Ada cerita yang perlu saya bagi hari ini sesaat sebelum boarding menuju Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau untuk melakukan perjalanan dinas. Saya mencoba menuliskan cerita ini dan semoga cerita ini tidak menyinggung siapa pun. Niat saya adalah berbagi kisah tentang bagaimana menulis buku bukanlah proses instan. Namun, perlu perjuangan, sehingga saat ada seseorang yang ingin mendapatkan buku secara gratis, tampaknya perlu berpikir ulang.

Cerita itu bermula saat saya menggelar acara soft launching buku Birokrat Menulis 1 September 2016 di sebuah rumah makan di kawasan Jakarta Selatan. Launching buku sembari menguatkan tekat untuk tetap menulis yang telah dirintis sejak sembilan tahun lalu. Acara yang direncanakan berlangsung sederhana menjadi luar biasa karena dihadiri oleh Prof Dr Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat dan Andrinof Chaniago, mantan Menteri Perencanaan Pembanguanan Nasional/Kepala Bapennas. Alhamdulillah acara tersebut lancar dan sukses.

Namun, ada sebuah cerita lanjutan setelah itu. Seorang teman yang saya kenal via sosial media yang kebetulan menyempatkan hadir menanyakan buku Birokrat Menulis. Dia sepertinya begitu menginginkan buku tersebut plus tanda tangan saya. Saya kemudian meminta dia untuk menghubungi penerbit, karena stok di tangan saya tidak banyak. Setelah menghubungi penerbit lalu disampaikan bahwa buku tersebut dijual, tidak dibagi gratis. Gratis itu memang dambaan banyak orang. Tiket gratis, hotel gratis, dan makan gratis. Ada yang bilang romantis itu artinya rokok makan gratis.

Kadang saya merasa bangga memiliki banyak penggemar di beberapa tempat. Penggemar buku-buku yang saya tulis. Walaupun tidak banyak tapi hingga hari ini sebagian penggemar itu masih suka meminta buku gratis. Itu yang kadang membuat saya heran.

Jika ditelusuri bagaimana proses menulis dan menerbitkan buku yang butuh waktu, tenaga, pikiran, dan biaya mungkin yang minta-minta buku gratis akan berpikir ulang. Untuk tidak minta buku gratis lagi.

Meminta buku gratis kepada penulis seakan membuktikan mereka tidak suka dengan dunia kepenulisan. Mereka belum menjiwai tentang bagaimana sulitnya tentang dunia tulis menulis. Pasalnya, seorang yang menjiwai literasi pasti paham betul bagaimana perjuangan untuk mendapatkan sebuah inspirasi. Saya terbiasa mencari inspirasi dengan datang ke toko buku dan membeli beberapa buku setiap bulan bahkan bisa hampir dua minggu sekali. Saya kemudian menyempatkan diri untuk membacanya di tengah menumpuknya pekerjaan kantor. Setelah itu, saya menuliskan menjadi sebuah kisah-kisah harian, saya kadang kadang perlu terbang ke Pekanbaru, Yogyakarta, Padang, Manado, Sumbawa, dan kota-kota lain. Semua itu tentu tidak gratis. Perlu biaya untuk membeli tiket pesawat dan memesan hotel. Baru kemudian saya mendapatkan inspirasi dan tempat sebagai awalan sebuah cerita.

Menulis sebuah buku itu pada dasarnya membutuhkan banyak biaya. Hanya orang yang meresapi—untuk tidak menyebut gila—saja yang mau bersusah payah dengan ini. Saat ada seseorang yang memaksa untuk mendapatkan buku secara gratis, saya pun sedih. Mengapa orang itu tidak mau menghargai sebuah proses kreatif. No free lunch, tampaknya tidak hanya berlaku di dunia politik, namun dalam dunia literasi. Pasalnya, dunia ini hanya digeluti oleh sedikit manusia yang sungguh-sungguh. Manusia yang rela mengorbankan banyak waktu untuk mencumbui setiap kata.

Jadi, kesimpulan saya, jika masih ada niat untuk meminta buku gratis baiknya niat ini dihentikan. Kasihan penulis dan penerbit yang sudah bersusah payah menulis dan memproses hingga buku tersebut terbit. Bukankah buku tersebut dicetak tidak gratis dan membutuhkan biaya yang bukan berasal dari APBN/APBD. Bahkan menurut seorang teman dari penerbit, dengan nada setengah bercanda mengungkapkan jika masih ada orang yang suka mengemis meminta buku gratis,  baiknya tetap diberi, namun perlu membawa surat keterangan miskin dari kelurahan setempat.

Bandara Soetta, 9 Oktober 2016.

 

 

Adrinal Tanjung ◆ Professional Writer

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: