Sambil memandang ke Selat Peleng, persis di depan hotel tempat saya menginap, saya merasa bersyukur masih diberi kesehatan dan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baik.

Saya sering merasa terharu atas apresiasi yang begitu tinggi terhadap kedatangan saya di banyak tempat. Berkali-kali mereka, orang-orang yang saya kunjungi, mengatakan bahwa tidak banyak birokrat seperti saya. Saya adalah birokrat yang tak suka menyulitkan, berpengetahuan luas, tetapi tetap rendah hati. Padahal, bagi saya itu sesuatu yang biasa saja, sudah menjadi karakter yang ditanamkan orang tua sejak kanak-kanak.

Saya seringkali salah tingkah jika dipuji setinggi langit. Apalagi ketika pujian itu dikatakan di depan saya dan banyak orang. Padahal, saya merasa masih banyak hal yang belum saya lakukan. Saya memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Selain itu, masih ada orang-orang yang tidak menyukai saya. Mereka bahkan membenci dan kadang menyebarkan fitnah. Untuk yang terakhir ini, saya belajar untuk tidak peduli.

Adapun di kelas-kelas workshop dan bimtek (bimbingan teknis) yang saya hadiri, sering saya perhatikan wajah-wajah puas dan bersahabat setelah kegiatan berlangsung. Para peserta tak segan-segan mengatakan agar saya tidak kapok jika diundang datang lagi. Ucapan itu menguatkan saya. Saya pun mensyukurinya. Wajah dan perkataan mereka terlihat tulus. Saya merasakan getaran positifnya.

Semangat Menuju Banggai

Pagi ini, saat saya berada di Banggai, saya merasa harus menuliskan banyak hal terkait kekaguman saya kepada kabupaten satu ini. Hal-hal itu membuat saya senang tak terkira. Mulai dari Kota Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai yang eksotis, adanya komitmen Bupati dan Wakil Bupati yang luar biasa dalam pelaksanaan reformasi birokrasi, dan juga tak lupa para pegawai negeri sipil (PNS) yang punya semangat tinggi untuk terus melakukan perubahan.

Ya, saya senang sekali bisa datang ke Kabupaten Banggai.

Gelombang unjuk rasa pascapenetapan hasil Pilpres (pemilihan presiden) di hari Selasa dan Rabu lalu di Jakarta hampir saja membatalkan keberangkatan saya ke Kota Luwuk yang sungguh mempesona ini.

Namun, tekad dan semangat untuk berbagi membuat saya membulatkan hati berangkat dini hari di tengah kelelahan yang tinggi. Padahal, istri sempat mengkhawatirkan saya berangkat di hari Rabu malam tersebut.

Bersyukur, akhirnya saya bisa sampai di Kabupaten Banggai nan indah ini. Subuh di saat sahur hari pertama di Banggai, saya kembali dibuat kagum akan indahnya Kota Luwuk. Menikmati pemandangan dari hotel tempat saya menginap yang langsung menghadap ke laut menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga. Sungguh pemandangan itu luar biasa indahnya.

Indahnya Banggai, indahnya Indonesiaku.
Belum pernah saya menemukan tempat yang memiliki keindahan alam seindah ini, bahkan di beberapa negara yang telah saya kunjungi.

Pagi ini saya diajak berkeliling kota sambil mendiskusikan beberapa hal dengan staf pemerintah daerah, sebelum siang harinya menghadiri acara bimbingan teknis tentang proses bisnis. Perbincangan kami seputar komitmen Bupati yang tinggi untuk memajukan Kabupaten Banggai. Program ini dimulai dengan membangun tata pemerintahan yang baik untuk peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ada juga komitmen untuk pelaksanaan reformasi birokrasi. Tak segan-segan Bupati turun langsung untuk memonitor bagaimana upaya dan capaian terkait reformasi birokrasi ini.

Bimtek Proses Bisnis

Saat kegiatan dimulai, saya pun semakin semangat dibuatnya. Awalnya saya mengira kegiatan ini dilaksanakan setelah bulan Ramadhan. Hal ini mengingat pertimbangan jika dilaksanakan di bulan Ramadhan pelaksanaan kegiatan kurang maksimal. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Kegiatan selama tiga hari tersebut berjalan penuh semangat. Para peserta aktif dan antusias selama bimtek.

Malahan jam istirahat tidak lama karena tidak ada makan siang. Kegiatan pun berlangsung hingga buka puasa. Sungguh luar biasa semangat para peserta. Hal ini membuat saya merasa senang tak terkira. Di sambutan pembuka saya sampaikan pentingnya konsensus dan komitmen agar peta proses bisnis bisa segera rampung.

Jika dalam perjalanan ada hal-hal yang harus disesuaikan dan disempurnakan, maka bisa segera diperbaiki. Peta proses bisnis bukan kitab suci, alias bisa mengalami perubahan. Namun, jika segera disusun, dibahas, lalu disepakati kemudian disahkan, maka bisa menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan.

Dengan demikian jika penyusunan peta proses melalui langkah-langkah yang benar maka hasilnya bisa menjadi panduan atau kitab suci. Inilah yang sering saya katakan berulang-ulang tentang hakikat dari peta proses bisnis bagi institusi pemerintah.

Selain tentang materi bimtek, ada saatnya Wakil Bupati Banggai memberikan pidato yang mengapresiasi buku-buku karya saya. Bahkan, tak segan-segan beliau berpesan agar buku yang saya tulis harus dimiliki oleh para PNS di pemerintah daerah Kabupaten Banggai. Tentu saja hal itu membuat saya merasa bangga dan bersyukur.

Baru kali ini ada seorang pejabat yang dengan terang benderang mengungkapkan hal tersebut. Sudah semestinya suatu karya diberi tempat yang luas agar semakin berkembang dan dinikmati banyak orang. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.

Sharing Saat Usai

Baru saja saya kembali dari Bukit Keles, sebuah kawasan yang sejuk dan indah, berada tidak jauh dari Kota Luwuk. Di sana saya berdiam sejenak sekadar menikmati indahnya pemandangan sembari mengungkapkan rasa syukur dalam hati memiliki kesempatan menikmati perjalanan ini.

@Willy_photograp/Instagram

Ditemani dua orang staf Pemda Kabupaten Banggai, saya mendiskusikan banyak hal di sepanjang perjalanan. Kami juga mengulas pidato Wakil Bupati pada saat pembukaan acara Bimbingan Teknis Proses Bisnis dan Standard Operating Procedure (SOP).  Tak ketinggalan juga kami berbagi cerita tentang hal-hal lain terkait pengalaman hidup masing-masing.

Diskusi dengan dua orang calon pegawai negeri sipil (CPNS) di sepanjang perjalanan tersebut juga terkait dengan perjuangan mereka bisa diterima sebagai CPNS.  Saya katakan bahwa untuk berprestasi dan dikenal dalam lingkungan birokrasi, seseorang harus menciptakan perbedaan. Maknanya adalah melakukan sesuatu yang dibutuhkan banyak orang sehingga kehadiran kita menjadi bermakna.

Dalam obrolan tersebut saya sampaikan bagaimana pengalaman saya bekerja di pemerintahan yang kadang tidak mudah. Untuk menghadapi berbagai tipe manusia, kita harus mampu bersikap dengan baik. Saya punya rekan kerja yang ketika diajak bekerja sama sulitnya minta ampun.

Pekerjaannya lebih banyak mengkritik dan sering menganggap remeh orang lain. Dia merasa paling hebat, tapi saat diberi tugas dan tanggung jawab lebih banyak tak mampu diselesaikannya dengan baik. Menghadapi rekan dengan tipe seperti ini, saya pun berpesan agar berhati-hati.

Orang itu di depan kita suka berbaik-baik, akan tapi di belakang kita akan sangat tajam membahas kekurangan kita. Tak segan-segan ia akan menjatuhkan bahkan menfitnah kita. Apakah perlu membalas kejahatannya dengan kejahatan yang sama, agar dia sadar bahwa tak mungkin dia memperlakukan orang sesuka hatinya?

Untuk kasus seperti ini tiap orang tentu punya pilihan yang berbeda dalam menyikapinya. Ada yang secara frontal dan berhadap-hadapan dengan tipe manusia seperti ini. Dengan sikap itu, maka keributan pun tak terelakkan.

Namun, ada juga jenis manusia yang tidak ingin ribut, justru mendiamkan manusia jenis ini. Memilih yang mana, itu tergantung pilihan kedua pemuda tadi. Saya hanya sekedar sharing dengan mereka berdua agar kelak mereka siap dengan kondisi–kondisi seperti itu.

 

Bersyukur, Menulis, dan Bahagia

“Bukannya bahagia yang membuat kita bisa bersyukur, tetapi sikap mampu bersyukur yang membuat kita bahagia”, begitulah ungkapan Bruder David Steindl Rast, yang selalu saya camkan baik-baik dalam benak saya.

Betapa banyak kejadian di keseharian yang membuat kita kecewa. Di  banyak keadaan, betapa diskriminasi sering tak dapat dielakkan. Menghadapi hal tersebut tak ada jalan lain untuk kita pahami kemudian bersyukur.

Bekerja di birokrasi pemerintahan selama 22 tahun  mengajarkan saya pada banyak hal. Dengan rasa syukur tak ada rasa kecewa yang tersisa. Perjalanan dinas ke Kabupaten Banggai beberapa hari yang lalu telah membuktikan hal tersebut. Maka, belakangan ini saya belajar untuk menikmati apa yang ada lalu banyak bersyukur. Ujungnya kebahagiaan mudah diperoleh, yakni hati menjadi lapang dan inspirasi selalu hadir.

Pada setiap perjalanan saya pun menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Sebagai birokrat yang cukup sibuk, waktu begitu penting. Tak ada waktu yang terbuang percuma bagi saya. Selalu saja ada hal yang saya lakukan di sela waktu senggang. Paling tidak, yang saya lakukan adalah membaca buku.

Saya sering ditanya rekan dan sahabat mengapa di setiap perjalanan dinas, tas saya selalu penuh buku. Selain perlengkapan dan pakaian yang saya bawa, buku-buku menjadi sahabat perjalanan yang membuat saya bahagia. Maka apapun yang saya alami, solusinya selalu ada di dalam buku yang saya baca.

Kepulangan yang Mengaduk Emosi

Sambil memperhatikan ke kaca jendela, saya memandang Pantai Losari dengan rasa syukur. Sebentar lagi saya siap siap ke bandara kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung. Ini adalah perjalanan pulang saya dari Banggai.

Indahnya pagi ini dan saya menikmati dengan rasa syukur. Saya telah melakukan banyak hal hingga sejauh ini untuk terus berkarya dan tetap mengabdi kepada negara sebagai birokrat.

Saya tak mengira jika Kota Luwuk begitu indah dan mempesona. Dikelilingi pantai yang eksotis dan teluk yang tenang membuat bahagia tak terkira selama tiga hari saya di sana. Siang menjelang sore kemaren, saya sempat terdiam sambil duduk di pintu masuk keberangkatan Bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk. Semilir angin membuat saya malas kembali ke Jakarta. Tapi tentu saja saya harus kembali.

Meskipun tak jauh dari hotel tempat saya menginap, saya hanya bisa melemparkan pandangan ke arah pantai sore itu dari dalam kendaraan menuju bandara. Warna air pantai hijau membiru sungguh mendamaikan hati. Perjalanan menuju hotel yang tak lebih 15 menit terasa sangat singkat.

Pulau Peleng tampak dari kejauhan, dulu merupakan bagian dari Kabupaten Banggai. Saat ini pulau itu menjadi Kabupaten tersendiri, Banggai Kepulauan. Saya berharap suatu waktu saya bisa kesana. Saya yakin pasti tak kalah indahnya dengan Banggai yang sedang saya kunjungi.

Perjalanan dinas kali ini sungguh mengaduk-aduk emosi saya. Sebelum pulang saya diantar ke Bandara Syukuran Aminudin Amir oleh beberapa rekan dari Pemda. Saya sempat katakan harusnya saya bisa menginap satu malam lagi di Kota Luwuk, melanjutkan tulisan ini sambil berdiskusi terkait dukungan banyak orang kepada saya.

Paling tidak 10 orang sudah memesan buku Birokrat Menulis 2 untuk segera dikirim. Tadi disampaikan pasti akan banyak lagi yang menyusul untuk memesan buku terbaru saya karena tulisannya yang ringan dan menggugah. Lagi-lagi saya kembali harus bersyukur. Semua upaya yang saya lakukan sebentar lagi akan mencapai titik klimaksnya.

Epilog

Ya, saya bersyukur lalu menulis dan akhirnya saya menemukan rasa bahagia. Jadi, ada pengembangan dari apa yang dikatakan oleh Bruder David Steindl Rast di atas. Untuk mendapatkan kebahagiaan harus diawali dengan rasa syukur.

Bagi saya, bahagia bisa dilakukan dengan bersyukur kemudian menulis. Jika ada tambahan lain untuk menjadi bahagia adalah jadilah pribadi yang rendah hati.

Banggai membuat saya bangga, terhadap alamnya yang indah dan orang-orangnya yang ramah dan bersahabat. Ini perjalanan yang penuh makna di penghujung bulan suci Ramadhan. Terima kasih, Banggai.

 

 

 

6
0

Pegawai BPKP yang dipekerjakan di Kementerian PAN dan RB dan kandidat Doktor pada Program Doktor Ilmu Sosial di Universitas Pasundan. Seorang penulis buku dan sudah menulis lebih dari 20 buku.

error: