Halo, perkenalkan nama saya Eko, seorang pria yang gemar mendaki gunung sejak kecil hingga kini telah delapan tahun menjadi seorang pegawai negeri. Sebagaimana PNS pada umumnya, saya telah berjanji siap ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. SK Mutasi menjadi bekal saya bertualang, sekaligus menyalurkan hobi mendaki gunung menjelajah bumi pertiwi.

SK terakhir kali menempatkan saya di Kalimantan Timur. Lagi-lagi menempatkan saya di daerah yang tidak ada gunungnya, tidak ada tanda-tanda hawa sejuk khas ketinggian. Saya pernah ditempatkan di Ambon, Maluku, masih bisa mendaki Gunung Salahutu, dan sekali ke Gunung Binaiya di Pulau Seram. Di Ambon, kadang-kadang anak gunung macam saya pun bisa menjadi anak pantai, sekadar untuk menikmati alam.

Akan tetapi, Kalimantan Timur ini lain. Tidak ada gunung, jauh dari pantai, bahkan hutan juga sudah disulap menjadi lahan tambang dan kebun. Ah, nganggur lagi dong perlengkapan pendakian yang sudah saya kompliti sejak kuliah DIV beberapa tahun yang lalu. Begitulah bayangan yang terlintas di benak saya saat SK mutasi itu terbit.

Bagaimana selanjutnya? Ternyata kepindahan itu justru menghadirkan petualangan baru. Hobi saya mendaki kini tidak lagi menjadi sekedar hobi, tetapi menjadi lebih luas ke ranah profesional. Pernahkah Anda mendengar cara kerja pemandu gunung internasional? Kira-kira itulah side job yang saya rintis sekarang.

DL-nya Pemandu Gunung Internasional

Di dunia ASN kita akrab dengan istilah perjalanan dinas luar kota, disingkat DL. Jika DL-nya pegawai di kantor saya umumnya hanya lintas kota – sesekali lintas provinsi di Indonesia, maka aktivitas sebagai pemandu internasional ini dinas luarnya tidak hanya luar kota – tetapi lintas benua.

Begini, bisa jadi seseorang tinggal Australia, tapi di awal tahun ia bekerja memandu naik gunung di kawasan Amerika Selatan. Bulan Maret sampai Mei geser ke Himalaya di Asia. Selanjutnya, Juni sampai dengan Juli DL lagi ke Alaska di Amerika Utara.

Agustus di kawasan Eropa, dan di penghujung tahun ke Indonesia dan negeri ekuator lainnya – negeri-negeri yang tidak mengenal musim pendakian karena perbedaan cuaca tidak begitu ekstrim. Hebat ya? Itulah DL-nya pemandu gunung berkelas internasional, tapi jelas itu bukan saya.

Lebih tepatnya, belum. Saya belum menjadi pemandu pendakian internasional. Namun profesi itu kini kadung menjadi inspirasi. Kini saya masih sering mendaki gunung meskipun tinggal di Samarinda, ibukota Kalimantan Timur yang tak ada gunungnya. Dulu, saya pernah kecewa tidak ditempatkan di Sulawesi atau Lombok yang kaya pegunungan. Alhamdulillah sekarang kecewa itu sudah terobati.

Bukan Lagi Hobi, Tapi Passion

Lalu, kenapa saya ngotot untuk terus bisa dan sesering mungkin mendaki? ini CANDU. Sejak SD saya sudah menjadi pehobi kegiatan hiking dan trekking, walaupun jelajahnya masih sekedar ke Bukit Menoreh. SMP dan SMA saya lebih sering mendaki di sekitaran Jawa Tengah.

Hobi saya semakin menggila saat kuliah di STAN, bergabung di Kelompok Pecinta Alam STAPALA. Pengalaman Ekspedisi STAPALA mendaki Gunung Elbrus di Rusia menjadi titik kritis di mana mendaki gunung bukan lagi hobi, tapi menjadi passion. Kegilaan itu berlanjut, sampai akhirnya menggapai Puncak Carstensz di Papua dan Aconcagua di Argentina. Khusus Carstensz dan Aconcagua, keduanya saya lakukan saat sudah bekerja sebagai ASN dan mendapat restu dari organisasi.

Ekspedisi Carstensz didukung organisasi tempat saya bekerja, kebetulan bertepatan dengan ulang tahun instansi. Bangganya bisa mengibarkan bendera instansi di titik tertinggi Indonesia. Saat ekspedisi ke Aconcagua-pun juga sempat menghadap pimpinan di kantor pusat dengan agenda pamitan. Betapa senangnya kegiatan yang digemari mendapat tanggapan positif dari orang di lingkungan kita bekerja. Ini menjadi penyemangat dan membuka lebar kesempatan untuk terus berpetualang.

Pendaki gunung identik dengan carrier. Carrier yang dimaksud di sini bukan tas ransel mendaki gunung, melainkan orang yang di dalam tubuhnya sudah terjangkiti virus petualangan. Virus itu melekat mendarah daging dan disebarkan ke orang lain. Uniknya, orang lain seringkali minta ditulari virus ini dan tidak ada keinginan untuk sembuh.”

Epilog

Kembali lagi tentang profesi. Boleh dibilang saya punya dua profesi saat ini. Keduanya telah tersertifikasi dan dijalani setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) yang memadai. Selain sertifikat auditor yang saya pakai untuk kerja hari Senin sampai Jumat, seringkali Sabtu Minggu saya pakai sertifikat saya yang satu lagi. Ini sangat adil, “diklat” yang saya lakukan sejak SD di alam bebas membuahkan kompetensi yang bisa dipakai untuk kerja sambilan.

Juga faktor momentum, dunia pariwisata sedang hits. Pariwisata petualangan pun tak ketinggalan. Sesaat setelah munculnya film-film semacam “5 cm” pendakian gunung semakin digandrungi. Tidak ada lagi gunung yang sepi. Jika dulu yang mendaki gunung hanya orang tertentu, kini semua bisa dan menggandrungi.

Profesi yang berhubungan erat dengan pendakian gunung semakin tumbuh, salah satunya guide. Adalah suatu anugerah, hidup di Samarinda tapi bisa tetap melakukan pendakian di berbagai pulau di Indonesia sebagai pemandu gunung. Memang ini masih awal, baru action dua tahun ke belakang, tapi paling tidak saya tetap bisa sering naik gunung sebagaimana hobi saya.

Bagi para auditor di kantor saya, instansi pemerintah pusat, lembaga, BUMN/D, dan pemda memang adalah mitra. Akan tetapi bagi saya, gunung juga adalah mitra. Mitra bertualang, mitra berkembang. Doakan saya makin sukses ya…. Walupun ekarang sedang musim virus, libur dulu.

5
0

Alumni PKN STAN yang mengabdi pada negara sebagai auditor internal pemerintah, berdomisili di Kalimantan Timur. Menyebut dirinya sebagai ASN yang tidak hanya bermitra dengan instansi pemerintahan, namun juga bermitra dengan gunung

error: