemangku kepentingan, bahkan dari manajemen senior sendiri. 

Dalam suatu rapat, seorang CEO perusahaan asing pernah berbisik-bisik kepada saya mengatakan bahwa percuma perusahaan menerapkan sistem anti-penyuapan karena di Indonesia korupsi sudah membudaya. 

Saya membalas, 
“Beware of your own thinking. You’re the tone at the top here, what you believe can be a self-fulfilling prophecy.” 

Kepercayaan bahwa korupsi adalah budaya yang tak tersembuhkan akan menumbuhkan pesimisme, dan pesimisme akan mengakibatkan “self-fulfilling prophecy”, kegagalan yang terjadi karena kita sendiri meyakininya sejak awal. Sebaliknya, menyebarluaskan success story akan menumbuhkan optimisme yang berdampak positif pada lingkungan di sekitar kita. 

Seorang direktur dari salah satu perusahaan klien pernah menghampiri saya ketika kami sedang rehat kopi dalam suatu rapat. Ia bercerita bahwa akhir pekan sebelumnya ia diminta mewakili perusahaan menghadiri acara pernikahan anak Bupati yang membawahi area operasinya.

“Dan untuk pertama kalinya,” katanya, “Saya datang sebagai wakil perusahaan, tetapi tidak menyumbang sepeserpun.” 

Ia menyebutkan bahwa biasanya untuk keluarga kepala daerah, sumbangan perusahaan bisa mencapai belasan juta rupiah. Beberapa orang yang ikut mendengarkan obrolan kami terpana oleh “kenekatan” si bapak tersebut.

Namun, saya merasakan adanya atmosfer positif yang menular di sana. Sesuatu yang selama ini diterima sebagai budaya ternyata bisa ditumbangkan. Saya yakin, kita memiliki banyak sekali cerita tentang integritas dan keberanian yang bisa kita tularkan.

Tidak ada resep instan untuk memberantas korupsi. Di sisi lain, mengumbar skeptisisme jelas bukanlah awal yang baik. Tindakan ini bukan saja akan menghabisi rasa percaya diri kita sebagai bangsa, tetapi juga merupakan dosa besar kepada mereka yang selama ini telah merintis jalan menuju pemerintahan yang bersih.

Martin Luther King Jr. pernah mengatakan, “In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.” 

Mari hargai integritas para pemberani ini, supaya jalan mereka tak terlalu sunyi lagi.

7
0
Elegi Riang Penikmat Rapat

Elegi Riang Penikmat Rapat

…hanya menjadi penikmat itu bisa beneran nikmat
karena boleh hanya melihat asal nikmat,
kita pun juga boleh memilih untuk tak terlibat.
Menjadi penikmat itu nikmat, kalau (benar) tidak tahu dan tidak mampu,
karena hanya bisa melihat, tanpa terlibat…

Prolog

Hari ini saya berbunga-bunga, hatinya. Bahagia bersemburat bangga. Betapa tidak, pagi ini tidak biasanya saya mendapat undangan dari divisi strategis kantor yang mengurus segala macam hal penting di negeri ini. Bukan undangan fisik, maaf, Anda yang membaca tulisan ini tentunya telah berada di era kehidupan baru yang tidak senormal dulu.

Bukan juga melalui melalui segala macam alamat email, maaf, kantor kami telah melengkapi diri dengan hasil inovasi perkantoran digital yang terkini hasil dari inovasi teruji. Inovasi yang berhasil menghimpun hampir seluruh dokumen fisik, baik yang keluar atau masuk dari kantor kami, menjadi lembaran-lembaran digital yang tinggal klik lalu ‘go live’. Simpel, modern, dan hemat, serta berwawasan lingkungan.

Pun juga bukan undangan langsung sebenarnya. Karena hari ini, kebetulan atasan dari atasannya atasan saya, kebetulan sedang menghadiri rapat penting lainnya. Dengan demikian, undangan itu ‘jatuhlah’ ke laman elektonik saya, tiga empat lapis di bawah tujuan yang harusnya. Tapi apapun ‘sejarahnya’, tetap tidak mengurangi ‘keren’-nya undangan itu untuk saya, lhoh, asli!

Di tengah ‘kesibukan’ merekap dan menyusun(kan) surat di unit saya setiap hari, saya akhirnya dipercaya mewakili unit kerja saya di rapat se-strategis itu. Meskipun itu kondisi memaksa, walaupun saya tidak yakin mereka yang menunjuk saya merasa terpaksa.

Tetap keren! (mohon di baca dengan mengimajinasikan dalam rupa font ukuran 32, style bold, dan spasi center).

Menurut saya.

Menjadi Wakilnya Para Wakil yang Mewakili Perwakilan

Pada saatnya, saya sudah siap dengan berbagai materi yang diperlukan. Dari disposisi, saya mulai mencari dan mengemas berbagai informasi dan data yang kira-kira akan ditanyakan dari unit kerja kami, apa saja yang mungkin diperlukan sebagai bahan masukan rapat. Apa saja, meski tetap sebatas kemampuan saya. Langkah yang sedikit pintar, menurut pengalaman saya.

Eh, maaf, meski ada di dekat posisi terujung lajur rantai makanan, kalau dianalogikan dalam mata pelajaran biologi dulu, saya masih diberikan kemampuan melihat, mendengar, dan (sedikit) membaca untuk menyiapkan sedikit bahan bekal rapat nanti. Adalah meski hanya satu dua lembar kertas dari berkas yang tersisa di PC saya untuk bahan bacaan, dan kalau beruntung, bekal memberikan masukan. Entah strategis atau teknis, yang penting saya siap.

Iya, yang penting siap. Toh lembar disposisi yang saya lihat tadi pagi cukup luas untuk saya tafsirkan. Cukup ringkas dan padat, bahkan dari atasan atasannya atasan saya, hampir tak bertambah satu kata penjelas di kalimat instruksinya. Hanya dua kata, hadir dan wakili dengan tanda koma di antaranya dan tanda seru pada akhirnya.

Saya tak perlu bertanya lebih, saya kira itulah kelebihan beliau-beliau yang terbiasa berpikir dan bertindak strategis dan taktis. Kebiasaan yang diterapkan secara konsisten dalam kata-kata perintah. Terjemahnya, haruslah kita yang pintar mengartikan sebagai anggota yang (diharapkan) juga pintar. Sebagaimana dogma-dogma yang sering saya dengar dalam berbagai arahan dan rapat bersama.

Berani berinisiatif, penuh tindakan inovatif!

Jangan sering bertanya bagaimana menjalankannya, tapi berilah solusi untuk segera beraksi!

Kita aparatur yang harus peka terhadap dinamika masyarakat, tuntutan banyak,

harus lah cepat dan sigap!

Berpikir.

Dalam Putaran Rapat

Dan rapat di era kehidupan normal yang baru dimulai. Saling memandang layar instrumen teknologi, bersiap dengan baju rapi, dan mencoba bertahan dengan raut wajah yang tetap terjaga berkonsentrasi. Meski saya yakin, itu setengah mati.

Rapat dibuka oleh sejawat atasannya atasan saya dengan arahan pembuka yang bernas, tidak bertele-tele, dan memaparkan tujuannya dengan jelas. ‘Ini rapat penting!’ Itulah yang saya tangkap. Begitu pentingnya sehingga semua pihak, termasuk unit kerja saya, diundang untuk membahasnya.

Begitu pentingnya, sehingga layar PC saya harus digeser-geser dua atau tiga kali kalau berkeinginan melihat semua peserta yang hadir. Begitu pentingnya sehingga kami semua para peserta dikonfirmasi dan diberikan kunci masuk yang tentu tidak sembarang orang bisa memakainya sejenak sebelum rapat.

Setelah itu berbagai pemaparan pembuka disampaikan, tentang ini dan itu segala hal terkait pentingnya hal-hal penting yang dibahas dalam forum penting ini. Penting!

Sudah jelas ini rapat penting, yang syukurnya juga, saya telah berhasil membaca pesan tersebut ketika pertama kali membuka disposisi elektronik tadi pagi.

Satu putaran topik dilalui, tapi saya pikir ini belum bagian saya untuk turut berkontribusi. Meski saya paham tentang isunya, hasil dari mencuri dengar dan sedikit mendapatkan dari hasil pengarahan dalam rapat besar tempo hari. Namun demikian, dalam beberapa hal saya mempertimbangkan untuk tidak memberikan pendapat, meski beberapa kesempatan telah didapat.

Saya pikir itu bukan porsi saya, karena menyangkut pengambilan kebijakan yang bukan area saya. Sekali lagi, meski saya bisa, segala apa yang saya sampaikan mengatasnamakan unit kerja saya, nantinya akan membawa berbagai konsekuensi ke depannya. Dan itu pasti, di luar kewenangan saya.

Putaran kedua tak terasa sudah juga dilewati dan tentunya saya sangat nikmati. Perspektif-perspektif baru yang disampaikan para peserta rapat, seolah mengkonfirmasi beberapa pemikiran tentang bagaimana sebaiknya pelaksanaan topik penting dan strategis ini dijalankan.

Koordinasi lintas kewenangan, komunikasi intensif, dan rajutan-rajutan prosedur yang mendukung kebijakan, seolah menyadarkan saya betapa kecilnya kontribusi unit kerja saya selama ini. Pun juga kesadaran berbagai potensi upaya yang dapat dilaksanakan oleh unit kerja saya. Ini penting dan semakin penting!

Tapi saya harus merelakan beberapa kesempatan untuk berkontribusi, sekali lagi. Bukan soal dampak, namun kali ini tentunya berbagai hal yang sudah saya persiapkan dan serasa mencekat di tenggorokan, harus lah pelan-pelan kembali saya telan. Kali ini ide dan pemikiran saya, rasanya harus terlebih dahulu dibicarakan dengan atasan. Hampir saya terucap, namun sekelibat ingatan menghadap.

Beberapa hari lalu, saya berdebat keras dengan atasan, karena hal ini. Ada sesuatu yang saya pikir seharusnya bisa dilaksanakan, tapi entah kenapa urung terlaksana. Atasan saya masih menyimpan satu pertimbangan. Sementara untuk saya, sudah jelas baik dalam pemikiran, lisan, dan tulisan!

Masih ada dispute yang kalau saya paksakan, akan ada ‘pembunuhan’ karakter atasan saya di forum rapat ini. Dan itu pasti oleh saya, karena masukan dan pendapat pribadi saya. Saya mungkin tipe pegawai pengkhayal, tapi tetaplah loyal.

Sesi kedua pun lewat, saya kembali hanya jadi penikmat dan masih menjadi pencatat.

Tapi tentu saya tidak akan melewatkan sesi terakhir ini, karena terkait dengan hal-hal teknis yang saya banget. Iya, ini sesi saya. Berkali-kali saya tulis kalimat untuk masukan hasil dari pemikiran berbagai pelaksanaan tugas yang saya lakukan. Tentang bagaimana soal pengisian datanya, bagaimana mendapatkannya, dan tentang bagaimana menjadikan data yang dapat dibaca dan dimengerti. Itu mainan saya. Asli, saya bisa dan terbiasa.

Seperti mendung yang menggantung, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berayun menjatuhkan air. Saya sedang menyusun-nyusun kata pembuka, ketika tiba-tiba…..

“…baiklah, saya kira untuk hal-hal teknis seperti ini, agar dibicarakan di unit teknis-nya masing-masing sebelum nanti disampaikan para pimpinan, apa solusinya.

Kita catat terlebih dahulu masalahnya. Mari kita akhiri, saya kira rapatnya efektif…”

…suara sejawat atasan atasannya atasan saya tiba-tiba menyeruak di antara pembicaraan antara moderator rapat dengan beberapa pimpinan unit kerja lain, ketika mendiskusikan hal teknis yang saya banget. Rapat usai, pembahasan selesai. Sementara rangkaian kalimat calon usulan saya masih meninggalkan tanda koma.

Epilog

Apapun tetap saya nikmati, tetap saya syukuri. Meskipun tidak jadi berucap, rapat tadi sungguh bermakna bagi diri, seolah menancap menjadi penanda di hati. Perspektif, pelajaran, dan pemikiran baru ada dalam benak tertata tegak. Saya tetap terima, meski sedikit menyesal karena melewatkan beberapa kesempatan.

Kesempatan untuk menyatakan saran yang urung digunakan. Banyak pertimbangan untuk melakukan, tepat tanpa kewenangan dan delegasi yang mengikat, rasanya saya bukan orang yang tepat. Tanpa arahan dan instruksi yang jelas tentang harus melakukan apa dan berkata apa, rasanya cukup fair kalau saya memilih untuk hanya jadi penikmat rapat serta hanya menjadi pencatat.

Bersyukur karena justru timbul motivasi dan keinginan kuat. Bila nanti di posisi atasanku saat ini, tentu aku akan memberikan arahan yang tepat dan presisi ketika meminta bawahan dari bawahannya bawahan saya untuk menghadiri rapat seperti ini.

Bila nanti aku di posisi atasan atasannya atasan saya, tentu saya akan memberikan panduan yang tepat tentang bagaimana harus berpendapat pada tempat dan saat serta momentum yang tepat. Arahan yang dapat menjadi panduan yang jelas tentang bagaimana kontribusi harus diberikan, ketika seseorang ditugasi mewakili.

Arahan yang menghilangkan keraguan tepat-tidak tepat, salah-tidak salah, sesuai-tidak sesuai, yang membuat seorang wakil terantuk pada keraguan yang menggumpal. Arahan yang menguatkan, bukan membingungkan. Arahan yang memberikan kepercayaan, sebagai penghargaan.

Bersyukur lagi karena pengalaman memberikan motivasi. Andai saya jadi pengundang dan pemimpin rapat, yaitu sejawat dari atasan atasannya atasan saya, akan saya berikan peringatan pada pimpinan yang diundang, tujuan dan maksud adanya rapat, biar yang datang juga dengan bekal yang tepat.

Andai seperti sejawat atasan atasannya atasan saya, akan saya jelaskan bahwa yang dimaksud strategis itu adalah satu prioritas sehingga tidak menjadi abai atau diabaikan. Andai saya di posisi puncak akan saya koordinasikan dan komunikasikan dengan jelas apa yang kita semua akan tuju dan harapkan. Andai saya di puncak pimpinan, saya akan bicara tegas dan lugas, apa yang saya harapkan.

Tapi tentunya akan saya lakukan nanti, kalau saya diberikan mandat pada posisi itu pada saatnya.

Itu pun kalau saya tidak lupa.

…masih di Bekasi, 22 Juni 2020, waktu check out pada presensi WfH…

4
0
Enam Prinsip Melekatkan Gagasan di Benak Orang Lain

Enam Prinsip Melekatkan Gagasan di Benak Orang Lain

Suatu hari di pertengahan tahun 2020, kepada saya diberikan waktu sangat terbatas untuk menyampaikan gagasan inovasi yang telah saya buat. Waktu yang diberikan hanya 15 menit dan itulah satu-satunya kesempatan saya men-deliver gagasan di kepala saya ke benak para pendengar. Dalam dunia bisnis, kesempatan ini seringkali disebut dengan pitching. Yaitu suatu kesempatan mempresentasikan ide bisnis dalam waktu singkat di hadapan para calon investor dengan harapan mencuri perhatian mereka dan mendapatkan pendanaan modal. Tujuannya, untuk memulai atau meningkatkan kinerja perusahaan.

Di keseharian kita pun, kesempatan ini seringkali tiba-tiba muncul. Kita dihadapkan pada situasi serba cepat dan mendadak untuk menyampaikan gagasan yang ada di kepala kita agar mudah dimengerti oleh lawan komunikasi kita.

Lantas Bagaimana Caranya?

Dalam buku Made to Stick karya duo penulis dari Harvard University dan Stanford University, disebutkan setidaknya ada enam prinsip utama yang harus kita penuhi agar gagasan kita dapat ditangkap dan melekat di benak orang lain. Penulisnya, Chip Heath dan Dan Heath, kemudian menjabarkan keenam prinsip dalam buku tersebut.

Saya akan mengelaborasi keenam prinsip tersebut satu per satu secara singkat, disertai contoh konkret. Saya pun telah mempraktikkannya dalam kompetisi pemilihan Pegawai Berprestasi Nasional di instansi tempat saya bekerja. Sebagai gambaran, instansi tersebut merupakan  salah satu Instansi Pemerintah Pusat dengan jumlah pegawai lebih dari 6000 orang. Kompetisi itupun semakin menantang ketika saya berhasil melaju dari 15 besar menjadi 5 besar.

Oleh karena itu, saya berharap penjelasan ini akan lebih mudah dipahami, sebab prinsip di atas sangat penting dalam menunjang karir profesionalitas kita – baik di birokrasi maupun di luarnya.

Sederhana

“Jika Anda mengatakan tiga hal, berarti Anda tidak mengatakan apa-apa!”

Sederhana yang dimaksud adalah poin utama gagasan yang harus dikemas secara padat. Kita harus memilih dan memformulasikan gagasan besar kita, yang jika dijabarkan dapat menjadi berhalaman-halaman naskah narasi, menjadi hanya satu kalimat inti. Penyederhanaan ini membuatnya lebih mudah disampaikan.

Di masa overload information seperti sekarang ini, orang ‘tidak punya cukup waktu dan space’ di benak mereka untuk menyimak keseluruhan paparan panjang gagasan kita. Jika kita dihadapkan pada sepuluh pesan, benak kita akan susah menangkap semuanya dalam waktu singkat. Satu pesan terkuatlah yang melekat di benak kita dan meninggalkan kesan setelahnya.

Sebagai contoh, saya memiliki sebuah gagasan inovasi proses bisnis dan teknologi yang dapat mengumpulkan semua data penting terkait kegiatan penanggulangan COVID-19 oleh pemerintah. Aktivitas ini tersebar di berbagai instansi dan lokasi. Sehingga, kehadiran inovasi bertujuan untuk kemudian menampilkan rangkuman kinerja dalam sebuah tampilan informatif dan sederhana.

Harapannya, dengan menampilkan data secara realtime dalam sebuah dashboard, para pemimpin daerah dan pengambil kebijakan dapat memutuskan dengan cepat, lalu mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara tepat di tengah situasi yang tidak menentu dan mudah berubah. Saya kemudian memformulasikan gagasan yang diberi nama MRRP itu menjadi sebuah kalimat:

“MRRP adalah aplikasi online yang mampu menyingkap kabut gelap penanggulangan COVID-19 dengan biaya murah, cepat, dan memudahkan pengguna.”

Tak Terduga

Gagasan yang tak terduga lebih mungkin untuk diingat karena kejutan membuat kita memerhatikan dan benak kita berpikir. Efek kejut ini juga yang membuat sebuah gagasan terpatri di benak pendengar.

Dalam kasus saya, saya mengajukan kombinasi “Murah, Cepat, Berkualitas” sebagai efek kejut. Kondisi umum meyakini bahwa tiga indikator tersebut tak bisa disandingkan secara bersamaan.

Jika murah dan cepat, maka tidak mungkin berkualitas. Jika murah dan berkualitas, maka tidak bisa dikerjakan dengan cepat. Dan jika cepat dan berkualitas, pasti harganya tidak murah.

Efek kejut ini yang kita manfaatkan untuk mencuri perhatian pendengar dan ‘memaksa’ mereka untuk terus memerhatikan penjelasan lanjutan atas gagasan kita.

Konkret

Ini salah satu jebakan banyak orang saat menyampaikan gagasan. Kita selalu terseret pada formulasi abstrak atas gagasan kita. Memang benar, semua gagasan bermula dari kondisi abstrak di pikiran kita. Namun, di sanalah tantangannya. Kita dituntut untuk menjadikannya konkret dan dapat dirasakan oleh panca indera lawan bicara kita. Sebab, konkret itu mudah diingat.

Gagasan di awang-awang menjadikan apa yang ingin kita sampaikan berisiko ditangkap berbeda oleh yang menerimanya. Membuatnya konkret, menjadikan suatu gagasan tampak lebih objektif untuk siapapun. Konkret adalah menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi sebuah objek.

Mana yang lebih Anda ingat antara definisi “kebenaran” dengan definisi “buah semangka”? Apapun definisi kita, orang hampir mudah sepakat mengatakan sesuatu adalah buah semangka daripada sesuatu hal masuk kategori kebenaran atau tidak. Benar, kan?

Dalam kasus saya, konsep, proses bisnis, benefit, dan kerangka kerja saya sederhakan dan konkretkan menjadi sebuah aplikasi yang siapapun bisa dengan mudah memahami apa yang saya maksud.

Kredibel

Apa yang membuat orang mempercayai suatu gagasan? Jawaban singkatnya adalah karena yang menyampaikannya memiliki kredibilitas terkait gagasan tersebut.

Sebagai contoh, kita akan lebih mudah percaya bahwa sebuah restoran memiliki masakan yang enak jika Pak Bondan sudah pernah mengatakannya maknyus. Akan berbeda jika Mas Ahmad Dhani yang mengatakannya ueenaak. Sebaliknya, kita lebih percaya bahwa suatu lagu itu bermutu saat Mas Ahmad Dhani sudah memberikan jempol pada lagu tersebut, tetapi kita mungkin masih akan skeptis dengan penilaian Pak Bondan.

Kredibilitas ini dapat dibangun dengan kredibilitas diri sendiri. Maka kita perlu untuk menjaga dan mengelola kepercayaan dan kompetensi kita pribadi. Bagaimana jika belum memiliki?

Ada strategi yang disebut dengan social proofing. Yaitu, testimoni positif atas suatu ide kita, yang akan menambah kredibilitas suatu gagasan.

Saya sendiri memanfaatkan betul strategi ini. Saya mengumpulkan apresiasi dan testimoni dari berbagai pihak yang lebih berkompeten untuk menilai gagasan saya. Ini tentu dapat menjadikan kredibilitas gagasan yang saya sampaikan semakin baik.

Emosional

Peneliti dari Carnegie Mellon University pernah melakukan riset kepada responden saat dihadapkan atas dua peristiwa berbeda, yakni:

a) Lebih dari 11 juta orang di Ethiopia mengalami kelaparan dan memerlukan bantuan dengan segera; dan

b) Seorang anak bernama Rokia di Mali mengalami ancaman dan kelaparan yang luar biasa. Dengan bantuan finansial Anda, nasib Rokia akan menjadi lebih baik dan membantu pembiayaan pendidikan Rokia.

Para peneliti memberikan surat berisi salah satu cerita tersebut ke dalam amplop dan meninggalkan mereka untuk kemudian mengisi dengan donasi yang mereka inginkan.

Hasilnya, amplop dengan isi cerita Rokia mendapatkan rata-rata donasi lebih banyak daripada amplop berisi informasi 11 juta orang di Ethiopia sedang mengalami kelaparan.

PR-nya, bagaimanakah cara menciptakan gagasan yang emosional agar melekat di benak pendengar? Cara termudah adalah menggunakan teknik asosiasi.

Kita harus mengidentifikasi isu apa yang paling penting di benak pendengar gagasan kita dan kemudian mencari hubungannya –  mengasosiasikan dengan gagasan yang ingin kita sampaikan. Kita harus menyampaikan ide kita dengan perspektif apa yang penting buat pendengar, bukan apa yang penting buat kita.

Saat terjadi asosiasi atas apa gagasan yang ingin kita sampaikan dengan sesuatu yang penting menurut perspektif pendengar kita, maka akan muncul pengaruh emosional yang membuat mereka memberikan atensi pada gagasan kita.

Dalam kasus saya, saya menyampaikan bahwa gagasan yang saya bawa ini benar-benar sesuai dengan apa yang tengah menjadi isu utama instansi yang menjadi panitia pemilihan pegawai berprestasi. Saya memformulasikan asosiasi penuh dengan kebutuhan organisasi sehingga gagasan saya lebih mudah melekat di benak pendengar.

Cerita

Tak bisa dipungkiri, kita lebih senang mendengarkan cerita daripada mendengarkan teori-teori tanpa konteks. Sebuah cerita dapat membangkitkan imajinasi mental dan lebih membuat orang larut daripada hanya potongan-potongan informasi.

Steve Jobs pun menggunakan teknik bercerita saat menyampaikan presentasi peluncuran iPhone pertama kali, dalam hampir keseluruhan sesi. Suatu presentasi mendapatkan banyak pujian dan menjadi rujukan bagaimana seharusnya mempresentasikan sesuatu dengan baik. Kuncinya adalah story telling.

Sejak kecil kita sudah terlatih mendengarkan dongeng dan senang mendengarkan cerita. Saat bergosip pun, kita mendengarkan cerita yang membuat larut.

Epilog

Dalam menyampaikan gagasan, lima prinsip awal di atas harus mampu kita ramu menjadi suatu cerita pendek untuk disampaikan kepada pendengar. Unsur sederhana, tak terduga, konkret, kredibel, dan emosional harus menjadi suatu rangkaian cerita utuh yang kemudian disampaikan kepada pendengar. Sekali lagi, agar gagasan kita melekat di benak orang lain.

Bukankah tulisan ini pun saya awali dengan cerita, dan saya bungkus dengan cerita, sehingga Anda membaca sampai akhir sini? Dan dengan menggunakan strategi ini juga, sehingga pada akhir kompetisi, saya terpilih menjadi Juara 2 Pemilihan Pegawai Berprestasi tingkat Nasional. Alhamdulillah… Segala puji bagi Allah SWT.

Untuk memudahkan, silakan gunakan Idea Hacks Canvas yang telah saya susun hasil dari formulasi teori yang dikemukakan dalam buku Made to Stick ini. Dengan canvas ini, Anda akan semakin mudah memetakan gagasan, untuk kemudian menjadikannya cerita utuh yang melekat di benak pendengar Anda.

Download gratis di sini.

4
0
Menjadi Berarti itu Sangat Berarti

Menjadi Berarti itu Sangat Berarti

“…mutasi dan promosi merupakan hal yang biasa bagi suatu organisasi, untuk itu saya ucapkan selamat menjalankan tugas di jabatan yang baru, selamat beradaptasi dan terus belajar di lingkungan baru…”

Kalimat ini seolah menjadi mantra wajib para pimpinan organisasi pemerintahan ketika kegiatan pelantikan pejabat baru selesai dilaksanakan. Kalimat yang terdengar klise terutama untuk para petugas protokoler dan upacara kedinasan suatu instansi pemerintah.

Selalu Siap

Berulang dan berulang terus di setiap kegiatan, hanya berganti pembuka, intonasi, dan dialek dari masing-masing pemimpin tertinggi dalam kegiatan pelantikan tersebut. Kalimat yang, entah benar-benar terdengar, atau hanya selintas terdengar di telinga para pegawai dalam jabatan barunya, campur baur dengan kebahagiaan (karena dilantik) atau kekalutan (karena dipindah dari zona nyaman-nya) yang melintas cepat dalam angannya masing-masing.

Kalimat yang biasanya menutup proses pelantikan serta mengantar para pejabat dalam posisi barunya, yang kadang tanpa harus ada persetujuan, mau atau tidak. Hanya satu jawaban singkat, ‘SIAP’!, dengan keyakinan suatu dogma jalanan bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang bersiap.

Mutasi, rotasi, promosi, dan bahkan demosi, adalah suatu keniscayaan dalam suatu organisasi. Tugas baru dan lingkungan baru adalah cara pembelajaran yang ditawarkan organisasi bagi pengembangan pegawai demi kepentingan organisasi.

Saya dan Anda, harus sepakat dalam hal ini, terutama pada kalimat kedua, yakni “demi kepentingan organisasi”. Itu yang seharusnya, dan juga sebaiknya, mutasi, rotasi, promosi, dan demosi merupakan kepentingan organisasi. Bukan kepentingan yang lainnya. Meski tetap saya harus memberi pernyataan disclaimer, ceteris paribus!

Dengan kepercayaan pada kepentingan organisasi itulah, kalimat penutup tersebut dapat dimaknai sebagai penyemangat pejabat lama (yang digeser) dan pejabat baru agar berkinerja semakin baik. Baik untuk dirinya sendiri, dan baik terutama untuk organisasinya.

Sayangnya kalimat di atas itu bukan merupakan penutup, tetapi justru pembuka tulisan ini, yang bagi saya seperti nasihat khotib sholat Jum’at yang berwasiat tidak hanya untuk para jamaah, tetapi justru terutama nasihat untuk dirinya sendiri.

Kenyataan Tak Seindah (dan Semudah) yang Dibayangkan

Berada di lingkungan baru (hampir) selalu menjadi tantangan bagi sebagian besar orang. Entah dalam posisi harus memimpin atau dipimpin dalam suatu birokrasi, perpindahan lingkungan memerlukan proses adaptasi yang menguras sumber daya. Sumber daya memang tidak harus selalu berarti uang, meskipun hal tersebut juga kadang sering terkuras untuk mendukung promosi dan mutasi. Sumber daya bisa berarti curahan kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan lingkungan kerja.

Kompetensi baru yang harus segera dapat dikuasai, penyesuaian cara komunikasi, dan penyesuaian diri, menjadi tantangan-tantangan yang harus dikelola dengan penuh kesungguhan dan penuh energi!

Sependek karir saya di birokrasi, sudah seringkali mendengar keluh kesah kesusahan dari rekan dan sahabat tentang lingkungan baru, jabatan baru, rekan kerja yang baru, dan pimpinan baru. Tentang bagaimana susahnya memasuki semua hal yang baru.

Hal baru yang sejatinya mungkin tidak benar-benar baru, karena toh mungkin masih satu lantai, dalam gedung yang sama, dalam organisasi yang sama. Teman-teman yang sulit diajak untuk bekerja sama (atau mungkin yang mengajak yang seharusnya belajar cara mengajak untuk bekerja sama) sebagai tantangan yang harus dihadapi.

Ada juga keluh kesah tentang atasan yang susah untuk diteladani dan diikuti (atau mungkin kita yang harus belajar menjadi bawahan yang patut dan bahkan dinanti setiap pimpinan untuk dipimpin). Atau mungkin keterbatasan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (yang mungkin saja kita yang harus di-up grade cara pengelolaan sumber daya yang terlihat terbatas).

Sentral dari berbagai kekhawatiran tersebut, bisa jadi ada di diri kita. Kita yang mungkin harus berubah, bukan ekosistem kita, bukan rekan kerja kita, atau mungkin juga bukan pimpinan kita. Hal yang dirasakan pada saat pertama kali kita memasuki suatu lingkungan baru karena konsekuensi dari mutasi dan teman-teman sejenisnya.

Kita yang harus bekerja lebih keras, yang mungkin lebih menderita, lebih sakit, lebih lelah, dan lebih yang lainnya, untuk dapat masuk dan kemudian menjadi berarti bagi suatu lingkungan baru.

Menjadi lebih berarti, mungkin bukan frasa yang cukup keren, tapi mungkin lebih dari cukup untuk menjadi awal bagi kita menjadi motor perubahan ekosistem ‘baru’ kita, suatu saat ini. Menjadi ‘berarti’ bermakna bahwa kita adalah cukup penting bagi jalannya sebuah ekosistem.

‘Cukup berarti’ adalah pilihan kata-kata, yang saya rasa, cukup mewakili kondisi realistis atas segala upaya kita sebagai ‘orang baru’ dalam suatu lingkungan yang telah terlebih dulu established.

Pilihan kata ‘cukup’ yang tidak hanya bermakna seadanya, melainkan berarti lebih dari itu. ‘Cukup’ boleh dianalogikan sebuah mur yang melengkapi baut dalam konstruksi mesin. ‘Cukup’ boleh juga dianalogikan sebagai botol air bekal perjalanan dalam perjalanan panjang di padang gersang. ‘Cukup’ itu bermakna bermanfaat dalam kondisi normal, namun sesungguhnya sangat vital dalam realitanya.

Harapan awal kita cuma cukup berarti, paling tidak untuk meminimalkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan pada saat kita menginjak suatu lingkungan baru.

Bila Tetap Tak Seindah yang Dibayangkan

Sependek karir saya di birokrasi pula, sudah seringkali saya mendengar keluh kesah tentang keputus-asa-an bila kenyataan bekerja tetap tidak seindah yang diharapkan. Rekan, sahabat, dan sejawat datang bercerita tentang keinginan berhenti untuk bertahan.

Banyak variabel disampaikan, yang tentu bukan wilayah saya untuk menilai apakah benar dan salah. Suatu kondisi yang bukan menjadi wiayah kita untuk menggugat sebuah pilihan keputusan, karena kendali seluruhnya ada di  rekan, sahabat, dan sejawat saya.

Memilih berhenti bertahan atau tetap bertahan, itu hak pribadi bila tak kunjung fit dengan ekosistem baru. Semua pilihan, bahkan ketika berhenti pun, akan menghadirkan tantangan baru dan pengorbanan yang baru.

Dalam dialog tersebut, biasanya saya kembali pada pertanyaan tentang kesiapan diri sendiri. Biasanya variabel diskusinya akan bertambah seiring dengan bertambahnya usia lawan dialog. Idealisme mungkin pertanyaan mendasar untuk level usia dan pengalaman tertentu. Dialog akan semakin kompleks pada akhirnya, ketika banyak variabel yang dipertimbangkan, dalam kapasitas yang sudah semakin bertambah.

Apapun pilihannya, meninggalkan organisasi atau tetap tinggal, tantangan yang konstan adalah bagaimana kita dapat mempertahankan ‘kelas kinerja’ kita. Apapun jabatan baru, medan tugas kita, siapa rekan kerja kita, bahkan siapa pun pimpinan kita, penting untuk mempertahankan kelas kinerja kita tetap yang terbaik.

Dalam promosi, hal ini menjadi mudah untuk dipahami. Karena ‘kelas kinerja’ kita di atas rata-rata, asumsi ceteris paribus alias semua normal adanya. Ketika kita di’anugerahi’ jabatan baru di atas jabatan lama kita, sudah hampir pasti karena ‘kelas kinerja’ kita yang di atas rata-rata rekan sejawat.

Pun demikian ketika kita dialihkan ke lingkungan kerja yang baru, tanpa promosi, dengan hati yang jernih dan penuh dengan pikiran positif, dapat dengan lebih ringan menyatakan, mungkin ‘kelas kinerja’ akan lebih cocok dan mungkin akan meningkat di lingkungan kerja yang lain. Namun untuk demosi, maaf, saya tidak punya analogi, meskipun mungkin diterima dengan pikiran positif, tapi itu pasti berat.

Sampai dengan pilihan tetap di tempat, menghadapi, atau beralih ke ekosistem baru, adalah sepenuhnya di diri kita. Tetap tidak mungkin bagi kita untuk memilih siapa pimpinan kita. Pun ketika kita berada di pucuk pimpinan organisasi, karena toh masih ada pucuk-nya lagi.

Tidak mungkin kita menggantikan seluruh rekan sejawat kita dengan orang-orang yang barangkali dianggap lebih cocok dengan kita. Tidak mungkin juga kita mencoba menggantikan seluruh anak buah kita, apalagi dalam konteks organisasi pemerintahan, dengan orang-orang pilihan sesuai kriteria kita.  Tidak mungkin, pun ketika kita memilih beralih wadah dan organisasi!

Pada akhirnya tantangannya adalah sama, pertama tentang bagaimana mengelola diri kita sendiri sebelum melihat yang lain. Bagaimana kita mengelola kinerja kita, agar dapat menempatkan diri sebagai sesuatu yang berarti di mana lingkungan kita berada. Pilihan untuk tetap atau beralih akan menghadapi hal yang sama, percayalah!

Jangan harapkan di lingkungan baru, orang-orang yang belum begitu mengenal Anda akan bersuka-cita merima Anda. Pun juga, orang-orang lama yang telah mengenal Anda di lingkungan yang terdahulu, tidak akan menerima Anda suatu saat nanti ketika menjadi lebih mengenalmu.

Semua serba belum tentu, seperti halnya toko-toko dengan tagline besar ‘satu harga’, yang kenyataannya tetap saja banyak harga di dalamnya. Jadi tetaplah berpikir jernih sebelum bertindak, meski boleh saja berkeluh kesah.

Jangan harap orang-orang menjadi seperti kemauan Anda, tunjukkan saja siapa diri Anda dengan prestasi Anda!

Epilog– Form is Temporary, Class is Permanent

Ah, sudahlah, seperti saya tulis di awal, tulisan ini layaknya khutbah di sholat Jumat, mewasiati umat dan yang terpenting diri kita sendiri. Saya masih juga berproses memahami semuanya, seberat rekan sejawat dan sahabat yang beberapakali curhat tentang hal yang mungkin saya sendiri alami.

Satu hal yang saya lakukan adalah membesarkan hati dan menyemangati diri, toh semua pada akhirnya ada ujungnya. Kita hanya berupaya menghias ujungnya, dengan kemenangan dan kebanggaan, atau menjadi pecundang.

Ah, sudahlah capek, layar laptop saya sudah mulai menayangkan hiruk pikuk dalam stadion menyanyikan chant kebanggan tim-nya dalam lautan penonton berbaju merah. Sedetik saya melihat slogan yang menggambarkan persis seperti yang saya pikirkan, “Form is temporary, Class is Permanent”.

Kita akan dinilai berdasar kinerja kita, di manapun kita berada. Kita tidak berhak memilih lingkungan, kita yang harus memilih untuk mewarnai lingkungan dengan kinerja kita. Kita hanya mempertahankan ‘kelas kinerja terbaik’, paling tidak sebagai bentuk harga diri dan kebanggaan diri.

Ah, sudahlah… “….walk  on, walk on, you’ll never walk alone…”

….di tengah keriuhan ‘kantor’ kala WfH, Bekasi, 17 Juni 2020 09.22. WIB….

6
0
error: