Ketika membaca berita penonaktifan Helmy Yahya sebagai Direktur Utama TVRI Desember 2019 lalu, di media sosial ramai beredar dukungan dalam bentuk  tagar #savetvri. Di lini masa saya pun, beberapa teman juga menyayangkan peristiwa tersebut. Menurut mereka, TVRI di bawah kepemimpinan Helmy Yahya telah tampil menjadi jauh lebih baik. Saya setuju itu.

 

Terima Kasih TVRI

Sejak TV di rumah bisa dipakai menonton Youtube, frekuensi menonton TV lokal untuk keluarga kami menurun drastis. Acara-acara yang masih lumayan sering kami tonton kini bisa dihitung dengan jari. Sinetron? Masih ada 1 yang kami tonton meskipun banyak bolongnya.

Jelas bukan ‘sinetron azab’ di Indosiar, akan tetapi sinetron “Tukang Ojek Pengkolan” di RCTI. Di sinetron itu yang tidak ada tokoh yang benar-benar antagonis, sehingga tidak bikin tensi naik saat menontonnya. Acara lainnya? Ya cuma TVRI rasanya yang layak tonton. Terlebih, karena siaran Trans TV dan Trans 7 sejak beberapa bulan terakhir entah kenapa tidak bisa lagi ditangkap di daerah tempat tinggal kami.

Sebagai penggemar tayangan olah raga, bisa dibilang TVRI sangat memanjakan kami. Tahun 2019 mereka mengklaim diri sebagai Rumah Bulu Tangkis Indonesia. Menurut bola.kompas.com, dari Maret sampai Desember 2019, TVRI telah menyiarkan 10 turnamen bulu tangkis selain Blibli Indonesia Open, ditambah Sirkuit Nasional hingga 2021.

Terima kasih, TVRI! Ini artinya kami bisa melihat aksi idola kami The Minions dan The Daddies bermain sepanjang tahun itu. Sebuah hiburan kelas dunia untuk keluarga kecil yang tidak setiap akhir pekan bisa piknik. Ini jelas angin surga buat keluarga kami, buat suami saya lebih tepatnya. Hehe.

Itu baru badminton, belum sepak bola. Pertengahan tahun 2019, TVRI resmi membeli sebagian hak siar Liga Primer Inggris musim 2019/2020 dan membaginya bersama MolaTV, layanan multiplatform dari Djarum sampai musim 2021/2022 atau selama tiga musim.

TVRI mendapat jatah menyiarkan 78 laga per musim, yang dibagi ke dalam 2-3 pertandingan tiap minggunya. Mereka juga menjadi pemegang hak siar timnas Merah-Putih. Wow banget ya. Selain olahraga, di TVRI kami kadang menonton Discovery Channel. Di TV lain mana ada Discovery Channel, coba?

Ada juga acara belajar Bahasa Inggris buat anak-anak yang oke punya. TVRI juga memutar kembali serial-serial legendaris semacam “Oshin” dan “Little House on the Prairie” yang membuat generasi kelahiran 80-an ke bawah pasti senang karena bisa nostalgia.

Please TVRI, kalau rakyat jelata ini boleh request, tolong diputar kembali serial horor “Friday the 13th,” tambah “MacGyver,” dan “Siti Nurbaya,” atau  “Sengsara Membawa Nikmat” sekalian. Saya yakin pasti banyak yang setuju.

Dunia Dalam Berita? Jangan Kuatir, masih ada! Menurut pendapat saya pemberitaan di TVRI masih lumayan berimbang dibanding TV sebelah yang kelihatan banget memihak apa dan siapa, terutama pas musim pilpres lalu.

 

Setelah Publik Kembali Menengok TVRI

Dengan sederet kelebihan itu, tak heran jika publik kembali menengok TVRI. TVRI berubah secara signifikan dengan kehadiran Helmy Yahya. Oleh karena itu, banyak yang merasa heran ketika Helmy Yahya dinonaktifkan di saat mulai tampak perbaikan di tubuh TVRI, mulai dari logo sampai semakin beragam dan berkualitasnya tayangannya. Perubahan ini sudah kelihatan sekali, setidaknya dibandingkan dengan wajah TVRI beberapa tahun lalu.

Terlepas dari konflik internal di tubuh TVRI – yang tidak dipahami oleh orang luar seperti saya, ada pendapat tentang alasan penonaktifan Helmy Yahya. Paulus Widiyanto, Mantan Ketua Pansus Undang-Undang Penyiaran, berpendapat bahwa salah satu alasan penonaktifan ini adalah karena konten TVRI dinilai tidak sesuai dengan amanahnya sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP).

Beberapa acara di TVRI dinilai tidak sejalan dengan konsep TVRI. Sebut saja Liga Inggris dan Discovery Channel yang merupakan siaran impor dari luar negeri. Dengan menyiarkan acara-acara semacam ini, TVRI dinilai lebih banyak memuat konten luar daripada konten lokal.

Lah bagaimana ya… Selama ini kan TVRI itu seperti mati suri, dari segi bisnis mungkin juga rugi terus. Liga Inggris dan Discovery Channel itu kan semacam pancingan saja agar publik kembali melirik TVRI. Kalau penontonnya banyak, pemasang iklan juga bakal datang. Kalau iklan banyak artinya pemasukan banyak dan TVRI bisa lebih mandiri.

Ujung-ujungnya TVRI akan bisa membuat lebih banyak lagi konten lokal yang menarik dan berkualitas. Bikin konten lokal juga perlu duit, bukan cuma tekad. Mbok yang sabar, ojo kesusu, namanya juga orang baru mau bangkit, perlu proses.

Alih-alih merasa konten lokal tersingkirkan, sebaiknya dilihat sisi positifnya. Setidaknya TVRI bisa dijadikan alternatif ketimbang saluran TV lokal lainnya, yang kebanyakan berisi acara gosip, sinetron tidak bermutu, talkshow nggak jelas, dan reality show hasil setting-an.

 

Epilog

Demikian cerita kami, para penonton TVRI di negeri ini. Semoga para pihak yang berkepentingan mempertimbangkannya. Di lubuk hati saya dan sebagian masyarakat di Indonesia, kami merindukan TVRI kembali menjadi saluran TV kebanggaan kita semua.

Opini ini ditulis sembari mengingat-ingat lagi sebuah lagu slogan TVRI di masa kecil saya dulu, ketika TVRI menjadi satu-satunya pilihan hiburan: TVRI menjalin persatuan dan kesatuan.

 

 

 

1
0

Berdinas di Inspektorat Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Penulis adalah ibu dari seorang putra dan seorang putri yang senang menulis sejak kuliah di STT Telkom Bandung.

error: