Apa yang terbayang ketika seseorang mendengar kata ‘Banyuwangi’?  Bagi penggemar klenik, sebutan “Banyuwangi the Santet of Java” sudah tak asing lagi.  Bagi para pecinta gunung mungkin akan terbayang Gunung Ijen. Bagi para penggila selancar, spot Pantai Plengkung merupakan salah satu tempat terbaik di dunia untuk berselancar (surfing), dan meraih predikat yang tidak tanggung-tanggung sebagai pantai dengan ombak terbaik kedua di dunia setelah Hawai.

Adapun bagi praktisi pemerintahan di Indonesia, Banyuwangi adalah salah satu rujukan untuk belajar tentang tata kelola pemerintahan, khususnya di level pemerintah kabupaten.

Penghargaan Penting

Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun, Banyuwangi telah bertansformasi menjadi kabupaten yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dengan dukungan tata kelola pemerintahan yang sangat baik. Tentu, otomatis di dalamnya didukung juga oleh leadership yang memastikan proses ini berjalan dengan baik.

Pada tahun 2016, Banyuwangi meraih penghargaan dari Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) dalam ajang “12th UNWTO Awards Forum” di Madrid, Spanyol.

Penghargaan yang didapat tersebut adalah “UNWTO Awards for Excellence and Innovation in Tourism” untuk kategori “Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola”. Banyuwangi mengalahkan nominator lainnya dari negara Kolombia, Kenya, dan Puerto Rico.

Apa Itu Inovasi?

Sebelum membahas inovasi penting dari Banyuwangi, ada baiknya kita kembali memahami apa yang dimaksud dengan inovasi, utamanya di sektor publik.

Bertucci dan Alberti (2006), menggambarkan bahwa inovasi dalam tata pemerintahan merupakan ide kreatif yang telah secara sukses diimplementasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah publik yang mendesak.

Dalam konteks praktis, inovasi merupakan tindakan untuk mengadopsi dan mengimplementasikan cara-cara baru dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan sehingga dapat dicapai hasil yang diinginkan.

Inovasi bisa jadi melibatkan penggabungan elemen-elemen baru, kombinasi baru dari elemen-elemen yang ada atau perubahan yang signifikan dari cara tradisional dalam melakukan sesuatu.

Dengan demikian, inovasi dalam administrasi publik adalah jawaban yang efektif, kreatif, dan unik untuk masalah baru atau jawaban baru untuk masalah lama.

Masih dari catatan kedua peneliti tersebut, introduksi inovasi dalam birokrasi membawa beragam dampak positif. Pertama, inovasi membantu memaksimalisasi penggunaan sumberdaya dan kapasitas dalam menciptakan public value untuk memperkuat budaya partisipasi dan keterbukaan dalam pemerintah, dan ini berarti meningkatkan good governance.

Kedua, seiring meningkatnya citra dan layanan dari sektor publik, maka pemerintah akan mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat dan memperoleh legitimasi. Ketiga, inovasi dalam birokrasi dapat meningkatkan kebanggaan para personil sektor publik yang selanjutnya akan mendorong terjadinya perubahan kultur dalam perbaikan berkelanjutan.

Keempat, inovasi memiliki efek domino, dimana keberhasilan inovasi di satu sektor akan membuka pintu inovasi di area-area lainnya meskipun inovasi yang dilakukan terbatas pada level mikro.

Saya akan mengulas salah satu contoh inovasi penting yang dilakukan oleh Banyuwangi.

Inovasi “Siswa Asuh Sebaya”

Inovasi yang diberi nama Siswa Asuh Sebaya (SAS) ini adalah sebuah inovasi yang ditelurkan untuk mengatasi keterbatasan biaya para anak didik di Banyuwangi yang tidak tercakup dalam dana bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun dana bantuan lainnya.

Ketika seorang anak mulai bersekolah, selain memunculkan kebutuhan seperti buku dan seragam sekolah, kondisi ini juga menimbulkan kebutuhan penunjang seperti kacamata, sepatu atau sepeda untuk menjangkau lokasi sekolah.

Jika kebutuhan tersebut dibebankan kepada pemerintah, tentu dana pemerintah tidak akan mencukupi. Sebagai catatan, jumlah pelajar di Banyuwangi di sekolah negeri mencapai 171.000 siswa.

Ada 2 pilihan strategi utk mengatasinya, yaitu: dilakukan secara insidental, atau secara sistemik. Insidental artinya di mana diperlukan bantuan dan sepanjang dananya mencukupi, pemerintah akan memberikan bantuannya. Adapun sistemik, artinya dilakukan denngan cara terlembaga dan dibangun sebagai kebiasaan yang akhirnya menjadi sebuah kultur. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akhirnya memilih cara kedua untuk mengatasi persoalan tersebut.

Berangkat dari strategi tersebut, sejak tahun 2011 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meluncurkan gerakan SAS ini. Ide dari gerakan ini adalah  agar para pelajar dari keluarga mampu memberi dana sukarela kepada teman sebayanya dari keluarga kurang mampu dengan besaran yang bervariasi, mulai dari Rp1.000, Rp 2.000, dan seterusnya.

SAS menjadi salah satu bentuk inovasi di bidang pendidikan yang digerakkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mendorong empati dan solidaritas di kalangan pelajar. Kegiatan ini, dalam konteks yang lebih luas, merupakan bagian dari strategi untuk membangun modal sosial yang kuat antar generasi muda di Banyuwangi.

Tidak hanya itu, karena pengelolaannya dilakukan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa, maka program ini menjadi media yang dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kepercayaan kepada generasi muda. Sampai saat ini SAS berhasil mengumpulkan dana hingga Rp12,8 miliar yang mampu menjangkau lebih dari 20.000 siswa.

Bagaimana praktiknya? Sebagai contoh, di SMP 3 Banyuwangi, tim pengelola SAS mengoordinasi bendahara di semua kelas untuk mengumpulkan dana SAS rutin setiap Kamis pagi. Tim ini juga bertugas untuk mencari siswa yang memerlukan bantuan.

Jika ada anak yang sering terlambat karena rumahnya jauh dari sekolah dan ternyata belum mempunyai sepeda, maka tim pengelola dan siswa kemudian berembuk dan sepakat untuk membelikan sepeda dengan dana SAS.

Dwi Riski Baktiar, siswa SMP 3 Banyuwangi adalah salah seorang penerima dana SAS yang mendapatkan sepeda angin untuk dipergunakannya berangkat ke sekolah dari rumah yang jaraknya lebih dari 4 km.

Gerakan SAS sengaja didisain tidak terlalu prosedural untuk menciptakan iklim saling membantu di kalangan pelajar. Pengelolaan program seluruhnya dilakukan oleh siswa sendiri, sementara guru hanya sebatas memantau. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hanya memfasilitasi pembangunan sistemnya.

Yang paling penting dari gerakan SAS ini adalah memberikan bantuan yang tepat sasaran, yaitu siswa di lingkungan sekolah yang paling membutuhkan melalui mekanisme yang sangat transparan dan partisipatif.

Sebagai bentuk akuntabilitas, setiap bulannya dana yang dihimpun tiap sekolah dilaporkan ke dinas pendidikan kabupaten secara daring dan dapat diakses di laman www.pendidikan.banyuwangikab.go.id.

Pengakuan formal atas inovasi ini, di satu sisi menjadi salah satu catatan prestasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, tetapi di sisi lainnya gerakan ini mampu melibatkan secara aktif siswa, sekolah, dan pemerintah sehingga manfaat dan dampak yang dihasilkan memiliki nilai publik yang sangat baik.

Memetik Pelajaran

Inovasi yang telah dilakukan oleh Banyuwangi tersebut memberikan beberapa catatan penting untuk dapat kita ambil sebagai pelajaran, utamanya tentang tantangan internal yang dihadapi.

Pertama, pemerintah selalu dituntut untuk dapat bekerja dan menyediakan layanan yang semakin berkualitas dengan sumberdaya dan kapasitas yang terbatas. Poin pentingnya, pemerintah tidak hanya dituntut untuk menggunakan sumber daya dan membangun kapasitas secara lebih efektif, tetapi juga harus semakin kreatif. Sebagai contoh, dengan semakin melibatkan dukungan dari sektor privat dan civil society dalam penyediaan layanan.

Kedua, pemerintah berkepentingan untuk menjadikan institusi publik semakin akuntabel, responsif, dan efektif dengan menjadikan administrasi publik semakin berorientasi kepada masyarakat.

Ketiga, bahwa pemerintah mempunyai kepentingan untuk merespon secara lebih memadai tuntutan dari masyarakat agar masyarakat memiliki keterlibatan yang semakin tinggi.

Penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi tentang bagaimana mereka secara sistematis memproduksi inovasi di lingkungan unit-unit kerja pada Dinas Pendikan Kabupaten Banyuwangi menarik untuk kita cermati. Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Berangkat dari permasalahan yang ada

Permasalahan yang kerap dihadapi di lingkungan terdekat adalah masalah riil yang perlu dicarikan pemecahan atau solusinya. Kondisi keuangan yang beragam antar siswa menjadi salah satu penyebab siswa tidak bisa secara optimal mengikuti proses pembelajaran karena tidak memiliki peralatan pedukung belajar yang memadai.

Kondisinya pun bisa beragam, pakaian seragam yang telah waktunya diperbarui, sepatu yang sudah tidak layak untuk dipakai, atau mungkin murid yang memerlukan alat transportasi seperti sepeda agar bisa menghemat ongkos perjalanan dari rumah ke sekolah.

  1. Mudah dikerjakan dan tidak muluk-muluk

Dalam mengimplementasikan gagasan inovasi, poin penting yang harus dipegang adalah bahwa ide inovasi harus mudah dikerjakan dalam arti tidak mensyaratkan kriteria-kriteria yang rumit, yang justru akan membatasi keterlibatan pihak-pihak yang berpotensi untuk berperan aktif.

Gerakan SAS tidak memerlukan persyaratan teknis yang rumit untuk tim pengelola, bahkan siswa menjadi subjek utama dalam gerakan ini. Sementara guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan memainkan peran sebagai fasilitator gerakan ini.

  1. Tidak memerlukan biaya yang tinggi (low cost)

Gerakan SAS merupakan contoh inovasi yang lebih banyakk melibatkan aspek-aspek sosial dalam implementasinya. Gagasan untuk mengumpulkan dana dapat dilakukan dengan menggerakkan partisipasi siswa yang cukup intens.

Instrumen yang diperlukan pun bukan instrumen yang memerlukan investasi teknologi dan finansial yang tinggi, tetapi justru lebih banyak menggunakan koordinasi dan komunikasi sosial antara siswa dan sekolah.

Penggunaan teknologi informasi bukan menjadi bagian inti dari gerakan ini, tetapi hanya sebagai pendukung saja agar pengelolaannya menjadi lebih efisien.

  1. Ada daya ungkit

Aktivitas yang dipilih memiliki multiaspek dan keterkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah. Mengumpulkan uang untuk kemudian dikelola dan dialokasikan kepada teman-teman yang berada di satu lingkup sekolah atau bahkan sekolah lain yang memerlukan, memiliki banyak aspek yang terkait. Menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial, peduli, dan melaksanakan kegiatan secara terorganisir juga bagian dari pembentukan karakter siswa.

  1. Ada keunikan

Keunikan menjadi salah satu nilai penting dalam inovasi yang dilakukan di Kabupaten Banyuwangi.  Keunikan ini menjadi selling point dari gerakan ini bagi para pemangku kepentingan.

Manfaat dan dampak yang diberikan akan mendorong dukungan yang semakin tinggi agar gerakan ini bisa berkelanjutan. Orang tua siswa yang melihat kemanfaatan ini bagi putra-putrinya akan semakin memberikan dukungan yang lebih besar dalam bentuk sumbangan finansial yang disalurkan melalui anak-anaknya.

Epilog

Kritik atas capaian-capaian kinerja pemerintah daerah adalah sering kali kurang memberikan perhatian pada penguatan partisipasi publik pada program-program pemerintah. Harus diakui, belum banyak pemerintah daerah di Indonesia yang mampu melakukannya.

Terlepas dari beragam faktor yang bertalian, cara-cara inovasi ala Banyuwangi merupakan rujukan riil bagi para pemimpin daerah dan praktisi pemerintahan di Indonesia yang dapat diadopsi, dimodifikasi, dan dikembangkan.***

 

 

1
0
Eddi Wibowo ♥ Associate Writer

Penulis adalah alumni S1 Jurusan Ilmu Administasi Negara FISIPOL UGM dan Pascasarjana Universtitas Gadjah Mada Yogyakarta pada Program Studi Kebijakan Publik. Saat ini Penulis menjabat sebagai Kepala Bidang Perpustakaan Pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Aparatur Nasional (PUSDIKLAT KAN) LAN-RI, seklaigus sebagai dosen
di Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STIA – LAN) Jakarta.

error: